LABIRIN

LABIRIN
83


__ADS_3

Perdebatan masih terjadi, perkara Lani yang ingin pulang sendiri dan Robi yang ingin pulang bersama Lani.


Yoga sudah mengalah, ia membiarkan Lani memilih. Yoga pikir, Lani butuh menyendiri untuk menenangkan dirinya.


" gue balik sendiri, Bi. " lelah Lani dengan helaan nafas, ketika meminta pada Robi untuk membiarkannya pulang sendiri.


Robi menggeleng, " no no no no .. Gak boleh, entar lu bunuh diri, ngeri gue mah. "


Lani kembali menghela nafas, " ngapain gue bunuh diri. Masih muda gue mah, belum ngerasain kawin, jadi gak pengen mati sekarang "


Yoga terkekeh, sepertinya seorang Lani sudah kembali. Terbukti dari celotehannya.


Berbeda dengan Yoga, Zaki mencibir Lani. Mulutnya komat kamit menggerutu tak jelas.


Zaki kemudian menggerakan tangannya, guna menoyor kepala Lani. " asu lu, kawin lu udah, yang belum nikah. " Zaki membenarkan perihal ungkapan Lani yang menurut Zaki salah.


Lani terdiam, dia loading. Sedangkan Robi dan Yoga sudah tertawa terbahak.


Tak lama umpatan Lani yang mereka rindukan terdengar, " Zaki, Anjing lu ya .. " katanya, menunjuk Zaki tepat di wajahnya.


Zaki hanya mengedikkan bahunya tak perduli.


Ngomong-ngomong soal Tedia, Tedia sudah tidak ada di kelas. Setelah mengambil tasnya, Tedia keluar lebih dulu.


Ke empat siswa itu membiarkan, mereka tau Tedia tengah merasa malu kepada Lani.


" udah deh balik yuk, malah kalian berdua yang debat sekarang. " kata Yoga mecegah perdebatan ronde kedua yang kemungkinan akan terjadi di antara Zaki dan Lani.


" asu .. " kata Lani.


Zaki menggerakan bibirnya, mencibir Lani.


Yoga menarik Lani agar keluar dari kelas. begitu pula dengan Robi, ia menarik Zaki agar mengikuti mereka.


Di ambang pintu, Zaki tiba-tiba berhenti. Seketika Lani, Yoga dan Robi ikut berhenti.


" apa lagi ? " Robi jengah, ia yakin akan ada satu hal yang keluar dari mulut laknat Zaki.


" Lan .. " panggil Zaki dengan wajah serius.


Yoga dan Robi memasang wajah waspada.


" hhmm " sahut Lani malas.


Zaki tersenyum menyeringai, Lani memincingkan matanya.


" berarti, lu udah liat buah melon versi ori ..? " Zaki bertanya sembari menaik turunkan alisnya.


Yoga dan Robi yang langsung paham seketika membulatkan matanya, bahkan mulut keduanya ikut terbuka.


Lain Yoga dan Robi, Lani pula dengan Lani. Bak Siswa polos, Lani kembali nampak berpikir. kedua bola matanya nampak bergerak.

__ADS_1


Zaki menahan tawanya melihat ekspresi Lani, hingga akhirnya Lani membulatkan matanya.


Zaki yang sudah tau jika Lani sudah paham ke arah mana ia berbicara segera membuat ancang-ancang untuk berlari. Dan ketika umpatan Lani terdengar, Zaki berlari dengan kekuatan kaki seribunya.


" Zaki, Bajingan lu. Setan .. " teriak Lani, kemudian berlari mengejar Zaki.


Yoga dan Robi saling tatap, kemudian keduanya sama-sama menghela nafas.


" gitu tuh kalau bocah pas di proses emak bapaknya gak baca doa " celetuk Robi." yang satu pea, yang satu sinting .. " sambung Robi.


Yoga menggelengkan kepalanya sembari terkekeh. " bisa aja lu " katanya kemudian merangkul Robi untuk keluar dari kelas.


Lani berhenti berlari, ia membungkuk kemudian mulai mengatur nafasnya. Lelah, itu yang ia rasakan.


di depan sana, Zaki juga berhenti berlari. Ia kini tengah menertawakan Lani yang terlihat lemah tak berdaya karena tak bisa menggapainya.


" gue kira suhu, ternyata cupu. malu-maluin anjir, ngejar gue aja gak bisa, gimana mau ngejar cinta Jiasa. " Zaki meledek Lani.


Lani memutar bola matanya malas, Zaki kembali memancingnya. " sini lu, gak bakal gue lepasin kalau belum gue patahin leher lu " murka Lani tapi kembali tak membuat Zaki takut, Zaki malah kembali meledek Lani.


" awwww atuutt .. "


Lani menggeram, ia kembali bersiap mengejar Zaki. Tapi Zaki tak diam, ia pun bersiap kembali untuk kabur.


Setelah di paksa, akhirnya Lani mengalah dan Robi berteriak dalam hatinya karena merasa menang.


Kini, bersama Robi. Lani sudah tiba di rumahnya.


Lani terdiam, ketika melihat kedua orang tua Tedia ada di dalam rumahnya.


Di samping Lani, Robi berbisik. " mau ngapain lagi mereka ? "


Lani menggelengkan kepala, kemudian ia melangkah mendekati. Robi pun mengikuti.


" baru pulang ? " tanya Malik pada saat Lani mencium punggung tangannya. Lani mengangguk kemudian ia beralih pada Ria, lalu selanjutnya Raya, Ibunya.


tak langsung pergi ke kamarnya, Lani memilih duduk di sebelah ibunya. Lani yakin kehadiran kedua orang tua Tedia bukan hanya sekedar ingin berkunjung. Tapi, ada hal penting yang akan mereka bahas.


