LABIRIN

LABIRIN
96


__ADS_3

" kok bisa ? "


Jiasa menghentikan langkah kakinya yang hendak menaiki anak tangga guna menuju kamarnya.


Jiasa berbalik dan melihat sang Ibu yang tengah berdiri menatapnya.


" apa ? " bukan menjawab, justru Jiasa malah balik bertanya.


Farah mendesah pelan, memalingkan wajahnya beberapa detik, kemudia ia kembali menatap Jiasa. " kok bisa kamu pulang sama Arlan, terus ke rumah dia, terus itu baju siapa yang kamu pake ? " tiga pertanya langsung di lontarkan Farah.


Kini Jiasa yang mendesah pelan, memang ia sudah memberitahu kedua orangtuanya jika dirinya berada di rumah Lani. Hanya saja, Jiasa tidak menjelaskan secera detail mengapa ia bisa berakhir di kediaman Lani.


Jiasa sadar jika dirinya harus segera memberi penjelasan, Jiasa pun kini membuka mulutnya untuk bicara " sore, sebelum hujan aku gak sengaja ketemu sama Lani. dia nawarin tumpangan, karena mau ujan aku ikut. Awalnya Lani mau nganter ke rumah, tapi karena ujannya deras terus kita udah basah kuyub, kita terpaksa pulang ke rumah Lani. " Jiasa menjelaskan dengan begitu rinci, ia tidak mau Ibunya berpikir buruk tentang dirinya meskipun hanya sedikit. " soal baju ini, Ini dari tante Raya. Tante Raya kebetulan ada di rumah, Tante Raya juga yang ngingetin supaya aku ngabarin Mama sama Papa. " sambung Jiasa lagi.


" jadi pertemuan kalian itu bukan di rencanakan. "


Seketika Jiasa terkejut dengan ucapan Farah, segera ia menggelengkan kepalanya.


Farah kembali mendesah pelan " ya sudah, kamu istirahat sana " katanya yang kemudian di respon dengan anggukan oleh Jiasa.


Setelah mendapat perintah dari Ibunya, Jiasa kembali berbalik dan kini mulai melangkah menaiki anak tangga guna menuju ruang pribadinya yang berada di lantai atas. Jiasa sedikit berlari agar dirinya lebih cepat sampai ke ruang pribadinya.


Tak lama Fadil masuk, ia celingak celinguk mencari keberadaan putrinya.


" Jia mana, Ma. ? "


" ke kamarnya " sahut Farah


Fadil diam, kemudian ia berkacak pinggang. Tak lama Fadil menghela nafas kasar.


Dari ekspresi wajahnya, Farah tahu jika Fadil dalam kondisi kesal. tak ingin berlarut-larur Farah pun segera menjelaskan semua yang baru saja terjadi.


" mereka gak sengaja ketemu, Pa. Jiasa udah jelasin semua "


Fadil menoleh, tapi ia tak membalas ucapan istrinya, ia hanya diam sembari menatap parah. Kemudian Fadil melangkah pergi meninggalkan Farah.


Di tinggal sendiri oleh Fadil yang tengah kesal membuat Farah harus kembali menghela nafasnya. Farah mengerti apa yang di rasakan suaminya saat ini, orangtua mana yang tidak kesal bertemu dengan seorang lelaki yang sudah menghancurkan hidup putrinya. Tapi, mendengar penjelasan Jiasa. Farah mencoba membuang semua pikiran buruk yang tadi sempat menghasutnya. Farah sadar, tidak ada yang bisa melawan takdir. Dan Farah juga yakin, jika kejadian malam ini salah satu dari takdir.


..


" Assalamuallaikum .. "


Satu salam Lani ucapkan ketika ia memasuki rumahnya.

__ADS_1


" wallaikumsalam " jawaban ia dapatkan, suara laki-laki dan perempuan yang menjawab salam Lani dapat Lani dengar dengan baik.


Lani melihat ke arah sumber suara yang berasal dari arah ruang keluarga.


ia pun melihat Raya yang tengah berkutat dengan kertas-kertasnya, Lalu ada Robi yang asik berbaring di sofa sembari bermain dengan ponselnya.


Lani melangkah menghampiri, mengulurkan tangan ke arah sang Ibu dan ketika mendapat sambutan, Lani segera mencium puunggung tangan Ibunya.


Setelah itu Lani beralih pada Robi, Robi yang asik berbaring ia ganggu dengan cara memukul kaki Robi.


sontak Robi pun mengaduh secara berlebihan " Aaaaaaaaaakkkkkggg .. Sakit be ..... "


" Robi " kalimat Robi terpotong oleh suara Raya.


Lani tertawa, ia tahu Robi akan mengumpat. Tapi sayang di gagalkan sang Ibu.


Di tertawakan Lani, Robi mendengus, kemudian Robi menoleh menatap Raya yang tengah serius mencoret-coret kertas putih.


" Ibu mah gak tau aja, Arlan tuh mulutnya paling kotor di antara kita "


Lani membulatkan mata, kemudian Robi menatap dan tersenyum remeh kepada Lani.


