
" Mereka setuju, kan.? " tanya lelaki paruh baya yang saat ini duduk di hadapan Lani.
Lani mengangguk sebagai jawaban.
" terus kamu ? " tanyanya lagi
Lani yang awalnya menatap lawan bicaranya, kini menunduk. Kemudian Lani menghela nafas, Lalu tak lama Lani kembali menegakan kepalanya dan menatap sang pelatih yang duduk di hadapannya.
" saya, keluar coach " jawab Lani dengan suara parau, kemudian Lani kembali menundukan kepalanya.
Lani mendengar helaan nafas kasar sang pelatih.
" apa kamu sudah yakin sama keputusan kamu ? Apa gak mau di pikirkan lagi ? Kamu pernah bilang jadi pemain sepak bola adalah salah satu mimpi kamu, sakarang ketika kesempatan sudah di depan mata, kamu mau tinggalin gitu aja." nada suaranya terdengar begitu frustasi, Lani sampai merasa tak enak hati.
" Lan, kalau kamu pergi cuma gara-gara masalah kemarin, saya pikir itu salah. Melupakan satu hal bukan hanya dengan cara pergi menjauh. Melakukan aktivitas favorit kita itu juga bisa membuat kita lupa akan hal yang mengganggu pikiran kita, semua tergantung niat yang ada di diri kamu. Dengar Arlan, berada di tempat jauh tapi tidak ada niat di hati kamu untuk melupakan semuanya, maka kamu akan terus ingat akan hal itu. Tapi, jika niat melupakan itu tumbuh besar di hati kamu. Maka, meski pun kamu tinggal di sini, semua itu perlahan akan hilang dan terlupakan. " sambung sang pelatih.
Lani semakin tertunduk, ucapan pelatih bisa di katakan benar. Hanya saja, Lani tidak ingin merubah kembali apa yang ia inginkan saat ini. Bagi Lani, menjauh adalah pilihan terbaik.
" Maaf coach, Ini sudah keputusan saya "
Helaan nafas kasar kembali Lani dengar, begitu frustasi dan sedikit menyayat hati. Sampai-sampai Lani tidak berani untuk sekedar menegakan kepalanya guna bertatapan dengan seseorang yang sering berjuang bersamanya.
Lani melirik sekilas, tapi ia tetap tidak mau menegakan kepalanya. dalam lirikannya, Lani melihat sang pelatih melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Tak lama sang pelatih berbicara.
" kita bicarakan lagi nanti, sekarang kamu pulang. Jangan coba untuk keluyuran, lagi pula sepertinya akan turun hujan. " katanya, memberi peringatan kepada Lani supaya Lani tidak memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan hal yang tidak penting.
Sebegai seorang pelatih yang sudah mengenal Lani sejak Lani duduk di kelas 6 sekolah dasar. Sang pelatih tentu tahu apa yang terjadi dengan Lani. Layaknya orang tua, ia kecewa. Bahkan ia sempat marah. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Dan kali ini ia tidak mau hal buruk terjadi lagi.
" saya pergi dulu. Inget, langsung pulang " lagi-lagi memberi peringatan.
Lani mengangguk, tak lama sang pelatih berdiri dan kemudian melangkahkan kaki meninggalkan Lani yang masih duduk di kursinya.
Lani kini mengeluarkan ponselnya, ia melihat jam yang tertera di layar ponselnya.
Waktu sudah semakin sore, Lani kembali menaruh ponselnya di saku hoddy yang ia pakai, kemudian Lani bangkit dan melangkah keluar.
Lani berjalan terus menuju motornya yang di parkir di tempat parkir yang tersedia.
Berhasil menemukan motornya, Lani bergegas duduk di atas jok motor. Kunci motor ia pasang di tempat semestinya, tak langsung memutar kunci untuk menghidupkan mesin motor, Lani justru diam sejenak sembari mengadahkan wajahnya guna melihat langit yang begitu gelap karena di hiasa awan hitam.
