
Sembari menatap layar ponselnya, Lani mengerutkan dahinya.
Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa yang akan Tedia bicarakan dengan dirinya.
Rasa penasarannya memang besar, tapi ia hanya bisa menunggu sampai Tedia tiba di rumahnya.
Lani menghela nafas kasarnya. setelah itu, ia menaruh asal ponselnya di atas tempat tidurnya.
lalu Lani melangkah untuk keluar dari kamarnya.
Pintu yang tertutup rapat itu, Lani buka. Dan ketika pintu terbuka Lani di kejutkan oleh sosok Robi yang ternyata hendak membuka pintu kamar Lani.
" astagfirallah ... " Teriak Robi sembari mengusap-ngusap dadanya.
Lani yang juga terkejut kini memejamkan matanya, menahan rasa kesal dalam dirinya. Ingin berteriak dan mengumpat, tapi di bawa sana ada sang Ibu, Lani yakin si cepu Robi akan mengadu pada Ibunya itu.
hanya beberapa detik, Lani kembali membuka matanya, kemudian ia menghela nafasnya. " mau ngapain lu ? " tanya Lani dengan nada jengah.
" santai, minggir gue mau masuk " kata Robi meminta Lani agar memberinya jalan masuk.
" kamar gue asu, kamar lu belah sana " sahut Lani. nada suara semakin tak bersahabat, kepalanya bergerak menunjuk ke arah kamar Robi yang memang tak jauh dari kamarnya.
" males di kamar gue, gue mau bersantai di kamar lu " katanya, tanpa dosa berusaha melebarkan pintu kamar Lani agar ia bisa masuk ke dalam kamar Lani.
Sekuat tenaga Lani menahanya, dan sekuat tenaga pula Robi berusaha melebarkan pintu kamar Lani.
" elu kenapa sih, Bi. Demen banget di kamar gue. Padahal Ibu udah nyediain kamar buat lu yang sama kaya gue. sana lu ah, Hari ini lu di larang nginep di dalam kamar gue. " Lani terus berusaha melawan Robi yang berusaha melebarkan pintu kamarnya.
" ck .. Males gue kalau sendirian di kamar, sepi. Sama lu lebih asik, Kan ada temen bercanda. Lagian bentar lagi kita bakalan kepisah, gue gak akan bisa nginep di kamar elu lagi " suara Robi merendah dengan wajah yang berubah memelas.
Seketika tenaga Lani melemah, ia tak lagi menahan pintu kamarnya. Ia kini menatap sendu Robi yang kini mencebikan bibirnya.
Lani mendesah pelan, lalu ia pun bersuara " biasain ya, Bi. Kalian kan nanti bakal tetap tinggal di rumah ini. nanti kalau ada waktu gue sempatin buat main ke sini, ketemu sama elu dan yang lainnya. "
Robi membuang pandangannya sejenak, lalu kembali menatap Lani dengan raut wajah sendunya. " kalau sempet, kalau gak sempet berarti gak akan main. "
Lani menghela nafas " kita masih bisa telephonenan, Bi. Lagian kenapa lu jadi kaya cewek mau di tinggal pergi jauh pacarnya. Geli gue anjiirrr " Lani bergidik ngeri di hadapan Robi.
Robi mendengus," elu mau kemana ? "
" nunggu si Malik, katanya mau ke sini "
" sendirian apa sama yang lain ? " tanya Robi lagi.
Lani mengedikan bahunya " gak tau, dia cuma bilang tunggu di rumah. "
Robi mengangguk-anggukan kepalanya.
Tak ada percakapan lagi, Lani yang berdiri di ambang pintu, melangkah keluar.
Ketika Lani sudah berada di luar kamarnya, Robi yang melihat ada kesempatan bergegas masuk ke kamar Lani.
melihat kelakuan Robi, Lani menghela nafas. Melarang atau menyuruh Robi keluar pun tidak akan berguna.
Lani kembali menggerakan kakinya, ia melangkah terus untuk turun ke lantai satu rumahnya.
ketika ia memijaki anak tangga, Lani selalu di suguhkan pemandangan Ibunya yang tengah sibuk dengan lebaran lebaran kertas berwarna putih.
Lani mempercepat gerakan kakinya. ketika tiba di lantai bawah, ia segera menghampari Ibunya. Lalu Lani duduk di samping sang Ibu.
" belum tidur ? " tanya Raya tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas yang tengah ia corat-coret.
Lani mendesah pelan, dengan wajah memberengut Lani menyandarkan tubuhnya di kepala sofa.
" Ibu nanya Arlan udah kaya lagi nanya anak SD. Belum tidur, itu pertanyaan untuk bayi, Ibu. Arlan udah gede. Ok. "
Raya menghentikan gerakan tangannya, kemudian ia menoleh menatap putranya yang tengah bersandar dengan wajah memberengut.
