LABIRIN

LABIRIN
21


__ADS_3

Terparkir dengan sempurna. Tedia tersenyum di dalam mobilnya, kemudian ia membuka pintu dan keluar dari dalam mobil pemberian ayahnya.


Ya, hidup bergelimang harta dan menjadi anak satu-satunya membuat semua keinginan Tedia terpenuhi.


Tapi, meskipun seperti itu. Tedia bukan tipikal anak orang kaya yang sombong. Orang tuanya selalu mengajarkan untuk bersikap ramah dan sopan kepada siapapun.


Contohnya seperti saat ini. Tedia tengah berjalan menuju kelas sembari memutar-mutar kunci mobil menggunakan jari telunjuknya. Di sempanjang perjalanan, banyak siswa dan siswi yang menyapa, Tedia pun membalas sapaan itu.


Tak sengaja matanya melihat sosok penjaga sekolah yang tengah menyapu koridor. Tedia tersenyum, kemudian ia melangkah mendekati.


" selamat pagi, Bapak .. "


Yang disapa menegakkan tubuhnya " kamu rupanya .. " katanya ketika melihat Tedia berdiri dihadapannya.


" tumben sendiri, pacar-pacarnya mana ? "


Tedia memutar bola matanya malas, ia sudah tahu siapa saja yang di maksud bapak penjaga sekolah " mereka ninggalin saya pak, nah sekarang saya mau tanya, Bapak liat mereka kaga ..? "


Bapak penjaga sekolah itu menggelengkan kepalanya " kalau saya liat, saya gak bakal nanyain mereka .. "


Tedia menunjukkan cengirannya " iya ya .. Ya udah, Pak. selamat bekerja ya, dadah Bapak .. " kata Tedia kemudian melangkah pergi meninggalkan Bapak penjaga sekolah yang kini kembali berkerja.


Tedia terus melangkahkan kakinya, bahkan kelasnya pun sudah mulai terlihat. Tak lama Tedia tiba di depan kelasnya. Ia pun bergegas masuk.


Ada hal yang membuat Tedia terkejut hingga ia sampai menghentikan langkahnya. Di kursi milik Jiasa, ia melihat Jiasa dan Lani yang tengah duduk bersama dan tengah berbincang, sesekali Jiasa tertawa ketika merespon ucapan Lani.


Sembari menatap ke arah Jiasa dan Lani, tangan Tedia perlahan bergerak kemudian ia arahkan ke dada sebelah kirinya " kok sakit ya .. " ucapnya pelan dan hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


Tedia masih berdiri di tempat, ia diam dengan pikiran yang jauh entah kemana, telapak tangannya masih menempel di dada.


Hingga suara Yoga membuat lamunannya buyar.


" heh Malik, ngapain lu berdiri di situ .. "


Sontak Tedia jadi pusat perhatian para siswa yang berada di kelas. Bahkan Lani dan Jiasa pun mengalihkan perhatiannya ke arah Tedia.


Lani menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu, kemudian ia beranjak dari kursi milik Jiasa dan melangkah menghampiri Tedia.


Tedia buru-buru merubah ekspresi wajahnya ketika melihat Lani mendekatinya, bahkan ia berpura-pura memberengut ketika Lani sudah berada di dahapannya " ngapain lu nyamperin gue, sono jangan perduliin gue, perduliin saja selingkuhan elu .. " Tedia yang sudah bisa mengontrol dirinya kini mulai mengucapkan kata-kata nyeleneh yang selalu menjadi andalannya.


" cieee cemburu .. " goda Lani

__ADS_1


Tedia mendengus, dengan bibir yang mencebik " iya lah cemburu, gue cemburu karena liat Jiasa deket sama elu, bukan karena liat elu deket Jiasa .. " kata-kata yang tentu saja berani Tedia ucapkan dalam hatinya.


