
Melangkah dengan malas dan tak menanggapi candaan ketiga temannya, itu yang Jiasa lakukan ketika ia dan tiga temannya menuju kelas.
satu pertanyaan yang belum ia dapatkan jawabannya membuat pikirannya kacau.
Melangkah dalam lamunan membuat Jiasa tak sadar, sosok pria tinggi kini berada disampingnya dan mensejajarkan langkahnya.
" itu muka kusut amat, sakit lu.? "
Jiasa menoleh ke sebelah kanan, kemudian ia menghela nafas lelah ketika ia mengetahui siapa yang berjalan disampingnya.
Jiasa tak menanggapi, ia terus berjalan sembari manahan gejolak aneh yang tiba-tiba ia rasakan. Aroma ini, sejak kemarin sudah membuat Jiasa mual, dan sekarang terjadi lagi.
" kalian tuh bener-bener kaya jaelangkung ya, datang tak dijemput, pulang tak diantar. Tau-tau nongol aja." celetukan Irene yang tentu saja bisa didengar oleh semua yang ada di sana, termasuk Jiasa.
Jiasa mengerutkan dahi, apa yang membuatnya mual adalah hal yang sama seperti kemarin.? Pertanyaan yang Jiasa tanyakan untuknya dan hanya ia ucapkan di dalam hatinya.
penasaran dan ingin mendapat jawaban, Jiasa mengehentikan langkahnya, sontak Tedia yang berada disamping Jiasa ikut berhenti, begitu pula dengan tiga orang siswa laki-laki yang berada dibelakang Jiasa dan Tedia.
Setelah mendadak menghentikan langkah, Jiasa bergerak. Ia balik badan. Dan, hal yang ia lihat kini adalah sosok Lani yang ternyata berdiri tepat dibelakangnya.
Lani yang kini berhadapan dengan Jiasa mengerutkan dahi, " kenapa lu ? " tanya Lani.
Tedia, Zaki, dan Yoga menatap heran. ternyata bukan hanya ketiga siswa itu yang menatap heran, tiga siswi yang berjalan bersama mereka pun tengah menatap heran kearah Jiasa yang tengah berhadapan dengan Lani.
Jiasa memejamkan sejenak matanya, kemudian ia menghela nafas kasar, " bisa gak sih, jaraknya agak dijauhin. Kamu bikin aku mual tau gak. " kata Jiasa. semua membulatkan matanya, terkejut dengan ucapan Jiasa.
" busett dah, Lan ayo Lan " Zaki yang takut jika Lani emosi mencoba membawa Lani pergi dengan cara menarik lengan Lani.
Lani tetap diam, bahkan ia menghempaskan tangan Zaki.
Kini semua menatap Lani dan Jiasa dengan tatapan siaga.
" denger ya, Jiasa. Gue mandi, pake minyak wangi. Gimana ceritanya gue bikin lu mual. " ok Lani mulai bersuara, semua mulai kembali siaga karena sepertinya pertikaian antara Lani dan Jiasa akan segera dimulai.
Jennie menggelengkan kepala, bingung dia. Dulu Lani begitu gesit mendekati Jiasa dan Jiasa selalu merespon Lani dengan baik. tapi entah terkena apa, kedua siswa dan siswi SMA NUSA PELITA itu kini malah terlihat seperti tom and jerry. Tak saling bertegur sapa, jika Lani datang Jiasa menghindar, dan sekalinya ada interaksi mereke berkelahi.
" bau minyak wangi kamu bikin neg, bisa kan ganti.? " Suara Jiasa dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca.
Lani mendecakan lidah, " ck ! Saraf lu " katanya terus melangkah pergi menahan kesal dalam dirinya.
" Lan tunggu " itu suara Zaki dan kini berlari pelan mengejar Lani yang mulai menjauh.
enam remaja itu masih berdiri ditempat setelah Lani dan Zaki pergi.
Tatapan mata tentu saja tertuju pada Jiasa.
" elu kenapa sih, Ji. Aneh banget ? " tanya Rosa.
Jiasa menggeleng, air matanya meluncur membuat garis dipipinya.
Jiasa menghapus air matanya dengan kasar kemudian ia melangkah pergi, meninggalkan lima orang yang menatapnya penuh tanya.
..
" gila ya, bisa-bisanya Jiasa ngomong begitu, apa maksudnya coba. " gerutu Lani pada Zaki.
Bukan di dalam kelas, tapi keduanya kini berada di dalam UKS.
