
" Ibu .. Ibu .. "
Teriak Tedia memanggil Raya ibu dari sahabatnya itu.
" Iya, kenapa, Di. ..? " tanya Raya.
Tedia yang baru saja menapakan kakinya di lantai satu rumah Lani melangkah menghampiri Raya yang saat ini tengah di sibukan dengan bunga-bunga mawar yang akan Raya jadikan sebagai hiasa di dalam rumahnya.
" Dia pulang dulu ya, bu. .. " pamit Tedia karena waktu sudah hampir magrib dan ia harus segera pulang kerumahnya.
" gak nginep, udah mau magrib lho, nanti aja pulangnya abis magrib, sekalian makan dulu " kalimat yang Raya ucapkan sudah sering di dengar Tedia, dengan senyum Tedia menggeleng pelan. Ia menolak dengan baik tawaran dari Raya.
" papa pulang bu, jadi tuh bocah gak bisa berkutik .. " celetuk Lani
Tedia mendesis, selalu saja Lani mengejeknya jika Malik libur dan pulang ke Jakarta.
" oh pantes .. " ujar Raya dengan kekehan, Raya sudah tau bagaimana sikap Tedia jika Malik tidak berada di rumah.
Pernah sekali Raya harus berbohong demi melindungi Tedia dari amukan sang ayah. Kala itu seperti biasa Tedia pergi dan hingga larut malam tidak memampakan batang hidungnya. Tedia yang takut di amuk oleh Malik akhirnya memutuskan untuk pulang kerumah Lani, dan di saat itu lah Raya di minta tolong oleh Tedia agar mengatakan kepada Malik jika dia pergi kerumah Lani.
" makanya, Di. kurang-kurangin yang gak penting, jauhin yang buruk dan deketin yang baik .. " Raya mulai memberi Tedia nasehat, sama seperti keluarga Tedia yang tidak sungkan untuk menasehati Lani, maka Raya pun tidak sungkan untuk menasehati Tedia.
" namanya juga anak muda, Bu... " sahut Tedia, Raya menggeleng pelan ia sudah biasa dan tidak merasa aneh dengan jawaban Tedia.
" ya udah hati-hati di jalan, inget ya, awas aja kalau nanti ibu denger berita yang bikin ibu kecewa tentang kamu, ibu gak akan segan segan hasut mama sama papa kamu supaya kamu di kirim ke pesantren .. "
" iya ibu iya, .. Gemes jadinya, di cariin suami baru juga nih .." Celetuk Tedia membuatnya mendapat toyoran di kepala oleh Lani.
" heh, mau gue sunat dua kali lu .. "
Tedia mengeluarkan cengiran bodohnya " ampun Lan, udah ah .. Dia pulang bu, assalamualaikum .. " kata Tedia kemudian melangkah keluar dari dalam rumah Lani.
" walaikum salam .. " Lani dan Raya menjawab salam yang Tedia ucapkan secara bersamaan.
Setelah Tedia tak terlihat Raya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Melihat bagaimana ekpresi sang ibu, Lani terkekeh pelan
" tuh bocah pea bu, bisa-bisanya ya aku temenan lama sama tuh orang, tapi kalian tuh tenang aja, senakal-nakalnya Tedia, aku tau kalau dia gak bakal ngelakuin hal yang di luar kendali, dia kaya gitu karena butuh hiburan aja .. Aku tau gimana Tedia kok "
" amiin, doa anak yatim selalu di denger Allah, doain dia yang baik-baik ya Lan .. "
Lani tersenyum dan mengangguk mendengar penuturan dari ibunya. Ia tahu ibunya itu sangat menyayangi Tedia seperti ia menyayangi Lani.
__ADS_1
..
" widih baru keliatan , dari mana aja lu .. ? " tanya oscar menyambut kedatangan Tedia yang sudah berhari-hari tidak ia lihat.
Selaian bergaul dengan Lani, Zaki, dan Yoga. Tedia juga sering bergaul dengan remaja lain yang lebih senang menyalurkan hobbynya lewat kendaraan beroda dua.
Sayangnya mereka menyalurkan hobbynya itu bukan di jalur yang baik, melainkan di jalur yang cukup berbahaya yakni balapan liar.
Jika suntuk Tedia akan memilih mengunjungi tempat ini, bahkan tak segan Tedia ikut balapan.
" baru dua hari gue gak kesini .. " sahut Tedia.
" dua hari kemaren kemana emang, di panggil timnas lu .. ? " tanya sadam yang asik menghisap rokok di tangannya.
" mana ada gue di panggil timnas .. " sahut Tedia lagi.
Hening untuk beberapa saat, Tedia duduk di samping dani pria berjaket warna hitam yang tengah asik bermain dengan game di ponselnya.
" rokok, Di. .. " kata oscar sembari melempar pelan sebungkus rokok ke arah Tedia.
Tedia tersenyum tipis. meski ia bergaul dengan temannya saat ini, ia tidak mau merusak paru-parunya yang bersih dengan benda seperti itu. Terlebih dia merupakan pemain sepak bola. " enggak makasih .. "
" oh iya gue lupa, nanti lu gak dipanggil timnas kalau ketahuan ngerokok .. " kata oscar kembali mengambil rokok yang tergeletak di hadapan Tedia.
