
Tiba-tiba rintik hujan mengguyur, para pengendara menepi untuk berteduh ataupun memakai jas hujan. "Kinan, aku tidak bawa jas hujan. Jadi mau lanjut atau meneduh dahulu?" Tanya Wayan kepadaku.
"Lanjut saja yuk, aku juga sudah sedikit basah." Jawabku.
"Ya sudah ini dipakai jaketnya." Ucap Wayan sambil melepas jaketnya dan memberikannya kepadaku.
"Untuk apa? Kan jaketnya sudah sedikit basah." Tanyaku.
"Seragam kamu tembus pandang Kinan, mau dilihatin orang waktu di jalan?" Aku membulatkan mataku dan langsung memakai jaket milik Wayan.
"Kok tidak bilang dari tadi sih."
"Kan basahnya baru sekarang." Jawab Wayan enteng.
"Kamu lihat apa? Jangan mesum!" Ucapku sinis yang dibalas tawa mengejek oleh Wayan.
Kami pun akhirnya tetap melanjutkan perjalanan walaupun hujan turun, Wayan tiba-tiba menggenggam tanganku lalu menariknya untuk dilingkarkan pada pinggangnya. Tubuhku membeku saat mendapat perlakuan seperti ini, "Aku akan mengebut, jadi berpeganglah yang kencang." Aku pun semakin kencang berpegangan pada bajunya , tidak lucu jika aku terjatuh, lagipula aku tidak bermaksud apapun. Atmosfer semakin mendingin dan hujan tampaknya belum ingin berhenti, tubuhku sudah mulai menggigil kedinginan.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan dengan rintik hujan yang tak kunjung usai, kami pun sampai di rumah. Kami langsung turun dan berteduh di teras, pintu terbuka memperlihatkan simbah yang berkacak pinggang sambil menggelengkan kepalanya. Suara azan magrib memecah keheningan diantara rintik hujan yang tambah deras.
"Cepat masuk dan ganti baju." Ucap simbah sambil menatapku nyalang, lalu tatapannya beralih ke Wayan, "Kamu siapa? Kenapa bersama cucu saya?"
Dengan santainya Wayan berkata, "Saya temannya Kinan mbah, tadi katanya Kinan tidak berani pulang sendiri terus minta tolong saya untuk mengantarkan." Aku langsung menatap sinis Wayan yang berbicara seenaknya.
"Jadi kamu itu temannya Kinan atau tukang ojek? Mau-maunya disuruh mengantar. Ya sudah ayo masuk." Ucap simbah mengajak. Kami pun langsung masuk ke dalam rumah
Aku pun langsung mandi dan berganti baju, Wayan pun sama halnya karena dipaksa oleh simbah agar tidak masuk angin. 'Alhamdulillah, keji-keji seperti itu masih manusiawi.' batinku.
Sekarang kami akan melakukan salat Magrib berjamaah, peci hitam dengan kaos putih polos dan sarung berwarna hitam milik simbah sudah melekat di tubuh Wayan. Kami pun melaksanakan kewajiban dengan simbah sebagai imannya. Setelah itu kami akan makan malam.
"Nak Wayan itu teman sekolahnya Kinan ya?" Tanya ibu disela-sela makan.
"Iya bu." Jawab Wayan.
"Berarti bukan tukang ojek." Aku menatap datar simbah yang bertanya hal tersebut.
"Bukan mbah." Jawab Wayan jengah. Makan malam pun diiringi obrolan-obrolan kecil dari simbah maupun Wayan
Hujan sudah mulai reda walaupun masih terdapat rintik-rintik kecil,"Makasih ya sudah mau mengantarku pulang." Ucapku sambil mengantar Wayan ke depan rumah.
"Sama-sama, ya sudah aku pulang dulu. Assalamualaikum." Ucap Wayan sambil memakai helmnya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Jawabku dan Wayan pun mulai mengendarai motornya, setelah tidak terlihat aku pun masuk ke dalam rumah.
"Anak ibu sudah besar ya." Ucap ibu sambil tersenyum.
"Umur Kinan kan hampir delapan belas tahun, jadi ya sudah besar." Jawabku polos.
"Maksudnya ibu, kamu sudah berani bawa laki-laki ke rumah Kinan." Ucap Mbak Rukmi kesal.
"Oiya, sebentar lagi ada yang mau ulang tahun nih." Lanjut Mbak Rukmi. Aku pun hanya tersenyum sambil menaik-turunkan alis lalu pergi ke kamar.
