LABIRIN

LABIRIN
70


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Jiasa yang terbaring lemas di atas kasurnya segera merubah posisi tubuhnya menjadi duduk ketika mendengar suara pintu yang di ketuk.


" masuk aja, Ma. Gak di kunci kok " Jiasa yang yakin jika Farah yang mengetuk pintu kamarnya segera memberi intruksi agar segera membuka pintu dan masuk.


suara pintu yang di buka terdengar, dan ketika daun pintu terbuka lebar, Jiasa di buat melebarkan matanya dengan kehadiran ketiga temannya yakni Jennie, Rosa, dan juga Irene.


" kalian " kata Jiasa masih dalam mode tak percaya.


Jennie, Rosa dan Irene sontak tertawa. Ketiganya kini melangkah masuk mendekati Jiasa.


" kenapa gak bilang kalau mau ke sini " Jiasa berucap lagi kali ini seperti memprotes karena ketiga temannya itu tidak memberi kabar akan kunjungannya ke rumah Jiasa.


" sengaja mau ngasih kejutan " kata Jennie yang kini sudah naik dan duduk di kasur milik Jiasa.


Jiasa menghela nafas pelan, dengan terpaksa dia tersenyum. Bukan, Jiasa bukan tidak senang dengan kunjungan ketiga gadis yang saat ini sudah berada di kamarnya, hanya saja di situasi sekarang Jiasa ingin menenangkan diri.


" kalian mau minum apa ? " basa-basi Jiasa.


" gak usah repot-repot, Ji. " sahut Irene.


" elu sakit apa sih, Ji. ? " kali ini Rosa yang mengajukan pertanyaan. Semua mata kini tertuju ke arah Jiasa.


Jiasa yang di perhatikan kembali menghela nafas pelan, tak ingin di curigai Jiasa tersenyum kemudian ia berkata " mag aku kambuh, biasa kemarin pagi-pagi udah minum es kopi padahal belum sarapan. "


Jennie mendecakan lidahnya, " ck ! Ada-ada aja elu mah, lain kali jangan di ulang. Harus pinter jaga kesehatan. " ultimatum dari Jennie di dapatkan Jiasa, Jiasa tersenyum dan mengangguk pelan guna menanggapi kalimat Jennie.


" oh iya Ji, kamu ketinggalan hot news " Rosa kembali bersuara.


Jiasa mengerutkan dahinya tak paham, sedangkan Jennie dan Irene menggelengkan kepalanya. sudah tahu jika Rosa akan bergosip.


" tau donk 4 cowok ganteng di kelas kita " Kata Rosa lagi, Jiasa mengerutkan dahi lagi.


" cieee mengakui kalau mereka ganteng " goda Irene pada Rosa dan membuat Rosa mendengus kasar. Jennie tertawa di buatnya sedangkan Jiasa tersenyum masam. Kini ia tahu siapa empat cowok tampan di kelas mereka. Entah mengapa mendengar Rosa mengatakan kata tampan untuk empat pria itu membuat Jiasa tak suka.


Jika menyebut tiga mungkin Jiasa tak masalah, tapi Jika menyebut semuanya, Jiasa merasa tak rela. Diam-diam Jiasa mengusap perut ratanya yang mulai bereaksi.


" kayanya mereka lagi dapet hukuman deh, soalnya yang satu gak masuk yang tiga di anter supir. " Rosa melanjutkan sesi bergosipnya.


Jiasa kembali mengerutkan dahi, " siapa yang gak masuk.? " tanyanya cukup penasaran.


" calon bapak dari anak lu " Celetuk Jennie asal. Sontak Rosa dan Irene tertawa.


Jiasa sendiri malah membeku, seketika ia terdiam, tapi tak lama ia bersuara. " Lani ? " tanyanya.


" cieee tau banget, jodoh kayanya ini mah, atau jangan-jangan kalian berdua itu gak sakit. Tapi abis janjian pergi pacaran. " kali ini Irene yang menggoda Jiasa.


Rosa dan Jennie bersorak sedang Jiasa tersenyum masam.


tapi, ada satu pertanyaan yang muncul dalam hati Jiasa. Kenapa Lani bisa sakit ? Apakah ini adalah hubungannya dengan kejadian kemarin dimana ia terciduk oleh Ibunya Lani ?.


