LABIRIN

LABIRIN
54


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian itu, Jiasa dan Lani tetap melakukan rutinitasnya seperti biasa. Tapi, Jiasa dan Lani nampak seperti orang asing. Jika mereka berkumpul, Lani tak menyapa, ataupun mendekati, ia duduk dengan jarak yang begitu jauh menurut Jiasa.


Diperlakukan demikian, Jiasa hanya bisa pasrah dan meratapi nasibnya yang tragis. Habis manis sepah dibuang, itulah Jiasa saat ini. Yang diperlakukan layaknya tebu oleh Lani.


Hal itu pun kini berimbas pada prilaku dan sikap Jiasa, Jiasa yang sedikit ceria kini nampak dingin, jika ada laki-laki yang berusaha merayu dan mendekatinya, maka Jiasa akan bergegas menghindar.


Hal itu tentu menjadi pertanyaan bagi yang lain, terutama Tedia.


Tedia selalu bertanya-tanya dan mencari tahu apa penyebab Jiasa bersikap demikian.


Apakah Jiasa membencinya, atau ada orang lain yang sudah mengisi hati Jiasa, hingga Jiasa menjaga jarak dengan laki-laki lain.


Saat ini Tedia melangkah seorang diri di koridor dan tentu saja Tedia melangkah menuju kelasnya.


Dalam kesendiriannya, mata Tedia menyipit ketika melihat punggung seorang gadis yang ia kenali.


Gadis itu tengah berjalan seorang diri, dan gadis itu adalah Jiasa.


Mata Tedia berbinar, kesempatan bagus untuknya, ia pun mempercepat langkah menyusul Jiasa.


" pagi Ji " sapa Tedia.


Jiasa mendongkak, kemudian Jiasa melihat Tedia yang tersenyum padanya.


Seketika Jiasa meresa tak enak hati. " aku duluan " kata Jiasa merasa tak pantas berdampingan dengan sosok Tedia yang terkenal tampan dan pintar.


Tedia terdiam, tapi ia tak terkejut karena hal ini bukan merupakan yang pertama kalinya. Sudah satu minggu Jiasa seolah menjauhinya.


Tak ingin kejadian ini terus berlarut, Tedia berinisiatif menyusul Jiasa, ia ingin tahu apa yang sudah membuat Jiasa bersikap demikian.


persetan dengan yang namanya mengganggu privasi, Tedia hanya ingin kejelasan. Jika nanti benar Jiasa sudah memilik pujaan hati dan dia tengah berusaha menjaga hatinya, maka Tedia akan menghargai dan membiarkan.


Tedia mengejar Jiasa yang memang belum jauh, dengan langkah cepat, Tedia berhasil menyusul Jiasa, ia pun menghentikan langkah Jiasa dengan cara mencengkram pergelangan tangan Jiasa.


" Ji, tunggu " katanya.

__ADS_1


Jiasa tersentak, ia pun berhenti, Jiasa memejamkan sejenak matanya guna menenangkan diri. setelah dirasa cukup tenang, Jiasa bergerak dan kini menghadap Tedia.


" ada apa ? " tanya Jiasa dengan nada dingin.


" elu yang ada apa, gue salah apa sama lu, elu terus ngehindar kalau gue samperin, kalau ada masalah tuh ngomong, kalau emang gue salah bicarain baik-baik, elu bisa tegur gue dan kasih tau gue dimana letak salah gue supaya gue bisa perbaiki, bukan malah ngehindar setiap kali gue deketin " tak perduli dengan tatapan mata yang kini menyorot kepadanya dan Jiasa, Tedia mengeluarkan semua kekesalan yang selama ini ia pendam. Tangannya masih belum terlepas, ia masih mencengkram kuat pergelangan tangan Jiasa.


Jiasa melirik sekitar, ia menghela nafas ketika sadar jika ia dan Tedia jadi pusat perghatian. " lepasin, Di. Aku mau ke kelas " bukan menjawap pertanyaan Tedia, Jiasa malah minta dilepaskan.


Tedia tersenyum miris, bukan ini jawaban yang ingin ia denger dari Jiasa. " jawab dulu, gue salah apa, sampai sikap lu aneh sama gue, baru gue lepasin " kata Tedia memberi penawaran.


Jiasa menghela nafas lelah, Ia tidak mungkin mengatakkan yang sebenarnya kepada Tedia, bahkan kedua orangtuanya pun tidak tahu.


Jiasa berusaha mengalihkan perhatian dengan melihat kesekeliling, tak sengaja matanya melihat Yoga, Zaki, dan Lani tengah melangkah beriringan dan sebentar lagi akan tiba ditempat ia dan Tedia berdiri. " Di, please " Jiasa memohon, tapi Tedia tetap dengan pendiriannya.


