LABIRIN

LABIRIN
55


__ADS_3

Ceklek ...


Jiasa membuka pintu UKS kemudian melangkah masuk ke dalam UKS.


Hal yang pertama Jiasa lihat adalah petugas yang berada di UKS, Jiasa tersenyum menyapa, " Pagi " sapanya disertai senyum.


Yang disapa menyapa balik, " pagi juga, ada yang bisa dibantu ? " tanyanya.


" sebenarnya gak ada sih, cuma pingin rebahan aja, soalnya agak gak enak badan .. " Bohong, Jiasa berbohong. Kondisi tubuhnya saat ini dalam keadaan baik, hanya hatinya yang tidak dalam keadaan baik, maka dari itu Jiasa memutuskan untuk lari ke UKS, dia ingin menenangkan diri. Dalam hati Jiasa berharap, semoga hari ini manusia bernama Lani tidak pergi ke UKS.


Dokter yang bertugas tersenyum, kemudian ia menganguk membiarkan Jiasa duduk di brankar yang tersedia.


" kamu belum lama masuk ke sekolah ini ya ? " tanya Dokter Ane, tangannya dan matanya fokus pada lembaran kertas yang tengah ia corat coret dengan tinta hitam.


" iya .. " sahut Jiasa singkat.


Dokter Ane mendongkak, kemudian ia memberi senyum ketika melihat Jiasa tersenyum.


" gimana rasanya sekolah disini, udah pernah kena rayuan raja buaya belum ? "


Jiasa mengerutkan dahi, kurang paham dengan pertanyaan Dokter Ane.


Melihat ekspresi Jiasa, Dokter Ane terkekeh. " Itu lho raja buaya genknya Tedia "


Paham, Jiasa pun kini terkekeh dan menggelengkan kepala. Tapi, tak lama kekehan itu berganti dengan wajah sendunya, Jiasa ingat satu hal. Ia kini ingat jika dirinya bukan hanya terkena rayuan raja buaya. Tapi dirinya dihancurkan oleh salah satu komplotan raja buaya.


Dokter Ane mendongkak, melirik Jiasa yang nampak begitu sendu, " ada apa ? " tanya Dokter Ane menyadarkan Jiasa.


Jiasa yang sadar terkejut, kemudian ia menggelengkan kepala.


Dokter Ane kembali terkekeh dan menggeleng sembari tak menghentikan kegiatan menulisnya.


" aku baru liat Dokter " Jiasa kembali memecah keheningan.


" kemarin saya ada tugas di Rumah sakit lain, jadi disini dikosongin dulu, sekarang udah selesai jadi balik lagi deh. " sahutnya. Jiasa mengangguk paham, pantas saja semejak ia datang ke sekolah ini dan memasuki UKS, dia tidak melihat sosok Dokter Ane.

__ADS_1


Hening kembali melanda, Dokter Ane kini fokus kepada pekerjaannya, dan Jiasa memilih memperhatikan Dokter Ane.


Dalam tatapannya Jiasa diam-diam tersenyum. Dokter, Jiasa ingin mendapatkan gelar itu, sejak kecil Jiasa bermimpi untuk menjadi seorang dokter. Tapi, lagi dan lagi senyum Jiasa sirna tak kala ia kembali ingat akan kejadian tempo hari, Jiasa menghela nafas, dadanya mendadak sesak. Dalam hati ia bertanya akankah ia mendapatkan gelar itu.


Ceklek ..


Suara pintu yang terbuka membuat dua orang wanita yang berada di dalam UKS menoleh.


" Tante minta obat pusing donk " suara yang dikenali oleh dua orang yang berada di dalam UKS.


Dada Jiasa berdegub dengan cepat, tiba-tiba ia ingin segera keluar dari dalam UKS.


Berbeda dengan Jiasa, Dokter Ane tentu saja tengah menghela nafas, sorot matanya menatap tajam sosok siswa yang saat ini tengah berdiri mematung di ambang pintu dengan tatapan terkejut kearah Jiasa.


" kebiasaan, kalau masuk tuh biasain ketuk pintu "


Suara Dokter Ane membuatnya tersadar. Lani, Siswa itu pun berdeham. " ehhhemmm " ia mencoba bersikap tenang. " lupa Tan, mana obat pusingnya, si Zaki lagi uring-uringan soalnya. " kata Lani lagi, ia mencoba mengabaikan sosok Jiasa yang kini tampak membuang muka.


Dokter Ane menautkan alisnya, " Zaki ?, kenapa lagi anaknya bapak menteri itu ? " ledek Dokter Ane. Jika ada Zaki, mungkin Zaki sudah memberinya dengusan.


Lani melangkah mendekati Dokter Ane, dalam langkahnya Lani diam-diam melirik Jiasa yang kini nampak sibuk dengan ponselnya. Lani tahu itu hanya alasan Jiasa untuk mengabaikan Lani.


" tunggu disini bentar " kata Dokter Ane beranjak dari kursinya kemudian melangkahkan kaki.


Lani mengerutkan dahi. " Lah, Tante mau kemana, jangan bilang Tante mau ngambil obatnya di rumah sakit. "


Dokter Ane memutar bola matanya malas, Jiasa sendiri diam-diam menarik sudut bibirnya, gurauan Lani terdengar lucu di telinganya. Tapi, setelah itu Jiasa buru-buru membuat ekspresi datar.


