LABIRIN

LABIRIN
88


__ADS_3

Di dalam kamar Jiasa menyendiri. Ia tidak bersedih, ia juga tidak sedang menangis.


hanya saja, Jiasa memikirkan kejadian tadi di sekolah. Perhatian Lani yang tidak di duga begitu membekas untuk Jiasa.


Jiasa tak menyangka, meskipun dirinya pernah membuat Lani kecewa karena penolakannya. Tapi, Lani tidak pernah menunjukan rasa bencinya pada Jiasa.


Jiasa menghela nafas, kemudian ia menoleh ke arah nakas. Satu bungkus pembalut yang Lani beli tergeletak di sana.


Jiasa tiba-tiba tersenyum, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Lani pada saat membeli benda itu.


Tapi, tak lama senyuman Jiasa sirna. Ia kembali mengingat ketika ia menolak Lani demi Tedia.


Tangan Jiasa terulur menyentuh dada sebelah kirinya yang tiba-tiba sakit.


Satu pertanyaan terlintas di benaknya. Apakah saat ini Jiasa sedang menerima karma akan tindakan jahatnya yang tega melukai Lani demi Tedia ? Padahal dalam hal ini harusnya Jiasa yang merasa sakit karena menjadi pihak yang di rugikan. Tapi, kenapa karena tindakan tak terduga itu, rasa bersalah Jiasa muncul untuk Lani.


..


Jauh di tempat Lani, Kediaman milik Lani.


Saat ini Lani sedang menuruni tangga, ketika tiba di lantai dasar ia langsung melangkah menuju sang Ibu yang tengah sibuk di soffa ruang keluarga.


tiba di dekat Raya, Lani langsung duduk di samping Raya. Raya menoleh, tapi kemudian ia kembali fokus pada pekerjaannya.


Lani memperhatikan Raya, ia juga memperhatikan gerakan tangan Raya yang begitu telaten membuat pola dalam secarik kertas.


" Bu ? " panggil Lani


" hhhmm " sahut Raya, mata dan tangannya terus fokus pada satu hal yang ia pegang.


" soal kepindahan kita, Ibu udah urus semuanya ? " tanya Lani.


" sudah, selesai ujian kenaikan kelas kita berangkat. " kata Raya.


Lani terdiam, ternyata Ibunya tidak diam dan bergerak dengan cepat guna mengurus kepindahannya.


Lani menatap sendu wajah Raya, rasa bersalah kembali hinggap. " Bu, maafin Arlan ya. Gara-gara menuhin semua keinginan Arlan. Ibu harus ngorbanin kerjaan Ibu di sini, Maaf Bu. sampai saat ini Arlan cuma bisa nyusahin Ibu. Arlan janji, yang kemaren untuk yang pertama dan terakhir. "


Mendengar kalimat penyesalan yang kembali Lani ucapkan membuat Raya menghentikan gerakan tangannya.


Raya menghela nafas, ia pun menoleh dan melihat Lani yang tengah menunduk.


Melepas pensil yang sedari tadi ia genggam, kemudian tangan Raya naik membelai surai hitam milik Lani. " apapun itu, asalkan demi kebaikan kamu. yang Ibu mau, bukti. bukan hanya janji dan ketika kamu sudah berjanji maka kamu harus berusaha untuk menepati. Dan Ibu tunggu moment di mana kamu membuktikan janji kamu itu. "


Lani menegakan kepalanya, ia kembali menatap sendu Raya. Hatinya kembali sakit ketika merasakan besarnya kasih sayang Raya, sosok wanita pertama yang sudah ia hancurkan hatinya.


" tidur sana. besok sekolah, kan. ?"


Lani berdecak " masih sore, Bu. Nanti deh aku mau nemenin Ibu dulu, ada yang bisa aku bantu gak ?" tanya Lani melihat ke arah kertas yang berserakan di atas meja.


Raya tersenyum " itu, kamu bisa tebelin garis-garis tipis di gambar itu " kata Raya menunjuk salah satu kertas dengan gambar yang sudah ia buat.


Lani mulai bergerak menuruti perintah Ibunya, Raya pula sudah kembali dengan coretan-coretan di kertas miliknya.