Jiasa kembali larut dalam pikirannya sampai ia tak menghiraukan candaan temannya. Pertanyaan lain kini muncul.


Jika sekarang Raya sudah mengetahui semuanya, lalu yang akan terjadi selanjutnya apa ?


Helaan nafas pelan Jiasa hembuskan, kepalanya mendadak pusing.


" Ji .. " panggil Jennie sembari menguncangkan pelan lengan Jiasa.


" iya kenapa ? " tanya Jiasa yang terkejut dengan panggilan Jennie.


" kok ngelamun sih, mikirin apa ? " tanya Jennie.


Lagi, semua mata tertuju pada Jiasa.


Jiasa menggelengkan kepala, " enggak kok. " sahutnya di sertai senyum menipu.


Tok


Tok


tok


Semua menoleh ke arah pintu. di ambang pintu, Farah berdiri dengan membawa nampan dengan gelas yang tersusun rapih.


Semua menyambut dengan senyum, Farah melangkah masuk. Kemudian meletakan minuman yang ia sajikan khusus untuk teman-teman Jiasa di atas meja belajar Jiasa.


" mama taruh sini ya. " katanya. Dan mendapat anggukkan dari empat gadis cantik ini.


Setelah selesai dengan urusannya, farah yang tak mau mengganggu ke empat gadis itu melangkah keluar.


" seger banget .. " seru Rosa yang sudah meneguk minuman miliknya.


Raut wajah Jiasa seketik berubah, sayang tak ada yang menyadari itu semua. Tiga gadis cantik yang tengah bersama Jiasa sibuk menikmati minuman dan camilan yang di suguhkan oleh tuan rumah.


Jiasa kembali menyentuh perutnya, rasa mual itu kembali ia rasakan. Bahkan kini di sertai rasa pusing di kepalanya.


Jiasa menurunkan kakinya, ia sudah tidak tahan ingin mengeluarkan sesuatu di dalam perutnya.


" mau kemana, Ji.? " tanya Irene.


" kamar mandi sebentar " sahut Jiasa tanpa menatap Irene.


Kedua kaki Jiasa sudah menapak di lantai, ia bangkit dan kini berdiri.


Jiasa merasa semakin mual dan semakin pusing tatkala ia berdiri, pandangan matanya pun menjadi buram.


Jiasa mencoba menahan, perlahan ia mengayunkan kakinya untuk melangkah.


Berhasil, beberapa langkah lagi ia akan tiba di ambang pintu kamar mandi. tapi, belum sempat ia menggapai pintu, satu hal terjadi pada Jiasa.


Jiasa terjatuh pingsan.


" Jiasa " suara Jennie, terkejut dengan hal yang terjadi pada sepupuhnya itu.


Sontak tiga gadis itu berlari menghampiri Jiasa yang tergeletak tak berdaya di atas lantai.


" Jia " panik Jennie sembari menepuk-nepuk pelan pipi Jiasa berusaha membuat Jiasa sadar.

__ADS_1


" Ca, panggil tante Farah, Ca. " Irene memberi perintah. Rosa menuruti dan bergegas ia lari keluar kamar.


" Jia bangun Jia .. " Jennie kembali menepuk-nepuk pipi Jiasa yang masih tak sadarkan diri.


" Jiasa ... " Farah yang datang bersama Rosa segera berlari mendekati Jiasa.


Ia menarik pelan Jiasa agar kepalanya bersandar padanya. " Jia .. " paniknya berusaha menyadarkan putrinya.


" Jennie kamu telephone Tante Diana, suruh dia datang secepatnya. " perintah Farah kepada keponakannya itu, Jennie mengangguk kemudian ia berlari menuju kasur Jiasa dimana ia meletakan ponselnya.


Bergegas Jennie menghubungi salah satu keluarganya yang berkerja sebagai dokter. " cepetan ya, Tan. Kita tunggu. " kata Jennie mengakhiri sambungan telephonennya.


Jennie kembali mendekati Jiasa. " tante sambil nunggu tante Diana kita pindahin Jiasa ke atas kasur aja " Jennie mengingatkan, Farah menganggguk.


