LABIRIN

LABIRIN
12


__ADS_3

Kriiiiiingggg


Suara favorit, dan suara paling dinanti oleh seluruh siswa yang menimba ilmu di SMA Nusa Pelita


Semua berhamburan keluar kelas, berlari pelan menuju tempat yang menjadi favorit.


Tempat apa itu ?


Jawabannya, kantin.


Apa semua siswa memilih kantin ?


Jawabannya tidak.


Ada beberapa siswa yang memilih untuk bermain di lapangan sekolah.


Siapa mereka ?


Siapa lagi jika bukan para pangeran sekolah yang terkenal jahil dan menyebalkan. Tapi, dari sifat buruknya itu. Banyak siswi perempuan yang kagum akan sosok mereka.


Seperti saat ini, ke empat siswa yang banyak di kagumi kaum hawa itu tengah menyalurkan hobby mereka yaitu bermain bola.


Seperti biasa, Tedia, Lani, Zaki, dan juga Yoga akan berada di dalam satu tim, dengan Zaki yang bertugas sebagai penjaga gawang, Yoga sebagai benteng pertahanan di depan Zaki, Lani sebagai gelandang yang membantu penyerangan, dan Tedia sebagai eksekutor terakhir yang bertugas membobol gawang lawan.


Kegiatan ke empat laki-laki itu selalu menjadi pusat perhatian, terbukti dari banyaknya siswi perempuan yang berada di pinggir lapangan. Mereka ingin melihat aksi ke empat pangeran sekolah itu.


Di barisan para siswi perempuan itu ada juga Jennie, Rosa, Iren, dan tentunya Jiasa.


Ke empat gadis cantik yang sering menjadi korban kejahilan Lani dan kawan-kawan itu tengah asik menyaksikan mereka bertanding.


" mereka tuh sebenarnya keren banget kalau lagi main bola gini, cuma kadar kejahilannya bikin ilang semua kekerenan itu .. " celetuk Rosa dengan wajah dramatis dan memelas.


Tiga gadis cantik merespon kalimat yang Rosa ucapkan.


" bener banget, kadang rasanya gue pengen banget menggal kepala Lani .. " Jennie ikut bersuara membenarkan ucapan Rosa.


" kalau gue pengen banget menggal kepala Tedia .. Soalnya di antara mereka, Tedia yang paling menyebalkan .. " Rosa kembali bebicara.


" tapi kalau gue sih semuanya patut di penggal, bayangin aja mereka ngardusin anak perawan orang tanpa mikirin gimana kalau mereka baper .. " Iren menimpali, dan mendapatkan anggukkan setuju dari Jennie dan Rosa


" wah bener banget tuh .. " celetuj Jennie dengan semangat 45 nya.


Jiasa yang merupakan murid baru hanya bisa diam mendengarkan celetukan ketiga temannya, ia tidak mengenal para siswa yang tengah menjadi bahan ghibah ketiga temannya itu.


Meski ia sempat berkenalan dengan Lani dan Tedia, tapi Jiasa belum mengenal mereke lebih jauh.


" ngomong-ngomong kalian pernah gak sih baper sama candaan mereka ? " pertanyaan yang Jiasa lontarkan membuat Jennie, Rosa, Iren menatap dengan mata membulat ke arahnya.


Jiasa sendiri tak sadar akan tatapan ketiga temannya itu, Jiasa justru kini tengah serius menatap ke depan menyaksikan bagaimana ke empat pria itu bermain bola sembari menyeruput jus siap minum yang ia beli di kantin.


" boro-boro mau baper ya Ji, lu bayangin aja, abis baperin gue, detik berikutnya mereka baperin Iren, terus detik berikutnya mereka baperin Rosa, abis itu baperin adek kelas, abis itu guru .. Gimana kita mau baper .. " Jennie dengan menggebu menjawab pertanya Jiasa.

__ADS_1


Jiasa merespon dengan menoleh ke arah Jennie, kemudian ia tersenyum. Detik berikutnya Jiasa kembali menatap lurus ke arah para siswa yang tengah bermain bola.


Sebenarnya fokus Jiasa hanya satu, fokus Jiasa hanya tertuju ke arah siswa yang mengenakan kaos polos putih, dilapisi seragam yang tidak di kancingkan kemudian memakai topi berwarna hitam.


Siapa dia ?


Jawabannya adalah


TEDIA


ya, sejak pertama melihat Tedia, Jiasa sudah terhipnotis oleh sosok pemuda tampan yang bersekolah di SMA Nusa Pelita.


Bahkan Jiasa merasa senang ketika Tedia dan temannya yang bernama Lani datang menghampiri untuk berkenalan dengannya, meskipun faktanya hanya Lani yang berkenalan. Tapi, Jiasa senang karena ia bisa melihat sosok Tedia dari jarak dekat.


Diam-diam Jiasa tersenyum mengingat moment pertama kali ia dan Tedia bertemu. Tapi tak lama senyum Jiasa luntur dan berganti dengan wajah gugup.


Jiasa gugup karena sosok yang ia perhatikan secara diam-diam tengah berjalan kearahnya.


Buru-buru Jiasa merubah ekspresi wajahnya, ia takut jika yang lain melihat perubahan wajahnya.


" hallo para istri-istri ku .. " Tedia mulai melancarkan aksinya, bukan sapaan balik melainkan sebuah dengusan dari Jennie.


