
Lani mengerutkan dahinya tatkala dirinya kini melihat seorang gadis berseragam SMA tengah berdiri dan memberi senyuman manis kepadanya.
Di depan Lani, Jiasa pun melakukan hal yang sama. Tapi, di detik berikutnya Jiasa menunduk dan kemudian tersenyum kecut. Rasanya benar-benar tak nyaman untuk saat ini.
" gak nyangka kita bisa ketemu disini " kata gadis itu, tak menghilangkan senyumnya. Kemudian ia duduk disamping Lani.
Lagi, Jiasa tersenyum kecut. gadis itu seperti mengabaikan sosok Jiasa yang duduk di depan Lani. Berpura-pura tak perduli, Jiasa bermain dengan ponselnya.
Jujur, Lani merasa tak nyaman. Ia pun mengacuhkan gadis itu. Kini Lani pun memilih fokus pada ponselnya.
" oh iya, Lan. Gue sering lho liat lu main. " gadis itu kembali berbicara. Dan Lani kembali mengabaikan.
" seneng banget bisa ketemu lu disini, oh iya elu sendiri ? " pertanyaan bodoh menurut Lani. Bahkan Jiasa saat ini tengah menggelengkan kepalanya.
Lani menghentikan gerakan tangannya, kemudian ia mendongkak dan menatap gadis itu dengan tatapan sinisnya.
" elu dari tadi gak liat ada yang duduk di depan elu ? "
gadis itu pun menatap kearah Jiasa, dan bertepatan dengan itu, Jiasa juga menatapnya. Jiasa memberikan senyuman. Tapi, tak mendapat balasan.
Jiasa yakin gadis itu tengah menahan malunya untuk saat ini.
" bisa tinggalin kita gak sih ? " usir Lani tanpa basa-basi. Lani risih dengan gadis yang terang-terangan mendekatinya. padahal jelas-jelas mereka berbeda sekolah, secera otomatis Lani pun tak mengenal gadis itu.
seolah mendengar apa kata Lani, gadis itu pun pergi. Tapi, sebelum pergi ia menyempatkan diri untuk menatap tajam kepada Jiasa.
Jiasa sadar, ia tersenyum sembari menggelengkan kepala. " apa sih, gak jelas. " kekeh Jiasa, lalu kembali pada ponselnya.
" maklum, Ji. Gue tuh banyak fansnya. " Lani berbicara dengan percaya diri.
Jiasa terkekeh. " iya, percaya. " katanya.
Kali ini gantian Lani yang terkekeh, ia tahu betul kalimat yang baru saja Jiasa ucapkan terselip sebuah cibiran.
Tak lama pesanan keduanya datang. Si pedagang menaruh dua mangkuk itu dihadapan Lani dan Jiasa. Kedua menerima dengan begitu antusias.
" kalau ada yang kurang, bilang aja ya den. "
" siap pak. " sahut Lani.
Membiarkan Lani dan Jiasa menikmati makanan yang ia jual, si pedagang itu pun pergi.
Hal yang pertama Jiasa ambil untuk membuat makanan miliknya terasa lengkap adalah botol kaca berwarna merah.
Dengan raut wajah yang begitu sumringah, Jiasa menaburkan saos sambal itu ke mangkuk miliknya.
Lani memperhatikan apa yang Jiasa lakukan, kemudian ia pun menggelengkan kepala ketika Lani merasa Jiasa terlalu banyak menuangkan saos sambal itu. Dengan cepat Lani merebut botol kaca yang ada dalam genggaman Jiasa.
Jiasa terkejut, ia pun kemudian memberengut. " Kok diambil. " rengeknya tak terima.
Lani memutar bola matanya malas. " kebanyakan. " sahutnya, singkat.
Jiasa kemudian menunduk, menatap semangkuk bakso dengan lelehan saos sambal diatasnya. " ini masih kurang, Arlan. " Jiasa kembali merengek dan berusaha merebut kembali botol kaca itu.
