LABIRIN

LABIRIN
51


__ADS_3

Lani melangkah memasuki UKS, decakan lidah langsung ia keluarkan tatkala Lani melihat sosok siswi yang Lani tahu kelas 10 tengah berbaring diatas brankar dengan ponsel yang jadi fokus utamanya.


" keluar lu " usir Lani, di saat ia ingin berbaring di Uks, Lani tak ingin ada satu orang pun yang mengganggunya. Apalagi jika seseorang itu seorang wanita, Lani akan merasa risih.


" aku yang duluan disini, kak. " gadis bernama Citra itu tak terima. Ini UKS sekolah, jadi setiap siswa dan siswi berhak menggunakkan unit kesehatan ini.


Melihat sikap gadis itu Lani tersenyum meremehkan. Berarti gadis ini tak sakit, lihatlah ketika Lani mengusirnya, ia langsung bangkit dari posisi berbaringnya dan kini berdiri menghadap Lani.


" elu gak tau siapa gue .. ? " sombong Lani, entah lah suasana hatinya yang kacau membuat Lani ingin menyombongkan diri akan status yang ia miliki.


Gadis bernama Citra itu kemudian melirik name tag Lani.


RAYLAN ARLAN KHAZIRA. Nama itu, tertera dengan jelas. seketika gadis itu menunduk, seolah tak berani dengan sosok siswa yang sudah mengusirnya.


Melihat gadis itu menunduk, Lani kembali tersenyum kali ini lebih sinis. " udah tau kan, jadi gak ada alasan buat lu ada disini, lagi pula gue liat kalau lu tuh gak sakit, jadi buruan keluar dari sini "


Helaan nafas kasar terdengar dari mulut gadis itu. Sejenak ia mendongkak menatap Lani, tapi hanya sesaat, kemudian gadis itu melangkah pergi keluar dari UKS, dari pada nanti bermasalah dengan pihak sekolah, lebih baik ia mengalah.


" jangan lupa tutup pintunya " perintah Lani dan dituruti oleh gadis bernama Citra itu.


setelah Citra pergi, Lani menghela nafas pelan, sedikit menyesal karena sudah bersikap sombong. Kemudian kaki Lani bergerak, mengayun dan melangkah menuju brankar yang berada di pojok UKS.


Tiba ditempat yang dituju, Lani kemudian menutup tirai hingga ia tidak bisa terlihat. Setelah itu Lani merebahkan tubuhnya di atas brankar dengan tirai yang tertutup.


..


" pagi semuanya "


Sapa Bu Rika yang baru saja datang dan siap mengajar di kelas 11 IPA C.


Tedia melirik kursi Lani yang masih kosong, kemudian ia menghela nafas pelan, " Ga, Lani kemana ? "


Yoga menggerakan kepala, menoleh ke belakang, " palingan molor di UKS, " sahut Yoga yakin seratus persen.


Tedia menggelengkan kepala, kemudian ia menghadap ke depan dengan mata tertuju kepada Bu Rika yang mulai menerangkan pelajaran.


Kalimat demi kalimat Bu Rika ucapkan, pembahasan kali merupakan hal yang cukup sensitif untuk para siswa dan siswi.


" kalian udah pernah belajar waktu SD kan, jadi Ibu gak perlu ampe jelasin secara detail. "


" ya gak bisa gitu donk Bu, yang Ibu jelasin kan cara pembuahan sel telur, nah yang saya tanyakan bagaimana cara mereka masuk kemudian bisa membuahi sel telur " kata Zaki nyeleneh. Sontak seisi kelas kecuali Bu Rika dan Jiasa, tertawa.


Bahkan Tedia dan Yoga sampai menggebrak meja dan menoyor kepala Zaki, Zaki mendengus, tapi tak lama ia kembali tertawa, suasana kelas yang tadi hening kini ramai seketika.

__ADS_1


Bu Rika menghela nafas, ia sampai memijit pangkal hidungnya karena pertanyaan Zaki, bisa-bisanya Zaki menanyakan hal semacam itu, Jujur Bu Rika merasa malu, kalau dilihat dengan jelas pipi Bu Rika memerah. Tapi, Bu Rika mencoba untuk tetap menjaga imagenya di depan para siswa dan siswinya.


