LABIRIN

LABIRIN
84


__ADS_3

" gue gak boleh keluar sama Ibu " kata Lani yang saat ini tengah bertatap muka dengan Zaki melalui layar ponselnya.


Decakan lidah terdengar di seberang sana, pelakunya tentu saja Zaki. " ya elah. ini penting, Lan. Lu ajak si asep dah biar Ibu percaya. " bujuk Zaki.


Tak lama suara Robi terdengar. kepalanya di arahkan ke layar ponsel Lani. Kini Robi dan Zaki saling tatap. " heh ngapain elu nyebut-nyebut nama bapak gue. "


Di sana Zaki tertawa terbahak. " gue kira kaga ada orangnya " kata Zaki tak menghilangkan tawanya.


Robi mendengus, kemudian menjauhkan wajahnya dari layar ponsel milik Lani.


Lani dan Zaki kembali saling pandang lewat layar ponsel, detik berikutnya Zaki kembali bersuara. " nanti gue jemput, ok. jangan nolak, ini penting. "


Lani menghela nafas akan paksaan yang di lakukan Zaki. Lani tidak tahu kemana Zaki akan membawanya, karena Zaki hanya mengatakan jika malam ini mereka akan mengunjungi satu tempat.


" gak bisa, Ki. "


" selain sekolah, Arlan gak boleh pergi dari rumah. Itu perintah Ibu. " celetuk Robi ikut bicara. Lani menganggukkan kepalanya, membenarkan kalimat yang baru saja Robi ucapkan.


Di sana, Zaki memutar bola matanya malas. " bodo amat, karena ini penting gue mau membantah perintah Ibu. nanti gue yang izinin. Lu siap-siap aja. " Zaki tidak menerima penolakan, ia ingin malam ini Lani ikut bersamanya. Zaki tak perduli meski harus menentang Raya nantinya.


" emang mau kemana sih, Ki. ? " Robi kembali ikut dalam obrolan. Wajahnya kembali di dekatkan ke arah layar ponsel Lani.


Di sana terlihat jelas jika seorang Zaki tengah mencibir. " banyak nanya, udah nurut aja napa. " kata Zaki.


" asu " umpat Robi, Zaki di sana tertawa terbahak.


Video call berakhir, layar ponsel Lani pun berubah gelap.


Lani meletakan asal ponselnya di atas kasur, kemudian kepalanya bergerak perlahan dan menoleh ke arah Robi yang sibuk dengan ponselnya.


yang di tatap, bukan tak sadar. Robi tahu Lani menatap dan terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu. " apaan ? " tanya Robi.


Lani terkekeh, tak menjawab ia malah merubah posisi tubuhnya, menjadi berbaring. Kemudian kedua lengannya ia lipat di belakang kepala, posisi lengannya saat ini ia jadikan sebagai bantal.


" Bi. Menurut lu mereka mau ngapain ? " tanya Lani pada akhirnya.


Lani berbicara sembari menatap langit-langit kamarnya. Ia memang terlihat sudah lebih baik. Tapi di hatinya, ia masih merasakan sakit.


" gak tau, tuh bocah gak bilang apa-apa sama gue " sahut Robi.

__ADS_1


Lani mendesah pelan, kemudian ia mulai memejamkan matanya. Lani tak perduli dengan perintah Zaki yang menyuruhnya untuk bersiap.


Hening, tak lama suara nafas teratur terdengar di samping Robi. Robi menoleh, kemudian ia menggelengkan kepala ketika melihat Lani sudah terlelap.


19.30, masih terlalu sore bagi seorang remaja untuk tidur.


Robi menatap Lani cukup lama, kemudian ia mendesah kasar. " cape banget ya, Lan. saking capenya jam segini lu udah tidur. Sabar ya Lan. Hidup itu berat, kaya dosa yang lu buat, tapi seberat apapun itu, gue yakin lu bisa lalui semua, inget Ibu, Lan. Ibu satu-satunya orang yang lu punya buat saat ini. " gumam Robi menatap Lani dengan prihatin.


Robi bergerak, ia turun dari kasur milik Lani. Kemudian ia melangkah menjauh dari kasur Lani. Robi akan membiarkan Lani untuk mengistirahatkan dirinya. Ia tahu betul bagaimana lelahnya Lani menjalani hidup.


Robi membuka pintu. ketika pintu terbuka lebar, tak sengaja ia melihat sosok Zaki yang hendak mengetuk pintu.


Zaki langsung menunjukan cengiran bodohnya, sedangkan Robi langsung memutar bola matanya malas.


" ngapain .. ? " tanya Robi bak seorang pemilik kamar yang tak ingin di ganggu.


Zaki mendengus. ia tak menjawab, tak lama Yoga datang.


" mana bocahnya ? " tanya Yoga, ia baru saja kembali dari kamar mandi.


" mana Arlan ? " tanya Zaki, tatapannya menunjukan jika ia tak suka pada Robi. bahkan kedua lengannya di lipat di bawa dada.