Dengan sigap Lani menjauhkan tangannya dari jangkauan Jiasa. " gak ada, udah cukup. "
Jiasa mendecakan lidahnya, ia pun menghela napas. Lebih baik ia mengalah. Kemudian tatapan Jiasa tertuju pada semangkuk sambal yang juga tersedia di meja.
Jiasa pun berusaha menggapainya. Tapi, gagal. Karena Lani lebih dulu menjauhkan mangkuk kecil itu dari Jiasa.
__ADS_1
" itu aja udah keliatan pedes, gak usah nyoba nambah ini. " peringatan dari Lani.
Jiasa pun menghembuskan napas seperti tengah meniup poninya. " terus kalau itu juga gak boleh, harus pake apa ? "geram Jiasa, jika bukan ditempat umum mungkin Jiasa sudah menarik rambut Lani.
Lani terkekeh, Jiasa berdecih. Jiasa tahu itu adalah ledekan yang Lani keluarkan.
" nih " kata Lani sembari memberikan botol kecap pada Jiasa. " di jamin manis kaya muka gue. " sambung Lani sembari tertawa.
Jiasa mendengus, kemudian ia menuangkan sedikit kecap kedalam mangkuk baksonya.
Keduanya pun mulai menikmati bakso yang ada dihadapan mereka.
Lani dan Jiasa juga sadar kalau keduanya kini jadi pusat perhatian gadis yang tadi menghampiri Lani.
Gadis itu kini tengah duduk bersama dengan teman-temannya. Mereka memandang tak suka dengan apa yang mereka lihat, apa lagi kearah Jiasa.
" pantes aja sih Lani gak pernah respon kalau ada cewek yang nerikan nama dia dari tribun. Ceweknya modelan kaya gitu. " celetuk gadis lain yang mengenakan switer biru.
Ia pun mendapatkan respon tak baik dari gadis yang mendekati Lani.
" eh eh liat tuh, keringet Lani di lap sama ceweknya. "
Semua menoleh, dan bener mereka melihat Jiasa yang tengah menyeka keringat Lani yang mengalir di pelipisnya.
" perasaan yang pedes itu punya aku, tapi kamu yang keringetan. " kekeh Jiasa sembari menyeka dahi Lani. Bukan gerakan tangan yang lembut, justru gerakan tangan Jiasa terlihat kasar, Jiasa seperti sengaja menekan-nekan dahi Lani menggunakan tisu yang tersedia di meja.
" gerah, Ji. Noh mataharinya nyorot langsung. " kata Lani memberi alasan kenapa ia sampai berkeringat.
" alah alesan, bilang aja kepedesan. " kata Jiasa masih menyeka keringat Lani.
" mana ada, orang bening begini baksonya. " kata Lani lagi, Jiasa tertawa. " gak bisa pelan-pelan apa, Ji. Lu pikir jidat gue motor. Lu ngelap jidat gue ampe kata motor lagi di lap pake kanebo kering. "
Jiasa tertawa, ia kemudian menjauhkan tangannya dari dahi Lani. Meletakan tisu itu diatas meja, Jiasa kemudian menyeruput minuman dingin miliknya.
" hhhmm " respon Jiasa.
" boleh nanya ? "
" apa ? " Jiasa menatap penuh tanya kearah Lani.
" sebenarnya elu anggap gue apa sih ? " pertanyaan yang tidak terduga dari Lani.
Seketika Jiasa membeku, ia pun mengalihkan pandangannya. Ia malah menatap benda-benda yang berjejer tak karuan diatas meja.
Lani diam, tak bertanya lagi. Ia seperti menunggu jawaban Jiasa.
" aku gak tau .. " akhirnya Jiasa menjawab, tapi bukan jawaban yang memuaskan untuk Lani.
Lani menghela napas, meski tak puas. Lani harus menerima jawaban Jiasa.