" jadi kamu gak suka kalau Ibu nanya seperti itu ? "
" ck " decakan lidah Lani terdengar. Ia pun segera menegakan tubuhnya. Lalu menatap balik Raya dengan tatapan mata yang serius. " bukan gak suka, Bu. Jangan salah paham gitu donk " kata Lani, mencoba memberi pengertian.
Raya diam menatap datar putranya, di tatap seperti itu membuat Lani merasa takut. Apakah ucapannya sudah melukai hati ibunya ?
__ADS_1
" Ibu marah ya ? " tanya Lani pelan " maaf deh " sambung Lani.
Raya masih diam, beberapa detik kemudian Raya menghela nafas. " Ibu gak marah " katanya, kemudian kembali melanjutkan satu hal yang sempat tertunda sejenak.
Lani tersenyum memperhatikan Ibunya.
" Arlannnnnn ... "
Suara yang sangat Lani kenal memanggil namanya.
Raya menoleh menatap Lani penuh tanya, Lani sendiri menghela nafasnya.
Kemudian muncul Tedia dengan senyum menawan yang ia tunjukan untuk Raya.
" Selamat malam Ibu. Aku datang untuk berkunjung .. " kata Tedia mengulurkan tangan, kemudian mendapat sambutan dari Raya. Lalu Tedia segera mencium punggung tangan Ibunya.
" najis, lebay .. Orang mah salamikum .. " kata Lani menatap malas Tedia.
Mendengar kata kasar yang putranya ucapkan, Raya memukul pelan lengan Lani.
" apaan sih, Bu." kata Lani sembari mengusap-ngusap lengannya.
" ngomong tuh yang bener .. " kata Raya.
Tedia tertawa, Lani mendengus padanya.
" mau ngapain lu ..? " tanya Lani.
Seketika ekspresi wajah Tedia berubah, dan itu tak luput dari pantauan Lani, Lani pun mengerutkan dahinya.
" penting, Yuk .. "
" kemana ? " tanya Lani.
Raya yang ada di sekitar mereka menatap keduanya dengan wajah penasaran.
" ke kamar lu aja yuk " Kata Tedia.
Keduanya pun melangkah ke tempat yang sudah di tentukan Lani.
Duduk di atas lantai dengan tubuh menghadap kolam renang, Tedia belum juga memulai percakapannya.
Lani yang sedari tadi menunggu merasa jengah, " mau ngapain sih sebenarnya ? "
Tedia menghela nafas, menoleh dan menatap Lani sejenak lalu kembali menatap kolam renang.
" kenapa lu milih kabur ? " tanya Tedia, akhirnya ia bersuara.
Lani terkejut. dari pertanya Tedia, Lani yakin Tedia sedang bertanya tentang rencana kepindahannya.
Lani menghela nafas, setelah beberapa detik dia terdiam. " gue bukan kabur, tapi gue mundur " kata Lani, pandangannya sama seperti Tedia, menatap kumpulan air yang ada di kolam renang.
" lu masih marah sama gue ? "
" jelas " sahut Lani, singkat tapi mampu membuat lubang dalam hati Tedia.
Tedia yang mendadak sesak nafas, segera mengontrol dirinya. " Sorry " katanya
" gue udah maafin kok " sahut Lani.
" tapi gak ikhlas .. "
Lani menoleh, kemudian ia menyeringai sembari menatap Tedia yang menatap kolam renang.
Tak lama Lani kembali membuang padangannya. " meski marah, meski sakit. Tapi gue gak punya hak buat hakimin lu, karena di sini gue yang salah. Gue udah maafin elu, dan gue juga minta maaf. perginya gue mungkin akan jadi yang terbaik buat kita semua, terutama Jiasa yang gak harus merasa muak karena selalu ketemu sama gue di sekolah. "
Tedia mendengar, tapi ia memilih diam, ia ingin tahu kelanjutannya, apa saja yang akan Lani ucapkan. " tinggal di sini cukup buat gue trauma, di tinggal Ayah, ngancurin anak orang, kehilangan anak gue yang bahkan belum lahir, dan yang terakhir gue nyakitin sahabat gue sendiri "
Tedia menoleh, ia melihat Lani yang tengah tersenyum. Tapi, senyuman Lani tidak menunjukan jika ia sedang bahagia. Justru di senyuman itu terlihat jelas rasa sakit yang Lani rasakan.
Tedia menundukan wajah. di saat ia sudah menyakiti Lani, tapi Lani masih perduli tentang persahabatnya.
Tedia merasa malu, ia baru sadar jika selama ini Lani bahkan masih bersikap sama padanya meskipun ia sudah pernah menyakitinya dengan cara menghasut Jiasa.
__ADS_1
" Arlan .. "
" hhhmm " sahut Lani, tak menoleh sedikit pun pada Tedia.
" gue minta maaf, tapi bisa gak elu jangan pergi "
Helaan nafas Lani terdengar dengan jelas, Tedia menatap Lani penuh harap, Ia berharap Lani mengangguk dan membatalkan rencananya.