" ini mah tinggal numpahin aja ujannya " monolong Lani, kemudian ia mulai memutar kunci motornya, hingga kini deru mesin motor mulai terdengar.
" gak apa-apa ujan, asal datangnya jangan bawa temen sama keroyokan " kata Lani lagi, lalu melajukan motornya dan mulai meninggalkan area caffe tempat ia dan pelatihnya bertemu.
Lani menghentikan laju motornya, ia akan melaju ke arah kanan. Berhubung Lani sedang berada di jalur kiri, maka Lani harus menyebrang.
Lani menunggu sejenak, agar jalan raya sedikit lengang dan memudahkan ia untuk menyebrang. Sembari menunggu, Lani melirik kanan kiri. Ketika ia menoleh ke kiri, Lani terdiam. Matanya seketika menyipit, ia mencoba memperjelas pandangannya.
"Jiasa " kata Lani.
Ya, Lani melihat Jiasa yang sepertinya hendak menyebrang jalan.
__ADS_1
Mengurungkan niat untuk menyebrang dan kemudian melaju di jalur kanan. Lani malah melajukan motornya guna menghampiri Jiasa.
Tiiiiiiiiinnnnnnnnn
dengan sengaja Lani mengbunyikan klason motornya dengan suara kencang agar Jiasa terkejut.
kejahilan Lani berhasil, Jiasa pun terperanjat, Lani tertawa di buatnya.
Jiasa menoleh dan kembali terkejut kala melihat Lani yang kini tertawa. Sontak Jiasa memberinya tatapan tajam.
" mau kemana lu ? " tanya Lani, yang tak turun dari motornya.
" pulang " jawaban singkat dari Jiasa, ia berpaling dari Lani kemudian mulai melirik kanan kirinya.
" mau gue antar gak ? " Lani menawarkan diri, Jiasa kembali beralih pada Lani.
Ia menatap Lani sejenak, kemudian kembali berpaling. " gak usah, makasih, nanti ngerepotin " tolak Jiasa, berusaha bersikap cuek pada Lani.
Lani terkekeh, sikap Jiasa yang ini berbeda dengan sikap Jiasa yang ia temui di sekolah tadi siang. Yang sekarang terkesan cuek.
" mau ujan, Ji. Gelap banget noh langitnya. Ke ujanan tau rasa lu. "
" naik angkot, jadi gak akan ke ujanan. " kata Jiasa.
" dih, di culik mamangnya entar lu " Lani menakut-nakuti.
seketik Jiasa mendelik tajam.
Lani menghela nafas " buruan naik, gue anterin pulang. Kalau terjadi hal yang buruk sama lu gimana ? Kalau sama gue, gampang nyarinya. kalau sama orang asing gimana, mau nyari ke rawa-rawa lu buat minta tanggung jawab. "
" begitu nyampe langsung pulang dan gak usah mampir. " Jiasa mewanti-wanti.
" astagfirallahh Jiasa, gue udah lupa malah di ingetin. Yang ada malah pengen ngulang. " goda Lani.
" ya udah aku naik angkot aja " ancam Jiasa.
" iya iya. Buruan naik, keburu ujan " kata Lani.
Dengan wajah memberengut, Jiasa pun melangkah lalu duduk di jok belakang.
Tak adanya penolakan, dan sedikit berinteraksi dengan Jiasa membuat hati Lani menghangat. Diam-diam Lani tersenyum.
" buruan ih, tadi katanya keburu ujan. " gerutu Jiasa karena Lani tak kunjung melajukan motornya.
" sabar sayang, ampun dah. Belum jadi istri udah ngomel mulu, gimana kalau udah jadi. Di KDRT gue kayanya. " kata Lani.
Jiasa memutar bola matanya malas. " bukan di KDRT lagi Arlan. Kamu nanti aku rebus dan kamu aku jadiin bakso. "
Lani terdiam, kemudian ia bergidik ngeri. " serem banget sumpah "
" Arlan buruan " Jiasa sedikit berteriak sembari memukul pelan bahu Lani.