" terus perasaan lu sama Tedia ? "
pertanyaan tak terduga kembali dilontarkan. Jiasa sampai mendongkak menatap Lani. Tak lama Jiasa kembali menunduk, kemudian ia menggelengkan kepala. " awalnya aku pikir rasa itu rasa yang lebih. Tapi ternyata setelah sekian lama, aku pikir aku cuma kagum sama Tedia. " kata Jiasa sembari memainkan tisu yang tadi ia gunakan untuk menyeka keringat Lani.
mendengar itu Lani tersenyum senang. Lebih senang dari pada kemenangan ketika ia bertanding. " Ji "
" apa lagi ? " Jiasa jengah, entah pertanyaan apa lagi yang akan Lani lontarkan untuknya. Tidak tahukah Lani jika saat ini mood Jiasa jelek gara-gara pertanyaan darinya.
" jadi pacar gue mau gak ? "
__ADS_1
Jiasa menghentikan gerakan tangannya, tatapannya kini dialihkan pada Lani yang tengah menatapnya dengan tatapan menyebalkan menurut Jiasa. " ayo pulang " kata Jiasa.
" yah, gue ditolak lagi. " Lani memelas.
Jiasa memutar bola matanya malas. " kebanyakan drama ih, lagian ngapain juga gue jawab kalau 24 jam lu sendiri gangguin gue. "
Jiasa mencibir.
" bahasa ya, udah mulai berani kasar. " kata Lani sembari mencubit gemas pipi Jiasa.
Jiasa memberengut, ia pun melepaskan tangan Lani dari pipinya. " ayo pulang " rengek Jiasa.
Lani terkekeh. " iya bentar bayar dulu. " katanya lalu memanggil si pedagang.
" makasih ya, Den. Jangan lupa nanti mampir lagi. " katanya.
" insyaallah Pak. Kita pergi ya. " pamit Lani.
kemudian bangkit dari duduknya begitu pula Jiasa.
Keduanya melangkah bersama. Lani kemudian menggenggam tangan Jiasa, tapi, dihempaskan oleh Jiasa. Tak menyerah, Lani mencoba lagi. Tapi, Jiasa kembali menghempaskan.
Lani terkekeh, ia tak marah, justru Lani gemas dengan tingkah Jiasa. Sangking gemasnya, Lani malah merangkul Jiasa. Ia merangkul Jiasa dengan erat, hingga Jiasa tidak bisa menjauhkan Lani dari dirinya.
" nah kalau gini kan gak bisa kabur. " Lani penuh kemenangan.
"gak jelas " sahut Jiasa dengan dengusan.
" sampai motor aja, nanti gue lepasin kalau udah nyampe sana. " kata Lani sambil menunjuk motornya yang terparkir.
Jiasa mendengus, hanya bisa pasrah.
Keduanya melangkah menuju tempat Lani memarkirkan motornya.
Tangan Lani masih setia bertengger dibahu Jiasa.
Jiasa melirik tangan Lani yang seperti tepat diatas dadanya.
" Lani, tangan. Bisa jauhan gak. "
Lani melirik tangannya. Kemudian ia menatap Jiasa sembari memberi senyuman seringai.
Jiasa mengerutkan dahi akan senyuman seringai yang Lani berikan.
Lani menghentikan langkahnya, otomatis Jiasa pun berhenti. Lagi pula mereka sudah berada didekat motor Lani yang terpakir.
Lani tak memelepas rangkulannya. " untung tempat umum. Kalau didalam rumah udah gue pegang. " bisik Lani.
Jiasa membulatkan matanya.
" Laniiii .. " gemas Jiasa, ia pun mencubit pinggang Lani.
Seketika Lani pun mengaduh kesakitan.
" anjiir, lu mah kdrt mulu. "
" otak lu mesum jadi pantes di kdrt " sahut Jiasa jengah.
" gue mesum juga sama elu doank. mana berani gue sama yang lain. "
__ADS_1
" halah, bohong. Buruan balik. " omel Jiasa.
" iya iya " Lani menurut. Jika kembali digoda, Lani yakin amukan Jiasa akan lebih parah.