
Dalam situasi terkejut, di mana kenyataan Jiasa menolak Lani baru saja terjadi.
Zaki dan Yoga saling tatapan, kemudian Yoga melirik Tedia yang tengah tertunduk. Tanpa Tedia sadari, Yoga melihat senyum penuh arti yang terukir dari bibir Tedia.
Yoga menggelengkan kepala, ia yakin seyakin-yakinnya jika dalang penolakan Jiasa adalah Tedia.
Ok, Yoga akan membuat perhitungan nanti kepada Tedia.
" coba kamu pikirkan Jiasa, bagimana pun bayi kamu itu butuh figur seorang ayah. Kamu mau anak kamu ketika lahir di cap sebagai anak haram. " Malik mencoba memberi pengertian kepada Jiasa, berharap setelah ini Jiasa akan luluh dan menerima semuanya.
Tedia yang tetap betah pada posisi dan tempatnya, mengepalkan telapak tangannya dengan kuat. Bujuk rayu ayahnya bisa saja menggagalkan semuanya.
Jiasa menggeleng, " aku gak mau menjalani pernikahan karena paksaan "
" semua keterpaksaan ini terjadi karena ulah kalian sendiri " Deri yang kesal kepada Jiasa akhirnya membuka suara.
Jennie yang panik segera mendekati Zaki dan memegang dengan kuat lengan Zaki. " kenapa jadi gini sih, Ki. " bisik Jennie.
" mana gue tau Jen, sepupuh lu saraf " sahut Zaki. sama seperti Jennie, ia berbicara dengan suara berbisik.
Fadil dan Malik saling tatap, kemudian Malik kembali beralih pada Jiasa. Malik kembali memberi pengertian, kali ini dengan suara yang jauh lebih lembut.
" Jia, dengarkan Om. Kamu gak bisa egois, dan mentingin diri kamu sendiri. sekali lagi inget Jia, ada nyawa lain yang harus kamu pikirkan. Kamu mau di setiap hidup yang dia jalani nanti, akan selalu di cap sebagai anak haram. Apa kamu gak perduli sama mental dan psikisnya nanti. Jia, ayo pikirkan lagi, semua ini adalah yang terbaik buat kalian. "
Jiasa diam, Tedia menatap penuh waspada. Ia takut Jiasa merubah pikiran setelah ucapan ayahnya kali ini.
Suasana semakin tidak kondusif, Sepertinya semua orang dewasa yang ada di rumah Jiasa akan meluapkan emosinya. Terbukti, Marsel berkali-kali menghela nafas kasar.
Melihat itu, Muntas pun akhirnya ikut berpendapat. " kita tidak bisa memaksa Jiasa dalam kondisi seperti ini, kita beri dia waktu untuk berpikir. Nanti kami yang akan berbicara kepadanya dan meyakinkan dirinya. "
tak ada yang menggeleng, tak ada yang bersuara, semua diam seperti setuju dengan pendapat Muntas. " Je, bawa Jiasa ke kamarnya. " perintah Muntas pada Jennie.
Jennie mengangguk, ia yang masih berdiri di samping Zaki segera bergerak menjauh dari Zaki dan mendekati Jiasa.
" ayo, Ji. " kata Jennie pelan sembari menyentuh lengan Jiasa.
Menuruti, Jiasa pun ikut melangkah bersama Jennie.
Keduanya mulai menapaki anak tangga. Di langkah ke empat keduanya menaiki anak tangga, kaki Jiasa tak sengaja terkilir. posisi tubuhnya yang tak seimbang membuat Jiasa terjatuh dari tangga.
" Aaaakkkkkgggg " Teriakan Jiasa.
" Jia .. " semua panik, kemudian berlari menghampiri Jiasa yang tengah merintih di lantai.
__ADS_1
" Jiasa .. " panik Farah, menyentuh Jiasa dan meletakan kepala Jiasa di pangkuannya.
" Ma. Sakit .. " kata Jiasa menyentuh perutnya.
Semua panik, dan semua mengerubungi Jiasa.
Diana memeriksa Jiasa, ia terkejut ketika celana Jiasa terdapat bercak merah. " siap kan mobil, cepat. " perintah Diana.
Fadil mengangkat tubuh ringkih Jiasa, dengan wajah panik ia membawa Jiasa keluar.
Semua berhamburan keluar.
Dalam kondisi panik dan menggendong Jiasa, Fadil menatap jejeran mobil yang terparkir rapih.
" Man mobilnya " Teriak Fadil.
Tedia bergegas merebut kunci mobil miliknya yang kebetulan di pegang oleh Yoga.
Yoga pun terkejut, seketika ia ingat jika ia sedari tadi memegang kunci mobil. Kepanikan membuat mereka lupa akan segalanya.
Tedia berlari menuju mobilnya yang tadi di kendarai oleh Yoga. Mengeluarkan mobilnya menjauh dari jajaran mobil yang terpakir rapih, Tedia kemudian menghentikan mobilnya di depan Fadil dengan wajah panik.
