
Jiasa membuka pintu kelas dengan pelan. Melebarkan, kemudian ia melangkah masuk tak perduli dengan semua pasang mata yang menatapnya.
Jiasa terus melangkah menuju kursinya, tak lama Lani masuk dan sama seperti Jiasa, Lani melangkah menuju kursinya yang berada di pojok kelas.
Mata Lani menangkap Zaki dan Yoga yang tengah menatapnya. Mengabaikan Lani memilih duduk di kursinya.
Sementara itu Jiasa pun sudah duduk di kursinya, Irene teman sebangkunya merapatkan tubuhnya kemudian berbisik. " pake jurus apaan lu ? Si Lani bisa luluh, tuh bocah dari dulu paling susah di bujuk .. Ego nya gede .. "
Jiasa tersenyum tipis. tak langsung menjawab, Jiasa justru membuka tasnya dan kemudian mengeluarkan buku tulis dan pena dari dalam tasnya.
Jiasa meletakan buku tulis itu di atas meja, kemudian ia mulai membuka buku tulis miliknya itu.
Jiasa berbalik berniat melihat Lani dan ingin tahu apa yang tengah di lakukan remaja itu.
Jiasa menghela nafas kasar. Ia kira Lani sudah memulai menulis tugas yang di berikan Guru yang saat ini berhalangan hadir. Ternyata Lani tengah sibuk dengan ponselnya.
Jiasa bangkit dari duduknya, sembari membawa buku dan pena ia melangkah mendekati Lani dan duduk di kursi kosong milik Tedia.
Sontak apa yang Jiasa lakukan menjadikannya pusat perhatian kerena terkejut. Tapi, Jiasa mengabaikan dan tidak perduli.
Lani yang terusik karena kehadiran Jiasa, melepas pandangannya dari ponsel, ia menatap Jiasa dengan kedua alis saling bertautan.
Jiasa kemudian merubah posisi duduknya, kini ia menghadap dan menatap Lani dengan tatapan tajam.
Lani mengerutkan dahi, seolah bertanya apa yang Jiasa lakukan. Ponselnya belum lepas dari tangannya.
Kemudian tatapan Jiasa dialihkan kearah tangan Lani yang memegang ponsel. Lalu Jiasa merebut ponsel Lani dan menyimpan ponsel Lani di saku roknya.
" cepetan nulis .. " perintah Jiasa dengan tatapan tajam.
Zaki yang sedari tadi memperhatikan menganga sempurna atas tindakan Jiasa pada Lani. Pasalnya di saat tengah diliputi api emosi, tak ada seorangpun yang berani kepada Lani. Tapi, Jiasa seperti tidak memiliki rasa takut.
Lani diam, tak mengucapkan sepatah kata apapun. Tak lama Lani mengangguk, kemudian ia bergerak mengeluarkan buku tulis dari dalam tasnya.
Kali ini bukan hanya Zaki yang menganga. Yoga, Irene, Jennie, dan juga Rosa menganga dan terkejut. Lani terlihat begitu tunduk pada Jiasa.
Zaki bergegas merubah posisinya, menghadap depan kemudian merapatkan duduknya dengan Yoga, lalu Zaki memukul pelan bahu Yoga agar Yoga merubah posisi duduknya.
Yoga yang peka pun bergerak. Kini ia menghadap ke depan. Posisi duduknya pun menempel dengan Zaki, Zaki menunduk, Yoga pun ikut menunduk.
" Jiasa pake dukun dari mana, ya. Tuh bocah, langsung kalem .. " bisik Zaki pada Yoga.
Tapi bukan suara Yoga yang selanjutnya terdengar, justru suara Zaki yang berteriak mengaduh dan mengumpat merubah suasana hening jadi ramai seketika.
__ADS_1
" ANJIIING, PALA GUE DI GETOK .. " sembari mengusap belakang kepalanya, Zaki berbalik, kemudian ia menatap nyalang si tersangka yang memukul belakang kepalanya.
" elu .. "
" apa .. " kata Lani si tersangka " kalau mau bisik-bisik kecilin dikit suaranya, gue denger, setan. "
Zaki mendengus, Yoga cekikikan menertawakan nasib sial Zaki, sedangkan Jiasa menatap datar Lani sembari menggelengkan kepalanya.
Pelajaran pertama dan kedua berakhir. Suara bel yang di tunggu terdengar.
Semua siswa bersorak kegirangan. Tanpa mengemasi alat tulisnya, para siswa itu berhamburan keluar.
Rata-rata para siswa bergerak menuju kantin, rasa lapar yang tak terkendali membuat mereka seolah berlomba siapa yang lebih dulu mencapai kantin.