" Zaki mau Ibu laporin sama Ayah kamu " tegur Bu Rika sembari menggelengkan kepala.


" iya Bu, Ampun Bu. saya kan cuma nanya " kata Zaki lagi ada nada meledek di kalimat yang ia ucapkan.


" yang kamu tanyakan bukan ranah Ibu, kalian sudah beranjak dewasa dan pasti paham, sudah jangan memberi pertanyaan yang melenceng dan ngawur. Zaki hari ini Ibu beri kamu nilai minus. "


Mata Zaki melebar dengan sempurna, Tedia dan Yoga menertawakan Zaki dengan begitu puas.


Di saat semua siswa dan siswi lain tertawa, Jiasa hanya tertunduk dan tersenyum miris, ia bukan gadis polos yang tak paham, rasa khawatir kini semakin menyerangnya, bagaimana jika perbuatannya bersama Lani membuahkan hasil yang tidak mereka harapkan.


Jiasa memejamkan mata, mencoba menenangkan dirinya, kemudian sentuhan di bahunya membuat Jiasa terkesiap. pelakunya adalah Irene.


" kenapa lu, sakit.? Kalau sakit, ke uks aja " kata Irene, Jiasa mendongkak kemudian menggeleng.


Sebenarnya Jiasa ingin keluar dari kelas dan menenangkan diri, mungkin saran dari Irene tetang UKS adalah hal yang tepat. Tapi, mengingat tak adanya Lani di dalam kelas membuat Jiasa mengurungkan itu, Jiasa yakin saat ini Lani berada disana.


Kriiiiingggg


Suara favorit seluruh siswa. Semua berhamburan keluar kelas setelah mendengar suara itu.


Kantin menjadi tempat favorit, disana para siswa dan siswi menghabiskan waktu untuk menikmati waktu istirahat, begitu pula dengan Tedia, Yoga, dan Zaki.


Ketiga siswa tampan itu, tengah menikmati makanan yang mereka beli di kantin sekolah.


" W'A Ki, kita di kantin gitu " kali ini Yoga, kemudian Tedia dan Yoga saling tatap, hingga helaan nafas dari Tedia memutus tatapan itu.


" udah gue W'A, tapi gak tau dah tuh bocil mau kesini apa kaga " sahut Zaki, sembari mengunyah makanan miliknya.


Ketiganya kini terdiam, tak lama atensi mereka teralihkan oleh suara kursi yang digeser, ketiganya mendongkak dan melihat Lani tengah mendaratkan bokongnya di atas kursi.


Tedia langsung menatap Lani dengan mata memincing, " bolos mulu mau naik kelas tiga bentar lagi " katanya memberi peringatan.


Lani menatap datar Tedia, kemudian ia menghela nafas, tak bersuara Lani memilih menyadarkan kepalanya di tubuh Yoga.


semua memincingkan mata, ok. Lani si bungsu sepertinya dalam mode manja.


" kamu kenapa ayang ? " suara Zaki, Tedia dan Yoga terkekeh geli, sedangkan Lani langsung menatap Zaki dengan tatap tajam. Tapi Lani tak merubah posisi tubuhnya, ia tetap bersandar miring di tubuh Yoga.


" udah makan ? " tanya Yoga, Lani menggeleng.


" makan gih, nanti sakit perut " kali ini Tedia.

__ADS_1


Lani tersenyum miris, jujur untuk saat ini ia lebih memilih sakit perut dari pada sakit hati. Sakit hati kerena mengecewakan Ibu dan mendiang Ayahnya. Bukannya menuruti Tedia Lani malah memejamkan matanya, posisi tubuhnya tak ia rubah, ia masih bersandar dengan nyaman di tubuh Yoga.


Melihat tingkah Lani, Tedia menatap penuh arti, kemudian ia mengalihkan tatapannya pada Yoga yang ternyata tengah menatapnya juga.


Tedia dan Yoga berbicara lewat mata, keduanya yakin ada yang tidak beres dengan sahabatnya ini.


