LABIRIN

LABIRIN
87


__ADS_3

Dengan wajah yang menunjukan jika ia tengah memiliki mood yang baik, Jiasa melangkah masuk ke dalam kelas.


Di sana, irene teman sebangkunya sudah duduk di tempatnya dan menatap heran ke arah Jiasa.


Bukan hanya Irene, tapi ada Jennie dan juga Rosa yang menatap heran Jiasa.


" elu dari mana aja, Ji ? Kita nungguin elu tau di kantin ? " tanya Jennie.


Jiasa tersenyum kikuk, ia merasa tak enak hati karena membuat ketiga temannya menunggu. " sorry, tadi genting, jadi harus ke kamar mandi " sahut Jiasa dengan wajah menunjukan rasa tak enak hatinya.


ketiga gadis itu menatap Jiasa yang masih berdiri di dekat kursinya.


" elu ? " Rosa bertanya ia seperti mengerti apa yang terjadi pada Jiasa, Jiasa yang peka mengangguk kemudian ia membuka tasnya dan menyimpan bungkusan yang berisi rok kotor ke dalam tasnya.


" itu apa Ji ? " tanya Irene.


" rok aku, tadi kotor. Terus ganti di kamar mandi. " jelas Jiasa, ketiga gadis itu kini mengangguk paham. Mereka mengerti dan memaklumi Jiasa.


Beberapa menit kemudian, Lani datang dan memasuki kelasnya.


Dalam langkahnya Lani terus fokus ke layar ponselnya. Lani berjalan sembari menundukan kepalanya.


Semua memperhatikan, bahkan Jiasa sampai menggelengkan kepalanya.


" ke sandung gue mampusin " celetuk Zaki, terkesan menyumpahi Lani.


Lani melirik sekilas, mengabaikan ia kembali fokus pada layar ponselnya. Lani terus melangkah menuju kursinya.


Melihat itu Zaki menggelengkan kepala, kemudian ia beralih pada Yoga dan Tedia yang ternyata sibuk dengan ponselnya.


" anjiir semua sibuk sama hp " kata Zaki, Yoga dan Tedia melirik sekilas. Sama seperti Lani, Yoga dan Tedia pun mengabaikan.


Lani sudah tiba di kursi belakang, ia bersiap untuk duduk di kursinya. Tapi, ia terhalang oleh Tedia.


" minggir, Di. Gue pengen duduk " katanya. Tapi, matanya tak lepas dari layar ponsel.


" sini duduk di pangkuan abang " sahut Tedia.


Seketika Lani mengalihkan pandangannya, ia memincing menatap Tedia.


Zaki yang melihat menatap waspada.


Yoga ? Dia tetap dengan ponselnya.


" asu lu " akhirnya umpatan Lani ucapkan, tak lupa pula Lani menoyor kepala Tedia.


Alhasil Tedia pun kalah dalam gamenya. Tedia menggeram kesal.


Zaki semakin panik, ia menggoyang-goyangkan tubuh Yoga supaya Yoga sadar jika sebentar lagi akan ada peperangan.


" Arlannnnnnn .. " teriak Tedia.


" apaaaa " sahut Lani mengikuti nada teriakan Tedia.


Tedia mengepalkan tangannya. Ia berdiri, kemudian menatap Lani dengan tatapan tajam.


Yang di tatap bukannya takut, ia malah bersedekap seolah menantang Tedia.


Zaki semakin ketar-ketir. sementara Yoga, ia hanya melihat dengan tatapan santainya.


Semua mata tertuju ke arah Tedia dan Lani, mereka penasaran apa yang akan terjadi di antara keduanya.


Takut terjadi pertumpahan darah, Robi sampai bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Lani.


tatapan tajam masih Tedia berikan, begitu juga Lani, ia masih menantang Tedia. Tak lama helaan nafas Tedia terdengar, telapak tangannya yang terkepal sudah mulai mengendur.


Kemudian tangan Tedia terulur lalu menangkup kedua pipi Lani. Detik berikutnya Tedia memasang wajah memelas.


" lu tau enggak "


" enggak " sahut Lani.


