
Tempat parkir sekolah, mereka sudah tiba disana.
semua siswa yang membawa kendaraan pribadi melangkah mendekati kendaraan mereka, dan kemudian melesat pulang.
Berbeda dengan Tedia, Lani, Zaki, dan Yoga. mereka memilih berdiri menemani Tedia menunggu Pak Adul yang katanya akan menunggunya.
" gue anter aja ya, " Lani menawarkan diri.
Tedia menoleh, kemudian menatap Lani dengan alisnya yang naik. Detik berikutnya Tedia tersenyum miring. " ogah, entar ditilang "
" KAMPRETT " teriak Lani mengumpat
Zaki yang berdiri disamping Lani harus memejamkan mata dan menghela nafas kasar. Pasalnya, teriakan Lani menerpa telinganya, sehingga telinga Zaki terasa begitu pengang karena teriakan Lani.
" ampun dah itu mulut, gue rukiyah juga lu." gerutu Zaki, sembari menggosok-gosok telinga sebelah kirinya.
" Tedia nih .. " tunjuk Lani, bak anak kecil menyalahkan kawannya yang menyebalkan kepada orangtuanya.
" lah kok gue " Tedia tak terima bersuara.
Yoga mendesah pelan, jika tidak dilerai akan berlangsung panjang. " udah diem " sentak Yoga, seketika semua menutup rapat mulutnya.
Seperti itu lah mereka, jika Yoga sudah beraksi, maka mereka akan seperti anak kecil yang patuh pada ayahnya, meski kadang kewarasannya hilang, tapi di saat kondisi pelik, Yoga selalu menjadi sosok dewasa untuk jadi penengah.
" kalian kalau mau pulang, pulang aja. Gue gak apa-apa kok nunggu Pak Adul sendiri " kata Tedia tak enak kepada ketiga temannya, jika karena dirinya mereka harus terlambat pulang kerumah.
" gak apa-apa, Di. " kata Yoga. Zaki dan Lani mengangguk mengiyakan ucapan Yoga.
Tedia menghela nafas, jika sudah begini mereka tidak bisa dibantah.
setelah menunggu cukup lama, mobil yang mereka ketahui milik Tedia berhenti di depan gerbang.
mereka memperhatikan mobil itu, hingga ketika kaca mobil di turunkan, sosok Pak Adul akhirnya terlihat.
" lah, bawa mobil gue .. " kata Tedia.
" kaga mau tekor kayanya si Mama, jadi biar irit bensin pake mobil elu " Zaki bersuara, kali ini Yoga dan Lani yang mengangguk setuju.
Tedia terkekeh dan menggelengkan kepala mendengarnya, kedua tangan yang bertengger di pinggang. " bisa aja lu " katanya tak menghentikan kekehannya.
__ADS_1
" udah sana balik lu, kasian Pak adul dari tadi nunggu " Yoga mengusir Tedia.
kepala Tedia bergerak, menoleh kearah Yoga, dan menatap dengan tatapan datar.
" kaga kebalik, gue yang dari tadi nungguin "
Yoga berdecak. " ck ! Elu masih muda jadi gak masalah nunggu lama, itu Pak Adul udah tua kasian dia buruan, entar encok ribet lu "
Tedia mendengus, sedangkan Zaki dan Lani tengah menahan tawa akan ocehan tak guna yang Yoga keluarkan.
" gue balik, " pamit Tedia begitu ketus, namun tak masalah bagi ketiga temannya. Hal seperti ini sudah sering terjadi. Jadi tidak pernah ada kata baper dalam candaan mereka.
" yoo " kata ketiganya, menanggapi Tedia yang kini sudah melangkah menjauh mendekati mobilnya yang berhenti di depan gerbang.
Setelah tiba di dekat mobilnya, Tedia bergegas masuk, ia duduk di depan di kursi penumpang. Kemudian setelah itu mobil Tedia yang di kendarai Pak Adul melaju meninggalkan area sekolah.
Lani, Zaki dan Yoga memperhatikan Tedia sampai Tedia tak terlihat.
kini ketiganya hanya menatap kosong ke pintu gerbang.
" enak ya, kalau udah legal. Bebas bawa kendaraan sendiri. " celetuk Lani.
Zaki menoleh ke kiri, Yoga menoleh ke kanan. Keduanya menatap Lani. Hanya beberapa detik, setelah itu Zaki dan Yoga saling tatap.
Reflek Lani menoleh ke arahnya. " kok insyaallah. " Lani protes tak terima.
