
Seusai latihan, semuanya bergegas pulang.
Tak ada acara nongkrong terlebih dahulu seperti yang sering mereka lakukang dulu.
Tedia melangkah pelan menaiki anak tangga guna menuju kamar pribadinya.
" Kamu udah pulang ? "
Tedia mendengar suara Ibunya yang tidak ia lihat ketika masuk ke dalam rumah.
Seketika langkahnya terhenti, ia berbalik dan melihat Ria tengah berdiri di bawah tangga sembari mendongkak menatap putranya.
Tedia mengangguk sebagai jawaban.
Tedia kembali berbalik, lalu ia kembali melanjutkan langkahnya, menapaki setiap anak tangga kemudian melangkah pergi menuju ruang pribadinya.
Pintu kamarnya yang tertutup sudah terlihat, Tedia mempercepat langkahnya.
Pintu yang tertutup itu ia buka, dan ketika pintu terbuka lebar ia mendapati suasana kamar yang setiap hari ia lihat. Kosong, tak ada siapapun.
Tedia melangkah masuk, ia terus melangkah menuju tempat tidurnya.
Di letakan dengan asal tas miliknya di atas kasur, lalu Tedia duduk di sisi kasurnya.
Tedia menghela nafas. " seru kali ya punya istri, tiap pulang ada yang nyambut " celetukan nyeleneh Tedia, hingga ia pun tertawa sendiri karena merasa geli dengan ucapannya.
" jangan dulu deh, entar aja kalau udah sukses " monolognya lagi.
Tedia membuka tas yang tadi ia letakan di atas kasurnya, lalu ia mengeluarkan benda pintar berbentuk pipih.
Layarnya yang mati kemudian Tedia hidupkan, Tedia terkekeh ketika melihat begitu banyak pesan yang masuk di ponselnya.
Tedia membuka pesan yang berasal dari grup yang berisi tim sepak bolanya. Ia mulai membaca dari awal, Tedia tertawa ketika ia membaca salah satu pesan nyeleneh yang Zaki kirimkan.
Tedia menghentikan tawa, tapi ia tak menghilangkan lekukan di bibirnya. Ia tersenyum ketika salah satu anggota lain menandainya.
Lantas Tedia pun segera merespon pesan yang menandai dirinya.
[ gue baru nyampe, baru duduk, kalian udah manggil-manggil aja. mau ngapain sih. Gak puas apa tadi ketemu gue ] Tedia mengirim pesan itu dengan cepat.
Lalu tak lama terlihat beberapa temannya sedang mengetik pesan, di antara mereka ada nama Lani, Zaki, dan Yoga.
Tedia menunggu pesan yang akan mereka semua kirimkan, ia pun tersenyum sembari menatap layar ponselnya.
[ " Zaki ngajak liwetan, Di " ]kali ini pesan dari Yoga.
[ " gimana, Di. Ok gak ? " ] kali ini pesan dari salah satu rekan satu tim Tedia bernama Abas.
Tedia nampak berpikir, tak lama Tedia kembali membaca pesan, kali ini dari Zaki.
__ADS_1
[ " kelamaan mikir lu, Di. " ]
Tedia tertawa di buatnya. kemudian ia mengetik pesan [ " kapten gimana, mau kaga ? " ]
Seketika semua menandai Lani, Lani yang tadi terlihat mengetik oleh Tedia kini mendadak hilang.
[ " nih bocah ngilang kemana sih. Lan, ayo nongol Lan, terakhir kali lu ngilang. Lu balik bawa anak Lan. " ] candaan Zaki yang membuat seketika ekspresi Tedia berubah. Senyum itu sirna, kini raut wajah Tedia terlihat sulit di artikan.
Tedia terdiam untuk beberapa detik, hingga sebuah notif di ponselnya kembali membuat Tedia terkesiap dan Tedia pun kembali fokus pada layar ponselnya.
[ " asu lu Zaki, ngapain lu nyariin gue, gue lagi nyusuin anak gue. Puas lu " balasan dari Lani untuk Zaki.
Tak ada tawa di wajah Tedia, berbeda dengan pesan yang berderet masuk ke ponselnya. Semua penghuni grup kecuali Tedia membalas pesan Lani dengan beraneka ragam. Ada yang mengirim stiker tertawa terbahak, ada juga yang merespon dengan tulisan.
[ " Lan, anak lu udah bisa apa sekarang ? " ] kali ini pesan datang dari pria bernama nathan. Tedia kembali hanya membaca dan tak berniat untuk ikut dalam candaan itu.
[ " udah bisa minta adek, puas lu " ] balasan dari Lani.
Dan lagi-lagi seketika deretan pesan muncul merespon pesan yang baru saja Lani kirimkan.
Semua semakin ngawur, pesan yang masuk pun langsung melenceng dari topik utama. Seketika Tedia meninggalkan ruang chat itu, ia meletakan ponselnya di atas kasur.
Tedia menghela nafas, pikirannya kini tertuju pada Lani dan Jiasa.
" kalau waktu itu gue gak hasut Jia, pasti kalian berdua lagi nunggu kelahiran anak kalian " kata Tedia dengan kepala yang di tundukan. " sorry Lan, sampai saat ini gue belum berani bilang maaf sama lu karena rasa bersalah gue yang besar. " sambung Tedia lagi.
