LABIRIN

LABIRIN
31


__ADS_3

" ehhhmm .. "


Dehaman yang dikeluarkan Lani mampu membuat atensi dua orang siswa dan siswi yang tengah saling bertatapan teralihkan.


Tedia, nama siswa itu mendadak salah tingkah akan kehadiran sahabatnya yang tidak ia sadari. Tedia bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal guna menutupi rasa salah tingkahnya.


Berbeda dengan Tedia, Jiasa yang atensinya juga teralihkan justru tidak merasa salah tingkah. Jiasa memberi senyuman seolah menyambut kedatangan tiga orang siswa yang entah sejak kapan berdiri diambang pintu ruang UKS.


Lani melangkahkan kaki masuk kedalam ruang UKS guna mendekati Tedia yang saat ini tengah duduk diatas brankar bersama Jiasa. Dibelakang Lani, Zaki dan Yoga pun melangkah mengikuti.


Tedia menatap Lani, tapi tak lama ia menundukan wajah. Ekspresi Lani terlihat berbeda dari biasanya, dan Tedia menyadari aura itu.


" bisa bawa mobil gak. Kaki lu kan keseleo. Ayo gue anter pulang .. " kalimat cukup panjang diucapkan Lani. Tapi di mata Tedia, Yoga, dan Zaki terdengar begitu dingin.


Tedia mendongkak, dan lagi-lagi menangkap aura berbeda dari mata Lani.


" nanti motor lu gimana .. ? " Tedia mencoba untuk mencairkan suasana dingin yang tengah melanda Lani.


" gue titip Pak Satpam dulu .. " sahut Lani tetap dingin menurut Tedia.


Tedia menghela nafas pelan. Ia tahu dan yakin sikap Lani saat ini karena melihatnya berduaan dengan Jiasa.


Diam-diam Tedia melirik Yoga yang kebetulan berdiri disamping Lani.


Sadar jika Tedia manatapnya, Yoga menggelengkan kepalanya pelan. Hingga hanya Tedia yang menyadari gelengan itu.


" elu tunggu disini, gue ambil tas lu dulu .. " Lani kembali berbicara. Sebelum Tedia merespon dengan anggukan, Lani segera berbalik dan melangkah pergi keluar dari UKS.


kini tinggal Tedia, Yoga, Zaki, dan tentunya Jiasa yang tidak menyadari aura dingin yang Lani pancarkan.


" elu tuh ya .. " celetuk Yoga membuat Jiasa dan Zaki menatap bingung kearahnya. Sedangkan Tedia malah menundukkan wajah semakin membuat bingung keduanya terutama Zaki.


" kayanya ada yang gue gak tau nih .. " kata Zaki, helaan nafas kasar dari Yoga terdengar.


" ke kelas yuk ambil tas, elu tunggu di sini .. Ayo Ji bareng .. " Kata Yoga mengajak Jiasa untuk pergi bersamanya. Jiasa mengangguk setuju.


Tak ada lagi yang dibicarakan. Yoga, Jiasa, dan Zaki melangkah keluar meninggalkan Tedia.


Setelah ditinggal sendiri. Tedia menghembuskan nafas kasarnya, setelah itu ia menjatuhkan tubuhnya diatas brankar UKS.


.


" Lan .. " panggil Yoga kemudian mendekati Lani yang tengah merapihkan alat tulis milik Tedia kedalam tas yang juga milik Tedia.


" hhmm .. " hanya itu yang Lani keluarkan untuk sahutan.


Yoga sadar ternyata Lani benar-benar sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Yoga yakin ini pasti ada hubungannya dengan yang mereka lihat di UKS tadi.


" gue ikutin kalian ya dibelakang .. " kata Yoga, entahlah dia takut jika nanti Lani malah meluapkan emosinya pada Tedia di dalam perjalanan.


Lani hanya mengangguk tipis, kemudian mengangkat tas Lani yang sudah ia rapihkan.

__ADS_1


Lani melangkah keluar kelas, tak sengaja matanya melihat Jiasa yang tengah merapihkan alat tulisnya juga. Lani menatap Jiasa, yang ditatap sadar dan tersenyum manis kearah Lani.