Yogyakarta, 03 September 2003
Pagi ini badanku terasa sangat lemas, rasanya atmosfer udara pagi ini sangat dingin, bahkan aku tidak berhenti bersin-bersin.
"Kamu di rumah saja, kalau berangkat nanti malah tidak fokus di sekolah." Ucap Mbak Rukmi sambil meletakkan semangkuk bubur dan teh hangat ke atas nakas. Aku pun hanya mengangguk menjawabnya.
"Nanti biar aku buatkan surat izinnya." Lanjut Mbak Rukmi.
Hari mulai siang, aku masih merasa kedinginan, bahkan aku merasa tidak berkeringat sama sekali.
Cklek...
Mbak Rukmi masuk dengan membawakan makan siang dan obat.
"Ada apa? Apa mau aku suapi?" Tanya Mbak Rukmi sambil memegang bahuku. Ku angkat wajahku dan menatapnya lama.
"Apa aku sangat jahat?" Tanyaku pelan.
"Apa maksudmu Kinan?" Mbak Rukmi balik bertanya.
"Kenapa Mbak Rukmi baik sekali sama aku?" Mbak Rukmi terdiam.
Sambil menatapku sendu dia pun berkata, "Anggap saja ini permintaan maafku di masa lalu."
"Aku tahu kau sangat membenciku dan aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku." Lanjutnya.
Aku terdiam, 'Apa aku sudah terlalu lama menyendiri, sehingga hanya tinggal aku yang belum bisa memaafkan Mbak Rukmi?' Tanyaku dalam hati.
"Yasudah cepat dimakan, aku keluar dulu, kalau butuh apa-apa panggil saja ya." Mbak Rukmi pun keluar.
Yogyakarta, 05 September 2003
__ADS_1
Setelah dua hari tidak berangkat sekolah, hari ini aku mulai melakukan aktivitas seperti biasa. Sekarang masih pukul enam kurang sepuluh menit, ku langkahkan kakiku memasuki ruang kelas. Seperti waktu itu, hanya terdapat Wayan yang sudah duduk anteng ditempatnya. Ku dudukkan tubuhku lalu mengeluarkan peralatan sekolah.
"Ini catatan selama kau tidak masuk." Ucap Wayan sambil meletakkan buku di atas meja.
"Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot, tapi karena sudah dicatatkan terimakasih ya." Ucapku sambil tertawa kecil.
Tanpa kusadari, tangan Wayan terulur menyentuh dahi ku, "Sudah sembuh? Aku kira Tuhan akan mengambil mu." Ucapnya sambil mengejek.
"Hei jaga ucapan mu, mana mungkin aku akan mati hanya karena kehujanan!" Jawabku dengan nada tinggi.
"Jadi kamu sakit karena kehujanan? Aku minta maaf." Ucapnya pelan.
"Tidak masalah, lagi pula aku sudah baik-baik saja." Jawabku sambil tersenyum.
***
Sepulang sekolah Wayan menggadeng ku keluar dan sekarang kami berada di depan rumah kosong yang waktu itu aku tidak boleh masuk ke dalam. Wayan membuka pagar tersebut pelan.
"Tunggu di sini dan jangan kemana-mana." Ucap Wayan sebelum memasuki halaman rumah tersebut.
"Memangnya kamu mau ke mana?" Tanyaku bingung.
"Diam dan tunggu saja Kinan." Ucap Wayan memperingati, jika sudah seperti aku harus menurutinya atau dia akan marah-marah. Aku pun hanya berdiri di depan pagar sambil menendang kerikil-kerikil kecil.
Setelah kurang lebih lima menit menunggu, alangkah terkejutnya aku melihat Wayan yang keluar dari halaman sambil mendorong motor yang kemarin digunakan untuk mengantarku.
"Kenapa motornya bisa di sini?" Tanyaku heran.
"Tadi pagi ku parkirkan di belakang rumah." Jawabnya sambil tersenyum.
Wayan pun menyalakan motornya, "Kamu tidak mau naik?" Tanyanya.
"Memangnya kita mau ke mana?" Tanyaku.
"Berkeliling, anggap saja sebagai permintaan maafku." Aku pun langsung naik ke atas motor.
"Kenapa kamu menaruhnya di belakang rumah tadi?" Tanyaku di perjalanan.
"Karena tidak mungkin jika ku bawa ke sekolah."
"Memangnya sejak kapan kamu berangkat naik motor?" Tanyaku lagi.
__ADS_1
"Sejak kamu tidak berangkat, waktu itu aku ingin mengajak mu berkeliling tapi kamu malah sakit."