" gue juga bingung, Lan. Padahal kemaren-kemaren dia biasa aja ya, paling cuma pergi pas elu datang. elu punya salah kali sama dia. "
Deg
Lani tersentak, sontak dia gelagapan, " eng-gak kok, gue gak punya salah apa-apa " sahut Lani kemudian Lani menunduk dan mengigit bibir bawahnya guna menenangkan dirinya.
__ADS_1
Zaki memperhatikan, ia kini menatap Lani dengan mata memincing.
Ayolah, Zaki sudah mengenal Lani bertahun-tahun. dia tahu mana Lani yang tenang dan mana Lani yang gugup.
" yakin ? " selidik Zaki.
Lani berdecak, ia menghela nafas frustasi. " elu gak percaya sama gue "
Si ketua kelas pintar itu terkekeh, " gak tau, cuma kalau nanti sampai lu bohongin kita. Gue gak tau bisa maafin lu atau enggak "
Lani kembali menghela nafas, kali ini lebih kasar. Bahkan Lani mengacak-ngacak rambutnya.
Apa yang Lani lakukan membua Zaki menggeleng.
..
" elu ngerasa aneh gak sih, Di.? " tanya Yoga dalam perjalan menyusul Lani dan Zaki yang sudah sangat mereka ketahui tempatnya.
" iya sih, tapi gue gak mau berpikiran negatif. " sahut Tedia.
" kaya ada yang mereka sembunyiin, apa mereka udah pacaran terus putus jadinya mereka diem-dieman. " tebak Yoga.
Tedia menggeleng, " gak mungkin, Kalau ada kabar bahagia tuh bocah gak bakalan gak ngasih tau kita "
" ya kali aja kan baru sejam pacaran terus Lani langsung diputusin. "
Perkataan Yoga cukup lucu, Tedia terkekeh. " ngadi-ngadi, tapi bisa jadi sih. " kata Tedia membenarkan pernyataan Yoga.
..
" ck ck ck ! " decakan lidah Jennie disertai gelengan kepala.
Kini tatapan heran Jennie tunjukan kepada Jiasa yang tengah duduk dikursinya sembari memijit pelan kedua pelipisnya.
Jiasa mendesah pelan, ia merasa malas menanggapi sepupunya ini. Kepalanya kembali sakit dan perutnya lagi-lagi mual karena ia melihat Lani. Jiasa menghentikan gerakan memijit kepalanya, kemudian ia merebahkan kepalanya di atas meja, kedua lengannya ia jadikan bantal.
Jiasa kembali menjadi perhatian Irene, Rosa, dan tentu saja Jennie.
" tau kaga, Ji. " suara Irene membuat Jiasa menegakkan tubuhnya meski terasa berat. Ya, Jiasa penasaran dengan ucapan Irene yang mengantung.
" kaya orang lagi ngidam lu "
Uhuk
Uhuk
uhuk
Bukan Jiasa, tapi justru itu suara Rosa. Kemudian Rosa memukul pelan lengan Irene, " sembarang lu kalau ngomong, inget ya ucapan itu adalah doa. "
Irene menunjukan cengiran bodohnya, Jennie dan Rosa menggelengkan kepala. lalu Jiasa ? Ia hanya diam membatu. Tak bisa menyangkal atau pun mengiyakan, karena Jiasa sendiri masih bingung dengan sikap anehnya.
" kalian tau gak, Jiasa tuh mirip banget sama tante gue yang lagi hamil, tante gue gak mau deket-deket suaminya, katanya aroma tubuh suaminya bikin mual. " Irene menjelaskan
" terus maksud lu, Jia hamil anak Lani gitu "
" oca ih, amit-amit. Kalau ngomong tuh bismilah dulu. " Jennie mulai geram dengan omongan yang ia rasa mulai melantur.
Berbeda dengan Ketiga temannya, Jiasa hanya diam, bahkan ia tak menyimak percakapan tiga gadis itu, pikirannya kembali kacau. Yang ada dipikiran Jiasa kini hanya satu, ia harus segera mendapat jawaban akan pertanyaannya.
kini Rosa yang tertawa bodoh, " ya maaf, Ji kok lu diam aja " tanya Rosa melihat Jiasa melamun dan tak ikut merespon gurauan mereka.
" Ji. " Irene mengguncangkan pelan tubuh Jiasa. berhasil, Jiasa tersentak.
__ADS_1
" iya kenapa ? " Jiasa malah balik bertanya.
Jennie memutar bola matanya malas, " dicariin tuh sama Lani. "
Mendengar nama Lani Jiasa mencebikan bibirnya, tiga gadis yang bersamanya menggelengkan kepala.