" pulang sekolah kerumah gue yuk " kata Yoga, Tedia menatap Lani, menunggu jawaban yang akan Lani berikan. Jika Lani mengangguk maka Lani dalam keadaan baik, dan jika Lani menolak, maka sudah pastikan jika Lani dalam kondisi tidak baik saja.


Itulah Tedia dan Yoga, sosok dewasa dalam unit persahabatan. Keduanya sudah hapal dan paham tetang pribadi sahabat-sahabatnya.


Berbeda dengan Tedia dan Yoga, Zaki memperhatikan ketiganya dengah dahi mengerut, hingga kerutan di dahi Zaki semakin jelas ketika melihat Lani menggeleng, menolak ajakan Yoga.


Yoga dan Tedia kembali saling tatap, mereka kembali berbicara lewat mata. Benar, ada yang tidak beres dengan Lani.


" eh, eh Jiasa datang .. " kata Zaki, Tedia dan Yoga mengalihkan atensinya dan mencari Jiasa yang kata Zaki baru saja datang. Dan benar, Jiasa datang bersama ke empat gadis cantik yang selalu bersamanya.


Mendengar nama Jiasa, hati Lani kembali bergemuruh, ia ingin pergi, tapi hal itu akan membuat yang lain merasa curiga.


Lani mencoba bertahan, ia memilh tetap dalam posisinya dan memejamkan mata, tujuannya agar Lani tidak melihat dan bertatap langsung dengan Jiasa. jujur, Lani belum siap.


" widih, bidari surga gue datang, sini yang. duduk sama abang " Tedia mulai mengeluarkan jurus mautnya, merayu dan membuat baper anak gadis orang.


Jennie dan Rosa memutar bola matanya malas, sedangkan Jiasa memilih diam, Jiasa diam-diam melirik Lani yang tengah bersandar pada tubuh Yoga. Melihat bagaimana sikap Lani, sakit di hati Jiasa semakin menjadi. Bayangkan, di saat mereka sudah bersalah karena melakukan perbuatan dosa, Lani terlihat menghindari Jiasa.


Jiasa ingin menangis, tapi ia mencoba menahan. sama seperti Lani, ia takut yang lain curiga.


" bangku lain gak ada yang kosong, sini duduk sama kita aja " kali ini Zaki yang bersuara, sontak Lani membuka matanya, jika mereka menyetujui, ini tak akan baik baginya. Lani butuh waktu berhadapan dengan Jiasa.


Jiasa ingin mengatakan tidak, tapi bibirnya mendadak terasa berat. Dilihatnya ketiga temannya yang nampak berpikir.


Dalam hati Jiasa berdoa, semoga ketiganya menolak. Ia tidak mau satu meja dengan Lani, cowok yang sudah menghancurkannya dan kini malah bersikap acuh padanya.


Doa Jiasa tidak dikabulkan, ia menghela nafas kecewa ketika Jennie menganggukkan kepala.


Jennie, Rosa dan Irene melangkah untuk bergabung, sedangkan Jiasa masih berdiri di tempat.


Melihat Jiasa hanya berdiri, Tedia terkekeh, lekas ia berdiri dan menghampiri Jiasa.


" ayo " kata Tedia begitu lembut, Jiasa mendongkak menatap Tedia, kemudian Tedia tersenyum begitu manis pada Jiasa.


Merasa tak enak, Jiasa pun membalas senyuman Tedia, ia tidak mungkin terus-terusan menunjukan wajah sendunya, meskipun berat untuk ia hilangkan.


perlahan Jiasa melangkah menuju meja yang sudah di isi oleh temannya yang lain.

__ADS_1


Jiasa tak sadar jika Lani sedari tadi diam-diam memperhatikan, bahkan Lani melihat Jiasa yang tersenyum kepada Tedia, seketika hati Lani meradang, bisa-bisanya setelah kejadian kemarin Jiasa malah memberi senyum pada laki-laki lain.


Apa Jiasa tidak menyesali semua yang sudah terjadi. Pertanyaan dalam hati Lani.


__ADS_2