
Berjalan sembari memainkan kunci mobilnya, Hal yang Lani lakukan saat ini.
Di belakangnya ada Robi yang berjalan mengekorinya, Keduanya pulang bersama dan dengan tujuan yang sama pula.
Dalam langkahnya, tak ayal banyak pasang mata memperhatikan, terutama kaum hawa yang selalu terpana akan sosok Lani.
Lani tahu jika ia menjadi pusat perhatian, tapi Lani bersikap abai. Ia terus melangkahkan kakinya.
Di belakang Lani, Robi memutar bola matanya malas melihat para gadis menatap penuh kagum kepada Lani. " belum aja lu tau aslinya nih anak kaya apa, kalau udah tau pasti lu semua pada kabur " kata Robi, pelan. Tapi Lani yang melangkah di depannya bisa mendengar dengan jelas.
Lani menghentikan langkahnya, seketika Robi yang tidak siap harus ikut berhenti dan akhirnya tubuhnya menabrak punggung Lani.
Lani berbalik, Lalu memberikan seringainya.
Robi menelan ludahnya, ia tengah waspada.
" ngomong apa tadi lu ? " tanya Lani, nadanya mengimintidasi.
Lagi, Robi menelan ludah. Kemudian Robi memberikan cengiran bodohnya. " kaga, ini si Zaki wa tapi pas gue bales di baca doank. udah kaya koran chatan dari gue " bohong Robi.
Lani mendengus, kemudian berbalik lalu melanjutkan langkah.
Robi tak lagi berada di belakang Lani, kini ia melangkah sejajar bersama Lani.
Tubuh Lani yang lebih tinggi darinya membuat Robi harus mendongkak ketika hendak mengajak Lani berbicara.
" Arlan "
Lani menoleh, jika sudah memanggil Lani dengan nama Arlan. Itu berarti satu hal yang akan di sampaikan tidak akan di selingi candaan.
Keduanya saling tatap untuk beberap saat, hingga Robi memutusnya kemudian kembali menatap lurus ke depan.
Sembari melangkah pelan, Robi kembali berbicara. " lu beneran serius mau balik, gak mau di pikirin lagi ? "
" enggak, gue udah yakin sama keputusan gue " sahut Lani.
Robi menghela nafas pelan, " gak mau nunggu setahun lagi, seenggaknya sampai lulus kelas 3 " Kata Robi berusaha menyakinkan Lani agar merubah keputusannya meskipun hal itu akan terjadi beberapa bulan lagi.
Lani menggeleng dengan pasti, ia dengan jelas menolak saran Robi.
__ADS_1
Robi kembali menghela nafas pelan, ia tidak memilik kata-kata lagi untuk di ucapkan, apalagi saat ini ia masih berada di area sekolah.
Tentu saja Robi tidak mau dirinya dan Lani nantinya jadi bahan tontonan jika mereka berdua sampai berdebat.
Lagi pula Robi harus sadar diri akan statusnya, ia tidak punya hak untuk menghalang-halangi keinginan Lani.
Dalam keheningan melanda Robi dan Lani, tiba-tiba ada derap langkah yang begitu cepat, bahkan keduanya kini di buat terkejut ketika derap langkah itu berhenti di antara keduanya.
" Kak Lani " suara pemilik langkah kaki itu, bahkan dengan lancang ia menyentuh lengan Lani.
Lani jelas, menatap risih gadis itu. Dengan cepat ia menghempas kasar tangan si gadis yang menyentuh lengannya.
Lalu Robi, sama seperti Lani, ia menatap. Jengah gadis yang selalu mencari perhatian kepada Lani. Padahal Lani sudah sering kali menolaknya, tapi gadis ini tak mau menyerah.
" eeemm .. Kak, aku boleh nebeng, gak ? sopir aku gak bisa jemput, aku gak biasa naik taksi, jadi aku boleh kan, ikut sama kakak. Kita searah soalnya. kakak gak keberatan kan ? " dengan percaya dirinya Citra meminta Lani untuk memberinya tumpangan.
Di belangkan Lani dan Robi, dua teman Citra tengah merutuki Citra akan sikap nekad Citra itu.