" punya masalah apa sih kalian, kok sekarang jadi kaya orang musuhan " kata Irene heran dengan sikap Lani dan Jiasa.
" misi kak " suara gadis lain mengalihkan atensi ke empat gadis yang tengah bergurau itu.
Semua mendongkak, dan kini ke empat gadis itu melihat sosok gadis yang mereka tahu siswi kelas 10.
" ada apa ? " tanya Rosa cuek, malas sebenarnya menanggapi gadis yang ia yakini mencari sosok siswa bernama Lani.
" kak Lani kemana ya ? " tanyanya, dugaan Rosa benar. Karena ini bukan pertama kalinya gadis bernama Citra itu mencari Lani.
Sejak insiden dia dipermalukan Lani di kantin, gadis itu ternyata tidak menyerah. Ia terus berusaha mencari perhatian Lani, bahkan Citra nekad bertanya pada teman-teman Lani jika ia tidak melihat Lani.
" Lu pikir gue Ibunya, lu kalau nyariin Arlan tanyain aja sama Ayahnya " suara jutek Jennie menggema.
Irene dan Rosa menatap Citra dengan senyum miring. Jujur mereka tak suka dengan gadis genit bernama Citra ini. Menurut mereka Citra itu sama seperti Amel, siswi yang hobby tebar pesona dengan siswa laki-laki.
" kak, tinggal jawab aja susah amat sih. Kak Arlan mana ? " kata Citra begitu berani.
" dih so so'an manggil Arlan, kalau Lani denger bisa-bisa dimaki-maki lu. " kali ini suara Irene.
Citra menghela nafas, tapi ia tidak menyerah. " kak aku tuh mau ngasih bekal, aku udah cape cape bikin ini buat kak Arlan, jadi mana Kak Arlannya. "
" ngapain lu nyariin gue " semua mengalihkan atensinya, ternyata sosok Lani sudah berdiri diambang pintu.
Ada Tedia, Zaki, dan juga Yoga yang berdiri dibelakang Lani.
Citra tersenyum lebar, kemudian melangkah dengan riang guna menghampiri Lani.
Citra tidak tahu, ada Jiasa yang menatapnya dengan nyalang sembari mengepalkan telapak tangannya. Beruntung yang Jiasa lakukan saat ini tak disadari oleh ketiga temannya.
" aku mau ngasih ini kak, ini aku sendiri lho yang buat khusus buat kakak " kata Citra dengan percaya diri menyodorkan kotak segi empat kehadapan Lani.
Lani menatap kotak bekal itu, kemudian mendongkak menatap sinis Citra. Lalu setelah itu helaan nafas Lani terdengar.
" bawa balik, gue gak butuh. Dan satu lagi, gak usah nyari gue atau nemuin gue, gue risih sama cewek caper kaya lu " kata Lani, untuk kesekian kalinya mempermalukan Citra, kali ini di dalam kelas, ada teman-teman sekelas Lani di dalam sana.
Wajah Citra memerah, matanya mulai berkaca-kaca. Melihat itu Lani tidak perduli. Ia malah melangkah masuk dan melewati Citra begitu saja. Setelah itu tiga orang dibelakang Lani menyusul.
Tedia menyempatkan diri untuk berhenti tepat di depan Citra, " mending lu mundur, keluar sana, masuk kelas lu " kata Tedia kemudian melanjutkan langkahnya menuju kursinya.
Citra yang sudah malu akhirnya melangkah keluar dari kelas 11 IPA C.
" gila nekad bener tuh orang " celetuk Robi, siswa laki-laki yang duduk di meja depan.
" iya lah nekad, kan orangnya Lani, kalau lu baru tuh. Beda lagi ceritanya " kata Dimas, siswa laki-laki yang duduk dibelakang Robi.
Robi berdecak. semua menatap Robi, Menunggu lelucon apa yang akan Robi utarakan. " elu mah suka bandingin gue sama Lani, jauh lan kaya bumi dan Langit. "
" Lani langitnya, elu buminya. Gitu kan, Bi. " kata Tedia memperjelas.
Robi menghela nafas, " gak usah diperjelas, semua orang juga tau. " Robi kembali bersuara.
" mana elu mah buminya yang berlumpur terus diinjek-injek kerbau, iya gak Bi. " kali ini celetukan dari Zaki.
" heh lu pikir gue tanah sawah. " sahut Robi.
Sontak seisi kelas tertawa kecuali Jiasa dan Lani tentunya. Sebenarnya Lani tertawa, hanya tawa Lani sangat tipis.
__ADS_1
Sikap aneh Jiasa dan tingkah menyebalkan Citra membuat mood Lani hancur seketika.