Raya lantas melepas kertas yang ia pegang, lalu matanya melihat ke arah Robi selanjutnya ia palingkan ke arah Lani. sembari menatap Lani, Raya menghela nafas, kemudian Raya kembali lagi menatap Robi.


Lani sedikit khawatir, ia menunggu kalimat yang akan Raya ucapkan. Membelanya atau justru mengejeknya.


Sontak Lani kembali membulatkan matanya. Lalu Robi, ia tertawa terbahak mengejek Lani yang malam ini di jatuhkan oleh Ibunya.


Raya menatap Lani yang terkejut, ia pun memberi Lani senyuman meledek.


Lani yang tak terima akhirnya merengek " Ibu kok belain dia, yang anak Ibu itu aku lho."


Raya memutar bola matanya malas, tawa Robi semakin keras, sampai Bi Minah yang tengah berada di dapur berlari untuk melihat keadaan putranya. Bi Minah penasaran, mengapa putranya tertawa hingga sedemikian rupa. Bi Minah berdiri mematung, tak Bi Minah tersenyum, ia merasa tersentuh dengan suasana yang terjadi saat ini. senda gurau tengah terjadi di antara anak majikan dan putranya. Ini lah yang membuat Bi Minah betah bekerja bersama Raya, Raya tidak pernah membedakan antara Lani dan Robi.


" kalau ada Zaki, Tedia, sama Yoga, mereka ketawa lebih-lebih dari gue " kata Robi. Masih, tak menghentikan tawanya.


Lani mendengus. tak membalas Robi, Lani justru melangkah mendekati sang Ibu. Kemudian Lani duduk di samping Raya dan menyadarkan kepalanya di bahu Raya.


Melihat tingkah manja Lani, Robi menggelengkan kepala " manjanya melebehi bocah, gimana ceritanya bisa bikin bocah " gumam Robi.


" heh, setan. Ngomong apa lu ? " tanya Lani.


" kaga, tadi kucing pake daster lewat di fyp tiktok gue .. " sahut Robi, ngeles.

__ADS_1


...


" oper bolanya "


Arahan dari sang pelatih kepada anak asuhnya yang saat ini tengah berlatih di lapangan.


" Zaki hadang tendangannya " kembali berteriak dan kali ini menyebut nama Zaki.


" ya, begitu bagus. Kasih Yoga sekarang " intruksinya lagi, Zaki menurut dan kemudian memberikan benda berbentuk bundar itu kepada Yoga.


Mereka terus berlatih sesuai intruksi dan arahan. Tak lama pluit berbunyi.


Priiiiiiittt ..


Semua pemain di perintahkan untuk keluar dari lapangan.


" yang lain istirahat dulu. Lan, kamu ikut saya. "


Lani yang tengah mengatur nafasnya, menganggukkan kepalanya. Tentu saja tatapan penasaran langsung Lani dapatkan dari yang lain, Lani sadar akan hal itu. Tapi, ia mengabaikan dan kemudian bangkit lalu melangkah mengikuti sang pelatih.


Semua menatap ke arah Lani yang saat ini tengah berjalan menjauh bersama sang pelatih. Dan ketika kedua lelaki berbeda usia itu tak terlihat, salah satu dari mereka membuka suara " kira-kira pelatih ngomong apa ya sama Arlan.? "


Semua menoleh padanya.


" Paling seleksi timnas " sahut Tedia.


Semua mengangguk.


" gimana ? udah kamu pikirkan ? " tanya sang pelatih yang kini sudah duduk di salah satu kursi bersama Lani.


bukan menjawab, Lani malah menunduk. ia malah menggerak-gerakan kakinya.


Helaan nafas Lani dengar, ia tak berani menegakkan kepalanya.


Kemudian tepukan di bahu Lani dapatkan. " saya nyerah, gak bisa lagi maksa kamu. Kalau kamu pikir semua itu yang terbaik, saya bisa apa. Semoga di sana kamu menjadi orang yang lebih baik lagi. Pesan saya, wujudkan mimpi kamu dimana pun kamu berpijak. "


Kali ini Lani menegakkan kepalanya, ia menatap nanar sang pelatih. Mata Lani seketika berkaca-kaca. Selain kedua orangtua sahabat-sahabatnya, sosok pria paruh baya yang saat ini duduk di sampingnya sudah sering memberi nasehat dan perhatian kepada Lani layaknya kepada putranya sendiri.


Sang pelatih yang sering di panggil couch Dito itu, bangkit. Dan kemudian menatap Lani.


" ayo kita kembali gabung sama yang lain " ajak couch Dito.


Lani hanya diam sembari menatap couch Dito kemudian Lani menunduk lagi. " maaf couch "

__ADS_1


Lagi, Lani medengar helaan nafas yang di hembuskan couch Dito. Kemudian sebuah tepukan di bahunya Lani dapatkan kembali. " sudah, ayo gabung sama yang lain. "


Lani mengangguk kemudian ia bangkit dari duduknya.


__ADS_2