
mobil mewah yang di kendarai Malik itu berhenti di depan gerbang mewah rumah Lani.
Lani yang sejak dalam perjalanan hanya diam tak bergegas turun, ia masih duduk sembari menyandarkan kepalanya dengan tatapan mata yang kosong.
Malik menghela nafas, hal yang pernah terjadi kini kembali di alami Lani.
dulu, beberapa tahun yang lalu. Lani pernah terpuruk seperti ini. air mata memang tidak mengalir dari pelupuk matanya, tapi semua orang terdekatnya tahu, arti dari tatapan kosong Lani menandakan jika ia sedang mengalami masa yang sangat sulit.
Malik menghela nafas, ia tak tega melihat Lani yang sudah seperti anaknya sendiri kembali terpuruk seperti waktu dulu.
Perlahan tangan Malik bergerak, ia menyentuh bahu Lani dan membuat Lani terkesiap.
" Lan .. "
" a ... Iya, Yah.? " kata Lani yang nampak seperti orang linglung.
Malik menunduk dan memejamkan sejenak matanya.
Ayah, yang Malik dengar Lani menyebut kata Ayah, bukan Papa.
" Lan, udah nyampe. Sana temuin Ibu kamu " kata Malik mengingatkan remaja yang usianya belum genap 17 tahun ini.
Lani tak menjawab, ia diam. Dengan wajah sendu Lani menatap rumahnya dari balik kaca mobil milik Malik.
Lani menghela nafas kasar, kemudian ia mengangguk. " Arlan pulang, Pa. Maaf kalau selama ini Arlan selalu repotin Papa. "
Malik mengusap surai hitam milik Lani, " Manusia gak ada yang sempurna, Lan. Adakalanya dia salah dan khilaf. Apapun yang terjadi malam ini, Papa minta jangan kamu jadikan beban pikiran, Ya. Kamu gak usah khawatir, serahin aja semua sama kita, nanti Papa dan yang lain yang akan urus semuanya. " Malik mencoba menguatkan dan menyemangati Lani.
Lani mengangguk lemah, " sekali lagi maaf, Pa. Karena Arlan selalu ngerepotin Papa dan yang lainnya. Arlan janji, ini yang terakhir. "
Malik tersenyum dan kembali mengusak surai hitam Lani. " Papa gak perlu janji, tapi butuh bukti."
Lani kembali mengangguk pelan, kemudian ia mulai membuka pintu mobil. Ketika pintu mobil terbuka dengan sempurna, Lani segera keluar.
Di ambang pintu pagar, Pak Asep sudah berdiri menunggu anak majikannya itu.
Lani mulai melangkah memasuki area rumahnya, Pak Asep menatap prihatin.
" Pak, nitip Arlan ya. Saya pulang " pamit Malik dan mendapat anggukan dari Pak Asep.
Setelah pamit untuk pulang, Malik kembali melajukan mobilnya meninggalkan area rumah Lani. Setelah Malik pergi, Pak Asep kembali menutup pagar tinggi itu.
Lani melangkah pelan menuju rumahnya, Robi yang akan keluar menemui ayahnya tak sengaja melihat Lani.
" Lan. Lu balik ? Kok gak ngabarin ? " Robi terkejut dengan kehadiran Lani.
" Ibu mana ? " bukan menjawab, Lani justru bertanya perihal keberadaan Ibunya.
Robi menatap Lani dengan prihatin. " di kamarnya. Ibu gak pernah mau keluar semejak pulang dari rumah Tedia, makan aja harus di bujuk sama Umi. " Robi menuturkan perihat kondisi Raya kepada Lani.
Lani tersenyum miris, kesalahannya yang fatal sudah membuat semua terluka terutama Ibunya.
" masuk sana " perintah Robi, Lani mengangguk kemudian melangkah masuk ke dalam.
Robi menatap punggung Lani yang terus menjauh, kemudian ia menghela nafas ketika Lani sudah masuk ke dalam rumah.
" ada apa sebenarnya ? " tanya Pak Asep, Robi terkejut, ia bahkan mengelus-ngelus dadanya.
" Astagfirallahalazim Bapak, ngagetin aja. "
" lebay, Jadi sebenarnya ada apa ? " Pak Asep kembali bertanya.
__ADS_1
Robi mendesah pelan, " Jiasa nolak Lani, Pak. " sahut Robi yang memang sudah mendapat kabar dari Zaki.
