LABIRIN

LABIRIN
80


__ADS_3

" elu udah izin sama Ibu ? " tanya Robi sembari mengendari motornya, di belakang Robi ada Lani yang duduk dengan begitu nyaman.


" udah " sahut Lani singkat.


" gue gak mau ya, kalau nanti Ibu marah sama gue gara-gara elu " kata Robi lagi mewanti-wanti Lani.


Lani tak menjawab, ia memilih diam dan menatap ke jalanan. menurut Lani, mobil dan kendaraan yang berlalu lalang lebih menarik dari pada ucapan Robi.


" Lan. Gak mau mampir beli apa gitu buat Jiasa ? " tanya Robi lagi.


" beli apa ? " Lani malah balik bertanya.


Robi mendengus, ia lupa jika Lani saat ini seperti orang linglung, jadi di tanya hal apapun tak akan langsung peka dan nyambung.


Robi tak berbicara lagi, kemudian ia menghentikan laju motornya di pigir jalan dekat pedagang buah.


Lani mengerutkan dahi. " ngapain berhenti ? "


" lu diem dulu, gue mau beli sesuatu buat Jiasa, ya kali jenguk yang sakit tangan kosong. Minimal buah apel satu kilo. " kata Robi.


Lani hanya diam, tak mengangguk atau menggelengkan kepalanya.


Melihat reaksi Lani, Robi menggelengkan kepala. luka yang tertoreh di hati Lani kali ini mampu merubah sikap Lani dalam waktu semalam saja.


tak ada Lani yang ceria, dan tak ada Lani yang banyak bicara.


Robi mulai memilah dan memilih buah yang bagus yang nanti akan ia berikan kepada Jiasa. Sesekali ia menatap Lani yang masih duduk di atas motornya dengan tatapan datar dan kosong. Robi menghela nafas, setelah selesai memilah dan memilih buah, Robi bergegas membayar dan kemudian kembali mendekati Lani.


" udah ? " tanya Lani, Robi mengangguk. Kemudian ia kembali melajukan motornya.


Lani dan Robi tiba di rumah sakit, Robi yang tak kuat menahan sesuatu minta izin Lani untuk mengujungi toilet.


" nih bawa, lu tau kan ruangannya ? Kalau gak tau nanya, anjir gue kebelet " kata Robi kemudian melangkah mencari toilet.


Lani menghela nafas, kemudian ia melangkah mencari ruang perawatan Jiasa.


Lani memincingkan matanya, ruangan yang ia cari sudah terlihat. Lani mempercepat langkahnya.

__ADS_1


Tiba di depan pintu, Lani cukup terkejut dengan suasana di dalam ruangan. Ia pun mengurungkan niatnya.


Di dalam ruangan perawatan Jiasa, ada Tedia yang ternyata tengah memaksa Jiasa untuk makan.


Lani menghela nafas, ia pun bersembunyi di balik tembok agar Tedia dan Jiasa tak melihatnya.


Pintu yang terbuka membuat Lani bisa mendengar suara Tedia yang sedang memaksa Jiasa.


" makan ya, Ji. biar cepet sembuh, biar bisa sekolah lagi. Emang lu gak kangen apa ngeliat gue main bola. "


Lani tersenyum miris. Merasa tak kuat, Lani akhirnya memilih pergi. Baru beberapa langkah kakinya menjauh dari ruang Jiasa, Lani kembali terkejut ketika melihat kedua orang tua Jiasa dan juga Jennie.


" Arlan " kata Fadil.


Lani tersenyum tipis


" kamu gak masuk " Fadil memang marah kepada Lani. Tapi Fadil sadar jika terus berlarut maka masalah tidak akan selesai.


" udah, oh iya Om. Ini buat Jiasa, aku pulang ya Om. " kata Lani memberikan bungkusan berisi buah yang Robi beli.


Fadil mengerutkan dahinya, Jika Lani sudah masuk dan bertemu Jiasa, lantas mengapa Lani menitipkan buah itu kepada dirinya.


" udah Jen, tadi gue lupa. Ibu nelephone nyuruh gue balik " kata Lani bohong.


" saya pulang Om " pamit Lani melangkah pergi.


kecuali Jennie, semua menatap sendu Lani yang semakin menjauh.


" lah katanya mau ketemu Jiasa " kata Robi setelah selesai dengan urusannya. Robi kemudian mencari ruangan Jiasa. Dan ketika di temukan, ia malah melihat Lani yang bersiap pulang.


