LABIRIN

LABIRIN
7


__ADS_3

"Kita mau ke mana Yan?" Tanyaku di sela-sela perjalanan.


"Lihat saja nanti." Jawabnya sambil tertawa kecil.


Setelah menempuh perjalanan yang diselingi percakapan ringan, akhirnya kami sampai di sebuah tempat yang sudah lama tidak ku datangi. Wayan pun mematikan motornya, dia menggandengku memasuki area tersebut. Setelah memesan es degan kami pun duduk di atas pasir sambil memandangi ombak Pantai Parangtritis.


"Kok dari tadi diam? Kamu tidak suka ya?" Tanya Wayan sambil menatapku menunggu jawaban.


"Suka kok, sudah lama tidak ke sini." Jawabku tanpa mengalihkan pandanganku ke gelombang ombak. Datanglah ibu penjual sambil membawakan es degan.


"Dulu waktu kecil saat pulang kampung, kami sekeluarga suka ke sini." Ucapku di sela-sela minum dan Wayan hanya memperhatikan ku tanpa menjawab.


"Membuat istana pasir, kejar-kejaran, setelah itu makan. Seperti tidak punya beban bukan?" Tanyaku pelan.


"Kalau seperti itu, mari kita lakukan sekarang." Ucap Wayan lalu menarik ku ke bibir pantai.


Akhirnya seperti yang ku ucapkan tadi, kami pun membuat istana pasir dan berlari-larian melupakan perkara hidup yang terlalu rumit. Setelah itu kami duduk di pinggir pantai menikmati matahari terbenam sambil memakan roti bekal milik Wayan yang tadi belum dimakan di sekolah.


Terimakasih Tuhan, telah menghadirkan seseorang yang bisa membuat ku kembali tertawa disela-sela kerasnya hidup, dan teruntuk Pantai Parangtritis, kau adalah saksi bisu setiap tawaku pada sore ini.–Parangtritis, 05 September 2003


***


Sekarang kami sudah sampai di depan rumah, "Makasih ya Yan untuk hari ini." Ucapku sambil tersenyum.


"Sama-sama, kalau gitu aku pulang dulu ya." Aku mengangguk dan Wayan pun mengendarai motornya ke luar dari halaman. Aku tertawa kecil mengingat tadi.


"Sepertinya anak ibu sedang bahagia ya." Ucap Ibu sambil berjalan dari dalam rumah, aku pun membalikkan badan dan memeluk ibu.


"Kinan kangen ayah bu." Tanpa menjawab, ibu mengelus punggungku.

__ADS_1


"Ya sudah sana mandi dulu, setelah itu makan." Aku mengangguk dan masuk ke dalam rumah.


Sekarang sudah pukul sepuluh malam dan aku belum bisa tertidur mengingat ayah, "Jika saja ayah ada di sini, Kinan pasti bisa cerita tentang hari ini." Ucapku lirih.


"Cepat tidurlah Kinan! ini sudah malam!" Ucap Simbah dari luar. Aku pun bergegas mematikan lampu dan berbaring untuk tidur.


Yogyakarta, 06 September 2003


Ku dudukkan tubuhku di atas kursi yang ada di Stasiun. Sekarang aku memang sedang di Stasiun Lempuyangan, entahlah aku merasa sangat merindukan ayah. Tanpa melakukan hal apapun, aku hanya duduk sambil memerhatikan orang-orang yang berlalu-lalang. Ku tengok jam yang ada di pergelangan tangan dan ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh malam, aku bahkan belum mengabari ibu. Aku pun memutuskan untuk keluar dari stasiun, ku langkahkan kakiku menyusuri jalanan.


Tiba-tiba hujan dengan deras mengguyur, aku mempercepat langkahku dan meneduh di depan toko yang sudah tutup. Tubuhku sudah basah lalu ku gosokkan telapak tanganku untuk mengurangi rasa dingin. Untungnya sekarang aku memakai jaket sehingga seragamku tidak tembus pandang. Sampai akhirnya, seorang laki-laki turun dari motornya untuk ikut meneduh karena tidak memakai jas hujan. Ia terdiam samb memerhatikan ku, merasa risih aku pun membuang tatapanku ke arah jalanan.


Sudah sekitar lima belas menit aku menunggu, namun hujan tak kunjung reda. Sepertinya malam Minggu ini tak mengijinkan para pasangan untuk keluar bersama. Ku lihat sepatuku yang sudah basah dan kotor terkena air hujan.