Tapi itu semua tentu hanya candaan, mereka sudah biasa bertingkah seperti ini.


Zaki memincingkan mata, kemudian ia mulai mengintip melalui celah yang ada. Zaki melihat kaki yang berada di atas tempat tidur, dan ia tahu kaki Lani.


" kok lu biarin tidur sih " kesal Zaki sembari memukul pelan lengan Robi.


Robi menggeram, " mana gue tau, tiba-tiba dia molor. "


Yoga yang berada di tempat memutar bola matanya malas. jika dibiarkan, maka akan mereka akan terus berdebat.


" malah ribut, gue kawinin lu berdua. "


"DIH, NAJIS .. " sahut kedua secara bersamaan.


" awas lu gue mau bangunin tuh bocah .. " kata Zaki kemudian menyingkirkan Robi agar menjauh dari pintu yang tidak terbuka lebar itu.


Robi terdorong, jalan untuk Zaki masuk pun menjadi luas. Zaki dan Yoga masuk, Zaki seketika menghela nafas ketika melihat Lani yang tertidur pulas. Posisi tubuh Lani kini sudah berubah menjadi berbaring miring.

__ADS_1


" gak tega gue banguninnya " kata Zaki pada Yoga.


" batu sih di bilangin " seloroh Robi, gemas dengan Zaki karena Zaki terkesan ngeyel.


Zaki mengangkat tangannya, bergerak seolah akan menghajar Robi. Robi pun memberinya dengusan.


Melihat tingkah Zaki dan Robi, Yoga menggelengkan kepala " ya udah biarin aja deh .. "


" berarti kaga jadi donk " kata Zaki seolah tak terima rencananya berantakan.


Yoga menghela nafas, sedangkan Robi mengerutkan dahinya.


" mau gimana lagi, bocahnya tidur " kata Yoga.


Zaki mendesah pasrah.


Robi masih menatap keduanya dengan mata memincing, kemudian Robi bersuara. " kalian mau pada kemana ? "


Yoga dan Zaki mengalihkan atensinya kepada Robi.


" kepo " sahut Zaki.


Robi memberinya tatapan tajam, kemudian Robi beralih pada Yoga. Robi yakin Yoga lebih bijak menjawab dari pada si anak menteri, Zaki.


Di tatap Robi, Yoga sadar. Ia pun pada akhirnya berbicara dan memberitahu tujuan mereka akan membawa Lani. " gue mau buat pertemuan antara Tedia sama Lani. "


" lah, ngapain lagi.? Arlan kan udah maafin Tedia ? " Tanya Robi, sedikit tidak setuju dengan ide yang akan di lakukan Yoga dan Zaki.


" iya, emang dia udah maafin Tedia, tapi kita belum dengan Tedia minta maaf sama Lani. Makanya gue sama Zaki mau mereka berdua ketemu terus ngomong berdua " lagi Yoga menjelaskan, sesekali matanya melirik Lani. Ia takut tidur Lani terganggu karena suaranya.


Robi memutar bolamatanya malas, " harus ya, kita ikut campur. menurut gue, kalau emang Tedia punya niat baik buat minta maaf, harusnya dia datang kesini. Samperin Lani. kalau kita bikin rencana supaya mereka berdua ketemu kesannya kaya maksa, kalau Tedia mau, kalau enggak. ? Gue tau niat kalian baik kok, tapi please kasih waktu buat Arlan nyembuhin hatinya, dia itu udah jatuh tertimpa tangga, ngehamilin anak orang, mau tanggung jawab ditolak, udah gitu sekarang anaknya pergi bahkan sebelum dia lahir ke dunia. Tragisnya pelaku utama sahabatnya sendiri. kalian tenang aja, kan kalian tau Arlan udah maafin Tedia. Jadi, kalau Tedia berniat buat minta maaf, biarin dia datang sendiri. jangan maksa orang yang kita gak tau punya niat tulus apa enggak dalam meminta maaf. " panjang lebar Robi berbicar, Yoga dan Zaki diam. Ya, apa yang dikatakan Robi benar adanya. Kedua terkesan memaksa agar Tedia dan Lani berdamai.


Melihat Yoga dan Zaki terdiam, Robi menghela nafas. kemudian Robi menepuk pelan bahu Yoga. " Sorri gak, bukan gue gak suka sama ide kalian. Sekali lagi biar mereka selesaiin sendiri, kita sebagai sahabat cukup mantau aja, kalau tangan udah berbicara, baru kita ikut dalam urusan. Gue tau niat kalian baik kok. "


Kini gantian Yoga yang menghela nafas, kemudian Yoga menganggukkan kepalanya. " ok " kata Yoga singkat. Ia sudah tak bisa berbicara karena yang Robi katakan benar adanya.


" jadi gak jadi nih ? " tanya Zaki


Robi memutar bola matanya malas.

__ADS_1


" enggak " sahut Yoga.


Zaki menganggukan kepala.


__ADS_2