LABIRIN

LABIRIN
65


__ADS_3

Seperti seorang terdakwa yang akan menerima vonis dari hakim, Lani duduk dengan kepala tertunduk. di depan Lani ada tiga orang dewasa layaknya hakim yang akan memvonis dirinya, duduk sembari menatap nyalang ke arahnya.


" jawab sekali dengan jujur. Benar kamu yang harus bertanggung jawab.? " suara Malik membuat Lani mengangkat kepalanya, tapi ia tak mengangguk atau menggeleng sebagai jawaban, Lani justru kembali menunduk.


Malik dan Ria menghela nafas kasar, sedangkan Raya bangkit dari duduknya dengan amarah dan tangannya terulur bersiap menarik Lani.


" kamu itu emang anak gak tau diri " katanya, sayangnya niat Raya untuk menarik Lani dihalangi oleh Malik, dengan sigap Malik menahan Raya agar tidak dapat menarik Lani.


Malik tahu apa yang akan Raya lakukan kepala Lani.


" Raya, saya bilang jangan pakai kekerasan "


" tapi dia udah buat kita malu " Raya kembali mengungkapkan amarahnya. Ia menatap Lani dengan tatapan tajam sembari mengepalkan tangan.


Lani hanya bisa menunduk, ia tak bisa melawan karena Lani memang pantas mendapatkan hal seperti ini dari Ibunya.


melihat reaksi Lani, Raya menghela nafas kemudian ia membuang muka.


tak lama antesi semua teralihkan oleh suara dering ponsel milik Lani.


Semua menatap ke arah ponsel dan melihat nama pelatih yang tengah menghubungi Lani.


Malik memijat pangkal hidungnya, ia sampai lupa jika hari ini putra-putranya akan melakukan seleksi timnas.


Bergegas Malik meraih ponsel Lani dan menerima panggilan telephone itu.


" hallo coach " sapa Malik kemudian ia diam seperti tengah mendengar sang pelatih berbicara.


" maaf coach, sepertinya Tedia, Lani, Zaki sama Yoga gak bisa ikut. Ada satu hal yang gak bisa ditinggalkan. " kata Malik.


Raya memejamkan matanya sejenak, semua berantakan karena insiden yang Lani buat.


" iya, sekali lagi maaf karena sikap tidak propesional anak-anak saya, maaf sekali lagi coach. " akhirnya Malik mengakhir sambungan telephonenya kemudian ia meletakan kembali ponsel milik Lani di atas meja sembari menatap ke arah Lani.


" kamu lihat Arlan. Bukan hanya kamu yang karirnya hancur, bukan hanya kamu yang masa depannya hancur. Ada tiga sahabat kamu yang harus terkena imbasnya. Kenapa kamu gak berpikir dampaknya, kamu sudah membuat kecewa semua orang. Terutama kedua orang tua kamu. "


" maaf pa, " suara Lani masih dengan kepala tertunduk.


" apa maaf aja cukup. Apa maaf kamu bisa mengembalikan semuanya. Masa depan kamu dan masa depan Jiasa, Apa semua itu bisa kembali lagi.? " Malik kembali bersuara. kemudian helaan nafas kasar terdengar jelas.


" Papa merasa gagal menjadi Ayah sambung buat kamu, Papa terlalu percaya sama kamu hingga Papa cuma kirim orang buat mata-matain Tedia. Tapi, Papa malah kecolongan, malah anak Papa yang lain yang berulah. " sambung Malik lagi.


" Pa " sesal Lani yang kini mengangkat kepala dan seketika hatinya sakit melihat tiga orang yang berarti dalam hidupnya kini menangis karena ulahnya.

__ADS_1


Ini pertama kalinya Lani melihat Papa Malik menangis. Ketika Ayahnya berpulang, Papa Malik adalah seseorang yang berusaha menahan sedih demi menguatkan Lani.


Kembali helaan nafas Malik terdengar, kemudian ia bangkit dari duduknya. " Raya kamu jangan pulang, kamu di sini dulu untuk beberapa hari. Ma, kamu temenin Raya, Ya. "


Ria menganggukkan kepala, kemudian menyerengit ketika melihat suaminya hendak melangkah keluar. " Papa mau kemana ? "


" cari angin, di sini rasanya sesak. Kamu Lani, masuk kamar Tedia sekarang juga dan jangan berusaha untuk melarikan diri. " ancaman dari Papa Malik.


Mendengar nama Tedia, seketika Lani ingat dengan sahabatnya itu. Setelah satu fakta terungkap Lani tidak menyadari bagaimana Tedia dan dimana Tedia.


Lani celingak-celinguk mencari Tedia.


" kamu denger apa kata Papa, Arlan. Cepat masuk kamar. " suara Ria menggema. Lani menganggukkan kepala, kemudian ia berdiri dan melangkah pelan naik ke lantai atas.


dua wanita dewasa ini kini hanya berdua. " mbak .. Salah aku sama Arlan apa, mbak. aku udah gagal mendidik Arlan. " tangis Raya kembali pecah.


Ria memeluknya dan mencoba menenangkannya, " sabar Raya, bukan cuma kamu yang gagal, kita semua gagal dalam hal mendidik Arlan. " katanya mengusap lembut punggung Raya yang ada dalam dekapannya.


Lani melangkah dengan ragu ke arah pintu kamar Tedia yang tertutup. Ia yakin jika Tedia saat ini sangat kecewa padanya.