Ke empat wanita itu dengan sekuat tenaga mencoba membaringkan Jiasa di atas kasurnya. Dan mereka berhasil.


Memang melelahkan, Tapi lebih baik dari pada Jiasa berbaring di lantai.


Setelah Jiasa berbaring di atas kasurnya Farah berinisiatif memberikan minyak angin kepada putrinya, beruntung ia tak harus kesusahan mencari, minyak angin yang di butuhkan tersedia dan tergeletak di atas meja belajar Jiasa.


Farah mengoleskan ke telapak tangannya, kemudian mengarahkan telapak tangannya ke hidung Jiasa, tujuannya agar Jiasa segera sadar dengan mencium aroma minyak angin.


Jennie sendiri mengipasi Jiasa dengan buku yang ia ambil dari dalam tasnya, meski sudah ada Ac, tapi Jennie yakin Jiasa butuh udara segar.


Tak lama mata Jiasa mengerejap, Semua menghela nafas lega. Jiasa sepertinya akan sadar.


" Jia .. " panggil Farah.


Perlahan kelopak mata Jiasa terbuka, " Mama " kata Jiasa.


Semua mengucap syukur karena Jiasa sudah sadar.


Suara klason mobil terdengar, Jennie bergegas turun dari kasur. " kayanya itu Tante Diana. "


Bergegas Jennie keluar dari kamar Jiasa.


Tak ada yang berbicara, semua membiarkan Jiasa agar lebih tenang dan lebih baik.


Tak lama Jennie kembali dengan seorang wanita ber-jas putih.


Senyum ramah ia dapatkan, tapi tidak dengan Jiasa ia menatap dengan tatapan terkejut.


" bisa beri saya ruang " katanya dengan senyum.


Semua patuh dan memberikan ruang pada Dokter Diana yang baru saja datang.


Dokter Diana tersenyum pada Jiasa, ia mulai memeriksa Jiasa.


Dokter Diana tiba-tiba mengerutkan dahinya sembari menatap dalam Jiasa. Jiasa yang paham tatapan Dokter Diana menelan ludahnya takut.


" kalian bisa biarkan kita berdua .. " pinta Dokter Diana dan mendapat persetujuan dari ke empat perempuan yang ada di kamar Jiasa.


Kini hanya tinggal berdua, Dokter Diana menatap Jiasa, Jiasa takut dan membuang pandangannya.


" Siapa ? " tanya dokter Diana.


" Apa maksud tante ? " Jiasa tak paham.


" Ayahnya ? "


Jiasa terkejut, wajahnya kembali pucat.


" meski tante bukan dokter kandungan, tapi tante tau betul gejalanya, jadi katakan jujur siapa ayahnya ? "


Bulir air mata jatuh di pipi Jiasa, ia menangis. Dokter Diana menghela nafas. Membiarakan Jiasa, Dokter Diana melangkah menuju pintu, pintu yang awalnya tertutup ia buka, kemudian matanya tertuju menatap Farah.


Tak lama, hanya sesaat, Diana seperti tak enak hati ingin mengatakan satu hal.


" gimana Jiasa ? " tanya Farah, paniknya tak kunjung hilang.


" Jiasa baik, kalian bisa kok temui dia. " semua bernafas lega, Diana kini beralih pada Jennie.


" Jen, ikut tante sebentar. " Dahi Jennie berkerut, kemudian ia mengikuti langkah Tantenya yang berstatus dokter itu.


Berbeda dengan Jennie dan Diana yang berlalu dari kamar Jiasa. Farah dan dua gadis yang masih setia di rumah Jiasa, Masuk ke dalam kamar Jiasa guna menemui Jiasa.


Jennie terus mengikuti Diana, ia bertanya-tanya tapi tak berani memberi pertanyaan. Hingga tiba di lantai dasar, dahi Jennie di buat berkerut ketika Diana menatapnya.


" apa Jiasa punya pacar ? "


Pertanyaan yang membuat Jennie semakin bingung, " setau aku enggak tan. " sahutnya.