" bukan di rumah sakit, tapi di pabrik obatnya " sahut Dokter Ane geleng-geleng kepala akan tingkah anak mendiang kakaknya ini. Kemudian Dokter Ane melangkah menuju lemari kaca tempat menaruh obat-obatan.


posisi Dokter Ane kini berdiri membelakangi Jiasa dan Lani. Lani yang bersandar miring di meja kerja Dokter Ane mengalihkan perhatiannya kearah Jiasa, dilihatnya Jiasa yang sibuk dengan ponselnya. Tidak, menurut Lani, Jiasa tengah berpura-pura sibuk.


Entah mendapat bisikan dari mana, setelah cukup lama tak saling bertegur sama dan saling mengabaikan, Lani meraih kertas kosong kemudian membuat gumpalan kertas lalu ia lemparkan kearah Jiasa.


Sontak, Jiasa terkejut, ia pun melihat gumpalan kertas yang tergeletak di atas lantai, kemudian Jiasa mendongkak kearah Lani dan melihat Lani yang tengah menatapnya.

__ADS_1


" masuk kelas lu, bolos mulu " kata Lani, Jiasa menatap tak percaya, ini pertama kalinya Lani berbicara padanya setelah kejadian itu.


kini perasaan Jiasa campur aduk, dia harus senang atau sedih. JujurJiasa senang karena Lani lah yang pertama kali berbicara. Tapi, Jiasa tiba-tiba merasa sedih karena ia merasa Lani hanya menjaga imagenya di depan Dokter Ane.


" kalian saling kenal, eeemmm. Tapi gak aneh sih, gadis cantik mana yang tidak Arlan kenal, iya gak Lan. " kata Dokter Ane disertai tawa meledek Lani.


Lani mendengus, Jiasa tersenyum datar. ya, Lani pasti banyak mengenal gadis cantik. Dan mungkin Lani pernah mempermainkan para gadis cantik itu sama seperti dirinya mempermainkan Jiasa, pikir Jiasa dalam hatinya.


" kita satu kelas, Tan. Dan larat kata-kata Tante, kesannya kaya Arlan sering main-main sama cewek " kata Lani matanya melirik Jiasa .


Jiasa terdiam, kalimat yang diucapkan Lani kembali mengusik hatinya. Benarkah demikian ?.


" mulai deh emosian. Udah sana, nih obatnya. Bilang sama Zaki jangan keseringan belajar, kalau dasarnya udah pintar, belajar sesuai porsinya itu sudah cukup, otak juga butuh istirahat, percuma pinter kalau kepala sering sakit, nanti yang ada bukan mikirin cara ngisi soal tapi malah mikiran gimana caranya nyembuhin kepala. "


Lani terkekeh, bisa aja deh si Tante, Arlan ke kelas dulu ya .. " pamit Lani dan mulai melangkahkan kakinya. Lani melangkah pergi begitu saja, ia kembali mengabaikan Jiasa, hingga Jiasa kembali tersenyum miring.


Lagi, Lani membuat Jiasa makin membencinya. Setelah tadi dibawa sejenak naik ke awan, kini Lani kembali menghempaskannya ke dasar bumi bahkan mungkin masuk ke dalam jurang yang terdalam.


" jadi kalian satu kelas ? " pertanyaan dari Dokter Ane membuat Jiasa tersadar, Jiasa mendongkak kemudian mengangguk sebagai jawaban.


" pasti kelakuan dia bikin kamu geleng kepala ya ? " Dokter Ane kembali melontarkan pertanyaan.


Jiasa tersenyum menanggapi.


" dia itu memang begitu, aneh, emosian, dan menyebalkan. " Dokter Ane dengan nada gemas, Jiasa menautkan alisnya.


" aneh karena tingkahnya. emosia, Arlan benar-benar gak bisa nahan emosi, dan menyebalkan karena Arlan sedikit egois. Tapi, dibalik sifat tercelanya, Arlan itu sosok remaja yang sayang banget sama Ibunya. Sikap buruknya itu pun dilakukan bukan tanpa alasan. " tutur Dokter Ane dengan senyum menghiasi wajahnya.


Jiasa kembali tersenyum menanggapi, tapi ada satu hal yang membuatnya bertanya-tanya. " Dokter kayanya kenal banget sama Lani. ? " tanya Jiasa menyebut nama siswa itu dengan panggilan yang berbeda.


" Arkan keponakan saya. mendiang Ayahnya, kakak kandung saya. "


Jiasa terdiam, kemudian ia tersenyum tipis, pantas saja Dokter Ane mengenal Lani dengan begitu baik. Dan pantas saja Lani memanggil Dokter Ane tanpa embel-embel Dokter.


Tiba-tiba Jiasa merubah ekspresi wajahnya, Jiasa mendesah pelan, untuk apa dia mengetahui sikap dan sifat pria yang sudah menghancurkan hidupnya. Tidak ada gunanya, menurut Jiasa.

__ADS_1


" kamu kenapa ? " tanya Dokter Ane, heran.


Jiasa terkejut, namun buru-buru menggelengkan kepala agar Dokter Ane tidak curiga padanya.


__ADS_2