Tiba di depan pintu, Lani menarik nafas dalam kemudian menghembuskan dengan kasar. Tangan Lani bergerak menyentuh handle pintu dan kemudian membuka pintu itu dengan perlahan.


Ketika pintu terbuka lebar, Lani melihat kondisi kamar Tedia yang kosong. Tapi Lani melihat pintu balkon terbuka, ia yakin Tedia di sana.


Lani melangkah masuk dengan kaki yang mengayun lemah. Tas miliknya ia letakan pelan di atas kasur milik Tedia. Kemudian Lani melangkah pelan menuju balkon kamar Tedia.


" Di .. " panggil Lani. Berharap Tedia menoleh.


Keinginannya terwujud, Tedia menoleh. Dan Lani dikejutkan dengan kondisi Tedia saat ini.


Matanya merah dan sembab, pipinya basah oleh air mata. Ya, Tedia tengah manangis seorang diri.


Hanya beberapa detik Tedia menatap Lani. di detik Berikutnya Tedia membuang pandangannya. " makasih, Lan. Atas kesuksesan lu ngancurin mimpi kita semua. " kata Tedia dengan intonasi suara yang tidak terdengar adanya amarah.


Lani menundukan kepalanya, bahunya kembali bergetar, tak lama isakan tangis Lani terdengar.


" maafin gue, Di. "


Tedia mengepalkan tangannya, Ingin sekali ia menghajar wajah Lani saat ini juga. Tapi, ia sekuat hati menahannya. hingga Tedia merasakan sesak di dadanya. Tedia memejamkan matanya, bertepatan dengan itu air mata jatuh dari kelopak matanya. Tedia membuka kembali matanya, buru-buru ia menyeka air matanya. " gak ada gunanya lu minta maaf sama gue, mending sekarang lu pikirin nasib Jiasa yang mungkin saat ini lagi hancur banget. "


Lani memejamkan sejenak matanya, Setelah itu ia berbalik dan kemudian melangkah keluar dari kamar Tedia. menurut Lani masuk ke kamar Tedia saat ini adalah hal yang salah, ia tahu Tedia sangat kecewa padanya.


..

__ADS_1


" tadi di antar siapa ? " tanya Farah, sebenarnya Farah hanya ingin menggoda putrinya itu.


" itu Ibunya Arlan, Ma. " sahut Jiasa.


Farah mengerutkan dahinya, " Raya ? Kok kamu gak nyuruh mampir sih Ji. ? "


" tante Raya buru-buru Ma. " Bohong Jiasa, ia pun memejamkan sejenak matanya sembari menarik nafas dalam kemudian ia hembuskan dengan kasar.


Entah sudah keberapa kali Jiasa harus berbohong kepada orang tuanya.


perihal kenyataan yang baru saja ia ketahui pun tak berani memberitahu Ibunya.


Jiasa bingung, bagaimana ia menyembunyikan satu hal yang akan terus tumbuh dan berkembang.


" ya sudah kalau gitu. Oh iya hari ini bantu Mama siapin makan malam ya. "


Dengan senyum palsu Jiasa menganggukkan kepala.


..


Saling diam dan tak ada percakapan, itulah yang menyelimuti suasana sepi di kamar milik Zaki saat ini.


Rasa terkejut yang baru Zaki dan Yoga ketahui membuat mereka tak bisa berkata-kata.


Zaki yang bersandar di tempat tidurnya, menoleh. Melirik Yoga yang berbaring dengan lengan yang bertengger di dahi.


Mata Yoga terpejam, tapi Zaki tahu jika Yoga tidak tidur.


Zaki menghela nafas, " Ga " akhirnya Zaki membuka suara. Tapi tak ada respon, Yoga tetap bergeming, bahkan tangannya pun tak bergerak.


" Ga " panggil Zaki sekali lagi.


Kali ini ada respon, lengan Yoga bergerak. Kini tak menempel lagi di dahinya, kemudian kepala Yoga bergerak menoleh ke arah Zaki. " apa " suara Yoga akhirnya terdengar. " kalau lu mau bilang masih gak percaya, gue juga sama. " sambung Yoga. tak Lama Yoga bangkit, dan kini duduk menghadap Zaki.


Yoga menarik nafas dalam, lalu menghembuskan dengan kasar. Yoga kemudian menundukan kepalanya. " dulu, Lani pernah minta maaf sama gue kalau sampai dia ngelakuin hal yang bisa bikin kita kecewa. Tapi, gue masih gak ngerti kenapa bisa dia ngomong kaya gitu. Dan sekarang pertanyaan gue terjawab, ternyata ini maksud dari ucapan Lani. " wajah Yoga semakin tertunduk.


" Ga. " panggil Zaki dengan ekspresi wajah panik ketika bahu Yoga bergetar. Dan kini malah terdengar isakan tangis dari Yoga.


" gue gagal, Ki. Gue gagal menuhi janji gue sama Ayah. gue gagal. " kata Yoga lirih.


seketika wajah Zaki berubah sendu.


" bukan cuma itu, sekarang persahabatan kita yang udah berjalan bertahun-tahun terancam, Ki. gue yakin pasti Tedia marah banget sama Lani. "

__ADS_1


Zaki menghela nafas, ia bukan tidak berpikir seperti Yoga. Zaki hanya bingung, ia tak tahu harus berbuat apa karena yang sudah terjadi bukanlah ranahnya.


" kita doain aja yang terbaik buat semuanya. " kata Zaki sembari menepuk bahu Yoga. Yoga mengangguk pelan.


__ADS_2