LABIRIN

LABIRIN
49


__ADS_3

Raya berkali-kali menghela nafas, berkali-kali pula ia menatap kearah pintu rumahnya yang tidak tertutup, raut wajahnya menunjukan jika ia tengah merasa cemas.


Tiba-tiba ia memikirkan Lani, putranya yang pergi beberapa jam yang lalu.


" Bu " panggil Bi Minah.


Raya merespon, ia menoleh kearah Bi Minah yang datang dengan segelas air teh hangat.


melihat apa yang dibawa Bi Minah, Raya mengerutkah dahinya. " saya gak minta itu, Bi "


Bi Minah tersenyum, " gak apa-apa, Bu. Biar Ibu sedikit lebih tenang " kata Bi Minah, ia tahu Jika majikannya ini tengah cemas karena putranya belum juga pulang.


Raya menghela nafas, " duduk sini, Bi " kata Raya menepuk sisi sofa yang kosong disebelahnya.


Ini lah yang membuat Bi Minah merasa betah bekerja dengan keluarga Lani. Raya tidak pernah menganggap Bi Minah seorang Art, Raya selalu berprilaku baik kepada Bi Minah.


Menuruti perintah Raya, Bi Minah duduk disamping Raya.


" gak tau kenapa pikiran saya gak tenang banget, mikirin Arlan terus, tadinya saya larang aja dia pergi keluar " Raya dengan wajah cemas yang masih ia tunjukan.


Bi Minah tersenyum tipis, merasa wajar akan sikap Raya saat ini. Apalagi di luar hujan deras, ibu mana yang tidak khawatir jika dalam keadaan hujan yang deras disertai petir dan gemuruh tapi sang anak berada di luar rumah.


" tenang ya Bu. di luar ujan, mungkin den Arlan lagi neduh, udah gitu den Arlan bawa motor "


Raya mendesah pelan, yang dikatakan Bi Minah benar. Perlahan Raya menganggukkan kepalanya.


Tak lama hujan reda


" tuh ujan udah reda, Bu. Mungkin sebentar lagi den Arlan pulang " kata Bi Minah kembali berusaha menenangkan majikannya itu. Raya pun kembali mengangguk.


" saya permisi ya, Bu, mau lanjutin kerjaan saya di dapur " izin Bi Minah mengingat pekerjaannya di dapur masih menumpuk, dengan senyum Raya mengangguk. Kemudian Bi Minah beranjak dari duduknya, sembari memeluk nampan kosong yang tadi ia bawa untuk meletakan gelas, Bi Minah melangkah menuju dapur.


Raya kembali sendiri, ia menatap nanar kearah pintu yang terbuka, hujan sudah reda, hanya tetesan air yang berasal dari atap rumahnya.

__ADS_1


Tak lama mata Raya berbinar, suara motor terdengar di luar rumahnya, Raya yakin jika itu lani, putranya.


Dugaan Raya benar, Lani pulang dengan wajah kusutnya, pakaiannya tak terlalu rapih seperti ketika dia pergi.


Raya beranjak dari duduknya, bergegas ia melangkah menghampiri putranya, entahlah pikiran Raya hari ini aneh.


" Arlan, kamu darimana ? " satu pertanyaan yang Raya lontarkan terkesan aneh untuk didengar.


Pasalnya, jika Lani sudah meminta izin untuk pergi keluar rumah, ketika Lani pulang Raya tidak pernah bertanya tempat yang dikunjungi putranya. Tapi, pikiran kacaunya hari ini membuat Raya ingin tahu.


bukan menjawab, Lani malah menatap sang Ibu dengan wajah datarnya, setelah itu Lani melangkah pergi begitu saja, ia naik ke lantai atas tanpa menjawab pertanyaan Ibunya.


Melihat sikap putranya, Raya mengerutkan dahi, ada yang aneh, pikir Raya dalam hati. Tapi, Raya mencoba berpikir positif, mungkin saja Lani tengah cape.


Mendesah pelan, Raya membiarkan Lani, kemudian ia melangkah menuju kamarnya.


..


Di kamar raut wajah Lani yang datar seketika berubah. Kini berganti dengan wajah frustasi, Lani melepas kemejanya dengan kasar. kemudian sembari mengerang, Lani melempar asal kemeja yang tadi ia kenakan.


