
" ayo pulang " kata Raya dingin. Kertas milik Jiasa yang jatuh ia ambil, kemudian Raya masukan ke dalam tasnya.
Raya melangkah dengan hati yang hancur, tapi karena saat ini dia berada di tempat umum, maka Raya memutuskan untuk bersikap jika tidak terjadi apapun.
Dibelakang Raya, Jiasa pun melangkah dengan hati yang lebih hancur dari Raya. Masa depannya kini sedang di pertaruhkan.
Diam dan tak berbicara, Raya dan Jiasa terus melangkah. Kini keduanya melangkah menuju tempat parkir.
Dengan tergesa, Raya menekan kunci mobil dan tak lama mobil yang Raya cari berbunyi.
Raya bergegas menuju mobilnya, Jiasa sendiri hanya mengikuti, ia bingung harus apa dan harus bagaimana.
" ayo masuk " kata Raya membuka pintu mobil bagian penumpang untuk Jiasa.
Jiasa tak lekas mengikuti, ia malah menatap Raya dengan mata sembabnya.
" masuk Jiasa " kata Raya.
Seketika Jiasa menjadi takut, tak bisa menolak ia pun masuk dan duduk di kursi penumpang.
Raya kembali menutup pintu bagian penumpang itu, kemudian ia berjalan ke sisi lain.
Raya membuka pintu bagian kemudi, lalu ia masuk ke dalam mobil miliknya.
" dimana alamat rumah kamu .. ? " tanya Raya
Jiasa menoleh, tapi tak lama ia membuang pandangannya, " perumahan citra nusa " kata Jiasa pelan dengan kepala tertunduk.
Meski dengan suara pelan, tapi Raya mampu mendengar. Ia pun bergegas melajukan mobilnya.
Sembari mengemudi dan membelah jalanan kota, Raya mencoba menghubungi seseorang. Lama menunggu akhirnya panggilan Raya tersambung.
[ " Assalamualaikum, ada apa, Bu. " ] salam Raya dapatkan, kemudian satu pertanyaan pun Raya dapatkan ketika panggilan telephonenya tersambung.
" kamu dimana ? " Tanya Raya, kekalutan hatinya membuat Raya lupa menjawab salam yang baru saja di ucapkan.
[ " di rumah Tedia, Bu. Kenapa ? " ] suara diseberang sana terdengar kembali.
Jiasa diam-diam melirik Raya, bertanya-tanya apa yang akan Raya lakukan.
" tunggu Ibu di sana, jangan pergi dulu " katanya kemudian mengakhiri sambungan. Telephonenya begitu saja. Raya tidak perduli dengan rasa penuh tanya yang mungkin saja tengah dialami oleh seseorang yang baru saja dihubunginya.
..
" kenapa, Lan.? " tanya Tedia, setelah melihat Lani selesai menerima telephone dari Ibunya.
" Ibu, katanya jangan pergi dulu " sahut Lani.
Semua yang ada di rumah Tedia mengerutkan dahi.
" mau ngapain ? " tanya Yoga, Lani menggeleng sebagai jawaban.
..
Raya menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah milik keluarga Jiasa.
Jiasa diam sembari menggigit bibir bawahnya. Bingung harus berkata apa, aura Raya kali ini sungguh berbeda.
tak mungkin terus berada di dalam mobil milik Ibu Lani, Jiasa akhirnya berniat keluar untuk masuk ke dalam rumahnya.
Sebelum keluar dari mobil, Jiasa menyempatkan menoleh pada Raya. Kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata apapun Jiasa membuka pintu dan bergegas keluar dari mobil milik Raya.
__ADS_1
Jiasa kembali menutup dengan rapat pintu mobil itu. Lagi, tanpa bersuara untuk sekedar pamit pada Raya. Jiasa melongos membuka pintu pagar dan kemudian melangkah masuk ke menuju rumahnya.
Setelah Jiasa masuk ke dalam rumahnya tanpa pamit dan mengucapkan terimakasih, Raya menghela nafas kasar yang sedari tadi ia tahan. Air mata pun kembali turun.
Perlahan tangan Raya bergerak menyentuh dada sebelah kirinya. di bagian yang ia sentuh, Raya merasakan sakit yang amat dalam.
..
Setelah mengetahui keberadaan putranya, Raya bergerak menuju rumah Tedia. Dan setelah menempuh waktu beberapa menit, akhirnya mobil yang Raya kendarai berhenti di depan pagar rumah Tedia.
Tin
Tin
Tin
Raya membunyikan klason, Tak lama pagar rumah Tedia bergerak dan terbuka lebar.
setelah pintu pagar terbuka lebar, Raya masih bergeming.
Hingga suara Pak Adul membuatnya tersentak. " Nyonya Raya. "
" a .. Iya, makasih Pak .. " kata Raya dengan tergagap diawal suara, kemudian Raya bergegas melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah Tedia.
..
Di dalam empat remaja dan dua orang dewasa tengah duduk bersama.
Sembari menunggu seseorang mereka bersenda gurau seperti tak memilik beban hidup yang berat.
" jadi kapan kalian mau berangkat ? " tanya Malik, Ayah Tedia yang kembali berlibur dari pekerjaannya.
" kira-kira mau ngapain ya. Lan, ATM lu ketinggalan kali, jadi Ibu mau nganterin ke sini. " kata Zaki berasumsi.
Yoga dan Tedia mencibir.