Tedia hanya menanggapi dengan senyuman, ia sudah terbiasa mendapat respon seperti itu dari Jennie.


Kemudian Tedia beralih kepada Jiasa, ia pun berdiri di hadapan Jiasa " bagi donk, yang. haus nih kaya di terpa kemarau .. " kata Tedia meminta minuman yang tengah Jiasa pegang.


" ini maksud kamu ..? " tanya Jiasa sembari mengangkat jus yang tengah di pegang ke arah Tedia.


" anjiir ******* secara tidak langsung .. " otak mesum Zaki mulai menguasai dirinya, alhasil Zaki pun mendapat toyoran di kepalanya. Pelakunya adalah Jennie


" aduh Bapak Lurah, coba kalau ngomong di saring dulu .. " sindir Jennie


Zaki memberikan cengiran bodoh " mohon maaf Bu Lurah, Pak Lurah lagi khilaf .. " kata Zaki yang malah menggoda Jennie, sontak Jennie mencebikan bibirnya.


" gemes banget ih pengen makan .. " kata Zaki seraya mengangkat tangannya hendak mencubit pipi Jennie.


" heh tangannya ya bukan mukhrim .. " kata Rosa memukul pelan tangan Zaki.


Tingkah konyol Zaki, Jennie, dan Rosa tentunya saja menjadi pusat perhatian Tedia, Jiasa, Lani, Iren, dan juga Yoga. Bahkan Yoga sampai menggeleng-gelengkan kepalanya " lu berdua gue bawain penghulu juga ya, ampun dah gue mah .. " kata Yoga pusing dengan tingkah teman-temannya.


" gak mau " tolak Jennie dengan begitu tegas.


" mau napa Jen .. " kata Zaki, Jennie mendengus kesal


" yah abis Ji .. " suara Tedia mengalihkan atensi mereka, dilihatnya Tedia yang tengah mengocok-ngocok minuman milik Jiasa.


" Tedia sumpah ya lu malu-maluin banget, maaf ya, Ji. Tedia mah gak waras .. " kata Lani merasa tidak enak dengan Jiasa.


Jiasa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya " gak apa-apa kok "


" lain kali jangan di kasih ya, Ji. Tedia mah suka minta nambah .. " celetuk Yoga terdengar ambigu, sontak semua menatap Yoga dengan mata memincing tajam

__ADS_1


Sadar akan tatapan tajam yang didapatkan, Yoga menelan ludahnya kasar " gue duluan ya, bentar lagi masuk .. Daahh " kata Yoga kemudian pergi menjauh dari para mata yang sepertinya siap menerkam.


" sinting .. Temen siapa sih itu ? " kata Tedia


" temen elu .. " kecuali Jiasa, semua menjawab pertanya Tedia dengan kompak.


Tedia mengedikkan bahunya tak perduli, kemudian ia berjalan mendekati Lani


" ayo ayang kita ke kelas bentar lagi masuk .. " kata Tedia sembari merangkul Lani dan membawa Lani melangkah bersamanya


" dadah Jennie .. " kata Zaki, kemudian menyusul Tedia dan Lani.


Jennie kembali memberi dengusan


" yuk ah ke kelas " ajak Jennie dan mendapat anggukkan dari ketiga temannya.


..


" jadi kapan lu mau pdkt sama Jiasa ..? " tanya Tedia kepada Lani


Keduanya kini tengah berada di dalam kamar Lani.


Setelah sekolah berakhir, Tedia memilih untuk pulang kerumah Lani, dan ia pun sudah meminta izin kepada Ria ibunya.


" jalanin aja deh, gue takut dia ilfeel kalau gue deketin, apa lagi kita suka modusin cewek, gue takutnya dia cuma nganggep gue bercanda doank .. " sahut Lani


" keburu ditikung sama gue .. " kata Tedia, detik berikutnya Tedia dilempar bantal oleh Lani.


Tedia cengengesan, Lani mengdengus.


" berani lu tikung, gue gak mau jadi temen lu lagi .. " ancam Lani membuat Tedia meringis.


" tapi lu serius kan ya ..? "


Lani mengerutkan dahinya ketika Tedia melontarkan pertanyaan seperti itu kepadanya.


" ya serius lah, gue gak main-main kalau sama Jiasa .. Gue yakin kalau Jiasa itu tulang rusuk gue " kata Lani dengan wajah penuh harapan dan keyakinan.


" kalau dia sebenarnya tulang rusuk gue gimana .. ? " seketika ekspresi wajah Lani berubah. Ia menatap Tedia sinis.


" kan tadi gue bilang, gue gak mau temenan lagi sama lu .. " sahut Lani dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.


" ya kan kita gak tau takdir orang Lan, bisa aja kan Jiasa itu dikirim Allah buat gue .. "


" berisik lu ah, pulang sonoh .. " sentak Lani dan membuat Tedia tertawa


" ciaaaa baper .. " goda Tedia


" diem deh .. " kata Lani. Tedia kembali tertawa terbahak


Lani mengabaikan tawa Tedia, ia jadi memikirkan kata-kata Tedia. Bagaimana jika benar Jiasa bukan jodohnya?.

__ADS_1


Lani menggeleng pelan, membuang semua pikiran buruk yang tiba-tiba menyerangnya.


__ADS_2