
" sepi banget ampun dah, udah kaya dikuburan .. Gara-gara si Malik kaga masuk kelas seketika hening ... "
Suara Yoga terdengar menggelegar di kelas 11 ipa c yang terlihat begitu hening. Tedia yang izin karena sakit menjadi alasan utama heningnya kelas.
Pasalnya, tiga temannya yaitu Zaki, Lani, dan Yoga ikut diam dan tidak membuat onar seperti biasanya.
Bahkan Zaki dan Lani sibuk mengerjakan tugas yang ada di papan tulis.
" ck! Jen ngereog napa Jen .. " Yoga kembali bersuara, ia merasa tidak betah dengan keheningan yang ada.
Zaki yang duduk disamping Yoga melirik sinis, kemudian mendengus kesal. Zaki menghentikan gerakan tangannya, ia melepas pena yang ia pegang, menegakkan tubuhnya, kemudian bersedekap dan menatap tajam Yoga.
" bisa diem kaga lu .. " peringatan diberikan oleh Zaki.
Bukannya takut akan peringatan yang diberikan si ketua kelas, Yoga malah memutar bola matanya malas, kemudian ia berbalik dan mulai mengganggu Lani yang tengah sibuk menulis.
" Lan .. "
Yang dipanggil mendongkak, kemudian menapa Yoga dengan kedua alis yang naik.
" nanti pulang sekolah jadi ..? " tanyanya, sebenarnya ia hanya berbasa-basi, ia tahu jika rencana mereka menjenguk Tedia tidak akan dibatalkan.
Lani mengangguk sebagai jawaban, kemudian Lani kembali menunduk dan melanjutkan sesi menulisnya.
Hening kembali melanda. Yoga menghela nafas lelah, ia merotasikan matanya ke penjuru kelas, dan semua siswa kecuali dirinya tengah menulis.
Yoga kembali menghela nafas, kemudian ia mendecakan lidah.
" lu nulis aja napa sih, lu doank tuh yg gak diem .. " Zaki bersuara.
" bosen gue Ki .. " sahut Yoga dengan wajah memelas, ia tak bohong hari ini ia merasa bosan, sejak pagi tak ada candaan dan gurauan yang biasa tercipta. Semua seolah patuh pada peraturan yang ada.
" kantin aja yuk .. "
Seketika mata Yoga berbinar, wajah memelas itu berubah sumringah. Yoga berbalik, dan duduk menghadap Lani yang tadi bersuara dan membuat Yoga kembali bersemangat.
Zaki menatap Yoga dan Lani secara bergantian, kemudian ia menggelengkan kepala. Entah setan apa yang merasuki Yoga hari ini, biasanya Yoga akan selalu menjadi sosok dewasa di setiap situasi, tapi saat ini Yoga bertingkah seperti anak paud.
" yuk Ki .. " ajak Yoga.
Zaki melirik sinis.
" laper anjir gue .. " katanya lagi membujuk Zaki agar mau ikut dengan dirinya dan Lani. Lani sendiri si oknum yang memilik ide sudah menutup rapat buku tulisnya, kini ia tengah menunggu jawaban Zaki sembari bermain dengan ponselnya.
" males, gue lagi belajar .. Lagian belum waktunya istirahat ... " Zaki menolak.
Yoga mendecakan lidahnya " ck! Biasanya juga lu yang ngajak kaya gini, yuk lah Ki, lu mah pinter gak perlu belajar pasti peringkat satu .. "
" justru ini karena nilai gue turun, jadi gue harus fokus .. "
Lani dan Yoga membulatkan matanya, cukup terkejut dengan kabar buruk yang baru saja Zaki ceritakan.
__ADS_1
" serius lu, Ki.? " Lani bertanya, penasaran sudah pasti. Meski nakal mereka sosok siswa pandai yang selalu berhasil meningkatkan nilai.
Zaki mengangguk lemah, Yoga dan Lani kembali membulatkan mata.