" gue lagi taruhan, dan gara-gara lu. Gue kalah 5 juta lebih " Tedia dengan wajah memelasnya.


Zaki, Yoga dan Robi menganga sempurna. Begitu pula dengan yang lainnya.


" Bodo " sahut Lani singkat.


Tedia menghela nafas, ia menurunkan tangannya yang menempel di pipi Lani. " untung sayang, untung adek .. Kalau enggak udah gue kirim lu ke Amerika " kata Tedia kemudian ia duduk kembali.


Mata Lani berbinar, ia membungkuk dan merengkuh bahu Tedia. " serius, ya udah beliin tiket, terus kirim gue sekarang juga " katanya dengan wajah penuh harap.


Tedia memutar bola matanya malas, ia menghempaskan tangan Lani yang ada di bahunya.


" ih Dia, serius .. Gue mau pulang " rengek Lani.


Yoga diam-diam tersenyum. Ok kedua sahabatnya sudah kembali seperti semula setelah cukup lama saling diam dan di landa ke canggungan.


" pulang sana lu ke rahmatullah " Zaki misuh-misuh. Sudah panik tapi endingnya malah lawakan yang ia terima.


" jangan asu .. Sebarangan lu kalau ngebacot " protes Robi.


Zaki mendengus kesal. Kemudian ia menatap tajam Lani.

__ADS_1


Yang di tatap hanya menunjukan senyuman bodohnya.


" cepetan deh duduk .. "


" ya awas lu nya " sahut Lani.


" emang badan gue segede apa sih, Lan. Ampe mau lewat aja harus minggir. " gerutu Tedia, kemudian ia memberi Lani jalan.


Lani masuk ke celah yang di berikan oleh Tedia, kemudian Lani duduk di kursinya.


" ada yang mau gue sampein " kata Lani.


semua menatap Lani intens.


" apa. Kalau gak guna gue bikin lu jadi umpan buaya " kata Zaki.


Lani memuntar bola matanya malas, kemudian ia melihat Robi yang masih berdiri di dekat Yoga.


" lu ngapain asu, sono balik ke alam lu " usirnya.


Robi menganga, sedangkan Yoga, Zaki dan Tedia tertawa terbahak.


" elu, awas lu gue tinggalin balik " katanya kemudian Robi kembali ke kursinya.


" jadi lu mau ngomong apa ? " tanya Yoga mulai menunjukan wajah seriusnya.


Bukan menjawab Lani malah kembali bermain dengan ponselnya.


tentu saja hal itu membuat Tedia, Yoga, dan Zaki menggeram kesal.


" anak dajjal, malah maen hp lagi " umpat Tedia menarik kuping kiri Lani hingga si pemilik kuping mengaduh ke sakitan.


" aaaaggggkk .. Sakit setan " umpat Lani tak kalah kasar. Tedia melepas jewerannya, lantas Lani langsung mengusap telinganya yang terasa panas.


Lani mendengus, kembali menatap layar ponselnya. Tiba-tiba Lani tersenyum lebar, Tiga sahabatnya mengerutkan dahi.


" defresi gara-gara di tinggal anaknya kayanya " Bisik Zaki, Yoga memberi Zaki tatapan tajam. Zaki pun tersenyum bodoh, bahkan ia sampai mengangkat jari membentuk huruf V.


Yoga langsung memutar bola matanya malas, kemudian ia beralih lagi pada Lani.


Lani kini sudah menegakan tubuhnya, ketiga siswa itu menatap penuh tanya.


" nih baca dari sini .. " kata Lani menunjukan ponselnya yang menampilan ruang chatnya dengan seseorang.


Yoga merebut, jujur ia sangat penasaran.


Bersama Tedia dan Zaki, Yoga langsung membaca sesi tukar pesan antara Lani dan seseorang.


" what .. " teriak ketiganya.


" serius lu, Lan. ? " tanya Zaki masih tak percaya.


" lu gak liat itu nama kontaknya siapa ? " jengah Lani karena mereka masih mempertanyaankan ke seriusan seorang Lani.


Ketiganya kembali memastikan dan ternyata Lani benar. Dia tidak sedang berbohong.