Tapi tak lama Tedia mulai sadar dengan apa yang sudah ia ucapkan di dalam hatinya, tanpa Lani sadari raut wajahnya berubah, Tedia merasa bersalah " ya Allah, jaga hati hamba, jangan sampai kaya di sinetron ya Allah, hamba takut kena karmanya .. " lagi Tedia bergumam dalam hatinya.


" buruan duduk, kita dari tadi nungguin elu .. " Lani menarik tas Tedia agar Tedia ikut melangkah bersamanya. Namun, Tedia tak menurut, ia diam menahan diri, hingga Lani pun tak bisa menariknya untuk melangkah bersamanya


" ngapain kalian nungguin gue, kalau mau mah samper gue kerumah biar berangkatnya bareng .. Kan gue jadinya nebeng kaga bawa mobil .. " gerutu Tedia, Lani menggeleng-gelengkan kepalanya, bahkan Zaki dan Yoga pun menggeleng-gelengkan kepalanya mendenger gerutuan Tedia.


" bacot ah, buruan .. " Lani kembali menarik tas Tedia, kali ini Tedia merespon ia pun mengikuti langkah Lani.


Dalam setiap langkah menuju singgahsananya, mata Tedia diam-diam tertuju ke arah Jiasa yang tengah memperhatikan dirinya dan Lani, ketika sampai di kursi milik Jiasa, tak sengaja Tedia dan Jiasa beradu pandang, Jiasa tersenyum. Senyum Jiasa membuat Tedia salah tingkah, ia pun segera membuang pandangannya. Kemudian terus melangkah mengikuti Lani.


Tiba di meja pojok kelas, Lani masih berdiri tak menduduki tempatnya, hal itu membuat Tedia mengerutkan dahinya, pasalnya kursi yang berada di pojok dan menempel dengan dinding adalah kursi Lani, secara otomatis Lani harus terlebih dahulu menempati kursinya dan baru lah diikuti Tedia.


" ngapain berdiri, buruan duduk di tempat lu .. " Tedia memberi perintah, ia tak mau duduknya terganggu karena harus memberi jalan kepada Lani ketika akan menduduki kursinya.


Lani tersenyum hingga menunjukan gigi putihnya " tukeran tempat duduk ya .. "


Raut wajah Tedia kembali berubah, dahinya kembali berkerut, ia butuh jawaban akan ekspresi yang ia tunjukan saat ini.


Peka akan ekspresi yang ditunjukan Tedia, Lani pun terkekeh, kemudian ia mendekatkan wajahnya ketelinga Tedia " tukeran tempat duduk, biar gue lebih gampang kalau mau nyamperin Jiasa .. " bisik Lani, sontak Tedia membulatkan matanya, bahkan mulutnya terbuka dengan sempurna.


Tak lama ekspresi terkejut Tedia hilang, kini berganti dengan delikan tajam. Pasrah, Akhirnya Tedia pasrah, ia mengangguk pelan, kemudian bergerak duduk di kursi milik Lani, melihat respon Tedia tentu saja Lani senang, ia duduk di kursi yang sebelumnya di tempati Tedia, kemudian Lani duduk menghadap Tedia " elu emang sahabat baik gue, lu tau gak ..? " Lani memulai percakapan dengan suara pelan


" kayanya Jiasa udah mulai terbiasa sama gue .. " kata Lani lagi dengan suara pelan.


Tedia diam, hatinya menjadi takaruan. Tapi, sebisa mungkin ia bersikap biasa saja " beneran, dia udah respon elu .. ? " basa-basi Tedia yang sebenarnya ia sendiri ingin tahu.


Lani tersenyum dan menganggukkan kepala.


Tak lama kedua sudut bibir Tedia tartarik, ia tersenyum. Tapi, jika dalam pandangan pakar ekspresi senyuman Tedia terlihat menutupi luka " gas terus cuggg .. " kata Tedia mendepat anggukkan kembali dari Lani.


..


Kriiiiinggggg...


Suara yang dinanti bergema, semua berhambur keluar kelas. Tentu saja kantin menjadi tempat favorit.