Lani tersenyum tipis, kemudian melangkah pergi keluar dari dalam kelas diikuti Yoga dan Zaki tentunya.


" eh eh .. Kalian sadar gak sih .. Kok Lani beda banget ya .. Kaya lebih dingin gitu .. ? " suara Jennie mengalihkan atensi Jiasa. Ia pun menatap Jennie dengan dahi berkerut.


" maksudnya ? " Irene yang tak paham pun bertanya, rasa penasaran Jiasa pun akan hilang jika nanti Jennie menjawab pertanyaan yang dilontarkan Irene.


Jennie menarik nafas dalam kemudian membuangnya kasar. setelah itu ia menatap Irene, Jiasa, dan terakhir Rosa " gue itu tau Lani dari jaman SMP, gue tau Lani yang asli dan Lani yang sok baik-baik aja. Dan yang sekarang kayanya ini sosok Lani yang lagi sok baik-baik aja .. " Jennie menjelaskan, sebagai salah satu teman Lani sejak jaman SMP. ia sedikit mengetahui sisi Lain remaja bernama RAYLAN ARLAN KHAZIRA itu.


Rosa yang masih tak mengerti menautkan alisnya.


Berbeda dengan Rosa. Irene justru bersikap biasa saja " jelas dia kaya gitu .. Lani kesal pasti, udah mah bentar lagi mau seleksi timnas tapi kaki Tedia malah cidera. Otomatis kan latihan juga jadi keganggu, belum lagi pertandingan-pertandingan yang bakal mereka jalanin. Pasti Tedia gak bisa ikut karena kakinya butuh waktu untuk sembuh .. "


Rosa dan Jennie mengangguk-anggukan kepala. Alasan yang diberikan Irene cukup masuk akal.


" iya juga ya .. Yu ah balik .. " kata Jennie yang kemudian melangkah keluar kelas bersama tiga temannya.


..


" Di .. "


Sebuah panggilan membuat Tedia yang tengah berbaring dengan tangan bertengger di dahinya terkesiap. Tedia bangkit dan merubah posisi tubuhnya menjadi duduk.


Ia melihat Lani yang tengah berjalan mendekatinya.


" yuk balik .. " katanya bergegas menyentuh lengan Tedia guna membantu Tedia untuk turun dari brankar.


Tak menolak dan tak banyak bicara karena aura yang Lani pancarkan masih terkesan dingin. Tedia pun turun dengan hati-hati dari atas brankar dengan bantuan Lani.


" sini Lan, tas kalian biar gue yang bawa .. " Yoga menawarkan diri untuk membantu Lani yang tangah memapah Tedia.


Tak mengiyakan ataupun menolak. Lani menyerahkan tas miliknya dan milik Tedia kepada Yoga.


Sembari memapah Tedia, Lani kembali melanjutkan langkahnya.


" sumpah gue masih gak tau ini kenapa, tapi Lani tuh beda banget hari ini .. " Zaki yang berjalan beriring bersama Yoga berbisik kepada Yoga. Ia masih penasaran dengan sikap dingin Lani.


" tadi sebelum ke UKS tuh bocil biasa aja, Pas nyampe UKS dia langsung begitu .. Jangan bilang ... " Zaki menjeda ucapannya. Ia menghentikan langkahnya dan merubah posisi tubuhnya kini menghadap Yoga yang juga menghentikan langkahnya.


" Lani lagi cemburu .. " bisik Zaki yang masih bisa didengan oleh Yoga. Sebagai orang yang peka diawal, Yoga menganggukkan kepalanya.


Sontak hal itu membuat Zaki membulatkan matanya.


" eh busett .. Jadi kaya lagu Rhoma Irama .. Cinta segi tiga .. " celetuk Zaki dan mendapat sebuah pelototan dari Yoga.


Keduanya kembali melanjutkan langkah. Zaki memandang pungung Tedian dan Lani yang sudah agak jauh jaraknya dari mereka.