Diana menghela nafas, ia memijat pangkal hidungnya kemudian kembali menatap Jennie. " apa selama ini ada lelaki yang deket sama Jia.? "


Jennie nampak berpikir, " ada sih, tapi gak deket deket banget, emang kenapa sih tan, bikin penasaran aja. " Jennie mengeluh karena Diana terus membuatnya penasaran.


Diana mendongkak, menatap anak tangga guna memeriksa apakah ada seseorang yang hendak turun. Di rasa aman, Diana kembali beralih pada Jennie. " tolong beliin testpack di mini market depan "


Mata Jennie membulat, mulut terbuka dengan sempurna. " buat siapa, tan.? " tanyanya sangat terkejut.


" udah kamu beli aja " kata Diana, tak ingin membuang waktu.


" jangan bilang buat Jia .. " tebak Jennie.


Diana lagi-lagi menghela nafas, kemudian ia mengangguk pelan.


Jennie nyaris teriak, tapi buru-buru Diana memberi intruksi untuk diam, bergegas Jennie menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


" meski tante bukan dokter kandungan, tapi tante tau, untuk memastikan tante mau coba membuktikan dengan testpack " Diana menjelaskan. " makanya tante tanya, apa Jiasa punya pacar atau lelaki yang dekat sama dia "


Jennie masih dalam mode terkejut, ia tak bisa berkata-kata.


" udah sana kamu beliin, semoga dugaan kita salah. "


Jennie mengangguk dan kemudian berlalu keluar dari rumah Jiasa, sementara itu Diana kembali naik ke lantai atas menuju kamar Jiasa.


detik berlalu, menit pun berlalu. Diana saat ini berada di kamar Jiasa bersama dengan yang lainnya.


Jiasa yang duduk bersandar di atas kasur dengan di temani Irene dan Rosa diam-diam menyembunyikan rasa takutnya. Jiasa juga diam-diam memperhatikan dan mendengarkan obrolan Diana dan Farah, Jiasa takut Diana mengatakan kepada Farah.


Tak lama derap langkah kaki terdengar, dan tak lama pula Jennie datang.


" tante .. " panggil Jennie, semua menoleh pada Jennie.

__ADS_1


" dari mana Jen ? " tanya Rosa.


jennie tersenyum kikuk, ia melirik Jiasa sekilas, " abis beliin pesenan tante. " katanya kemudian menghampiri Diana.


" aku udah beli apa yang tante pinta " kata Jennie menyerahkan sebuah benda yang di pinta Diana.


Farah mengerutkan dahi, bertanya-tanya benda apa yang di pinta Diana. Sayang benda itu terbungkus plasti, Farah tidak bisa melihat jelas.


di atas tempat tidur, Jiasa menatap penuh khawatir.


" itu apa, Di.? " tanya Farah.


Diana hanya tersenyum tipis, " nanti juga akan tau. Jiasa ayo " kata Diana memberi perintah agar Jiasa mengikutinya.


Meski takut, Jiasa menuruti, ia turun dari atas tempat tidur dan melangkah mengikuti Diana yang berjalan menuju kamar mandi.


Semua menatap penuh tanya dengan hal yang saat ini akan Diana lakukan.


Ketika Jiasa dan Diana sudah berada di dalam kamar mandi, semua mata tertuju pada Jennie.


" ada apa sebenarnya Jennie ? " tanya Farah.


Jennie menundukkan wajah, ia tak mampu berbicara.


Di dalam kamar mandi Jiasa menangis di hadapan Diana.


Hasilnya sudah terlihat, pertanyaan yang Diana butuhkan sudah terjawab.


Ia mengarahkan benda pipih bergaris dua warna merah itu ke hadapan wajah Jiasa.


" sampai kapan kamu mau berdiam diri, ini bukan perkara sepele, Jia. " kata Diana.


Jiasa tak menjawab, ia hanya menangis.


" kak Fadil sama kak Farah harus segera tau " katanya hendak keluar tapi Jiasa menahannya.


" tante jangan beritahu papa sama mama "


"Jiasa " sentak Diana.


Tak menuruti , Diana membuka pintu dan bergegas keluar. Ketika pintu terbuka, Farah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah penasarannya.


Diana menghela nafas, di belakangnya Jiasa masih menangis dan semakin membuat Farah penasaran.


