LABIRIN

LABIRIN
92


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Lani di buat berpikir oleh ungkapan Jiasa ketika ia masih berada di lingkungan sekolah.


Saat itu, Jiasa mengatakan bagaimana Lani akan menculik dirinya jika Lani sendiri akan pergi.


Merasa pusing dengan apa yang ia pikirkan, Lani pun menggeleng pelan. Kemudian Lani menoleh, manatap Robi yang fokus mengendarai mobil.


" bi "


" hhmm " Robi merespon panggilan Lani. hanya saja matanya terus fokus ke jalan.


" selain lu, ada gak orang lain yang tau kalau gue mau balik ke Amrik ? "


" nyokap sama bokap gue " jawaban cepat di berikan oleh Robi.


Lani mendengus, tentu saja ia tidak puas dengan jawaban Robi.


" serius jangan bercanda, mau gue turunin lu di sini " ancam Lani, tapi tak membuat Robi takut. Robi melirik Lani sekilas, kemudian ia terkekeh sebagai bentuk ledekan untuk Lani.


" sadar diri lu, yang bawa mobil emang siapa, bukan gue yang diturunin, tapi elu. emang kenapa ? Yang tau cuma gue, sama orang rumah " pada akhirnya Robi harus berbohong, sebenarnya ada Yoga yang sudah ia beritahu. Hanya saja Robi sengaja memilih berbohong, ia tahu bagaimana Lani. Bisa-bisa karena terkejut, mereka bukan tiba di rumah tapi sampai di rumah sakit karena Lani yang pasti akan membuat Robi tidak fokus pada jalanan.


Lani diam setelah Robi memberikan pertanyaan itu. Mata Lani lurus menatap kosong ke depan dimana banyak mobil yang berlalu lalang seperti saling mengejar.


" kok gue ngerasa Jiasa tau ya "


Sontak Robi terkejut. Ia menoleh pada Lani sekilas, Lalu kembali fokus pada jalanan.


" serius lu, gimana bisa ? " tanya Robi, kemudian ia nampak berpikir. Bagaimana bisa Jiasa tahu, setahu Robi, ia hanya bercerita pada Yoga.


Seketika pertanyaan muncul dalam benak Robi, apakah ketika ia berbicara dengan Yoga ada Jiasa di sekitar mereka dan kemudian mendengar percakapan mereka, atau ada orang lain yang mendengar lalu mengadu pada Jiasa, kemudian yang paling masuk akal adalah, apakah Yoga berbicara pada Jiasa ?


Robi di buat penat, ia harus bertanya pada Yoga nanti.


" lu pasti liat kan, tadi gue sempet interaksi dikit sama Jiasa ? "


Robi menganggukkan kepala


" gue bilang sama dia gini. Sendiran, gak takut ada yang nyulik. Terus dia jawab, siapa yang mau nyulik. gue jawab lagi, gue mau Ji. Na terus dia langsung ngomong gini, gimana cara kamu nyuliknya kalau kamu sendiri aja mau pergi. " sambung Lani menceritakan apa yang ia pikirkan.


" terus ? " tanya Robi.


" terus gak lama dia pergi, soalnya bokapnya udah datang. "

__ADS_1


Kemudian Robi nampak berpikir. dari yang ia denger, memang Jiasa seperti mengetahui jika Lani akan pergi.


Robi mendesah pelan, ia benar-benar harus bertanya pada Yoga.


Tin


Tin


Tin


" anjiir "


Kaget Lani, karena tiba-tiba Robi menekan klason mobilnya.


Lani menatap tajam Robi dan siap untuk memaki, hanya saja Robi mendahului Lani.


" gak usah lebay, noh depan pager rumah lu " katanya, Lani menoleh kemudian ia menunjukan cengiran bodohnya.


Robi menggelengkan kepalanya " modelan begini, bisa-bisa udah pinter bikin anak. Belajar dari mana coba " gumam Robi.


" lu ngomong apa ? " tanya Lani yang memang tidak mendengar gumaman Robi.


Robi tak menjawab, ia kembali melajukan mobil yang ia hentikan sebentar kemudian ia bawa masuk ke dalam halaman rumah Lani.


" Assalamualaikum " Robi mengucap salam.