" percaya kan sekarang ? "


Ketiganya mengangguk.


Lani mendengus " makanya sekali-kali periksa dulu sebelum nanya kejujuran dan keseriusan gue " lelah Lani.


" bukan gitu, Lan. kita trauma, Terakhir kali lu bohong bikin gue hampir mati muda " sindir Zaki.


Sontak Yoga langsung mencubit paha Zaki, Zaki pun mengaduh kesakitan.


Lani terkekeh dan menggelengkan kepala, ia mengerti cubitan yang di berikan Yoga pada Zaki.


Lani bukan tak paham dengan sindiran Zaki. Ia mengerti dan ia hanya bisa memaklumi dan menyadari.


" setelah apa yang udah terjadi, awalnya gue cukup minder buat gabung lagi sama tim. Tapi, karena coach ngasih kita kepercayaan lagi, apa salahnya kalau nyoba. kali aja di kesempatan kali ini kalian berhasil. " kata Lani.


" kok kalian, elu ? " tanya Zaki, bingung.


Lani tersenyum tipis, " iya sama gue juga " katanya tapi tak lama ia merubah ekspresi wajahnya. Hanya saja tak ada yang menyadari, ketiga sahabatnya kembali fokus pada layar ponsel milik Lani.


" pantes lu dari tadi main hp terus .. Ngeri ke sandung gue mah, mending kalau gak luka, kalau luka ? Sakit anjir .. " kata Zaki kembali bersuara.


" tenang aja, Ki. Gue bukan pernah jatuh lagi, tapi terjun bebas. Jadi kalau cuma luka kecil gue masih bisa nahan. " sahut Lani.


" halah tai ngedrama " jengah Zaki, Lani terkekeh.


Tedia menghela nafas, ia mulai menjauhkan atensinya dari ponsel Lani.


Zaki pun memperhatikan, kemudian dahi Zaki berkerut. " kenapa lu, Di ? " akhirnya Zaki bertanya.


Yoga dan Lani kini menatap Tedia.


Tedia kembali menghela nafas, kemudian ia hendak membuka mulut untuk bicara. Tapi, si bawel Zaki kembali menghentikannya.


" udah, Di. Stop. Jangan lagi ngasih semangat. Terakhir kali lu bilang kalau gagal semua gagal dan kalau mau hancur semua harus hancur, itu jadi nyata Di. Please ngomong yang baik-baik aja, mulut lu bahaya " Zaki dengan wajah takutnya.


Yoga menggeram kesal, ingin sekali menghajar Zaki. Bayangkan di saat suasana sudah mulai membaik, Zaki malah kembali mengungkit.

__ADS_1


Berbeda dengan Yoga, Lani justru tersenyum miris. rasa bersalah kembali muncul. Gara-gara dirinya ketiga sahabatnya harus menelan pil pahit.


Diam-diam Lani melirik Jiasa. Lani melihat, Jiasa pun sudah kembali membaik. Kemudian Lani kembali beralih pada ketiga temannya yang kini sudah mulai bertingkah konyol.


Lani kembali tersenyum, tapi hanya senyuman tipis. Melihat betapa bahagianya mereka, Lani merasa keputusan yang akan ia ambil adalah keputusan terbaik.


..


Karena kejadian yang tak terduga di kelas, para siswa tampan itu kini kembali bersama.


Mereka tengah melangkah di koridor sekolah.


" kak Lani " sapa siswi kelas 10 yang tak sengaja berpapasan dengan mereka.


Lani tersenyum menanggapi.


" Lani .. " sapaan datang lagi, kali ini dari siswi kelas 12.


Lagi, Lani tersenyum menanggapi.


" Lani .. " ketiga kalinya sapaan datang. Dan Lani kembali memberi senyum.


" buset yang keliatan cuma Lani, kita mah bayangan Lani doank. " Zaki di buat menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya si kapten tim sepak bolanya yang di kenal antagonis memilik pengemar.


" kayanya setelah jadi Papa, auranya makin menjadi deh. " kali ini Robi yang ikut dalam rombongan mengeluarkan opininya.


Robi berbicara dengan cara berbisik, ia mendekatkan bibirnya pada telinga Zaki.