Jennie yang berdiri di belakang Farah terkejut dengan kondisi Jiasa, ia yakin yang ia pikirkan adalah hasil yang keluar dari testpack yang ia beli.


" ada apa sebenarnya Diana, kamu jangan bertingkah seenaknya dan membuat saya penasaran " kesal Farah.


Diana tak menjawab, ia malah menyuruh Jiasa keluar " Jia keluar cepat "


Jiasa menuruti, ia melangkah lemah


Setelah Jiasa keluar Diana meminta Jiasa duduk di atas tempat tidur, lagi-lagi Jiasa menuruti.


Jiasa duduk seorang diri, lima orang kini berdiri dihadapannya.


" jadi katakan dengan jujur, siapa ayahnya, Jiasa. " Diana dengan lantang kembali bertanya.


Sontak, kecuali Jennie semua terkejut, bahkan Farah sampai menutup mulutnya yang terbuka.


" Diana maksud kamu apa ? " tanya Farah tak percaya.


" Jiasa hamil " kata Diana menunjukan testpack dengan dua garis merah.


Farah kembali terkejur, ia seperti di sambar petir, perlahan Farah mengambil alih testpack itu.


"Jia kamu ." katanya menatap Jiasa dengan mata memerah dan berair.


Jiasa menundukan kepala, bahunya bergetar. Ia menangis, hal yang paling ia takutkan terjadi.


" JIASA JAWAB JUJUR, SEMUA BOHONG KAN " Farah dengan nada tinggi, berharap semua hanya sebuah kejahilan Jiasa.


bukan menjawab, Jiasa semakin menunduk dan tangisan pun semakin terdengar.


Farah menutup kembali mulutnya, tak perlu jawaban, tapi ia sudah tahu jawabannya.


" Jiasa jawab tante siapa ayahnya ? " Diana kembali bertanya.


Tiga gadis yang ada di kamar Jiasa kini ikut larut dalam tangisan.


" ayo Ji, jawab. kalau kamu diam masalah gak akan kelar " pinta Diana yang kini ikut menangis.


tubuh Jiasa bergetar takut, dia mendongkak perlahan kemudian menatap sang Ibu yang menangis dalam pelukan Jennie.


Melihat betapa terlukanya sang Ibu, Jiasa kembali menunduk, mulutnya perlahan terbuka. " La ..... Ni " kata Jiasa dengan suara pelan, Tapi masih bisa di dengan oleh semua yang ada di kamar Jiasa.


" Lani " Jennie kini bersuara.


Jiasa menganggukkan kepala.


Irene, Rosa terkejut untuk kesekian kalinya.


pertanyaan sudah terjawab, tapi Diana kembali bertanya. " apa Lani tau akan hal ini ? " Diana dengan hati-hati agar Jiasa mau menjawab.


Jiasa menggeleng, " aku gak tau, tan. Tapi, kemarin tante Raya sudah tau " Kata Jiasa lirih dengan wajah tertunduk takut.


" jadi nyokapnya Lani udah tau ..? " Jennie kembali bersuara, Rosa dan Irene kembali terkejut.


Jiasa menganggukkan kepala.


Suara tangisan Farah terdengar kencang, semua menatap Farah dengan tatapan Iba.


" Jia .. Bisa-bisa nya kamu hancurin masa depan kamu sendiri " Farah bersuara dengan rasa sesak di dadanya. Hancur sudah harapan seorang Ibu yang ingin melihat anaknya berjaya dan sukses.


" maafin Jia, Ma. " kata Jiasa menyesali semuanya.


Farah mendekati Jiasa, kemudian ia memeluk erat putrinya, Jiasa menangis di pelukan ibunya, menyesal karena sudah menyakiti Ibunya.


Jennie yang melihat mengepalkan tangannya, dengan wajah penuh amarah Jennie keluar dari kamar Jiasa, Irene dan Rosa mengikuti.


Di luar kamar Jiasa, Jennie berusaha menghubungi seseorang, ia menggeram kesal ketika telephonnya tak kunjung mendapat jawaban.


" Arlan .. Angkat setan " umpat Jennie.

__ADS_1


Rosa dan Irene menatap prihatin.


__ADS_2