" ceramah donk bapak menteri .. " ledek Yoga, sudah hapal jika nilai dan perpoma dalam diri Zaki menurun maka sang ayah yang seorang pejabat itu akan memberinya nasehat panjang kali lebar.
Zaki kembali mengangguk lemah, Lani dan Yoga tertawa terbahak. Melihat keduanya tertawa, Zaki mendengus. Enak saja mereka tertawa di atas penderitaan orang lain.
" emang pelajaran apa yang turun, Ki.? " Lani kembali bertanya, kali ini tawanya sudah dihentikan, ia menatap Zaki dengan tatapan serius. Bagaimana pun juga, Zaki itu salah satu sahabat karibnya, jadi Lani harus siap jika Zaki butuh seseorang untuk berkeluh kesah, seperti dirinya yang selalu berkeluh kesah kepada Tedia.
" B inggris, dari 100 jadi 97 .. "
" anjir turun tiga angka doank .. " kaget Yoga akan jumlah nilai Zaki yang turun, tidak terlalu banyak menurutnya, jika dibandingkan dengan dirinya nilai Zaki jauh lebih baik dari dirinya.
" iya cuma 3 angka, tapi bapak gue yang cinta dunia itu mana mau ngerti, belum lagi dia bilang gue juga harus fokus sama bola biar bisa masuk timnas .. Cape jadi gue anjirr, yuk tukeran jadi gue sehari aja .. " dengan wajah memelas Zaki mulai mengeluarkan keluh kesahnya, bahkan bukan hanya memelas tapi lebih mendramatis.
" Ki, bilang sama bapak lu, di kuburan pas ditanya sama malaikat itu man robuka, bukan 1 bahasa inggrisnya apa .. "
Zaki, Lani, dan Yoga menoleh ke sumber suara. Jennie gadis yang duduk di barisan yang bersebelahan dengan barisan milik ketiganya bersuara.
" nah betul tuh apa kaga calon makmum gue .. " celetuk Yoga, reflek Zaki memukul pelan bibir Yoga.
" sebelum ngomong bismilah dulu, inget ucapan adalah doa .. Masa iya entar Jennie jadi makmum elu, terus entar gue gimana ..? "
" ya entar elu sama Oca .. " sahut Yoga
" gue nya yang ogah .. " dengan cepat Rosa menolak.
Mulai, Lani mulai merubah suasana yang tadi diisi hanya dengan obrolan kini mulai ada sebuah geraman.
Geraman apa ? Geraman kesal dari Rosa.
Rosa mengangkat tangannya, bersiap kemudian ia bangkit dari duduknya " awas Jen .. Gue mau cakar muka Lani .. "
Lani memasang wajah waspada, ia pun segera bangun dari duduknya, kemudian ia lari meninggalkan bangkunya sebelum Rosa menghajarnya.
Lani sudah kabur dari kelas, entah kemana tak ada yang tahu. Rosa yang gagal melampiaskan kekesalannya kini tengah berdiri dengan telapak tangan yang terkepal dan nafas yang memburu.
Yoga dan Zaki masih terbahak, Tak lama atensi Rosa dialihkan kepada Zaki dan Yoga. Rosa menatap keduanya dengan tatapan nyalang.
Sadar, Zaki dan Yoga sadar akan tatapan nyalang yang Rosa berikan. Keduanya menghentikan tawa.
Zaki berdeham, bahaya sedang mengintai dirinya. Bergegas Zaki menutup buku tulisnya, kemudian ia menepuk pelan lengan Yoga " Ga, susul Lani, Ga. Siaga satu nih .. " bisik Zaki, takut Rosa mendengar dan malah semakin membahayakan dirinya dan Yoga.
Yoga yang mengerti menganggukkan kepala, bergegas keduanya bangun, dan tanpa hitungan mundur keduanya lari keluar kelas menyusul Lani yang entah pergi kemana.