Tin... tin... suara klakson motor tersebut mengalihkan pandanganku.


"Ayo Kinan, hujan semakin deras!" Ucap Wayan dengan sedikit berteriak. Aku pun langsung menaiki motor dan berpegangan pada jas hujan yang dikenakan Wayan.


"Duluan ya mas." Ucap Wayan kepada laki-laki tadi dan dibalas anggukan.


Wayan mengendarai motornya dengan sangat cepat, tidak berselang lama akhirnya kami sampai di rumah.


"Kamu dari mana saja to Kinan? ini basah kuyup lagi, ayo cepat masuk dan ganti baju." Ucap Ibu. Aku pun langsung masuk dan membersihkan diri. Setelah itu aku menuju ruang tamu, di sana hanya terdapat Ibu, Mbak Rukmi, dan Simbah. "Wayan di mana?" Tanyaku seraya menatap sekeliling.


"Tadi Wayan langsung pulang, memangnya kamu tadi ke mana Kinan? Kamu bahkan tidak mengabari ibu." Ucap Ibu.


"Jika kamu hanya merepotkan lebih baik berdiam diri saja di rumah." Ucap Simbah sambil menatapku tajam.


"Tadi aku hanya jalan-jalan terus tiba-tiba hujan, jadi aku meneduh di pinggir jalan. Maaf jika aku merepotkan." Ucapku lalu pergi masuk ke kamar.

__ADS_1


Yogyakarta, 07 September 2003


Pagi ini aku sudah bersiap-siap, entahlah aku hanya ingin berjalan-jalan. Sambil menggendong tas ransel kecil aku keluar dari kamar.


"Mau ke mana lagi kamu?" Tanya simbah yang sedang duduk di kursi yang berada di ruang makan.


"Kinan mau keluar mbah." Jawabku sambil berjalan ke arah simbah untuk salim.


"Kamu tidak sarapan dulu? Tadi malam kan belum makan." Ucap Ibu yang keluar dari kamarnya, aku hanya menggelengkan kepala lalu salim dan keluar dari rumah.


Setelah mencari ojek yang mau mengantarku, di sinilah aku sekarang, pepohonan cemara dan ombak yang berguling menambah kesejukan pagi ini. Sekarang masih pukul tujuh pagi, hanya terdapat beberapa orang yang ada di sini. Aku pun duduk di antara cabang-cabang pohon, ku buka ransel kecil berwarna hitam tersebut dan ku ambil sepotong roti yang tadi ku beli di jalan.


Ku langkahkan kakiku di tepi pantai, air laut yang bertemu pasir hitam tersebut membasahi kakiku. Tenang, itulah yang kurasakan. Tangan milik seorang gadis kecil tersebut menggenggam ku erat, "Kakak tidak takut dengan ombak?" tanyanya sambil memerhatikan lautan.


"Kenapa aku harus takut?" Ucapku menanggapi pertanyaan tersebut.


"Kakak memang sangat pemberani." Ucapnya sambil tersenyum kepadaku.


"Aira jangan jauh-jauh sayang." Kami menoleh ke belakang, pasangan suami istri tersebut berlari dengan tergopoh-gopoh mendekati kami.


Tangan ibu tersebut menarik gadis yang ku ketahui bernama Aira tersebut ke pelukannya. "Jangan jauh-jauh bahaya." Ucap ibu tersebut sambil mengelus surai hitam putrinya.


"Dengarkan kata ibu ya, jangan jauh-jauh." Timpa sang ayah sambil ikut memeluk istri dan putrinya.Aku pun berjalan meninggalkan mereka.


"Kakak mau ke mana?" Teriak gadis keci tadi, aku hanya tersenyum dan melambaikan tangan ucapan perpisahan, setelah itu kembali berjalan.


"Mereka terlihat bahagia." Ucapku asal sambil terus berjalan tanpa tahu arah. Tidak ada tukang ojek disekitar sini, aku pun harus berjalan kaki, sampai akhirnya aku melihat warung soto yang sudah buka.


"Soto setunggal kalih es jeruk setunggal nggih bu." Ucapku memesan. Ku dudukkan tubuhku pada lantai beralaskan tikar tersebut. Aku tidak tahu seberapa jauh aku melangkah dari pantai, bahkan sekarang sudah pukul setengah sepuluh. Ku pijat pelan kakiku yang terasa pegal, "Niki mbak monggo." Ucap ibu tersebut sambil menaruh semangkuk soto dan segelas es jeruk ke meja.

__ADS_1


__ADS_2