LABIRIN

LABIRIN
2


__ADS_3

Jakarta, 19 Agustus 2003


Fajar Saputra, nama yang terukir jelas pada sebuah nisan dari batu marmer berwarna hitam tersebut. Dia adalah ayahku, seorang laki-laki yang sekarang sudah pergi untuk selama-lamanya, dan hanya tinggal raganya yang sudah menyatu dengan tanah. Aku mulai menaburkan bunga dan menuangkan air mawar ke atas tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau tersebut. 'Apa aku harus percaya kalau Mbak Rukmi yang bunuh ayah?'' Tanyaku dalam hati.


“Hari ini aku pulang ke Jogja yah, sudah empat tahun aku cari tahu semuanya. Tapi nihil, aku tidak dapat apa-apa.” Ucapku sambil mengelus batu nisan tersebut.


Terdapat bayangan seseorang yang terlihat bungkuk di depanku. “Sendirian saja neng? Keluarganya tidak diajak?” Aku mulai mengangkat kepalaku perlahan dan melihat siapa orang yang sedang mengajakku berbicara. Kakek-kakek tua bungkuk sambil membawa sapu lidi itu tersenyum kepadaku, kelihatannya dia penjaga makam di sini.


“Iya kek.” Jawabku singkat dan kakek-kakek tersebut tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Aku melirik ke arah jam tanganku, “Saya pergi dulu ya kek.” Ucapku lalu pergi meninggalkan kakek-kakek tersebut yang masih memperhatikanku.


Yogyakarta, 19 Agustus 2003


Stasiun Lempuyangan mulai sepi dan sekarang langit juga sudah gelap, ditambah lagi udara dingin menyeruak memenuhi atmosfer Kota Pelajar ini membuat orang mulai pulang ke rumah masing-masing untuk menghangatkan tubuh atau beristirahat. Aku keluar dari stasiun dan berjalan-jalan sambil menenteng tas yang isinya pakaian dan beberapa keperluanku. Aku berhenti di sebuah angkringan yang ada di pinggir jalan, “Wedang jahe setunggal nggih bu.” Ucapku memesan pada seorang ibu yang sedang membuatkan kopi untuk seorang bapak-bapak.


“Sebentar nggih nduk.” Jawab ibu tersebut dengan tersenyum, aku hanya tersenyum dan mengangguk lalu mengambil satu bakwan yang masih hangat.


“Mbaknya kok malam-malam bawa tas memangnya mau kemana?” Tanya bapak-bapak berumur sekitar setengah abad sambil mengambil cabai untuk dimakan bersama mendoan yang ada ditangannya.


“Mau pulang pak.” Jawabku setelah menyeruput wedang jahe yang dibuatkan oleh ibu pemilik angkringan.


“Mau saya antar? Saya tukang ojek yang mangkal tidak jauh dari sini.” Ucap bapak tersebut sambil menatapku.


“Boleh pak.” Jawabku, yang ku rindukan dari Jogja ya ini salahsatunya, warganya sangat ramah. Aku segera menghabiskan wedang jahe dan membayarnya. Setelah itu aku diantar menuju rumah simbah oleh bapak ojek tersebut.


“Kok mbak mau naik ojek saya, motor saya butut, terus memangnya mbaknya tidak takut atau curiga sama saya karena mau mengantarkan padahal sudah malam?” Tanya bapak ojek di tengah jalan.


“Kata simbah saya kalau ada yang memberi bantuan jangan ditolak, masih mending ada yang membantu.”Jawabku. Bapak tersebut hanya mengangguk kecil menanggapi jawabanku. '


"Bapak malam-malam seperti ini kok masih ngojek?" Tanyaku.

__ADS_1


"Untuk tambah-tambah mbak, soalnya dari pagi sepi. Terus juga untuk membayar biaya sekolah anak." Aku mengangguk mengerti, di sini aku diingatkan kembali tentang susahnya seorang ayah mencari nafkah untuk keluarganya. 'Huft, kira-kira ayah sedang apa ya?' Batinku.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya aku sampai di kediaman simbah. Halaman yang ditumbuhi dua pohon rambutan dan beberapa tanaman hias lainnya membuat bangunan tua tersebut terlihat asri.


“Makasih ya pak.” Ucapku sambil membayar dan diangguki oleh bapaknya. Ku dorong pagar besi berwarna putih yang mulai berkarat tersebut dan melangkah memasuki halaman. Ku ketuk beberapa kali,  akhirnya pintu terbuka dan memperlihatkan laki-laki tua yang mengenakan sarung kotak-kotak berwarna hijau dan kaos putih polos.


“Assalamualaikum.” Ucapku sambil menyalami simbah.


“Waalaikumsalam, bali kok yahmene koyo gelandangan.” Aku hanya memutar bola mata malas menanggapi cacian pria tua tersebut.


Aku melangkah memasuki ruang tamu, di sana terdapat Mbak Rukmi yang sedang berdiri di depan sofa.