Zaki terkekeh kemudian ia mengangguk. Zaki setuju dengan opini Robi.


" ngapain kalian berdua ? " tanya Lani, Matanya memincing.


Zaki dan Robi tersenyum bodoh, keduanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


Lani memutar bola matanya malas, ia sudah mengenal kedua siswa itu bertahun-tahun. Jadi Lani tahu mereka itu tengah mengatakan kalimat yang tidak-tidak.


" udah Lan. Lu gak usah nanggepin dua anak ayam, bikin pusing doank " saran Yoga yang juga sudah merasa jengah dengan tingkah Zaki dan Robi.


" sembarangan, mana ada anak ayam ganteng " Zaki tak terima. Kemudian Robi mengangguk menyetujui kalimat Zaki.


Yoga memutar bola matanya malas.


Ke lima siswa itu terus melangkah dan lagi, Lani mendapat sebuah sapaan kali ini dari kakak kelas mereka.


" Arlan "


Nadanya terdengar centil. Raut wajah Lani langsung menunjukan jika ia tak suka.


Yoga, Zaki, Tedia dan Robi menahan tawa mereka.


Setelah si kakak kelas centil itu menjauh, Zaki mendekati Lani lalu Zaki merangkul Lani.


Tiga siswa yang bersama keduanya tengah menunggu, hal konyol apalagi yang akan terjadi di antara Lani dan Zaki, Dua termuda dari circle mereka.


" Lan, elu gak tertarik sama Kak Gina ? "


Seketika Lani menggeleng, kemudian ia bergidik ngeri.


Zaki tertawa, begitupun dengan Yoga, Tedia dan Robi.


Masih melangkah menyusuri koridor, si bawel Zaki yang masih merangkul Lani kembali bersuara. " Kak Gina seksi, Lan. Atas bawah montok. Yakin lu gak tertarik ? " Zaki mulai nyeleneh.


Tedia, Yoga dan Robi menggelengkan kepala.


Lagi, Lani bergidik ngerti, kemudian ia berbicara. " gue gak tertarik. Lagian itu mah palsu, pasti di nambahin silikon " Lani terbawa, ia pun mulai berkata nyeleneh.


Kini Robi, Tedia dan Yoga, Bukan lagi menggelengkan kepala. Tapi, mereka memutar bola matanya malas.


" emang kalau yang asli kaya gimana, Lan.? " Zaki kembali beraksi.


Layaknya anak polos, Lani yang terbawa dalam suasana percakapan tidak berpaedah ini malah berpikir. " emmmm " suara Lani yang tengah berpikir.


Zaki cekikikan, puas dia karena berhasil memancing Lani.


Yoga sudah tidak tahan, ia pun mendengus kesal.


Zaki sadar, ia melirik Yoga. Kemudian Zaki tertawa meledek Yoga.


" yang asli tuh kaya .... " suara Lani akhirnya kembali terdengar.


Zaki mulai melepas rangkulannya, ia pun mulai menjauhkan tubuhnya dari Lani. Zaki seperti tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.


Tak ada lanjutan, Zaki pun menatap Lani. Dan dugaan Zaki benar. Saat ini Lani tengah menatap tajam Zaki dengan kedua tangannya yang terkepal.


Tanpa aba-aba Zaki berlari. Dan teriak Lani menggema di setiap penjuru.


" ZAKI, ANJIIIIING. SINI LU BANGSAT .. " umpat Lani sembari berlari mengejar Zaki.


Tedia, Yoga dan Robi menghentikan langkahnya. Ketiganya kini menatap aksi kejar-kejaran yang terjadi di antara Lani dan Zaki.


Ketiganya menggelengkan kepala secara bersamaan.


" gitu tuh kalau bocah waktu kecil ibunya salah ngasih makan. " celetuk Yoga.

__ADS_1


" kurang rukiyah mereka mah " kini suara Robi.


Tedia sendiri memilih diam, kemudian ia tersenyum tipis. Dalam hati Tedia bersyukur, seiring berjalannya waktu semua kembali normal, meski ia tidak memungkiri dia juga merasa bersalah.


__ADS_2