" minggu jadi sparing Lan ..? " tanya Yoga, tangannya kemudian bergerak memindahkan bakso yang sudah berada di atas sendok ke dalam mulutnya.


" jadi .. Nanti kita berangkat bareng aja .. "

__ADS_1


Sahut Lani dan mendapat anggukan dari Yoga dan Zaki " Oh iya, nanti pas spring maennya yang serius ya, soalnya kata pelatih, staf pelatih mau nilai siapa aja yang layak ikut seleksi timnas nanti .. " Lani menambahkan dan kembali mendapat respon dari kedua temannya itu.


Kemudian mata Lani melirik Tedia yang duduk disampingnya. Dilihatnya Tedia yang tengah sibuk dengan makanannya, tak seperti tempo hari dimana Lani menendang kaki Tedia, kini Lani membiarkan Tedia menikmati makanannya.


" duduk sini boleh ya .. Tempat lain penuh soalnya .. " suara Jennie mengalihkan perhatian Lani, Zaki, dan juga Yoga. Sedangkan Tedia tetap fokus dengan santapannya.


Ketiga pemuda itu mendongkak dan melihat ke empat gadis manis yang tengah tersenyum kepada mereka.


Meski tak mendapat persetujuan, jennie bergegas duduk dan menggeser Zaki, alhasil Zaki pun mendengus.


" gue mau duduk deket Yoga .. " kata Jennie


Lani yang tengah malas beradu argumen dengan Jennie hanya memutar bola matanya malas. Kemudian fokus Lani dialihkan kepada Jiasa yang sudah duduk di samping Tedia, ada sedikit rasa kecewa di hati Lani, mengapa Jiasa memilih untuk duduk di sebelah Tedia, padahal diam-diam Lani sudah menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Jiasa duduk.


Lain Lani, Lain pula Tedia, Tedia lebih memilih fokus dengan makanannya, ia tak perduli dengan kehadiran Jennie dan kawan-kawan. Bahkan Tedia pun tak sadar ketika Jiasa duduk disampingnya.


Tak lama makanan yang Tedia santap habis, Tedia menegakan tubuhnya yang tadi duduk sedikit membungkuk " alhamdulillah kenyang .. " kata Tedia tak sadar ia jadi pusat perhatian para siswa yang duduk bersamanya. Mereka merasa heran dengan nafsu makan Tedia.


Tedia meraih botol mineral miliknya, kemudian ia meneguk air yang berada dalam botol itu hingga hanya tersisa sedikit.


Makan sudah minum pun sudah, Tedia pun menoleh ke samping " astagfirallah .. " Tedia terkejut hingga terlonjat ketika ia melihat Jiasa yang berada disampingnya.


" anjiiiir ampe kaget gitu, kaya liat hantu aja .. " kata Zaki sembari tertawa. Kecuali Tedia semua tertawa.


Tedia kembali menoleh menatap Jiasa, tak lama Jiasa pun menoleh kepadanya, hingga keduanya saling tatap. melihat ekspresi Tedia, Jiasa mengerutkan dahi seolah bertanya ada apa.


Tedia yang peka segera menggelengkan kepala, kemudian Tedia kembali mengalihkan pandangannya ke arah temannya yang sudah memulai perkacapan.


" minggu mau liat kita sparing kaga .. ? " tanya Zaki, seketika mata Rosa, Jennie dan Irene berbinar.


" dimana ..? " Rosa begitu antusias dan semangat


" tempat latihan biasa, kalian nonton deh biar kita semangat .. " sahut Zaki, dan mendapat anggukan sejutu dari ketiga gadis cantik itu.


" kamu nonton juga ya Ji .. " suara Lani mengalihkan atensi semuanya. Sontak semua menatap Lani.


" boleh, tapi aku gak janji ya .. " kata Jiasa, yang sukses membuat Lani berbinar senang.


Bukan hanya Lani, tapi Tedia yang berada di tengah di antara Lani dan Jiasa pun diam-diam tersenyum senang ketika mendengar Jiasa akan melihat mereka bertanding.


...

__ADS_1


__ADS_2