Kembali hening, Tedia kini memilih bermain dengan ponselnya. Dahi Tedia tiba-tiba menyerngit ketika Lani menghubunginya, bergegas Tedia menerima panggilan telephone tersebut.
" apaan ? " tanya Tedia enggan berbasa-basi kepada sahabatnya itu.
[ " heh Malik balik kaga lu .. "] suara Lani terdengar di telinga Tedia.
" Malik mah bapak gue .. " kata Tedia mengingatkan Lani siapa sebenarnya sosok yang baru saja di sebut Lani.
[" bodo amat, buruan balik, bapak lu lagi uring-uringan noh di rumah, tadi papa nelephone gue, papa nanyain lu, gue jawab lu udah balik dari tadi, tapi kata papa belum nyampe, buruan balik, mampus lu di omelin papa, besok motor lu pasti di sita dan sukurin gak bisa balapan .. "] Lani sudah tahu hobby lain dari sosok sahabatnya itu, tapi jika itu balapan liar, jelas Lani pun tak setuju karena hal itu sesuatu yang sangat membahayakan.
Tedia mendecakan lidah, hal itu mengundang perhatian dari orang-orang yang berada di sekitar Tedia " iya iya gue balik, berisik banget lu kaya emak-emak belum di kasih duit belanja sama lakinya .. "
Lantas Tedia segera mengakhiri sambungan telephonenya, helaan nafas kasar dihembuskan Tedia, kemudian ia mengalihkan atensi kesekitarnya. Tedia menatap satu persatu orang-orang yang kini tengah menatapnya juga dengan tatapan penuh tanya.
" gue balik ya, nyokap dirumah sendiri .. "
" ok .. Hati-hati lu, jangan ngebut, kalau mau kebut-kebutan di sini aja .. " kata Rendi yang menjabat sebagai ketua genk.
__ADS_1
Tedia mengangguk kemudian melangkah menuju motor yang ia parkir tidak jauh dari tempat ia duduk.
Menghidupkan mesin motor, membunyikan klason sebagai ucapan pamit. Tedia pun melesat pergi meninggalkan tempat yang selalu ia jadikan arena balap liar bersama teman nongkrongnya.
..
Tidak disangka jalanan cukup ramai, padahal hari ini bukan hari libur. Tedia mengedari motornya tidak terlalu kencang. Ia mengikuti alur jalanan yang cukup padat merayap.
Tiba-tiba mata Tedia menangkap sosok gadis yang tak asing baginya " kaya Jiasa " kata Tedia berbicara pada dirinya sendiri.
Gadis itu terlihat dari samping, Tedia menyipitkan matanya guna memperjelas penglihatannya, dan secara tak sengaja sosok yang tengah Tedia pandangan menggerakkan tubuhnya hingga Tedia benar-benar bisa memastikan jika gadis itu adalah Jiasa.
Bergegas Tedia menghampir Jiasa yang saat ini berada di salah satu pedangan camilan.
" Jia .. " panggil Tedia, yang di panggil bergegas menoleh dan kini ia melihat sosok Tedia yang tengeh bertengger di atas motornya.
" Tedia .. " kata Jiasa memastikan jika ia tidak salah
" iya ini gue .. Ngapain lu ..? " tanya Tedia sekedar berbasa-basi.
" aku .. Oh biasa jajan .. "
Tedia mengangguk-anggukkan kepalanya, tak lama Jiasa selesai dengan makanan yang ia beli kemudian Jiasa bergegas untuk pulang.
" mau kemana ? " tanya Tedia
" pulang .. " sahut Jiasa
" buruan naik, gue anterin .. " kata Tedia menawarkan tumpangan.
Jiasa tersenyum " gak usah, rumah aku gak jauh dari sini kok, tuh di perumahan sana .. " kata Jiasa menunjuk gapura dimana komplek perumahannya terletak.
" jalanan perumahan kalau jam segini sepi, entar lu di culik buaya, ayo naik gue anterin .. Gue jamin lu aman sampe rumah " Tedia bersikeras untuk memberi Jiasa tumpangan
Jiasa terdiam sejenak, yang Tedia katakan itu benar, jalan di perumahannya sangat sepi, apa lagi jika malam semakin larut, paling hanya ada satu atau dua kendaraan yang lewat. Menerima tawaran Tedia, akhirnya Jiasa pun mendekati Tedia, ia pun naik ke atas motor Tedia.
Sontak Tedia tersenyum tipis, ada gelenyir aneh dalam dirinya ketika Jiasa naik kemotornya dan menjadikan bahu Tedia sebagai tumpuan untuk Jiasa berpegangan.
Sudah berada di atas motor Tedia dan duduk di belakang Tedia, Jiasa diam membisu. Jujur dadanya berdebar tidak karuan, sebenarnya Jiasa merasa sangat senang ketika Tedia menawarkan tumpangan kepadanya, hanya saja ia harus bersikap jaim agar tidak di cap sebagai wanita gampangan. Jiasa hanya berharap Tedia tidak mendengar deberan jantunganya saat ini.
" lu tunjukin jalannya ya, Ji.. " kata Tedia dan kemudian melajukan motornya menuju rumah Jiasa.
__ADS_1
Dibelakang Tedia, Jiasa tengah berusaha menenangkan dirinya, ia masih tidak percaya jika saat ini ia berada dalam satu kendaraan bersama dengan pria yang diam-diam ia kagumi.