__ADS_1


Di bawah tangga, Robi diam membisu. Matanya menatap sendu ke arah Lani dan Ibunya. " seserius itu lu mau lupain masa lalu, sampai untuk menghapus itu semua , lu rela ngejauh. Kenapa Lan ? Apa dengan lu ngejauh dari kita maka rasa kecewa lu pergi. Sekarang gue ngerti sama moment tadi di sekolah, lu sengaja kan mau nyimpain kenangan Itu meskipun hanya sebentar. " Robi berbicara tapi dengan suara pelan.


..


Kembali ke aktivitas mereka, yaitu sekolah.


Sejak kejadian buruk menimpanya, Lani selalu ke sekolah bersama Robi.


Dan kini keduanya tengah menyusuri koridor guna menuju kelas.


Robi melangkah di belakang Lani, ia menatap penuh arti Lani yang melangkah di depannya.


Percakapan Lani dan Raya yang saat ini masih terngiang di telinga Robi membuat Robi merasa tak karuan.


" Lan .. " panggil Robi.


Lani berhenti, ia berbalik kemudian menatap Robi dengan dahi yang berkerut.


" apaan ? " kata Lani dengan nada menyebalkan, tapi tidak membuat Robi kesal. Justru Robi tersenyum miris. Ia jadi memikirkan, jika nanti Lani benar-benar pindah maka ia akan sangat merindukan ciri khas Lani yang satu ini.


Melihat Robi yang hanya diam, Lani memutar bola matanya malas. " gak guna " katanya kemudian kembali berbalik.


"Arlan " panggil Robi lagi.


Lani menggeram kesal, ia berbalik dengan kasar. Kemudian menatap tajam Robi yang kini berdiri di hadapannya.


Robi tersenyum, Lani masih memberi Robi tatapan tajam. Tak lama Robi bersuara, " gue semalam gak sengaja dengar " katanya.


Seketika tatapan tajam Lani sirna. Kini Lani terdiam dengan raut wajah yang sulit di artikan.


Lani menghela nafas kasar, " nanti juga lu bakal paham " katanya kemudian berbalik dan melangkah pergi.


Kini giliran Robi yang menghela nafas kasarnya, ia berdiri di tempat menatap sendu punggung Lani yang mulai menjauh.


Lani semakin menjauh, bahkan kini Lani sudah jauh dari jangkauan mata Robi. entah untuk keberapa kali Robi menghela nafas, kemudian ia bersiap untuk melangkah.


Sebelum mengayunkan kaki, Robi menyampirkan merapihkan tasnya yang sedikit turun di bahunya. Setelah itu Robi siap mengayunkan kaki. Tapi, niat Robi gagal, karena seseorang menarik tasnya.


Robi mendengus, ia berbalik dan melihat Zaki yang tengah menunjukan tampang tengilnya.


" pagi Obi " sapa Zaki tapi nada suara terdengar meledek di telinga Robi.


Robi kembali memberi dengusan, sedangkan Zaki menanggapi lagi dengan tampang tengilnya.


" Arlan mana, Bi.? " tanya si manusia paling waras versi Robi. Robi beralih pada pemilik suara yaitu Yoga.


Di samping Yoga, Robi melihat ada Tedia. Melihat Tedia, Robi jadi ingat keinginan Lani untuk meninggalkan indonesia. Robi mendesah pelan. " udah duluan " kata Robi.


" serius " kata Tedia seakan ia terkejut dengan kata-kata yang baru saja di ucapkan Robi.


Robi mengangguk pelan.


Tak mengatakan apapun, Tedia langsung melangkah pergi melewati Robi begitu saja.

__ADS_1


Robi memeperhatikan setiap langkah Tedia, hingga entah di langkah keberapa, Tedia berhenti dan berbalik.


" ngapain pada cengo di situ ? " tanya Tedia pada tiga siswa yang masih berdiri di tempat dan menatap dirinya. " buruan elah " sambung Tedia.


Yoga dan Robi saling tatap, kemudian keduanya melangkah bersama Zaki tentunya.


Dalam langkah mereka di koridor sekolah, Tedia dan Zaki melangkah beriring di depan Yoga dan Robi.


Mereka melangkah dengan canda tawa, sesekali Zaki dan Tedia menggoda kakak kelas yang ada di sekitar koridor.