Tapi, harapan Tedia hanya tinggal harapan, Lani malah tersenyum getir sembari menggelengkan kepalanya, bahkan Lani tak lupa untuk berkata. " Gak bisa, gue udah yakin sama keputusan gue "
Tedia memejamkan sejenak matanya, Tedia mengenal Lani. Ia tahu tidak mudah membujuk seorang remaja bernama Raylan Arlan Khazira itu.
Seperti tidak kehilangan akal untuk mencegah Lani pergi, Tedia kembali bersuara. " terus Jiasa gimana ? Dia tanggung jawab elu sekarang ? "
Lagi, Lani tersenyum. Kemudian Lani menoleh menatap dalam Tedia, " gue yakin dia akan baik-baik aja, gue cape merjuangin orang yang justru gak mau di perjuangin. "
" berarti lu lari dari tanggung jawab ? "
" dari awal gue gak pernah berniat lari, tapi dia yang nolak " jawaban dari Lani kembali membuat Tedia tertunduk dan merasa bersalah.
" tapi sekarang kalian lagi deket, apa gak mau lu usahain lagi buat merjuangin Jiasa ? "
Lani menghela nafas. Ya, Tedia benar. Akhir-akhir ini dirinya dan Jiasa terlihat dekat. Tapi semua itu Lani lakukan hanya untuk menunjukan rasa tanggung jawabnya kepada Jiasa sebelum ia pergi, bukan untuk menarik perhatian Jiasa agar Jiasa mau menerimanya.
" gue cuma gak mau ngelepas tanggung jawab gue sama dia sebelum gue pergi "
" terus kalau dia nanti baper sama elu dan naruh harapan sama elu gimana ?. apa elu sengaja mau balas dendam sama dia "
Lani kembali menghela nafas, " mana mungkin gue kaya gitu, boro-boro mau balas dendam. Liat dia nangis aja gue gak tega. "
" terus kenapa mau lu tinggalin ? "
" ya karena dia gak mau sama gue, dia maunya sama elu " jawaban Lani dengan nada suara cukup tinggi dan mampu membuat Tedia membeku.
" keputusan gue gak bisa di ganggu gugat, gue pergi untuk kebaikan kalian semua terutama Jiasa, gue yakin kalau gue gak ada, dia akan lebih baik dalam melanjutkan hidupnya karena gak ada lagi bayang-bayang gue di sekitar dia, gue cuma mau dia bahagia sama hidupnya dan gak ngerasa tertekan karena selalu ngeliat gue, itu aja. Hanya itu . "
Lani menundukan wajahnya, Tedia terdiam mendengar suara parau Lani.
" gue juga yakin, rasa benci yang besar di hati Jiasa masih ada buat gue. Mana ada seorang cewek yang hidupnya udah di ancurin sama cowok terus maafin cowok itu begitu aja. Ga akan ada, Di. " lanjut Lani.
Tedia terdiam, ia mati kutu dan tak bisa menjawab kalimat-kalimat yang Lani lontarkan.
Apa yang Lani pikirkan tentu saja benar. Tidak ada seorang wanita yang tidak membenci seseorang yang sudah menghancurkan hidupnya.
Keduanya larut dalam keheningan, hanya hembusan angin dan suara binatang di malam hari yang terdengar.
Tapi tak lama, suara Lani kembali memecah keheningan.
" ngomong-ngomong lu tau dari siapa ? "
Lani menatap Tedia dengan mata menyipit penuh selidik.
Tedia menoleh dan melihat bagaimana ekspresi wajah Lani.
" sialan, pasti si Robi .. " celetuk Lani lagi, kali ini ia tersenyum kecut dan membuang pandangannya ke arah lain.
Lani terkekeh mendengarnya " mana ada Robi ngomong, dia mah paling setia sama elu. Gue tau dari Mama, Mama gak sengaja ketemu Ibu. "
Seketika Lani menoleh, dan kini ia pun mengangguk-anggukan kepalanya.
" pantes coach Dito kaga nulis nama lu ternyata beliau udah tau lebih dulu, kenapa lu harus rahasian semua ini dari kita ? "
" gue gak mau bikin kalian sedih lagi " sahut Lani
Tedia menoleh, ia memincingkan mata " dih najis .. Lebay, mana ada sedih-sedihan .. "
" halah so-so'an bilang mana ada, lah ini pas lu tau langsung datang kesini.. Itu udah membuktikan kalau lu pasti sedih gue tinggal. "
Tedia di buat tertawa mendengar ocehan Lani, " bisa aja lu " kata Tedia mengacak-acak rambut Lani.
Lani mendengus, kemudian ia menjauhkan tangan Tedia dari kepalanya. " jangan pegang-pegang .. Banyak kumannya "
Tedia membulatkan mata, " mana ada, pea. " katanya, kali ini menoyor kepala Lani.
__ADS_1