LABIRIN

LABIRIN
45


__ADS_3

" udah deh, Lan. Ga usah di pikirin, entar juga STNK yang di bawa sama Om Polisi di ambil sama Ibu. "


Lani menggerakan kepalanya, menoleh kearah Yoga yang baru saja berbicara. kemudian Lani menatap Yoga dengan tatapan datar.


Yang ditatap mengerutkan dahinya. Ia tidak salah dalam berbicara, betulkan.? Lantas mengapa Lani menatapnya sedemikian rupa ?


" mata lu, songong " kata Yoga.


Lani mendengus, kemudian berpaling dari wajah Yoga. Tak sengaja matanya menangkap sosok Jiasa yang tengah menikmati waktu istirahat bersama tiga gadis cantik lainnya di meja yang berseberangan dengannya.


Lani menatap dalam Jiasa, bahkan ia sampai menopang dagunya. Dan kini menatap Jiasa dengan tatapan kagum.


" iler lu keluar lama-lama " jahil Zaki dengan telapak tangan mengusap wajah Lani agar fokus Lani terganggu.


Berhasil, Lani terperanjat, posisi duduknya ditegakkan, kini ia menatap Zaki dengan mata nyalang.


" apa ? Pikirin tuh nasib STNK Ibu "


Lani memberengut, baru saja ia lupa akan musibah yang menimpanya di pagi hari karena sosok Jiasa, kini Zaki malah kembali mengingatkan dirinya.


Dengan wajah memberengut, Lani menatap Tedia yang sedari tadi asik makan.


" Di. " panggilnya.


" hhmm .. " sahut Tedia sembari mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


Lani menatap Tedia dengan tatapan penuh arti. " bantuin gue ngomong sama Ibu. " katanya dengan nada merengek dan wajah memelas.


Zaki dan Yoga melongo, sedangkan Tedia tetap santai menanggapi.


Selang beberapa detik kemudian, tawa Zaki dan Yoga terdengar menggelegar. Keduanya menertawakan Lani.


Ditertawakan, Lani mendengus. bukannya memberi solusi, Zaki dan Yoga malah menambah beban.


Tetap santai menanggapi, Tedia kemudian meraih botol mineral dan menenggaknya. Lalu setelah itu, Tedia meletakan kembali botol mineral itu di atas meja.


Setelah selesai dengan urusan sendiri, Tedia kini beralih menatap Lani. Yang ditatap, menatap balik Tedia dengan tatapan penuh harapan.


" kapan sidangnya ? " tanya Tedia, akhirnya setelah sekian lama diam, Tedia kini membuka suara.


" gak tau, gak liat " sahut Lani, dan sukses mendapat toyoran dari Tedia.


" OON " kata Tedia tanpa dosa.


Lani memberengut, bibirnya manyun, bak anak paud yang tengah merajuk namun hal itu justru bukan membuat Zaki dan Yoga jengah. Ekpsresi Lani yang seperti ini mampu membuat siapun menjadi gemas, contohnya mereka berdua.


" gemes banget sih, anak siapa ya " goda Yoga dengan jahil mencubit pipi Lani.


Yang di cubit justru menepis kasar, kemudian menatap nyalang si oknum yang sudah membuat pipinya sedikit berubah warna.


" nanti gue yang pergi sidang, jangan nyusahin Ibu .. " kata Tedia, seketika mata Lani berbinar.


" beneran ? " Lani mencoba memastikan kembali. takutnya, Tedia hanya bergurau. Kan tidak enak rasanya, habis dibawa terbang lalu dihempaskan ke tanah.


" kapan gue pernah bohong " kata Tedia.


" sering " sahut Lani


Tedia memutar bola matanya malas, sudah di kasih hati malah minta jantung. Kalau tidak sayang mungkin Tedia sudah melempar Lani dengan mangkuk berisi kuah bakso yang ada di hadapannya.


" entar gue sama Yoga yang pergi, kasih aja surat tilangnya sama gue .. " Tedia kembali menegaskan jika ia sungguh-sungguh.

__ADS_1


" lah kok gue " Yoga yang namanya di sebut turun tangan. Kaget aja, kenapa ia harus di ajak ikut campur, pasalnya ini urusannya dengan Polisi, kalau dengan anak SMA lain sih, Yoga gak masalah. apalagi jika perihal tanding bola, Biar malas latihan, Yoga akan maju paling depan.


" di sini yang paling dewasa cuma gue sama elu, yang dua masih bocah " kata Tedia menyindir Lani dan Zaki.


Zaki yang peka mendengus.


" elu mau entar di sana tuh bocah gak bisa nahan emosi terus Om Polisinya di tonjok " Kali ini Tedia menyindir Lani akan sikap tempramental yang Lani miliki.


Dan sekarang Lani yang mendengus.


Yoga mengangguk paham, Tedia benar, dua orang yaitu Lani dan Zaki terkadang tidak pernah bisa berpikir dewasa.


" tapi, nanti kalau Ibu mau pake mobil terus nanyain STNK, gue jawab apa ? " wajah bingung kembali menerpa Lani.


Tedia menaikkan alisnya, " nah itu tugas elu " katanya, terus memberi Lani senyuman lebar meledek.


" BANGSAT " umpat Lani sudah tahu endingnya akan seperti ini.


Tiga temannya tertawa terbahak, sedangkan Lani kini tengah menenggelamkan wajahnya di atas meja.


Interaksi ke empat siswa itu tentu saja menjadi perhatian para siswi yang berada di kantin, terutama Irene dan Jennie yang sedari tadi diam-diam memperhatikan.


Melihat bagaimana ke empat siswa itu bergurau membuat hati Jennie dan Irene menghangat. Keduanya saling tatap, kemudian tersenyum satu sama lain.