Robi melirik Lani, Di lihatnya Lani yang tengah menatap Citra dengan tatapan tidak sukanya.
Tangan Lani bergerak memberikan kunci mobil itu kepada Robi.
Melihat Lani pergi begitu saja tanpa menjawab, Citra mengempalkan tangannya sembari menundukan wajahnya.
Robi masih berdiri di tempat, ia menatap Lani yang mulai menjauh, Lalu beralih pada Citra. Robi bersidekap, setelah itu ia mendesah pelan. " kayanya lu salah satu alasan yang bikin Lani bulat sama keputusannya. Sumpah ya, heran gue sama lu. Gangguin Lani mulu, Lani itu paling anti sama cewek agresif, dan lu tuh terlalu agresif menurut gue " katanya kemudian pergi begitu saja.
Citra berbalik, menatap Robi yang menjauh dengan tangan terkepal dan wajah kesalnya. Kemudian Citra menghentakan kakinya. Seketika ia pun menjadi pusat perhatian siswa dan siswi yang berada di sana.
" gila, pede banget deketin Arlan. Jauh banget sama levelan Arlan. Typenya Arlan itu cewek kaya Jiasa, dan elu kalah banget sama Jiasa " kata-kata menjatuhkan dari siswa seangkatan dengan Lani.
Citra menoleh, ia pun menatap tajam kakak kelasnya itu. " apa sih bagusnya si Jiasa Jiasa itu, cantikan juga gue kali " kesal Citra.
Seketika ia pun mendapat tatapan remeh. " jauh lah, Jiasa itu gak pernah mengakui dirinya cantik, gak kaya lu mengakui sendiri. " sahut siswi kelas 11 lainnya.
" udah deh ngapain sih lu ngeladenin dia , yuk balik " ajak salah satu siswi kelas 11 lainnya.
Citra kembali menggeram kesal setelah ia di banding-bandingkan dengan Jiasa oleh kakak kelasnya itu.
Lani berdiri dengan tangan bersedekap, menunggu Robi mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir.
__ADS_1
Saat menunggu Robi, Lani tak sengaja melihat Jiasa.
Tanpe merasa canggung, Lani melangkah menghampiri Jiasa.
" Jia .. "
Jiasa yang tengah berdiri seorang diri menoleh, ia tersenyum tipis saat melihat Lani yang kini berdiri di sampingnya.
" nunggu jemputan ? " pertanyaan bodoh menurut Lani, tapi ia tak memiliki pertanyaan lain.
" iya " sahut Jiasa singkat.
" sendirian ? Gak takut di culik ? " lagi-lagi Lani merutuki dirinya ketika ia merasa tidak bisa mengontrol dirinya di depan Jiasa.
" siapa yang mau nyulik aku " kata Jiasa dengan senyum tipis, tapi tidak menatap Lani. Matanya menatap keluar pagar.
" gue mau, Ji. Tapi kalau elunya sendiri bersedia gue culik " canda Lani, di awal Lani memang agak menyesal mengeluarkan kata-kata yang menurutnya tak masuk akal. Tapi untuk kali ini, Lani seperti tanpa beban. Ini terdengar seperti Lani di awal mereka bertemu dulu.
Jiasa kembali tersenyum, kali ini ia menatap Lani. " gimana caranya mau nyulik, kalau kamu sendiri mau pergi "
Bertepatan dengan itu, mobil milik Fadil berhenti di depan gerbang sekolah.
" aku duluan " pamit Jiasa.
Lani sendiri masih diam mencerna ucapan Jiasa.
Ia terus menatap Jiasa hingga Jiasa pergi bersama mobil yang di kendarai oleh Fadil.
Tin
Tin
Tin
Suara klason mobil yang berhenti tepat di depan Lani, mampu menyadarkan Lani.
Lani yang terkejut, menggeram kesal. Ia menatap tajam Robi yang duduk di kursi kemudi.
Robi sendiri tak takut akan tatapan tajam itu. " buruan masuk, gue tinggal tau rasa lu " katanya.
__ADS_1
Lani mendengus, Lalu melangkah, dan masuk ke dalam mobil miliknya. Larat milik Raya, Ibunya.