Berbeda dengan Zaki dan Tedia, Robi dan Yoga melangkah dengan pelan. Tak ada percakapan, keduanya seperti larut dalam pikiran masing-masing.


Robi kembali ingat dengan keinginan Lani, ia pun menoleh ke kiri menatap Yoga yang berjalan di sampingnya sembari menatap lurus ke depan.


Hanya sesaat, tak lama Robi kembali membuang pandangannya.


Robi mendesah pelan " Ga " akhirnya Robi bersuara.


sontak Yoga menoleh dan menatap Robi dengan tatapan penuh tanya.


Robi pun menoleh, keduanya saling tatap untuk beberapa detik. Hingga keduanya sama-sama membuang pandangan dan kembali melangkah dengan pelan.


" ujian kenaikan kelas berapa bulan lagi ? " tanya Robi pada akhirnya.


" dua bulan. Ngapa ? Pengen pindah kelas ? " Yoga bergurau.


Robi terkekeh, namun wajahnya menunjukan arti lain. Hanya saja Yoga tidak menyadari ekspresi wajah Robi.


Robi kembali diam, tapi ekspresi wajahnya tetap sama. Ia menghembuskan nafas kasarnya. Dan kali ini Yoga menyadari, Yoga menoleh, menatap Robi dengan dahi berkerut.


" ada apa ? " akhirnya Yoga bertanya.


" Arlan "


Yoga menaikan alisnya ketika Robi menyebut nama Lani dalam percakapannya.


" Arlan mau balik ke Amrik setelah ujian kenaikan kelas " akhirnya Robi mengeluarkan satu hal yang mengganjal di hatinya.


Seketika Yoga melebarkan matanya. " serius lu "


Robi mengangguk pelan. " setelah kejadian di tolak Jiasa, Arlan minta pulang. Gue kira itu cuma ungkapan rasa kecewa dia. Tapi ternyata diam-diam Ibu sama Arlan nyiapan semuanya. Dan tepat setelah selesai ujian kenaikan kelas, mereka bakal balik ke sana. " Robi menjelaskan, sedangkan Yoga masih diam dengan rasa terkejut.


" gue semalam gak sengaja denger Ibu sama Arlan ngobrol, tadi gue sempat nanya sama Arlan buat mastiin. Tapi, dia cuma jawab kalau nanti gue bakal paham sama situasi yang lagi terjadi. " sambungnya Robi lagi di akhiri dengan helaan nafas kasarnya.


" Ga, berati selama ini dia bohong. Kita kecolongan. Ternyata kita bukan orang yang kenal Arlan luar dalam. Gue kira dia udah baik-baik aja, tapi ternyata dia masih nutupin luka di balik tawanya. " Robi memejamkan sejenak matanya, wajahnya terlihat begitu sendu.


Yoga mengadahkan wajahnya, kemudian ia menghembuskan nafas kasarnya. Yang dikatakan Robi benar, ternyata dirinya maupun yang lain belum mengenal Lani luar dan dalam. Mereka tidak mengetahui jika selama ini Lani menutupi luka lewat tawa.


" gue salut sama dia, meskipun udah berbuat salah karena ngerusak anak orang. Tapi, dia gak mau egois. Dia bersikap dewasa dibalik luka yang di torehkan Tedia. Awalnya emang gue marah, gue pengen ngehajar dia karena dia salah. tapi seperti apa kata dia tadi, gue akhirnya paham sama situasi. Dia cuma ingin yang terbaik buat semuanya. caranya ya benar, pergi menjauh dari sekitar. " Robi besuara lagi, Yoga kembali mendengarkan.


" ya gue harap, pilihan dia gak salah. Semoga di mana pun dia berada. Dia selalu di lindungi orang baik kaya orang-orang yang ada di sini." Doa Robi untuk Lani.


lagi, entah keberapa kali Robi menghela nafas, ia mengigit bibirnya guna menahan suatu sesak di dadanya. Tak ingin berbicara lagi, Robi diam dan terus melangkah bersama Yoga.

__ADS_1


Di belakang keduanya ada Jiasa yang kehadirannya tak di sadari oleh Robi dan Yoga. Jiasa memilih melangkah pelan, dan mendengar semua yang dikatakan Robi. Seketika raut wajah Jiasa pun berubah. Matanya berkaca-kaca, dan ia merasakan sesak di dadanya.


__ADS_2