“Anterin dia ke kamar Ruk, nanti malah nyasar ke sumur.” Ucap Simbah sambil mengunci pintu kembali.


Aku mengikuti Mbak Rukmi menuju kamar kosong yang berada di sebelah ruang makan.


“Kenapa kamu ke sini Rum?” Tanya Mbak Rukmi sambil ikut membereskan pakaianku ke dalam almari.


"Apa aku berkata salah?" Tanyaku bermonolog, lalu aku kembali membereskan barang-barang yang masih tersisa.


Setelah selesai membereskan barang-barang, aku keluar dari kamar dan berjalan memutari seisi rumah, tidak ada yang berbeda dari dulu. Rumah tua yang dulu sebagai tempat berkumpul saat pulang kampung dengan sejuta kenyamanan dan kehangatan. Tapi sekarang terlihat berbeda, seperti ada sesuatu yang hilang dari rumah ini.


“Mbengi-mbengi koyo maling.” Ucap simbah dengan logat jawanya.


“Ibu mana?” Tanyaku sambil duduk di kursi yang ada di ruang makan.


“Sudah tidur, itu kamarnya.” Jawab simbah sambil menunjuk kamar yang letaknya berseberangan dengan kamarku.


“Kalau saja kamu tidak pulang sekarang, pasti simbah tidak akan lagi mengirim uang untukmu. Hidup kok seenaknya.” Ucap simbah sambil ikut duduk.


“Lagian simbah itu juga kenapa? Maki-maki terus, sudah kayak aku berbuat dosa besar. Sama mbak Rukmi saja baik sekali kalau sama aku–” Aku tidak melanjutkan ucapanku dan memalingkan wajah, lagian maki-maki kok kelebihan dosis.

__ADS_1


"Kalau sama kamu kenapa?" Tanya simbah sambil menatapku tajam. Aku tidak menjawab pertanyaan simbah dan memilih untuk diam


Cklek..  pintu terbuka dan menampilkan Mbak Rukmi keluar dari kamar yang ditunjuk simbah tadi. Aku memerhatikan Mbak Rukmi yang terdiam di depan pintu kamar ibu.


"Tadi kata simbah ibu sudah tidur, terus kenapa Mbak Rukmi keluar dari kamarnya ibu?" Ucapku sinis. Tidak ada yang menjawab pertanyaanku, bahkan mereka terlihat acuh dan muak melihatku.


Setelah beberapa saat terjadi keheningan, aku pun mulai membuka suara, “Aku mau sekolah, jadi besok simbah tolong daftarin aku ya?” Pintaku dan simbah hanya berdeham menanggapinya. Aku pun berjalan masuk ke kamar, kududukkan tubuhku sambil bersender pada pintu.


"Ada apa dengan keluargaku?" Ucapku pelan.


"Huft.. menyebalkan, di sini aku seperti dikucilkan, kalau saja sekarang ada Mas Eja di sini pasti menyenangkan." Gumamku.


Setelah beberapa saat melamun, aku berdiri dan berjalan untuk merebahkan tubuhku ke kasur, "Terkadang tidur adalah cara terbaik untuk sejenak melupakan masalah, baiklah mari tutup matamu dan tidurlah Kinan." Ucapku lalu menutup mata dan menuju alam mimpi. Tapi sebelum aku benar-benar tertidur, terdengar suara dering telepon yang berada di atas nakas. Aku pun bangun lalu mengambilnya.


'Mas Eja' sebuah nama yang terlihat pada layar dengan lebar kurang lebih tiga kali lima centimeter tersebut, entah kenapa terukir senyum di wajahku. Aku pun langsung mengangkatnya.


"Assalamualaikum, nona cantik." Sapaan tersebut mengalun di telingaku.


"Waalaikumsalam, tuan jelek." Jawabku dan terdengar tawa kecil di seberang.


"Bagaimana? Masih hidupkan sampai Jogja?" Tanyanya dengan santai.


"Kalau aku mati, mana bisa angkat telepon." Jawabku lelah.


"Alhamdulillah deh kalau masih hidup, pasti tadi kamu ngomongin aku kan? Pasti sudah kangen kan? Soalnya tadi telingaku berdenging." Ucapnya dengan sombong.


"Suuzan deh, siapa tahu yang ngomongin sama yang kangen itu mantannya Mas Eja." Ucapku berbohong.


"Aku pernah pacaran pun belum, ya sudahlah jika tidak mau mengaku. Kalau gitu Mas tutup ya teleponnya, pulsanya hampir habis nih, cepar tidur nggih ini sudah malam. Wassalamu'alaikum" Ucap Mas Eja.


"Iya mas, Waalaikumsalam." Jawabku dan telepon berakhir, aku pun terkikik geli karena berbohong. Setelah itu, aku mengembalikan ponsel ke tempat semula dan melanjutkan tidur yang tertunda.

__ADS_1


__ADS_2