
Dengan perasaan kacau, Lani melangkah terus menuju kelas.
Hatinya hancur, sahabatnya yang sudah seperti kakak baginya ternyata orang yang sudah membuat dirinya seperti ini.
Lani ingin memaki, Lani ingin menangis. Tapi, rasa sakit yang teramat dalam membuat dia tak kuasa untuk melakukan semua itu.
" Arlan .. " teriak Yoga.
Lani tidak tuli, dia mendengar. Tapi, ia mengabaikan Yoga yang tengah berlari bersama Zaki dan Robi guna mengejar langkah Lani.
Lani terus melangkah menyusuri koridor dengan tatapan kosongnya.
" Arlan, tunggu .. " Yoga ketika ia berhasil menggapai bahu Lani.
Napas Yoga, Zaki, dan Robi memburu. Ketiganya kini mengatur nafas agar ketiganya bisa bernafas dengan baik. Lani menatap datar ketiganya.
" gak usah masuk kelas, lu ikut gue " kata Yoga, ia yakin Lani saat ini dalam keadaan yang tidak baik, dan hal itu pasti membuat mereka tidak akan fokus terhadap pelajaran.
Lani tersenyum tipis, tapi terlihat menyakitkan di mata ketiga siswa itu.
" ngapain ? " tanya Lani enteng seperti tidak terjadi apapun, dan lagi-lagi mereka tahu jika Lani tengah menutupi lukanya.
Yoga menghela nafas, ia lupa saat ini yang berada di depannya adalah Lani. Sosok keras kepala yang memilik ego tinggi.
" gak guna belajar .. Buruan dah lama banget " kali ini Zaki yang bersuara. Ia gemas, Yoga terlalu bertele-tele. Lani tak akan menurut hanya dengan ucapan, oleh karena itu Zaki menarik Lani agar mengikutinya.
Tak melawan dan tak menolak, Lani mengikuti langkah Zaki. Bergegas Yoga dan Robi mengikuti.
rooftop sekolah, tempat yang menjadi tujuan ke empat siswa itu. Bahkan demi mengamankan tempat dan situasi, Yoga sampai memerintah Robi untuk mengunci pintu rooftop itu. Setelah mengunci, Robi kembali mendekati dua siswa yang kini berdiri di hadapan Lani.
posisi Lani seperti sedang di hadang oleh tiga siswa yang akan membullynya.
Melihat tingkah tiga temannya, Lani terkekeh kecil kemudian menggelengkan kepala.
" gak usah ketawa, Lan. Gue tau lu cuma pura-pura tegar. " kata Zaki, gemas dengan ekspresi wajah yang Lani berikan.
" terus gue harus ngapain ? teriak ? nangis ? Nonjok Tedia ? Atau bunuh diri ? Dengan gue bersikap kaya gitu apa bisa bikin Jiasa nerima gue ? Enggak kan ? Udahlah, gue juga tau kalian mau hibur gue mau nyemangatin gue. tapi, menurut gue itu semua cuma bisa bikin gue inget sama hal yang udah bikin hati gue ancur. Jadi gue minta sama kalian stop IKUT CAMPUR .. " teriak Lani pada akhirnya. Matanya memerah, nafasnya memburu. Lani tengah meluapkan emosinya. Semua diam, membiarkan Lani meluapkan semua emosinya.
Lani memejamkan sejenak matanya, ia berusaha menenangkan dirinya. Merasa sudah tenang, Lani kemudian menatap ketiga siswa itu satu persatu.
helaan nafas kasar Lani hembuskan, kemudian ia berbalik dan maju dua langkah. Kini Lani berdiri di sisi rooftop dengan kedua tangan berpegangan pada pagar pembatas. Lani menatap luasnya hamparan kota yang terlihat dari rooftop, kemudian ia kembali menghela nafasnya.
__ADS_1
" makasih atas kepedulian kalian. Tapi, cukup sampai di sini aja, benar kata Jennie. Image Jiasa yang di pertaruhkan dalam hal ini. Cukup jangan ada yang bahas atau ngungkit lagi, kalau emang Jiasa lebih milih Tedia, gue bisa apa. Lagi pula gue yakin Tedia bisa bahagian Jiasa. Gue ngalah, gue nyerah. Gue mundur, gue gak bisa apa-apa. "
" Tapi, Lan. Keadaan Jiasa sekarang itu tanggung jawab elu. " kata Zaki mengingatkan, Zaki berbicara dengan sangat hati-hati.
" gue tau, gue paham. Tapi kalau Jiasa gak mau, gue bisa apa ? Maksa dia ? Yang ada dia makin menderita. Udahlah, gak usah bahas lagi, gue cape sama kenyataan yang harus gue jalani. Gue cape. " Lani menundukkan kepalanya.