" sebenarnya bukan karena merasa bersalah aja. tapi jujur, gue masih gak terima. Lu nyolong star pake jalur licik. " Tedia kembali bersuara.
Sama seperti Tedia yang terlihat tidak baik, di tempat lain Lani menatap nanar layar ponselnya.
Lani tersenyum, tapi dari sorot matanya mengatakan jika ia dalam keadaan tidak baik.
Matanya berkaca-kaca, detik berikutnya Lani mengadahkan wajahnya melihat ke arah langit-langit kamarnya. Tujuan Lani satu, ia tak mau cairan bening mengalir dari matanya.
Merasa sudah lebih tenang, Lani mendesah pelan. Kemudian kepalanya kembali bergerak kali ini ia menoleh, menatap ke arah laci kecil yang ada di meja belajarnya. Laci kecil itu tertutup, tapi Lani tahu apa saja isi di dalam laci itu.
Sembari menatap nanar laci itu, Lani bersuara " bakal kangen banget gue pasti sama suasana kaya gini, terutama sama kalian dan lu, Jiasa. " Lani bergumam.
..
" Ji .. "
Jiasa yang tengah bersandar di tempat tidurnya sembari membaca novel, menoleh ke arah Jennie yang memanggilnya.
Bukan hanya Jiasa, Rosa dan Irene pun menoleh menatap ke arah Jennie yang tengah duduk di sofa yang ada di kamar Jiasa.
" emang bener ya, semalam lu di anter Lani pulang ? " tanya Jennie to the point. Ia tak mau berbasa-basi perihal Lani dan Jiasa.
Jiasa mengangguk, sontak tiga gadis itu terkejut dan penasaran.
__ADS_1
Jennie sampai bangkit dan kemudian melangkah mendekati Jiasa.
" kok bisa, kalian berdua balikan ? " tanya Irene, semua kini menatap Irene. Di tatap sedemikian rupa, Irene tersenyum kikuk, ia pun menggaruk kepalanya yang gak gatal.
Jiasa menggelengkan kepala kemudian kembali beralih pada novel yang tengah ia baca. " balikan apanya, kita gak pernah punya hubungan khusus " kata Jiasa menjawab pertanyaan Irene.
" tapi, kok bisa kalian pulang bareng ? " kali ini Rosa yang berbicara.
Jiasa menutup novelnya, ia menghela nafas kasar. Sebenarnya ia malas membahas Lani. Tapi dari pada ketiga gadis ini salah paham maka akan lebih baik jika Jiasa menjelaskan.
" Jadi kemarin sore aku gak sengaja ketemu sama Lani, dia nawarin tumpangan. Aku awalnya nolak, tapi karena mau ujan, aku akhirnya ikut. Pas di jalan ujan deras banget, karena jarak rumah aku masih jauh, kita berdua akhirnya pulang ke rumah Lani. Setelah nunggu ujan reda, Lani baru nganter aku pulang " Jiasa menjelaskan hingga akhirnya.
Semua memperhatkan dengan seksama. Melihat bagaimana respon tiga temannya membuat Jiasa kembali menghela nafas, tidak ada yang aneh, tapi mengapa tiga gadis yang saat ini bersamanya berekspresi aneh.
" kalian kenapa, perasaan gak ada yang aneh. Cuma di anter pulang ? "
"ya aneh lah, Ji. Lu kan benci banget sama Lani. Tapi kenapa akhir-akhir ini kaya nempel banget sama dia, gue diem-diem merhatiin lho " kata Jennie menyahuti ucapan Jiasa.
Jiasa terkekeh " rajin banget merhatiin. " kata Jiasa lalu kembali membuka novel yang tadi sempat ia tutup.
Jennie menatap Jiasa dengan tatap penuh arti, kemudian Jennie kembali bersuara " Ji, gue boleh ngasih saran gak ? "
" apa ? " tentu saja Jiasa merespon, kali ini ia sampai menutup kembali novelnya.
" kenapa lu gak nyoba buka hati lu buat Lani. lagi pula menurut gue, Lani itu orang yang tepat buat lu untuk saat ini "
Jiasa seketika membeku.
" bener banget, Ji. Lagi pula Lani itu anaknya baik kok, cuma rasa sabarnya aja tipis banget. Gue tau Lani dari jaman kita SMP. dia itu type orang yang gak patah semangat dan selalu memperjuangkan apa yang ia inginkan. " Irene ikut menambahi.
Semua menunggu jawaban Jiasa.
Tak lama senyuman tipis di bibir Jiasa terukir. " memperjuangkan apa, buktinya dia menyerah "
" dia bukan nyerah Ji, dia ngalah "
Jiasa terdiam, ia kemudian malah fokus kembali pada novelnya.
" udah lah Ji, mending lu lupain Tedia, mana Tedia sekarang, setelah semua terbongkar. Tuh bocah terkesan jaga jarak, dan setelah dia sama Lani balik lagi seperti awal, dia tetep cuek sama elu. " Jennie kembali bersuara.
Rosa yang ada di antara mereka memilih untuk diam dan menyimak.
Jiasa menghela nafas " percuma aku buka hati, tapi Lani sendiri mau ngelupain semuanya "
" maksud lu, Lani gak mau gitu perjuangin lu. Gak mungkin banget " Irene berpendapat.
" Lani mau pulang, dia mau kembali ke Amerika "
" APAAAAA ... "
__ADS_1
Suara ketiga gadis itu terkejut dengan ucapan Jiasa.