" Astagfirallah .. " terkejut, bahkan Pak Asep menggelengkan kepalanya. " kok bisa ? Padahal kan kondisi non Jiasa gak memungkinkan buat nolak, nanti nasib anaknya gimana.? " Pak Asep kembali bertanya.
" Robi juga gak tau, Pak. Kenapa Jiasa sampe nolak Lani. Tapi, setelah nolak Lani, Jiasa jatuh. Terus Jiasa keguguran. "
" Astagfirallah Robi, kenapa kamu baru ngasih tau Bapak. " gerutu Pak Asep.
" maaf, Pak. "
Pak Asep menggelengkan kepala.
..
Lani melangkah gontai menuju kamar Ibunya, tak sengaja ia berpapasan dengan Bi Minah yang hendak menuju kamar Raya.
" den Arlan " kata Bi Minah.
Lani tak merespon, ia terus melangkah dengan tatapan kosong.
Bi Minah menatap khawatir, ia bahkan mengusap dadanya.
Bi Minah membiarkan Lani yang kini sudah siap membuka pintu kamar Ibunya yang tertutup. Perlahan pintu yang tertutup itu terbuka, Lani berdiri di ambang pintu. Menatap sang Ibu yang duduk di sisi tempat tidurnya dengan sebuah pigura yang tengah di peluk oleh Raya.
Mata Raya sembab, Lani tahu Ibunya itu tengah menangis.
" Bu .. " panggil Lani pelan, kemudian ia melangkah pelan mendekati Ibunya.
Raya mendengar panggilan itu, tapi ia tak menatap ke arah Lani. Raya justru memejamkan matanya seolah memberitahu Lani jika ia tak mau melihat Lani.
" Ibu .. " suara Lani sedikit bergetar.
" Ibu, Maafin Arlan, Bu. " Tangis Lani akhirnya pecah. Ia menjatuhkan diri bersujud di kaki Ibunya.
" Maafin Arlan, Bu. " kata Lani lagi, kedua tangannyan memeluk kaki Ibunya.
Raya bergeming, bahkan pandangannya di alihkan ke arah lain.
" Ya Allah, Den Arlan. " tangis Bi Minah pecah. Tak kuasa melihat kejadian yang menyayat hatinya.
" Bu, Arlan siap terima hukuman apapun dari Ibu. Arlan siap kalau pun Ibu mau tampar Arlan berkali-kali. Tapi Arlan mohon, Bu. Jangan diemin Arlan kaya gini. Arlan gak sanggup. Bu. Arlan gak punya siapa-siapa lagi selain Ibu. " mohon Lani begitu menyayat hati dan tak melepas pelukannya di kaki sang Ibu.
Raya masih bergeming, tapi air matanya mengalir dengan begitu deras, pigura yang ada dalam pelukannya, ia peluk dengan semakin erat.
Tangis Bi Minah semakin menjadi, sentuhan di bahunya membuat atensi Bi Minah teralihkan. Robi, dengan wajah sendunya kini berdiri di samping Bi Minah.
" Bu, Maafin Arlan. Bu. Arlan janji ini buat yang pertama dan terakhir Arlan nyakitin Ibu. Maafin Arlan, Bu. " Lani terus memohon.
Raya memejamkan matanya, aliran air matanya semakin deras mengalir. Perlahan kelopak mata Raya terbuka. Kini ia menatap putranya yang sedari tadi bersimpuh di kakinya.
Tangan Raya bergerak, melepas pigura foto suaminya yang sedari tadi ia peluk. Kemudian tangannya menyentuh bahu Lani.
sentuhan itu membuat Lani mendongkak. Ia menatap sendu Ibunya. Air mata Lani kembali mengalir deras.
" ayo bangun. " kata Raya pada akhirnya.
Tangisan Lani semakin menjadi, ia bangkit dengan di tuntun oleh Raya, Lani duduk di samping Raya.
Bahu Lani semakin bergetar, isak tangisnya semakin terdengar. " Ibu. "
Tanpa mengucapkan apapun Raya menarik Lani ke dalam pelukannya. Ia rengkuh dengan erat satu-satu harta yang paling berharga dalam hidup Raya.
__ADS_1
Sebesar apapun rasa kecewanya pada Lani, Lani tetap putranya yang butuh dirinya saat Lani terpuruk.
tangisan Lani semakin menjadi, Raya menenangkan Lani dengan cara menepuk-nepuk pelan punggung Lani.