Berbeda dengan siswa lain yang harus berlomba.
ketiga siswa yang orangtuanya memiliki peran penting di sekolah justru begitu mudah untuk bergerak menuju kantin.
Satu tempat khusus yang selalu mereka tempati pun selalu kosong dan tersedia untuk mereka, tak ada yang berani menempati. Meskipun itu kakak kelas.
Ketiga siswa itu kini tengah menikmati waktu istirahatnya, insiden di pagi hari seolah tak pernah terjadi, ketiganya menikmati waktu istirahat dengan canda tawa.
Dalam gurauan Zaki dan Yoga, tiba-tiba Lani terdiam. Zaki dan Yoga mengerutkan dahi.
" kenapa, Lan. ? " tanya Yoga.
Tak mendapatkan apa yang ia cari, Lani menatap Zaki dan Yoga.
" hp gue kemana, ya.? " tanya Lani dengan wajah bingung.
Zaki memutar bola matanya malas, Yoga menggeleng-gelengkan kepalanya.
" kalau ada si Malik, pasti bakal ngomong gini "
" belum tua udah pikun " kata Zaki meneruskan kalimat yang sebelumnya akan diucapkan Yoga.
Yoga mengangguk membenarkan ucapan Zaki.
" serius, Hp gue di mana ? " Lani dengan sorot mata tajamnya, seperti siap menerkam Zaki dan Yoga.
Tak takut , Yoga dan Zaki kembali memutar bola matanya malas.
" di jual sama Jiasa kayanya .. " celetuk Yoga, Lani membulatkan mata.
__ADS_1
Zaki mendengus. " hp lu di pegang Jiasa, belum di balikin. Kan tadi di kelas di rebut sama Jiasa, paling lagi di obrak-abrik sama Jiasa "
Lani diam, mengingat-ngingat, dan kemudian ia tersenyum tipis, ketika ingat jika ponselnya masih berada di tangan Jiasa.
" Lan, hp lu aman, kan.? " tanya Yoga, Lani mengerutkan dahi.
" kali aja Jiasa nanti gak sengaja nemu bokep di hp elu .. " celetuk Yoga tanpa dosa.
brakkk ..
Lani menendang kursi yang tengah diduduki Yoga hingga Yoga terlonjat karena terkejut. Bahkan Yoga sampai mengusap dadanya. " astagfirallahalazim. Arlan lu mau bikin gue mati muda. " gerutu Yoga.
Lani mendengus, " makanya kalau ngomong pake otak, elu kira gue Zaki yang koleksi bokepnya seribu kurang satu "
Zaki si oknum yang namanya di sebut membulatkan mata. Ia mengedarkan pandangannya memeriksa apakan yang lain mendengar ucapan Lani.
Sembari menunjuk wajah Lani, Zaki mengumpat dan bersuara. " Setan ya lu, image gue bisa hancur anjiir .. "
Lani yang tak perduli hanya mengedikkan bahu, kemudian ia menyeruput minuman miliknya.
Tak sengaja Lani melihat Jiasa dan tiga temannya memasuki area kantin.
Lani memanggil. " Jia .. "
Sontak Jiasa menoleh, kemudian melangkah mendekati Lani dan dua temannya.
" apa ? " tanya Jiasa
" hp .. " kata Lani to the point
Jiasa mengangguk pelan, kemudian mengeluarkan ponsel milik Lani dari dalam saku rok nya. Jiasa memberikan benda pipih itu kepada pemiliknya, dan diterima dengan baik.
" Ji, gak nemu bokep, kan.? " celetuk Yoga begitu jahil.
Jiasa membulatkan mata, sedangkan Lani sudah menatap nyalang Yoga.
" berani ngomong lagi, gue pastiin Oca gak mau sama elu .. " ancam Lani, Rosa yang berdiri di samping Jennie memasang wajah ingin muntah.
" serem amat .. " kata Yoga bergidik ngeri.
" mau kemana ? " tanya Lani, yang lain menggeleng, karena satu hal yang baru saja Lani tanyakan merupakan pertanyaan bodoh menurut yang lain.
" ini kan kantin, Lan. Ya pasti makan, ya kali mau renang .. " Zaki yang gemas ingin mencakar Lani pun bersuara.
__ADS_1
" ya siapa tau mau nyari penghulu " sahut Lani sembari menatap Jiasa, Lani sengaja menyindir Jiasa, ia masih ingat dengam candaan Jiasa di UKS pagi tadi.
Dan sepertinya Jiasa peka, ia pun menatap tajam Lani, dan yang di tatap hanya terkekeh pelan.