" ayo Om. " katanya
Jiasa sudah masuk dan duduk, dengan wajah yang terlihat jelas jika ia tengah menahan rasa sakit.
" tahan sebentar, Ji. " kata Tedia menoleh ke belakang dan menatap Jiasa dengan nanar.
Tak lama Fadil kembali masuk, ia duduk di samping Tedia, kemudian Diana dan Farah menyusul, keduanya duduk mengapit Diana.
Tedia segera melajukan mobilnya, tapi sebelum itu ia menyempatkan diri untuk berbicara dengan yang lain.
" Pa, Papa sama yang lain pulang aja. Ga, lu sama Zaki sama Jenni ikutin gue di belakang " kata Tedia dan mendapat anggukan dari yang lain. Setelah itu ia melajukan mobilnya dengan cepat guna membawa Jiasa kerumah sakit.
Dengan menggunakan mobil milik Jennie, Yoga, Zaki serta Jennie, mengikuti Mobil yang Tedia kendarai.
mobil yang Tedia bawa sudah menjauh, Begitu pula dengan mobil yang di bawa Yoga.
Di dalam rumah milik keluarga Jiasa itu, Kini hanya ada Fadil, Deri, marsel, muntas dan juga Fani.
Muntas dan Fani saling menggenggam demi menguatkan satu sama lain.
" kami permisi, Pak. Jika ada kabar tentang Jiasa segera kabari kami. " pamit Malik di situasi yang tidak kondusif.
__ADS_1
Muntas mengangguk pelan, " maaf untuk kejadian malam ini, kami tau tujuan kalian baik. Tapi, tolong beri waktu kepada Jiasa. "
kali ini Malik yang mengangguk, bagaimanapun ia harus menghargai Jiasa. ia dan yang lainnya tak bisa memaksa Jiasa saat ke adaan seperti ini.
Setelah pamit, bersama Deri dan Marsel. Malik pergi dari rumah Jiasa.
Tiba di rumah sakit, Tedia dan Fadil bergegas keluar dari dalam mobil.
Perawat yang sebelumnya sudah di hubungi Diana bergegas menghampiri sembari membawa brankar kecil untuk Jiasa.
Fadil membantu Jiasa keluar dari mobil, kemudian ia membaringkan Jiasa di atas brankar.
Setelah Jiasa berbaring dengan sempurna, para perawat bergegas berlari sembari mendorong brankar dimana Jiasa berbaring di atasnya.
Fadil, Farah dan juga Tedia mengikuti. Jennie, Zaki dan juga Yoga yang sudah tiba pun langsung mengikuti.
Jiasa di bawa keruangan IGD, ketika tiba di ruang IGD, seorang dokter kandungan yang juga sudah di hubungi oleh Diana datang.
Jiasa di bawa masuk, kemudian para perawat menutup rapat pintu IGD.
Fadil dan Farah saling memeluk, dengan wajah panik mereka berusaha menguatkan diri masing-masing.
Tedia sendiri menyadarkan tubuhnya ke tembok, kemudian merosot hingga kini Tedia jongkok. Tedia menautkan kedua tangannya, wajahnya tertunduk dan bahunya pun bergetar.
Jennie, Zaki dan Yoga tiba dengan nafas memburu. Mereka berlari guna menggejar Jiasa dan yang lainnya.
tak ada yang bertanya, mereka membiarkan. Tak sengaja tatapan Jennie tertuju pada Tedia.
Jennie terdiam melihat bagaimana kondisi Tedia, Wajah tertunduk, kedua tangan saling bertautan dan bahunya begetar. Tedia menangis.
Jennie menepuk lengan Zaki guna memberitahu Zaki akan kondisi Tedia. Zaki merespon, ia menatap Jennie sembari menautkan alisnya.
Jennie yang peka segera menunjuk Tedia dengan dagunya. Mengikuti arah Jennie, Zaki pun akhirnya melihat Tedia.
Helaan nafas terdengar, tapi bukan Zaki ataupun Jennie. Jennie dan Zaki justru menoleh ke belakang dan melihat Yoga yang menatap nanar ke arah Tedia.
Jennie dan Zaki kembali mengalihkan padangannya pada Tedia.
Dengan sengaja Zaki merapatkan tubuhnya pada tubuh Jennie, kemudian Zaki berbisik. " gue curiga, anak Jiasa itu anaknya Tedia bukan Lani. "
Replek, Jennie memukil lengan Zaki dengan kencang.
Zaki mengaduh pelan, kemudian Jennie memberi dengusan. Bisa-bisanya Zaki berpikir demikian.
__ADS_1
kemudian Jennie kembali menatap Tedia, melihat bagaimana reaksi Tedia, Jennie kembali mengingat kata-kata nyeleneh Zaki. ia mulai berpikir hal yang sama dengan Zaki, tapi tak lama Jennie menggelengkan kepalanya.