Dua orang yang sedari tadi menyaksikan peristiwa memilukan itu bernafas lega ketika melihat Raya yang sudah kembali memeluk Lani.
" ayo, Mi. Kita beri mereka privasi. " kata Robi, Bi Minah mengangguk. Keduanya pun melangkah pergi meninggalkan Ibu dan anak itu.
Tangisan Lani sudah mereda, hanya terdengar isakan. Perlahan Raya melepas pelukannya, kemudian menatap Lani yang kondisinya sudah tidak bisa di sebut baik.
" udah minta maaf sama Ayah.? " tanya Raya. Lani mengangguk pelan.
" kapan ? " tanya Raya lagi.
" tadi siang " sahut Lani dengan suara berat.
" udah bangga sekarang bisa jadi anak nakal, anak yang gak tau moral. ? "
Lani menggeleng, di hadapan Ibunya Lani layaknya anak usia lima tahun yang sedang kena marah Ibunya.
" semua sertivikat penghargaan kamu buat apa kalau kelakuan kamu aja gak mencerminkan semua itu. Kenapa gak kamu bakar aja, kalau enggak kamu jadiin bungkus gorengan. "
" Ibu .. " rengek Lani ketika sebuah lelucon mulai terucap dari mulut Ibunya.
" gak usah manja, udah mau jadi Ayah masa masih manja. " ok, hati Raya sudah lebih baik, terbukti dari ucap-ucapannya.
Mendengar itu Lani tertunduk, Raya menatap Lani dengan mata memincing. " kenapa, gak mau ngakuin kalau itu anak kamu. Mau jadi apa kamu.? "
Lani menggeleng, " dia udah pergi Ibu. "
Raya terkejut, tapi ia merasa tak paham dengan penuturan Lani. " maksud kamu ? "
Lani menghela nafas kasar, " Jiasa jatuh dari tangga. Dan bayinya gak selamat " kata Lani kepalanya tertunduk.
Raya menutup mulutnya yang terbuka dengan sempurna. " terus keadaan Jiasa gimana ? " panik Raya terlihat jelas di wajahnya.
" Alhamdulilah Jiasa baik-baik aja, Bu. " sahut Lani ia tersenyum miris.
" terus kamu kenapa pulang, kenapa kamu gak nemuin Jiasa.? " Raya kembali kesal dengan putranya.
Lani menggelengkan kepalanya lagi, " Jiasa nolak Arlan, Bu. Sebelum kejadian, Jiasa dengan tegas menolak untuk menikah sama Arlan. "
Raya kini tak bisa berkata-kata lagi, ia menyesal sudah mengabaikan Lani sejak Lani datang lalu kemudian bersimpuh di kakinya.
Lani tersenyum miris, " Arlan bilang apa, Bu. Hati Jiasa itu bukan buat Arlan. Bahkan di saat kondisinya seperti itu pun dia masih bisa nolak Arlan. Tapi pantes sih, siapa yang mau nerima cowok yang udah ngancurin hidupnya. " tutur Lani dengan sebuah senyuman kepahitan di bibirnya.
Raya menatap prihatian putranya, bahkan butiran bening kembali menggenang di pelupuk matanya.
" Bu " panggil Lani, Raya merespon.
" pulang yuk, Bu. Arlan cape tinggal di sini " pinta Lani pada akhirnya, air matanya kembali mengalir.
Raya pun ikut menangis, ia mengelus pipi putranya yang tempo hari pernah menjadi sasaran tangannya. Keduanya saling tatap dalam kondisi menangis.
" ayo Bu, Kita pulang. Arlan rasa udah cukup kita tinggal di Indonesia. Ayo Bu, Kita pulang ke rumah Ayah yang ada di Amerika. Ayo, Bu. "
Raya menganggukkan kepala, kemudian ia kembali memeluk putranya.
Lani mengeratkan pelukannya, keputusannya mengajak Raya untuk kembali ke negara yang pernah ia tinggali sudah ia pikirkan sejak perjalanan pulang.
Penolakan Jiasa, kepergian bayinya sudah cukup membuat Lani kembali terpuruk. Lani sadar kehadiran dirinya di sekitar Jiasa akan membuat Jiasa tak nyaman. Oleh karena itu, Lani memilih mengalah dan pergi.
__ADS_1