Yoga memutar bola matanya malas. " iya lah insyaallah lu pikir yang punya kehidupan Om Malik yang bisa kita mintain ini dan itu " gemas Yoga ingin menjambak rambut Lani.
Lani terdiam, dia berpikir dan tak lama setelah itu Lani tersenyum lebar. Yoga sampai mencibir, benar-benar ingin menjambak rambut Lani.
" hehehe .. " tawa bodoh Lani membuat Yoga mendengus kesal.
" bener kan kata gue, Lani mah kudu dirukiyah. " kata Zaki, Yoga mengangguk mengiyakan. bayangkan, Lani selalu menyebalkan di setiap kondisi apapun, marah, manja, konyol, kekanakan, pokoknya menyebalkan. Beruntung mereka menyayangi Lani layaknya adik, jadi jika Lani sedang menyebalkan pun mereka kadang bisa mengatasi dengan cara mengabaikan.
setelah menemani Tedia menunggu Pak Adul, ketiga siswa ini bersiap pulang. Tak sengaja mata Lani melihat Jiasa, Lani mengurungkan niatnya yang hendak berjalan menuju mobilnya, ia malah beralih melangkah mendekati Jiasa.
" Ji. Dari mana dulu ? Aku kira udah pulang ? " tanya Lani.
Ya, setelah mengganggu Jennie dan yang lainnya. Mereka melangkah bersama menuju tempat parkir, hanya saja mereka terpisah begitu saja dengan para gadis itu. sampai Lani pun tidak sadar jikalau Jiasa sudah tidak bersama mereka.
__ADS_1
" tadi, aku ke kamar mandi dulu " sahut Jiasa.
lama menunggu Fadil, Jiasa mendadak ingin buang air kecil, sebab itulah yang membuat Jiasa harus kembali ke area gedung sekolah.
Lani mengangguk paham. " tapi gak ketemu si Bara kan.? " Lani khawatir siswa kelas 12 bernama Bara itu mengganggu Jiasa lagi, apalagi Jiasa tengah dalam keadaan seorang diri.
" enggak kok, mungkin dia udah pulang. "
Lani kembali mengangguk-anggukkan kepala.
Di lain sisi, Yoga dan Zaki yang sudah nangkring di atas motornya menatap kearah Jiasa dan Lani dengan tatapan yang sulit diartikan.
" cinta mati kayanya tuh bocil sama Jiasa. " celetuk Zaki.
Yoga terkekeh. " cinta pertama cug, makanya ngejar banget " kata Yoga ingat jika Jiasa adalah wanita yang pertama kali dikejar oleh Lani.
Zaki memasang wajah datar, alisnya naik. " lah, Tedia juga sama, Jiasa cinta pertama kali " seru Zaki mengungkap kembali satu fakta yang ada diantara mereka.
Yoga terdiam, cukup lama, hingga akhirnya kekehan kembali ia keluarkan.
" cinta pertama dengan orang yang sama, ribet ya " celetuk Yoga, kemudian menghela nafas pelan.
Cukup lama berbicang seraya menemani Jiasa. Akhirnya mobil yang sangat Jiasa kenali berhenti di depan gerbang.
Jiasa menatap dengan berbinar, kemudian ia menoleh menatap Lani. " Papa udah datang tuh, aku duluan ya " pamit Jiasa.
Lani tersenyum. " ayo aku anter sama mobil "
Jiasa tak menolak, ia hanya tersenyum, kemudian keduanya melangkah mendekati Fadil yang sudah keluar dari mobilnya.
" siang, Om. " Lani menyapa tatkala dirinya sudah berada di dekat Fadil. Kejadian yang sama seperti saat Lani mengantar Jiasa pulang, hanya bedanya ini di area sekolah.
Fadil tersenyum. " siang juga, kamu belum pulang ? " Fadil balik bertanya.
" belum, Om. tapi ini mau pulang kok. "
Fadil mengangguk, Jiasa sendiri tersenyum melihat bagaimana interaksi Lani dan Ayahnya, benar-benar sudah tidak ada lagi rasa canggung. Mungkin karena dulu keduanya sering bertemu jadi rasa canggung itu sudah sirna.
Berbeda dengan Jiasa yang tidak terkejut dan malah tersenyum. Ekspresi Yoga dan Zaki malah sebaliknya, keduanya menatap kearah Jiasa, Lani, dan Fadil dengan mata melebar dan mulut menganga.
__ADS_1
" anjiiir selangkah lebih maju, deket sama bokapnya Jiasa. " kata Zaki tak percaya.
..