" gak gini maksud gue, " kata Lani dengan suara serak


Lani menutup wajahnya dengan telapak tangan, kemudian Lani menunduk, tak lama bahu Lani bergetar, kemudian Lani terisak. " Ayah, Ibu, maafin Arlan. " kata Lani.


Bodoh, saat ini umpatan seperti itu yang pantas diteriaki untuk dirinya sendiri, kenapa ia tidak menolak saja ketika Jiasa mengajaknya menunggu di luar, kenapa ia tidak membiarkan saja tubuhnya basah terkena air hujan.


Dengan kedua bahu yang masih bergetar Lani menangis, ia tengah menyesali satu hal yang sudah terjadi dan tidak bisa diperbaiki.


..


Jauh di tempat Jiasa, tepatnya di kamar Jiasa.


Jiasa tengah duduk di atas tempat tidur dengan kaki di tekuk dan wajah ditenggelamkan diantara kedua lututnya.

__ADS_1


Bahu Jiasa bergetar, suara isakan pun terdengar. Jiasa menangis seorang diri menyesali satu hal yang sudah terjadi antara dirinya dan Lani.


Entah setan apa yang merasuki, Jiasa tidak menolak, Jiasa merasa nyaman dalam dekapan Lani.


Sama seperti Lani, Jiasa tengah meratapi kebodohannya, harusnya ia tidak mengajak Lani masuk kedalam rumahnya, harusnya ia membiarkan saja hujan membasahi tubuh mereka.


Tok


Tok


Tok


Jiasa terkesiap, suara ketukan pintu membuatnya harus mengakhiri tangisannya.


Buru-buru ia mengusap air mata yang mengalir di pipinya, kemudian Jiasa beranjak turun dari tempat tidurnya, tak bergegas membuka pintu, Jiasa beralih ke meja belajar, mengambil leptop lalu meletakan di atas tempat tidur, kemudian Jiasa memperbaikin penampilannya, lalu melangkah menuju pintu yang terus di ketuk oleh orang yang Jiasa yakini orangtuanya.


Jiasa membuka pintu dengan pelan, ketika pintu setengah terbuka dapat Jiasa liat wajah datar Farah.


" kamu gimana sih Ji, pintu depan gak di kunci kamu ngurung diri di kamar, kalau ada orang jahat masuk terus kamu di apa-apain gimana, terus ini kenapa mata kamu bengkak gini kaya orang abis nangis. " gerutu Farah dengan beberapa pertanyaan.


Jiasa mengumpat dalam hati karena ia merasa bodoh untuk saat ini, meski air matanya sudah dihapus, tapi bengkak di kelopak matanya tudak bisa ditutupi. Tapi, Jiasa sudah memiliki ide untuk membohongi Ibunya.


Jiasa membuka lebar pintu kamarnya, " Aku lagi ngedrakor, Ma. " Bohong Jiasa, tubuhnya sedikit bergerak menunjukkan kepada Farah jika ia tidak bohong dengan ucapannya.


Melihat leptop yang berada di atas tempat tidur, Farah menghela nafas, ia percaya. " ya sudah gak apa-apa, lain kali jangan ceroboh, ngeri ada orang masuk, terus mereka berbuat jahat terutama sama kamu."


Dalam keadaan hati yang perih Jiasa mengangguk, beruntung ia masih bisa menahan air matanya agar tidak mengalir.


kalimat peringatan dari Farah baru saja terjadi. Ya, ada orang jahat yang sudah merampas semuanya, termasuk masa depan Jiasa.


Tak ada lagi percakapan, setelah memeriksa keadaan putrinya yang ia khawatirkan, Farah bergegas pergi.


Setelah sang Ibu pergi, Jiasa bergegas menutup pintu, tak lupa Jiasa mengunci pintunya, kini Jiasa tak bisa lagi menahan air matanya, tubuh Jiasa merosot dan kini terduduk di lantai dengan punggung yang bersandar di pintu.

__ADS_1


Jiasa terisak, sebisa mungkin meredam suara tangisannya. " Ma, Pa. Maafin aku " hanya kata itu yang bisa Jiasa katanya dalam tangisannya. Kebodohannya hari ini sudah merusak masa depannya.


__ADS_2