LABIRIN

LABIRIN
8


__ADS_3

Yogyakarta, 14 September 2003


Sinar mentari menerobos melalui celah-celah ventilasi, aku terbangun dan melihat sudah pukul enam pagi. Ku dudukkan tubuhku sambil menunggu nyawaku terkumpul, 'Kenapa tidak ada yang membangunkan ku? atau aku yang tidak dengar?' Pikirku.


Ku langkahkan kakiku keluar kamar.


Cklek.. pintu pun terbuka, sepi. Tidak ada orang di ruang makan.


"Bu? mbah? mbak?" Ucapku memanggil, tapi tidak ada jawaban. Seperti rumah kosong tidak terjamah manusia, aku berjalan mencari ke setiap sudut rumah. 'Mereka semua pergi ke mana tanpa aku?'


"Lebih baik aku membersihkan diri dahulu baru mencari mereka." Ucapku lalu pergi untuk bersiap diri.


***


Ku tutup kembali pagar seperti semula, 'Sekarang aku harus ke mana?'' Tanyaku dalam hati.


Sreek.. sreek.. sreek.. Suara sapu lidi yang digunakan untuk menyapu tetangga depan rumah menarik perhatian ku. 'Apa aku tanya saja ya?' Pikirku. Aku pun melangkahkan kaki ku mendekat, belum aku sempat melangkahkan kaki di halaman rumahnya, "Aku tidak tahu ke mana mereka pergi, carilah di tempat lain." Ucap nenek yang sedang menyapu tersebut.


Aku pun membungkukkan badan lalu berbalik dan berjalan menjauh. "Kenapa aku tidak menelepon saja, dasar pelupa." Ucapku merutuki kebodohan ku.


'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.'


"Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan, sekarang aku seperti orang bodoh yang berkeliaran tanpa tahu harus ke mana." Ucapku lirih.


***


Aku sudah lelah mencari mereka, sekarang sudah pukul satu siang. Di mulai dari memutari desa dan sekitarnya tetap saja aku tidak menemukan mereka. "Apa yang kalian lakukan!" Ucapku berteriak di pinggir jembatan. Tanpa memedulikan tatapan beberapa orang, aku kembali berjalan asal.


Kruuk... kruuk.. kruuk...


Perutku sudah berbunyi, aku bahkan belum makan dari pagi. 'Merepotkan.' Aku memutuskan untuk pulang ke rumah, saat akan membuka gerbang rumah ku tengok ke belakang dan mendapati nenek tadi duduk di kursi depan rumah sambil memperhatikanku dengan senyumnya. Aku bergidik ngeri melihatnya dan bergegas memasuki rumah.


Cklek..

__ADS_1


"Selamat ulang tahun kami ucapkan..." Tiga orang yang ku cari sekarang sedang bernyanyi di depanku. Tidak, sekarang ada empat orang. Ibu, simbah, Mbak Rukmi, dan Wayan yang sedang membawa kue ulang tahun di tangannya.


Wayan mendekat sambil memajukan kue tersebut di depanku, "Kinan ayo tiup lilinnya." Ucap ibu. Aku tidak ingat jika sekarang hari ulangtahun ku.


Huft...


Lilin tersebut padam dan dilanjutkan dengan tepuk tangan mereka. "Kenapa kalian membuatku kesulitan hanya untuk memberikan kejutan." Ucapku.


"Setidaknya berterima kasihlah, dasar tidak tahu diri." Ucap simbah dengan nada meninggi.


"Aku tidak pernah tahu apa yang kalian pikirkan untukku, terimakasih." Ucapku lalu pergi ke ruang makan, di sana telah dihidangkan beberapa makanan. Aku pun mengambil piring dan sendok untuk mengambil makanan.


Tangan Wayan terulur menarik lenganku sehingga badanku berbalik menghadapnya, "Tidak bisakah kau menghargai kami."


"Terimakasih, aku menghargai kalian yang membuatku seperti orang bodoh dengan berjalan selama enam jam tanpa tahu arah." Ucapku lalu meletakkan piring kembali dan berjalan ke luar rumah meninggalkan mereka semua. Aku diam di depan pagar, "Kemarilah." Ucap nenek tadi di depan rumahnya.


Aku masih diam, "Aku tidak akan melakukan apapun." Akhirnya aku pun berjalan mendekat dan diajak nenek tersebut ke dalam rumahnya. Bangunan tua yang terasa begitu lengang.


"Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan orang lain." Ucap nenek tersebut sambil menaruh secangkir teh dan setoples roti kering ke meja.


"Minumlah dan tenangkan dirimu, sebentar lagi laki-laki tersebut akan menjemputmu." Aku mengernyitkan dahi, bagaimana nenek tersebut bisa tahu.


"Tidak perlu bertanya dan cepat habiskan minummu." Ucap nenek tersebut, aku pun langsung meminumnya. Aku pikir akan kesulitan berkomunikasi dengannya, ternyata nenek tersebut mahir memakai bahasa Indonesia.


Tok.. tok.. tok..


"Dia sudah datang." Ucap nenek dan kami pun berjalan mendekat ke pintu.


Cklek... Pintu terbuka menampilkan Wayan yang berdiri dengan Wajah tanpa ekspresi.


"Saya mau menjemput teman saya." Ucap Wayan datar. Aku memperhatikan nenek tersebut, lalu keluar dari ruangan.


"Terimakasih." Ucapku sambil sedikit membungkukkan badan. Tangan Wayan terulur menarik ku keluar dari pekarangan rumah tersebut.

__ADS_1


"Maaf."


"Mungkin kami terlalu bersemangat memberimu kejutan sehingga–."


"Sehingga kalian lupa apa tujuan yang kalian lakukan." Ucapku memotong pembicaraan Wayan.


"Lupakan, aku tidak mau membahasnya." Aku berjalan terlebih dahulu meninggalkan Wayan yang masih mematung.


Ku langkahkan kakiku memasuki rumah, "Ibu minta maaf, kami tidak berniat membuatmu khawatir." Ucap Ibu sambil memelukku.


"Aku tidak khawatir, aku hanya ingin tahu apa yang kalian lakukan di belakang ku. Itu saja." Ucapku. Ibu menangis sambil memelukku.


"Lupakanlah mari makan, jika tidak kalian hanya akan membuat ulang tahunku menjadi suram." Aku melepas pelukan ibu dan berjalan menuju meja makan.


"Kau memang cucu keji ku." Ucap simbah sambil mengelus kepalaku.


***


"Aku sudah selesai." Ucapku sambil membawa piring bekas ku makan ke dapur.


"Kinan." Aku menoleh ke belakang.


"Maukah kau ikut kami?" Ucap Wayan.


"Kejutan apalagi ini?" Tanyaku.


"Kinan, aku tidak tahu kenapa kau marah hanya karena masalah sepele." Ucap Wayan sambil menatapku heran.


"Sepele? Mungkin bagimu sepele tapi bagiku itu tidak." Jawabku ketus.


"Apa ini sisi darimu yang sebenarnya? Kau terlalu pemarah, tidak bisa menghargai" Aku hanya diam tidak menanggapi.


"Mbak Rukmi bahkan sudah susah payah untuk mencarikan mu kue, ibu dan simbah juga sudah mengatur kejutan, tapi kau tidak menghargai mereka." Ucap Wayan dengan menunjuk diriku menggunakan telunjuknya.

__ADS_1


"Kemarin kau membuatku lupa tentang semua perkara hidupku, tapi sekarang–." Aku tidak melanjutkan ucapan ku dan pergi meninggalkan Wayan.


__ADS_2