
" Semuanya Ibu akhiri pertemuan kita hari ini, ya. minggu depan kita lanjutin lagi .. Ibu undur diri, ya. silahkan tunggu Guru selanjutnya .. " pamit Bu Riska. dengan beberapa buku yang ia bawa dengan cara didekap, Bu Riska pun mengayunkan kaki melangkah keluar kelas.
Semua siswa merenggangkan otot-ototnya yang dirasa kaku setelah hampir satu jam lebih menyimak materi yang diberikan Bu Riska.
" Ca, pelajaran kedua apaan ? " tanya Tedia sorot matanya tertuju kepada Rosa, kemudian Tedia melirik sekilas Jia yang duduk di depan Jennie. tapi tak lama, Tedia kembali beralih menatap Rosa.
" ck, kan lu punya jadwal pelajaran, ngapain sih masih nanya .. " bukan jawaban yang Tedia dapatkan, Rosa malah menyinggung jadwal pelajaran yang memang dimiliki oleh masing-masing siswa.
" tanya aja tuh sama si Zaki, dia pasti tau .. " Rosa kembali bersuara sembari menunjuk Zaki yang duduk sejajar dengan kursinya dengan dagunya.
Tedia memberi dengusan.
Secara kebetulan Zaki mendengar percakapan Tedia dan Rosa " abis ini pelajaran matematika di, cuma Gurunya lagi cuti, jam sekarang jam kosong .. "
Tedia menaikan kedua alisnya " serius "
Zaki mengangguk, sontak mata Tedia berbinar, begitu pula dengan Yoga yang sedari tadi mendengarkan percakapan yang terjadi di antara Tedia dan Zaki.
Berbeda dengan Tedia, Zaki, dan Yoga. Lani yang duduk di samping tTedia terus saja memperhatikan Jiasa.
Ingin sekali Ia berjalan menghampiri Jiasa, tapi ia terlalu gugup. Ketika tengah serius dengan dunianya, yaitu menatap makhluk tuhan yang menurutnya indah, Lani dibuat terkejut ketika ia melihat Tedia berjalan menghampiri Jiasa, bahkan Lani melihat Tedia memberi perintah kepada seorang Siswi yang duduk di depan Jiasa untuk bergeser dan memberinya tempat duduk. Lani terus menatap Tedia yang kini tengah duduk menghadap ke arah Jiasa, Lani ingin tahu apa yang akan dilakukan Tedia kepada Jiasa.
" haiii kita ketemu lagi .. " kata Tedia menyapa Jiasa, dan dapat di dengar oleh seisi kelas.
" diiihh mulai ngardus, dasar kadal bin buaya buntung " cibir Jennie ketika melihat dan mendengar Tedia berbicara kepada sepupuhnya. Sementara itu Lani terus memperhatikan, bukan hanya Lani, tapi sepertinya seisi kelas memperhatikan Tedia.
" diem ya Istri ketiga, Pangeran sedang mencari selir .. " kata-kata nyeleneh Tedia terlontar, sontak seisi kelas tertawa kecuali Lani, dan juga Jennie yang lebih memilih untuk memutar bola matanya malas.
" ih ketawa, jadi tambah manis .. " rayuan maut Tedia keluarkan ketika melihat Jiasa yang juga ikut tertawa.
Jiasa tersenyum dan menggelengkan kepala
" masih inget gue gak ..? "
Jiasa mengerutkan dahinya, Tedia terkekeh pelan " kalau yang duduk di pojok itu, lu masiy inget kaga ? "
Mengikuti arah yang Tedia tunjukan, Jiasa menoleh ke belakang dan kemudian ia bertatapan mata dengan sosok Lani yang ternyata tengah menatapnya juga.
Di tatap Jiasa, Lani terkejut dan salah tingkah. Kemudian jiasa memberi Lani senyuman, hingga membuat Lani semakin gugup.
" udah jangan di liatin terus kasian mukanya merah, sekarang fokus aja sama kita .. "
Jiasa memalingkan wajah, kemudian ia menatap Tedia dan mengerutkan dahinya, tak paham dengan kalimat yang Tedia ucapkan.
__ADS_1
" dia, musnah sana lu dari hadapan Jiasa, mual gue denger kata kata lu .. " kini giliran Rosa yang mencibir.
Tedia mendecak-decakkan lidahnya dan juga menggeleng-gelengkan kepalanya " Oca, istri kedua ku, kan tadi gue bilang diem, pangeran lagi nyari selir .. "
" istri kedua dari hongkong .. Udah sana musnah jangan ganggu Jiasa .. " Rosa kembali berbicara, Tedia menghela nafas kemudian dia bangkit dari duduknya
" bilang aja cemburu , dan gak nerima kalau gue nyari selir "
" cemburu mata lu kicer, udah sana musnah , urus tuh istri pertama lu, soalnya dari tadi diem aja, ngeri kena penyakit tetelo gue mah "
" heh lu pikir gue ayam " sahut Lani dengan nada cukup tinggi, seolah tak terima dengan ucapan Rosa.
Seisi kelas menatap siaga, sepertinya perdebatan akan segera di mulai. Tedia memutar bola matanya malas " udah ya para istri ku jangan berantem, ada calon makmun gue loh nanti sawan dia .. "
" lu pikir orok, sawan .. " kali ini giliran Jennie.
Tedia menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian ia menatap Jiasa, yang di tatap pun menatap balik Tedia dengan dahi yang berkerut " sayang, maklumin ya, di kelas ini semua gak normal, yang waras cuma kita aja .. "
" huuuuuuuuuuu " sorakan Tedia dapatkan. bukan malu, Tedia justru tertawa kemudian ia melangkah kembali menuju kursinya.