__ADS_1
" iya Yang. Iya. " kata Lani lalu melajukan motornya.
Dalam perjalan pulang, hening. Tak ada percakapan konyol seperti yang terjadi ketika mereka bertemu.
Lani melirik sekilas kaca spion motornya. Dari kaca spion itu, dia melihat Jiasa yang terdiam, tak ada senyum di wajah Jiasa, tapi tidak ada pula kemarahan di wajah Jiasa.
Lani kembali tersenyum tipis, moment seperti ini mungkin akan sulit ia lupakan.
Tak lama, Lani merasa sesuatu yang basah jatuh mengenai tangannya.
" tuh kan Arlan. Ujannya turun " rengek Jiasa yang duduk di belakang Lani.
" lah, mana gue tau " sahut Lani.
Lalu tak lama hujan turun dengan begitu deras, seketik tubuh keduanya pun terkena hujan. dan sangat di sayangkan, keduanya tak menemukan tempat berteduh.
sembari mengendari motornya, Lani kembali melihat Jiasa dari kaca spion, Jiasa tampak begitu kedinginan.
Seketik Lani merasa tak tega melihat Jiasa menggigil.
Lani kembali fokus pada jalanan, wajahnya yang terkena air hujan berbinar ketika melihat salah satu ruko.
bergegas Lani menepikan motornya.
" neduh dulu, Ji. " Kata Lani. bersama Jiasa, Ia berteduh di ruko yang tertutup itu.
Jiasa dan Lani berdiri di pinggir ruko, sesekali Jiasa memeluk dirinya sendiri karena rasa dingin begitu menusuk dirinya.
Lani merasa tak tega, tapi ia tidak punya sesuatu untuk membuat tubuh Jiasa hangat.
Jiasa kembali mengusap-usap lengannya, tujuannya agar tubuhnya lebih hangat.
Lani kembali melihat, dan ia semakin tak tega, akhirnya tangan Lani pun bergerak. Ia menarik tangan Jiasa dan kemudian menautkan jari-jarinya di antara jari-jari milik Jiasa.
Jiasa yang terkejut menoleh, ia menatap Lani. Kemudian melirik ke bawah, ia melihat telapak tangannya dan tangan Lani yang saling bertautan. Lalu, Jiasa kembali mendongkak dan menatap Lani yang kini tengah menatap lurus kedepan.
Jiasa pun mengalihkan pandangannya, ia juga tak berusaha melepas genggaman tangan itu. Jiasa mengerti, tujuan Lani menggenggam tangannya adalah untuk membuat Jiasa sidikit hangat.
" Lan, pulang aja yuk. Lagi pula kita udah basah kuyub. " kata Jiasa memberi saran karena hujan tak kunjung reda.
Lani menoleh. " yakin ? " tanya Lani.
Jiasa mengangguk dengan pasti " kayanya ini ujannya bakal lama deh. "
Lani kembali beralih pada rintik rintik hujan yang turun begitu deras.
" ya udah, ayo " kata Lani menyetujui saran Jiasa.
Terpaksa, genggaman tangan itu terlepas. Lani dan Jiasa sama-sama kembali naik ke motor milik Lani.
Tak perduli hujan, Lani kemudian melajukan motornya.
__ADS_1
Baru beberapa detik motor melaju, Lani di buat terkejut dengan tindakan Jiasa yang tidak di duga. Jiasa yang duduk di belakang Lani dengan tidak terduga melingkarkan tangannya di pinggang Lani. Beruntung rasa terkejut itu tak membuat Lani oleng, hingga harus membuat keduanya terjatuh.
Lani tetap bisa mengendalikan diri. Ia membiarkan Jiasa, dalam guyuran hujan yang membasahi wajahnya, Lani tersenyum.