" kaga mungkin nih bocah ninggalin ATM, hobbynya jajan. " kata Tedia menyindir hobby lain yang Lani miliki.
Lani melirik tajam Tedia, kemudian ia mendengus. Lalu Lani kembali fokus dengan ponselnya.
Hingga suara Raya mengalihkan atensi mereka.
" Arlan .. "
Semua menoleh, dan Terkejut melihat Raya berdiri sembari menangis di ambang pintu rumah keluarga Tedia.
Lani yang terkejut segera berdiri, kemudian ia berlari pelan guna menghampiri Ibunya.
Bukan hanya Lani, lima orang lainnya pun berlari pelan menghampiri Raya. Mereka panik, dan tentunya ingin tahu apa yang sudah terjadi pada Raya hingga Raya menangis ketika datang ke rumah Tedia.
" Ibu. Ada apa, Bu. " Lani yang panik segera menyentuh lengan sang Ibu ketika tiba dihadapan Raya.
Tapi Lani terkejut karena Raya menghempaskan dengan kasar tangan Lani.
" Raya .. " suara Ria, kembali terkejut dengan tindakan Raya yang menghempaskan tangan Lani.
Raya menatap Lani dangan air mata yang terus mengalir, kemudian Raya mundur satu langkah. Dan Lani semakin bingung.
Plakkk !
Satu tamparan keras mendarat di pipi Lani. Semua melebarkan matanya.
__ADS_1
Ria yang terkejut bahkah menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Lani menyentuh pipinya yang terasa panas karena tamparan sang Ibu.
" Raya, kamu ini apa-apaan sih, bukan seperti ini caranya mendidik anak, kamu boleh memaki, tapi jangan bermain tangan " suara Malik menggema mencoba menengahi apa yang terjadi.
Raya menatap malik dengan mata sendunya, " anak seperti dia, gak pantas dikasih hati. anak seperti dia, harusnya mendapat lebih dari sebuah tamparan. " suara serak Raya dengan jari telunjuk yang terangkat ke wajah Lani.
Yoga, Tedia, dan Zaki saling tatap. Mereka tak paham.
" Raya sebenarnya ada apa. ? " Ria bergerak mendekati Raya, kemudian menyentuh lengan Raya.
Raya menatap nyalang Lani, kemudian ia beralih membuka tas dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya.
" BACA INI .. " kata Raya memberikan dengan kasar selembar kertas yang ia simpan di dalam tasnya kepada Lani.
Lani yang penasaran segera melebarkan kertas itu untuk ia baca dan lihat.
Tedia, Yoga, dan Zaki yang kepo. begerak mendekati Lani. Mereka tidak perduli meski terkesan tidak sopan.
Lani mulai membaca satu demi satu. Hingga mata Lani melebar setelah membaca satu keterang yang membuatnya yakin jika inilah yang membuat Ibunya menamparanya.
" Anjing .. " umpat Zaki karena terkejut.
Yoga menutup mulutnya.
Lalu Tedia menatap tajam Lani dengan tangan terkepal.
Malik yang penasaran segera merebut kertas itu. bersama Ria, Malik membaca dengan seksama kertas itu. Seketika keduanya terkejut
" Bu, Arlan bisa jelasin .. " kata Lani dengan wajah memohon dan berusaha menyentuh tangan Ibunya, Tapi Raya mundur satu langkah, Raya seperti enggan disentuh oleh putranya.
" kamu mau jelasin apa, Arlan. Mau bilang kalau itu bukan perbuatan kamu. " Malik bersuara.
Lani menatap Malik dengan wajah memelas, " Pa, "
" Mama gak nyangka kamu seperti ini Arlan. Percuma kamu pintar dalam segala apapun kalau kamu gak bisa menjaga akhlak kamu. " kini Ria yang bersuara.
Lani menundukan wajahnya, Lani terlihat seperti mengakui kesalahannya dan tidak bisa lagi mengelak.
Melihat bagaimana sikap Lani, Raya memejamkan sejenak matanya, " salah Ibu sama kamu apa ? Sampai kamu tega melempar kotoran di wajah Ibu, apa salah Ibu, Arlan. " suara Raya kembali terdengar, ia kini menatap Lani dengan tatapan sendu. Tak ada lagi tatapan tajam. Semua menatap Raya dengan tatapan prihatin, kecuali Tedia.
" Bu. " Suara Lani lirih.
Ria dan Malik menatap Lani dengan menggelengkan kepala. Keduanya masih tak percaya dengan yang terjadi saat ini.
" Di .. " panggil Yoga yang melihat Tedia kini. Berjalan pelan meninggalkan semuanya.
kecuali Raya dan Lani, semua menatap Tedia.
Tedia tak merespon panggilan Yoga, ia terus berjalan dengan mata yang berair kemudian air mata itu mengalir di pipinya, Tedia menangis tanpa mereka tahu.
Malik menghela nafas, masalah ini harus segera dituntaskan.
" Yoga, Zaki. Kalian pulang aja .. " perintah Malik.
Yoga dan Zaki saling tatapan, kemudian Yoga menganggukkan kepala.
Yoga dan Zaki melangkah menuju sofa guna mengambil tas mereka. Setelah itu keduanya bersiap pulang.
Sebelum melangkah keluar, Yoga menyempatkan diri untuk menatap Lani yang tertunduk. Yoga menghela nafas, kini ia tahu akan ungkapan Lani kala itu.
__ADS_1