" jadi ceritanya si Malik baper sendiri gitu .. ? "


Yoga kembali menganggukkan kepala. Hal yang tidak aneh buat Yoga. Zaki yang sudah berteman lama dengan mereka pasti tahu bagaimana kepribadian ketiga temannya.

__ADS_1


" Lani tau .. ? "


" ya kaga lah, tapi gak tau kalau sekarang .. Pas liat Jiasa sama Tedia tatap-tatapan aja dia langsung berubah kan .. " Yoga bersuara dengan kalimat yang lebih panjang.


" bakalan ribet ini mah urusannya .. Buat pertama kali anjiir kita berad di dalam posisi kaya gini .. " Zaki menunjukan raut wajah khawatirnya.


Yoga menghela nafas menanggapi kekhawatiran Zaki. Yoga paham apa yang Zaki rasakan saat ini. Yoga tahu pasti Zaki takut persahabatan yang sudah mereka bina sejak lama hancur begitu saja karena hadirnya Jiasa. Karena jujur saja Yoga pun mengkhawatirkan itu.


" Ga .. Buruan .. "


Suara Lani yang sudah berdiri di dekat mobil milik Tedia membuyarkan lamunan Yoga.


Bergegas Yoga berlari pelan mendekati keduanya.


Ia memberikan tas Lani dan Tedia kepada Lani. Menerima, Lani menyampirkan satu tali tasnya dibahu sebelah kiri. Kemudian ia membuka bagian depan tas Tedia yang ia pegang guna mencari kunci mobil yang sedari tadi ia tunggu.


Kunci mobil Lani keluarkan dari dalam tas milik Tedia. Kemudian Lani membuka mobil yang terkunci dengan menekan kunci mobil itu.


Berhasil, mobil berbunyi tanda jika sudah tidak terkunci lagi.


Lani bergeges membuka pintu mobil penumpang bagian belakang. Lalu tanpa banyak bicara ia menyimpan tas miliknya dan milik Tedia di kursi belakang.


Tedia, Yoga, dan Zaki hanya memperhatikan apa yang Lani lakukan.


Usai menaruh tas Lani bergegas menutup pintu mobil dan selanjutnya membuka pintu mobil bagian depan sebelah kiri " masuk Di .. " katanya memberi perintah agar Tedia segera masuk kedalam mobilnya.


Tanpa bicara Tedia menurut dan masuk kedalam mobil, kemudian duduk dengan tenang di kursi penumpang.


Lani kembali menutup pintu mobil itu. Kemudian ia berjalan kesisi sebelah kanan.


Lani membuka pintu dan kemudian masuk kedalam mobil.


Lagi-lagi tanpa banyak kata, Lani menghidupkan mesin mobil milik Tedia dan kemudian melajukan mobilnya menjauh meninggalkan area tempat parkir.


Dibelakang mobil yang Lani kendarai ada Yoga dan Zaki yang mengendarai motor masing-masing.


Ketika di gerbang sekolah. Lani berhenti sebentar dan berbicar kepada Pak Satpam yang bertugas.


" Pak nitip motor dulu ya, nanti saya ambil. Mau nganter Dia dulu .. Kakinya keseleo jadi gak bisa bawa mobil .. " Lani menjelaskan.


Pak Satpam menatap khawatir. Bagaimana pun ia tahu jika Tedia itu salah satu aset yang selalu membanggakan sekolah. Pak Satpam mendekati Tedia dan berdiri di pintu mobil dengan kaca mobil yang terbuka.


" tapi gak parah kan kakinya .. ? " tanya Pak Satpam memeriksa kaki Tedia melalui kaca


Mobil yang terbuka.


Tedia tersenyum " enggak Pak. Besok juga sembuh ini mah .. "


" syukur deh, lain kali hati-hati .. " kata Pak Satpam mengingatkan Tedia.


Tedia kembali tersenyum dan menganggukan kepala.

__ADS_1


Setelah itu Lani kembali melajukan mobil yang ia kendarai. Menghidupkan klason tanda pamit kepada Pak Satpam dan kemudian melesat pergi meninggalkan area sekolah.


..


__ADS_2