" ZAKI .. YOGA .. AWAS YA LU BERDUA .. "
Teriakan Rosa terdengar, Zaki dan Yoga yang sudah berada diluar kelas tertawa terbahak.
Nafas Rosa masih memburu, ia kesal. Saking kesalnya ia yang sudah terlanjur gemas melampiaskan kekesalannya itu dengan mengigit tangan Jennie, alhasil Jennie menjerit kesakitan.
__ADS_1
" Aaaaakkkgggggg .. saraf lu .. Sakit pea .. " Jennie mengusap tangannya yang terkena gigitan Rosa.
" kesel gue, pengen nampol mereka .. " Rosa masih kesal dan gemas, bahkan ia mengangkat tangannya mencakar udara yang tentu saja tak akan berpengaruh.
Irene yang duduk di depan Jennie dan Rosa menggeleng, kemudian ia berbalik menghadap keduanya " kemaren aja pas mereka ada yang mau deketin sok-sok'an posesif, sekarang gelud lagi .. Hadehhh kalian gemesin ih, gue doain deh jodoh .. " goda Irene
" dih Najiiiss .. " seru Rosa dengan ekspresi wajah menolak.
Irene terkekeh. " nanti kalian berdua ikut jengukin Tedia ..? " Irene mengalihkan pembicaraan.
Jiasa yang mendengar sontak menghentikkan gerakan menulisnya. Namun ia tidak ikut bergabung dan membahas, Jiasa memilih diam-diam mendengarkan.
" ikut, Yoga tadi ngajakin .. " sahut Rosa, sepertinya amarah Rosa sudah menghilang terbukti dari ekspresi wajahnya.
" elu Jen ..? " Irene kembali bertanya.
" ikut .. Elu ..? " Jennie balik bertanya. Dan mendapat anggukkan dari Irene.
Jiasa yang mendengarkan hanya tersenyum tipis, kemudian ia kembali ingin fokus menulis. Tapi, suara seorang siswi yang datang menghampiri Jennie dan Rosa mengalihkan perhatiannya.
" eh kalian mau jenguk Tedia ya, gue ikut donk .. " Katanya, gadis bernama Amel. yang duduk di depan di barisan dekat pintu keluar.
Jennie mendongkak, begitu pula dengan Rosa. Irene tersenyum tipis mendengarnya.
" ngapain elu ikut .. ? " tanya Jennie ketus, tak suka dengan Amel, seorang siswi yang menurut Jennie selalu cari perhatian ke setiap cowok tampan di sekolah.
" mau jengukin Tedia lah .. " sahut Amel.
" bukan sembuh malah tambah sakit .. " celetuk Irene. Otimatis Jiasa menoleh kepada Irene. Sementara Jennie dan Rosa tertawa.
" gue mau jenguk apa salahnya .. "
" mau jenguk apa mau caper, kemaren kemaren lu diem aja, gak ada tuh spak spik .. Sekarang mau jenguk .. " kata Rosa.
Amel mendengus tak suka.
" udah ya Amel, Jangan mulai lagi deh, kalau mau caper sama yang lain aja, jangan temen-temen gue. Ok.. " kata Jennie
Kriiiiiinggg ..
Suara bel tanda istirahat berbunyi, siswa yang tadinya sibuk menulis kini mulai merenggangkan otot dan bahkan ada yang sudah keluar dari kelas.
" ke kantin yuk ah .. " kata Irene, dan mendapat anggukkan dari Jennie dan Rosa.
Sementara itu yang sedari tadi sudah mengakhiri kegiatannya ikut bangkit dan mengikuti ketiga temannya.
Saat melangkah keluar, Jiasa fokus bermain dengan ponselnya. Jari lentiknya menari di atas ponsel. Ia tengah mengirimkan pesan kepada seseorang.
[ gimana sekarang, kakinya udah lebih baik ? ]
Tanpa ragu, Jiasa mengirimkan pesan itu kepada Tedia.
__ADS_1
. .