" gila lu, anak baru di kadalin " seru Zaki yang kini sudah menghadap belakang
" jangan heran ki, dia kan pangeran kadal cucunya raja buaya .. " kata Yoga menambahkan gelar kepada Tedia, sontak Zaki dan Tedia tertawa. Tak lama tawa Tedia terhenti ketika ia ingat satu hal, Tedia tak mendengar tawa sahabatnya yaitu Lani. Tedia menoleh ke arah Lani, ternyata Lani tengah menatap ke arah lain, kemudian Tedia mengikuti arah pandang Lani, dan ternyata Lani tengah menatap Jiasa yang saat ini tengah bercengkrama dengan Jennie, Rosa dan juga teman sebangkunya.
Mencoba mengalihkan dunia Lani, Tedia pun merangkul Lani, dan merapatkan duduknya dengan Lani
" heh, ini kelas dilarang mesra mesraan .. " suara Jennie terdengar
Tedia dan Lani yang sedang saling tatap, secara bersamaan mengalihkan atensinya kepada Jennie
" diem Jennie gak usah cemburu " kata Tedia dan Lani secara bersamaan
Jennie memberi mereka dengusan.
Berbeda dengan Jennie, Jiasa yang juga memperhatikan keduanya menggeleng-gelengkan kepala, kemudian tatapan Jiasa diarahkan kepada satu orang yang sejak ia masuk mencuri perhatiannya, dalam tatapan diam diamnya Jiasa tersenyum tipis.
..
" Lan, hari minggu gue izin gak latihan ya, gue ada acara nih sama keluarga " kata Yoga, bersama ketiga temannya kini ia tengah berjalan di koridor sekolah menuju kantin.
" ini masih hari senin, minggu masih jauh .. " sahut Lani seorang kapten di timnya, oleh karena itu setiap anggota tim yang tidak ikut berlatih selalu meminta izin kepada Lani, kemudian Lani akan menyampaikan kepada pelatih kepala.
" hehehe, ya ga apa apa, takutnya gue lupa .. " kata Yoga dengan cengiran bodohnya, Lani mendengus.
__ADS_1
Kantin sudah terlihat dan kini ke empat siswa tampan itu melangkah memasuki kantin dengan Tedia yang berjalan di depan ketiga temannya, kedatangan mereka mengundang perhatian siswa lain yang berada di kantin.
Tak perduli, dengan tatapan siswa lain, ke empat siswa tampan itu pun terus melangkah
Mencari tempat duduk untuk mereka tempati.
Ramai, rata-rata kursi sudah terisi, mereka celingak celinguk mencari kursi kosong, hingga mata Tedia berbinar ketika ia menemukan kursi kosong.
Tedia melangkah, Lani, Zaki, dan Yoga mengikuti.
" halo para selir selir ku .. " sapa Tedia kepada ke empat siswi cantik yang tengah menikmati waktu istirahatnya di kantin.
" geser Jen. " kata Tedia kemudian mendorong pelan tubuh Jennie agar Jennie memberinya tempat duduk, perlakuan Tedia membuat Jennie kesal, ia pun menatap tajam Tedia
" dia ampun lu tuh ya, kan masih luas di sebelah sini " kesal Jennie sembari menunjuk sisi lain tempat duduk yang bisa diduduki oleh 4 orang.
" gue kan mau duduk deket calon makmum gue " sahut Tedia yang sudah berhasil menggeser Jennie dan kemudian duduk di sebelah Jiasa. Jennie mendengus, kini ia harus duduk kesempitan karena disampingnya sudah ada Lani.
" gue yang pesen makanan deh, kalian mau nitip apa ? " tanya Zaki, yang sedari tadi berdiri karena ia memang akan pergi memesan makanan.
" gue seperti biasa, udah apal donk lu " sahut Tedia
" ok, lu apa Lan, Ga ? "
" samain aja sama Tedia " sahut Yoga, pandangan Zaki tertujua ke arah Lani yang belum memberi jawaban
" lu mau pesen apa Lan ? "
" gu ... Gue .. Samain aja sama Tedia " kata Lani, saat ini Lani tengah merasa gugup karena ia duduk satu meja bersama gadis yang selama ini ia cari.
Tedia menoleh kearah Lani, melihat bagaimana sikap Lani, Tedia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tedia tak sadar jika di sampingnya Jiasa tengah memperhatikan dia secara diam-diam.
" ih sempit banget sumpah, Yoga geseran donk " suara Rosa mengalihkan perhatian Jiasa, ia pun kini mendongkak menatap Rosa yang tengah mendorong-dorong tubuh Yoga hingga mengenai tubuh Iren teman sebangku Jiasa.
" ini gue udah geser setengah senti, Ca. " sahut Yoga menahan tangan Rosa agar tidak terus menerus mendorong dirinya.
" ck ck ck , dasar bocil, tuh kan bener apa kata gue, Ji. di sini cuma gue yang waras " celetuk Tedia, tangannya bergerak merangkul Jiasa, hingga membuat Jiasa membelalakan matanya.
" tangannya itu, ampun dah bandel banget, gue potong juga nih " Jennie gemas, kemudian menghempaskan tangan Tedia dari bahu Jiasa.
Tedia terkekeh " cemburu bilang cantik " katanya sembari menjawil dagu Jennie.
Jennie menggeram kesal, Yoga, Rosa dan Iren tertawa, sedangkan Jiasa menundukkan wajahnya.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Lani ?
Dalam diam, Lani terus memperhatikan Jiasa meskipun pandangannya terhalang oleh Jennie dan juga Tedia.