" ada apa, Pa ? " tanya Lani tak mau berbasa-basi. Lani sudah pusing dengan semua drama yang ada. Ia ingin segera menyelesaikan meskipun rumit.


Malik menghela nafas, kemudian menatap Lani dengan serius. " Perihal Jiasa. Papa sama yang lain berniat untuk bicara lagi dengan keluarga mereka. "


Lani tersenyum tipis, sangat tipis bahkan nyaris tidak terlihat. Sudah Lani duga, pasti kedatangan kedua orang tua Tedia membahas masalah dirinya dan Jiasa.


Lani menatap Papa Malik dengan tatapan penuh arti. Kemudian ia mendesah kasar. " Pa, Arlan gak bisa maksa mau nya Jiasa. Udahlah, Arlan tau kalian cuma mau Arlan tanggung jawab sama Jiasa. Tapi, kalau Jiasa kekeh sama pendiriannya, Arlan bisa apa ? stop bahas ini, Pa. bukan Arlan mau lari dari tanggung jawab. Tapi, Arlan gak mau memaksa satu hal yang nantinya malah bikin satu orang menderita. tolong, Biarin Jiasa tenang dan nyaman dengan dunianya." Lani berbicara panjang lebar. Ia menolak perihal niat Malik untuk kembali melamar Jiasa.


Malik menghela nafas, tentu ia paham maksud Lani.


" apa kamu sudah tau alasan Jiasa nolak kamu ? "


Lani diam. Tentu saja ia sudah tau, penyebab utamanya adalah putra sematawayang orang yang saat ini duduk di hadapannya. Tapi, Lani tidak berniat sama sekali untuk mengadu. Alhasil, Lani pun menggelengkan kepala.

__ADS_1


" apapun keputusan Jiasa, Arlan terima, Pa. Dan satu lagi, Arlan bukan mau lari dari tanggung jawab. Arlan cuma mau hormati keinginan dan keputusan Jiasa saat ini. " kata Lani begitu yakin.


Malik menghela nafas, Raya dan Ria menatap Lani dengan wajah sendunya.


" kalau menurut kamu itu yang terbaik, Papa setuju. Tapi, kalau nanti ada apa-apa jangan sungkan bilang sama Papa, dan nanti kita akan cari jalan keluarnya bersama. "


Lani menganggukkan kepala. Kecewa, sudah pasti. Tapi. Seperti kata Lani, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


..


Jiasa sudah di izinkan pulang. Dengan bantuan Ibunya dan Ayahnya, Jiasa memasuki kamarnya.


Jiasa duduk bersandar dengan kaki yang di luruskan di atas kasurnya.


Farah ikut duduk di sisi kasur dengan tubuh menghadap Jiasa. Sedangkan Fadil, ia berdiri menghadap Jiasa.


" kamu istirahat sampai benar-benar pulih. untuk sekolah, Papa dan Pa Malik sudah atur surat izin kamu. " kata Fadil.


Jiasa mengangguk pelan.


" selama kamu beristirahat, pikirkan lagi ucapan kamu itu. Inget Jiasa, masa depan kamu jadi taruhannya. " Fadil kembali mengungkit perihal penolakan Jiasa terhadap Lani, seorang pria yang harus bertanggung jawab akan hidup Jiasa saat ini.


Jiasa menghela nafas. baru saja menapakan kakinya di rumah, tapi ia sudah di beri pertanyaan yang menyebalkan. " maaf, Pa. Aku rasa untuk sekarang gak ada penghalang buat masa depan aku. " kata Jiasa mengingatkan jika tak ada lagi seorang bayi dalam perutnya.


Farah cukup terkejut dengan pernyataan Jiasa, begitu juga dengan Fadil.


Fadil memijat pangkal hidungnya. Ya, Jiasa menang benar. Tak ada halangan untuk sama depan Jiasa yang cerah. Tapi, kondisi Jiasa saat ini apa itu baik ?.


Fadil tak berbicara lagi, ia melangkah keluare meninggalkan Jiasa.


Di tinggal Ayahnya, kini Jiasa hanya bersama Farah.


Farah menatap Jiasa dengan tatap penuh arti.


" apa kamu beneran gak mau menikah dengan Lani. ? "


Jiasa menggelengkan kepala.


" lalu setelah itu, apa kamu pikir akan ada pria lain yang mau nerima kamu apa adanya ? "


Jiasa terdiam, ia tak bisa menjawab.


Farah mendesah pelan, " benar apa kata Papa, jangan karena kamu pikir dia sudah tidak ada maka masalah akan selesai. Hukum alam masih berlaku untuk kamu dan Lani. Terutama kamu, Lani akan tetap terlihat baik-baik saja. tapi kamu, selamanya akan membekas."


Ekspresi Jiasa seketika berubah. " apa gara-gara pemuda itu kamu menolak Lani.? " tanya Farah sangat hati-hati.


Jiasa menundukkan wajahnya.


Farah menghela nafas, " jika dia bisa menerima kamu apa adanya, Mama gak akan masalah. Tapi, Mama hanya takut suatu saat kondisi kamu saat ini akan jadi perkara dalam kehidupan kalian. Mama takut kondisi kamu di ungkit di setiap perdebatan kalian. Bukan Mama berpikir negatif. Tapi ini cuma perasaan khawatir seorang ibu kepada anaknya yang sudah tidak baik-baik saja. " Farah diam, kemudian ia menatap Jiasa yang menunduk.


Lagi Farah menghela nafas, " udah, kamu istirahat. Jangan pikirkan masalah apapun. " katanya kemudian berdiri dan melangkah pergi keluar dari kamar Jiasa.

__ADS_1


__ADS_2