" seneng deh liat mereka kaya gitu lagi " bisik Irene, Jennie mengangguk.


..


Kriiiinggg ..


" di jemput, Di.? " tanya Zaki, posisi duduknya berubah, menghadap kebelakang menatap Tedia.


Tedia mengangguk. " hooh, sama Pak Adul nanti " katanya.


Tedia mengangguk sebagai respon.


" oh, iya. Soal seleksi timnas gimana ? "


Semua mata tertuju kepada Lani akan pertanyaan yang baru saja Tedia lontarkan.


Lani menatap ketiganya secara bergantian, kemudian ia menghela nafas kasar.


Tiga orang dihadapannya menatap Lani penasaran.


" ya, intinya kita harus fokus dan jangan main main kalau lagi latihan ataupun tanding, kita dinilainya dari situ. Untuk waktunya, kayanya latihan dihari minggu ini bakal dikabarin sama pelatih. " Lani menjelaskan.


" kaki gue udah sembuh belum ya, pas hari minggu. ? " tanya Tedia kepalanya menunduk, menatap kakinya yang ia gerak-gerakkan.


Ketiganya mengikuti arah pandang Tedia.


" sembuh kali, Di. Lagian cuma keseleo biasa, biasanya juga kaki lu di patahin lawan " celetuk Zaki. Tedia tersenyum lebar, benar sekali apa yang dikatakan Zaki, luka seperti ini belum seberapa bagi mereka, mereka biasanya mengalami luka yang lebih ekstrim.


Pernah dulu, Tedia dan Lani sampai mendapatkan operasi di pergelangan kakinya karena berbenturan dengan lawan.


" ya udah ke depan yuk, kali aja Pak Adul udah datang " kata Lani, semua menganggukkan kepala. Setelah itu keempat siswa tampan favorit siswi di SMA NUSA PELITA itu melangkah keluar kelas.


Dengan langkah pelan dan penuh karisma, ke empat siswa tampan itu melangkah di koridor.


jadi pusat perhatian ? Tentu saja. para siswi yang masih berada di sekolah semua memperhatikan mereka berempat.


" gue mah kalau lagi jalan di liatin bukan seneng malah risih " celetuk Zaki dengan kejengahan yang ia tunjukan.

__ADS_1


" kenapa ? " tanya Yoga.


" gue ngerasa ada kotoran di muka gue, ampe semua ngeliatinnya kaga kedip " sahut Zaki asal.


Sontak ia pun mendapat gelengan kepala dari ketiga temannya.


Mengabaikan celotehan Zaki, Mereka kembali melanjutkan langkah.


Tak sengaja mereka melihat Jiasa and teh genk yang ternyata tengah berjalan di koridor.


" wah ada mangsa " kata Tedia, semua menatap Tedia heran.


kemudian ketiganya mengikuti arah pandang Tedia.


" sikattt " kata Lani, Zaki, dan Yoga secara bersamaan.


Mereka pun melangkah cepat menghampiri Jiasa, Jennie, Irene, dan juga Rosa.


" hallo selir-selir ku .. "


Mulai, Tedia mulai beraksi, kedua lengannya merangkul Jennie dan Irene.


Irene mendengus, Jennie memutar bola matanya malas.


" Di, jangan Irene, Di. udah punya pacar tuh bocah " Kata Zaki, sontak Tedia melepas rangkulan tangannya di kedua gadis itu. Ia menatap Irene dengan wajah yang pura-pura terkejut.


" beneran ? Wah Mama kita udah punya pacar, sebentar lagi kita punya Papa " kata Tedia begitu sumringah seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru.


Irene mendengus, " Mama pala lu " cibir Irene


" tapi beneran, Ren. Elu dah punya pacar ? " Tedia kembali bertanya. Ia hanya ingin memastikan jika kabar bahagia itu bener adanya.


" iya " sahut Irene terdengar malas.


Tedia merubah ekspresi wajahnya, ia memberengut, satu tangannya menyentuh dada sebelah kirinya. Setelah itu Tedia langsung membuat drama.


" Irene, kamu tega sama abang, kamu memilih laki-laki itu. Lalu gimana nasib abang " kata Tedia memulai aksi gilanya. Semua menggelengkan kepala.


Sedangkan Irene tengah meringis geli. " Tedia, sumpah ya. Gue pengen muntah liat lu kaya gini, Musnah sono lu "


Irene mendorong Tedia, yang di dorong justru tertawa terbahak.


" Dia, kemaren gak ada lu kita aman ya, sakarang ada lu mulai lagi dah " Jennie yang ikut gemas, mulai mengeluarkan suara.


" gak ada gue bukan aman, kalian malah berantem " kata Tedia mengungkit perdebatan yang kemaren terjadi.


Semua terdiam, Jiasa yang tidak paham pun ikut diam.


Irene, Jennie, dan Rosa saling pandang satu sama lain. Kemudian ketiganya menatap Yoga dengan tatapan memincing.


Sadar akan tatapan tiga gadis itu, Yoga bergidik ngeri.


Di samping Yoga, Lani memutar bola matanya malas, kemudian ia bergerak mendekati Jiasa. Lalu Lani menyentuh lengan Jiasa, Jiasa yang terkejut mendongkak menatap Lani.


" ayo balik " kata Lani, tanpa mendapat anggukkan dari Jiasa, ia membawa Jiasa pergi menjauh.


Hal itu di sadari oleh semuanya.


" ANJING .. WOOOY, JIASA MAU LU BAWA KEMANA ? " teriak Tedia.


" PENGHULU " sahut Lani tanpa berbalik badan.

__ADS_1


" Anj ... "


" Buruan balik, teriak-teriak aja kaya di hutan .. " kata Yoga, mendorong tubuh Tedia agar melangkahkan kakinya.


__ADS_2