Yoga melangkah mendekati Lani, ia berdiri di samping Lani kemudian merangkul bahu Lani. Yoga menarik Lani agar tubuhnya lebih rapat dengannya.
" ade gue ternyata udah gede. pemikirannya udah dewasa. Jadi lu nerima semuanya ? "
Lani mengangguk, " kalau itu semua bisa bikin Jiasa bahagia, gue bisa apa "
Yoga menoleh, menatap Lani dengan senyum tipis, kemudian ia menepuk-nepuk pelan bahu Lani.
" elu maafin Tedia ? "
Lani kembali mengangguk, " karena dalam hal ini gue yang salah, gue yang gada akhlak ini akan semakin ngerasa bersalah kalau gue rebut bahagianya Tedia. "
" lu ikhlas ? " tanya Yoga lagi.
Lani kembali mengangguk, " maaf karena udah buat kalian kecewa, maaf karena terkesan gue yang gak mau tanggung jawab. "
Zaki pun ikut merangkul Lani. " awalnya gue marah, tapi ngeliat lu yang kaya gini. Gue buang rasa marah gue bersama angin yang pergi menjauh. "
" Najis lebay .. " celetuk Robi.
Zaki menggeram kesal, ia menatap tajam Robi.
" sumpah ya, Bi. Elu ngerusak suasana. pergi deh lu. Lagian ngapain sih sekarang lu ngikutin kita mulu. ganggu banget sumpah. " gerutu Zaki, Robi melebarkan matanya, sedangkan Yoga dan Lani terkekeh melihat tingkah konyol Robi dan Zaki.
" heh, lu gak tau siapa gue, sebelum kalian gue orang yang pertama kali kenal nih bocah. " balas Robi tak mau kalah.
" iya iya terah elu dah " sahut Zaki.
Robi mencibir, Yoga dan Lani tertawa. Ke empat siswa itu kembali menatap hamparan kota, mereka larut dalam pikiran masing-masing.
bahkan sampai bel berbunyi pun mereka masih betah berada di rooftop.
Di tempat lain. Tedia seorang diri, Meratapi nasib naasnya.
Sesekali ia memaki dirinya sendiri karena terlalu bodoh, bisa-bisanya dia lebih mementingkan kebahagian dirinya tanpa memikirkan kebahagian orang lain.
__ADS_1
Bisa-bisanya dia tidak terpikirkan dampak buruk yang akan di terima Jiasa.
Tedia mengadahkan kepalanya, menahan sesuatu yang memberontak di pelupuk matanya.
...
Kriiiiinggg ..
waktu belajar habis, lima siswa yang tidak ikut pembelajaraan kini mulai memasuki kelasnya.
Tak sengaja Tedia dan Lani berpapasan ketika akan memasuki kelas.
Lani menatap datar Tedia, sedangkan Tedia menatap Lani dengan sorot mata penuh penyesalan.
" ya elah malah pandang-pandangan .. ngalangin jalan tau kaga " jengah Zaki kemudian menerabas masuk ke dalam kelas.
Lani menghela nafas, ia pun menyusul Zaki yang sudah berada di kursinya. kemudian Robi mengikuti. Kini hanya tinggal Yoga dan Tedia, Yoga mendesah kasar, ia menepuk pelan bahu Tedia. " ayo masuk " kata Yoga, meski marah pada Tedia, tapi ia tak bisa bersikap abai pada Tedia. Yoga tak ingin di katakan memihak salah satu dari mereka.
Lani dan yang lainnya mulai meraih tasnya yang tentunya mereka tinggalkan di dalam kelas.
" ayo, Lan. " kata Robi, mengajak Lani pulang.
" hari ini Lani bareng gue .. " cegah Yoga
" gak ada, Arlan balik sama gue. Gue gak mau di pecat Ibu. " Robi tak mau menyerahkan Lani.
" gak gak gak .. Arlan balik sama gue .. " Yoga tak terima, kini keduanya malah memperebutkan Lani.
Zaki memutar bola matanya malas, sedangkan Lani menggelengkan kepala, perdebatan masih terjadi di antara Yoga dan Robi.
Lani yang jengah mendesah kasar, ini tidak bisa dibiarkan. " Diem .. " sentak Lani.
Seketika keduanya diam, Zaki menahan tawanya.
" gue bisa balik sendiri, ok. "
" gak boleh " kata Yoga dan Robi secara bersamaan.
Zaki tertawa, sedangkan Lani harus memijat kepalanya yang tiba-tiba sakit.
Tedia yang masih berada di kelas menyaksikan semua itu dengan tatapan miris, jujur ia rindu moment seperti ini. Kebodohannya membuat dirinya menjauhi semuanya.
__ADS_1