Jiasa frustasi, Tedia tetap tak melepasnya, hingga kini ketiga teman Tedia itu sudah berada didekat keduanya.


" buseeet, pagi-pagi udah ngedrama, judulnya apa nih ? " sindir Zaki, terlalu gemas melihat pemandangan dua sejoli yang tidak memilik hubungan ini.


Tedia memutar bola matanya malas, Jiasa kembali menghela nafas frustasi, Yoga menatap keduanya dengan mata memincing, sedangkan Lani, menatap datar kearah tangan Tedia yang mencengkram kuat pergelangan tangan Jiasa.


Muak dengan drama yang ada, Lani berlalu pergi begitu saja. kepergian Lani tentu saja disadari oleh empat orang yang ada disana.


Yoga dan Tedia menatap Lani dengan tatapan yang sulit diartikan, sedangkah Jiasa menunduk dan mengepalkan telapak tangannya, Lani yang berlalu begitu saja kembali menoreh luka untuk Jiasa.


" buruan ke kelas deh, ngedrama mulu. dah kaya tv kalian tuh kebanyakan drama. " suara Zaki menggema, Tedia dan Yoga pun beralih pada Zaki.


Jiasa merasa Tedia saat ini tengah kehilangan fokusnya, ini kesempatan yang bagus agar ia bisa terlepas dari cengkraman Tedia.


Dengan kasar Jiasa menarik tangannya, berhasil kini ia terlepas dari cengkraman Tedia.


Tedia pun tersentak dan langsung menatap Jiasa.


" aku duluan " kata Jiasa kemudian berlalu pergi.


Perginya Jiasa tentu menjadi perhatian Yoga dan Tedia, keduanya menatap punggung Jiasa yang mulai menjauh.

__ADS_1


Tedia menghela nafas, " Aneh banget sikapnya, Ga. Pasti ada yang disembunyiin "


Kini Yoga yang menghela nafas, " pasti. Tapi, dia punya privasi, gak harus kan dia cerita tentang masalahnya, lagi pula elu bukan siapa-siapa dia untuk saat ini, jadi gue saranin supaya elu tau batasan. "


Tedia menoleh, menatap Yoga dengan datar, kemudian Yoga menepuk bahu Tedia, ia paham dengan sikap Tedia saat ini, " Yuk ke kelas " kata Yoga. Tedia mengangguk.


Keduanya melangkah bersama, meninggalkan Zaki yang masih berdiri ditempat menatap punggung kedua sahabatnya yang mulai menjauh.


" gue kaya orang bego " kata Zaki yang sama sekali tak paham.


Zaki mengedikkan bahunya, kemudian ia melangkah menyusul kedua sahabatnya.


Di kelas, nampak sudah ramai.


Lani melangkah masuk dan melangkah menuju kursinya.


" sendirian lu, dayang-dayang lu kemana ? " tanya Jennie.


Lani mencibir, " di laut kali " sahut Lani.


Jennie mengerutkan dahi, kemudian tawa Rosa dan Irene terdengar. " itu mah duyung Lani, bukan dayang " kata Rosa dengan tawa.


Kini paham, Jennie pun ikut tertawa.


" Arlan Arlan, lu mah bisa aja. "


Lani terkekeh, suasana seperti ini membuatnya sedikit lebih baik. Tapi, rasa itu hilang seketika, ketika ia melihat Jiasa yang kini memasuki kelas dan melangkah menuju kursinya.


mengingat bagaimana tadi Tedia dan Jiasa, ekspresi wajah Lani kembali datar dan kemudian ia melangkah menuju kursinya.


Melihat Lani pergi ketika dirinya hadir, Jiasa kembali kesal, hatinya yang sensitif membuat dia tak bisa menahan lagi. Jiasa meletakan dengan kasar tas miliknya dan kemudian ia melangkah pergi.


Sikap Jiasa mengundang tanya bagi ketiga temannya, mereka menatap bingung. Lani sendiri hanya diam, tak tahu harus apa. Lani masih belum berani berhadapan langsung dengan Jiasa.


Ia takut, dan khawatir jika nanti Jiasa akan mengatakan hal yang tidak ia harapkan, maka dari itu, Lani memilih menghindar. Meskipun taruhannya Jiasa akan membencinya seumur hidupnya.

__ADS_1


Jiasa dengan wajah memberengut sendu terus melangkah keluar kelas, diambang pintu tak sengaja berpapasan dengan Tedia, kemudian tanpa diduga, Jiasa melewati Tedia begitu saja, bahkan tubuhnya tak sengaja menyenggol kasar tubuh Tedia. Tedia terkejut, ia hanya melongo tak percaya melihat sikap Jiasa yang semakin aneh.


__ADS_2