Dan tak lama salam sebagai jawaban ia dapatkan " walaikumsalam "


Dengan berjalan mendahului Lani, Robi melangkah mendekati Bi Minah yang tak lain adalah Ibunya.


Robi mencium punggung tangan Bi Minah, kemudian Lani pun mengikuti.


kepala Lani bergerak ke kanan dan ke kiri. Matanya juga bergerak kesana kemari. Kemudian Lani kembali beralih pada Bi Minah. " Bi, Ibu kemana ? " tanyanya karena ia tak melihat sosok Raya.


" tadi pergi, katanya sih sebentar "


Lani menganggukan kepala akan jawaban yang di berikan Bi Minah. Kemudian Lani pamit, ia akan pergi menuju ruang pribadinya.


Lani menapaki anak tangga dengan pasti. ketika tiba di lantai atas, Lani melangkah pelan guna menuju kamarnya.


Dalam langkahnya menuju kamar, Lani mengeluarkan ponselnya. Layar ponsel yang mati ia hidupkan.

__ADS_1


Seketika langkah Lani terhenti. ia diam mematung sembari menatap layar ponselnya yang sudah menyala.


tak lama Lani terkekeh pelan, " bisa-bisanya gue kaget. Ternyata wallpaper di hp aku masih kamu, Ji. "


dengan senyum yang belum pudar, Lani menggelengkan kepala. Lalu ia kembali melanjutkan langkahnya sembari bermain dengan ponselnya.


Sore hari, setelah beristirahat sebentar setelah pulang sekolah. Lani turun dari lantai atas menuju lantai dasar.


Dari anak tangga yang ia pijaki, Lani melihat Raya yang tengah duduk dan selalu di temani oleh lembaran-lembaran kertas.


Lani melangkah dengan cepat untuk menghampiri Ibunya.


Tiba di dekat Ibunya, Lani duduk di samping Raya.


" Bu, Arlan boleh pergi sebentar kan ? " setelah kejadian buruk yang menimpanya, Lani tidak pernah pergi keluar.


" kemana ? " tanya Raya, nada suaranya begitu dingin.


Lani yang peka, menghela nafas pelan.


" ketemu sama pelatih sebentar. tadi nelephone, katanya ada hal penting yang mau di bahas. " Lani jujur, pelatih tim sepak bolanya memang sudah menghubunginya dan meminta Lani untuk menemuinya.


" minta anter Robi " titah Raya, lagi dengan nada dingin bahkan Raya terus fokus pada pekerjaannya.


Lagi, Lani menghela nafas. " Robi tadi pergi, Bu. Dia mau jaga toko "


tangan Raya berhenti bergerak, tapi tak lama tangan itu kembali bergarak dan menyentuh selembar kertas yang tergeletak di atas meja. " minta anter Tedia, Zaki atau Yoga. "


Tarik nafas dalam, kemudian Lani menghembuskan dengan kasar lewat mulutnya. " Bu, sampai kapan Arlan harus bergantung sama mereka. Gak akan lama lagi kita akan pergi dari sini. Arlan harus mulai belajar hidup mandiri, Bu. cuma sebentar, Arlan mau ngundurin diri dari klub " kata Lani dengan suara pelan di akhir kalimat. Lani bahkan menundukan kepalanya.


Raya kembali menghentikan gerakan tangannya, kini ia menggerakan kepala, menoleh ke arah putranya yang duduk di sampingnya. Raya melihat Lani yang mulai menegakan kembali kepalanya. Kemudian tak lama keduanya saling tatap. Lani menatap Raya dengan tatapan sendunya.


" Arlan tau apa yang Ibu pikirin. Arlan janji, Bu. Begitu selesai, Arlan pulang. "


Menyerah, akhirnya Raya mengangguk pasrah. Lani pun tersenyum kepada Raya.


" janji ya, langsung pulang. "


dengan senyum, Lani mengangguk pasti.


" bawa motor apa mobil ? "

__ADS_1


Lani nampak berpikir, lalu ia menjawab dengan begitu lantang. " motor aja deh, kalau mobil nanti di tilang lagi. "


Raya tersenyum mendengar ocehan putranya.


__ADS_2