" udah, ayo balik. " kata Lani menarik Robi untuk pergi.


Jennie merasa tak perduli dengan Lani segera melangkahkan kakinya.


" Jia .... lu udah se-hat ... Tedia " Jennie terkejut, ia berhenti di ambang pintu ruang Jiasa ketika melihat Tedia yang tengah menyuapi Jiasa.


Jennie terpaku dengan pemandangan yang sangat mengejutkan, kemudian ia berpaling guna menatap Lani yang tentu saja sudah tak ada. Jennie menghela nafas, kini ia tahu kenapa Lani bersikap demikian.

__ADS_1


" Tedia. " panggil Fadil, sama seperti Jennie, ia pun terkejut dengan kehadiran Tedia.


..


" Jia jujur sama gue, lu nolak Lani karena Tedia kan ? " kini hanya ada dirinya dan Jiasa di dalam ruang perawatan. Jennie yang sangat penasaran tak mau lagi berbasa-basi.


Jiasa tak menjawab, ia malah memalingkan wajah.


" Jiasa jawab jujur atau gue bongkar semuanya sama Om Fadil " ancam Jennie, seketika Jiasa menatap tajam Jennie. Dari tatapan Jiasa, kini Jennie paham ada yang tidak beres. Pantas saja Yoga begitu semangat menyalahkan Tedia. Dan Lani pun berubah menjadi sosok yang paling tersakiti.


Jiasa kembali berpaling, mata mulai basah, ia pun menangis. Di sapu dengan kasar air mata yang mengalir di pipinya dengan telapak tangan.


" aku gak bisa maksain hati aku, Jen. Begitu juga dengan Tedia. Tedia minta aku pisah sama Lani kalau anak itu udah lahir. Aku setuju, tapi aku berpikir lagi pernikahan bukan permainan, maka dari itu aku nolak lamaran Lani. " Jiasa akhirnya jujur.


Jennie melebarkan matanya, ia menarik rambutnya yang terurai kebelakang dengan kasar. Pantas saja Lani mengatakan Jiasa adalah orang yang paling jahat. ternyata Lani di korbankan dalam hal ini.


" terus sekarang bayi itu udah gak ada, jadi gak ada alasan buat aku nikah sama Lani. Aku sama Tedia mau memulai semua dari awal. Tedia juga gak permasalahin kondisi aku yang sekarang " lagi-lagi Jennie dibuat terkejut.


" astaga Jiasa lu jahat banget, bahkan di saat Lani merasa sedih karena kehilangan bayinya, lu malah bahagia. " Jennie menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan sikap buruk Jiasa.


" aku bilang aku gak mau maksain perasaan aku, Jen. Bahagia aku bukan Lani. " Jiasa tak mau di salahkan, ia merasa benar dengan egonya.


Jennie menghela nafas kasar. " ok, kalau menurut lu itu baik. Terserah lu mau apa deh. Cuma gue ingetin sama lu, jangan nyesel kalau suatu saat lu dapat karma akan sikap egois lu. gue gak nyangka lu sepicik itu, Ji. Lani memang salah, tapi di sini harus lu inget, bukan cuma Lani yang salah, kenapa pas kejadian lu nerima Lani, kenapa lu gak nolak dan ngusir Lani. " Jennie mencoba menahan emosinya yang semakin memuncak.


" selamat Ji, lu berhasil ngacurin hidup lu dan hidup orang lain, yang begitu tulus sayang sama lu. "


" kalau dia tulus sayang sama aku, dia gak akan ngerusak aku. "


" KARENA LU GAK NOLAK. " bentak Jennie.


mata Jiasa terpejam karena terkejut akan bentakan Jennie.


" inget Ji, lu gak nolak, elu nerima semua perlakuan Lani. " Jennie mengingatkan Jiasa. Tak mau dengar, Jiasa membuang pandangannya.


Jennie menghela nafas merasa tidak berguna berbicara dengan Jiasa, ia pun memutuskan untuk pergi.


Tapi ketika di ambang pintu, Jennie kembali berbalik.

__ADS_1


" oh iya, tadi Arlan ke sini, dia masih nyempatin buat jenguk lu meski lu udah bikin dia sakit hati. " kata Jennie kemudian berlalu pergi.


Seketika Jiasa terdiam, dalam hati ia bertanya. Lani datang ? Kapan ?


__ADS_2