LABIRIN

LABIRIN
107


__ADS_3

" pokoknya, ini semua gara-gara elu " tunjuk Jennie pada Tedia dengan mata menatap nyalang pada Tedia.


Tedia menghela napas " iya gue yang salah, besok bawa penghapus yang gede biar gue gak salah terus. "


" gak jelas, " cibir Rosa lalu memberi Tedia dengusan.


Tedia memberengut, ia merasa terpojokan. Seolah mencari bantuan, Tedia menoleh ke arah Yoga yang tengah berdiri sembari bersedekap.


Yoga menatap datar Tedia, Tedia membuang pandangan lalu menghela napas. Kemudian Tedia beralih pada Zaki, sama seperti Yoga, Zaki menatap datar Tedia.


Lagi, Tedia harus membuang pandangan dan menghela napas.


Saat ini Tedia seperti seorang tersangka yang di tuntut mengakui keselahannya.


" udah ah, gue mau pindah tempat. gak betah duduk sama elu " kata Irene. bergerak, lalu meraih tasnya yang berada di kursi belakang tempat Tedia duduk saat ini.


" gue juga ah " Rosa mengikuti.


Dengan membawa tasnya, Irene melangkah menuju meja awal miliknya.


Tiba di meja awal, Irene menaruh tas nya di atas meja, kemudian ia meraih tas milik Lani.


" Heh, tas gue mau di apain ? "


Irene terkejut, ia menoleh ke ambang pintu tempat suara itu berasal.


Kemudian Irene tersenyum ketika melihat Lani yang berdiri di ambang pintu.


" eh yang punya tas datang, kirain masih ngambek .. " Irene berkata sembari memberi Lani senyuman merekah, tak lupa kedua tangannya di tautkan lalu kedua matanya di kedip-kedipkan.


Lani yang tengah berjalan, memutar bola matanya malas.


Ia mendekati Irene, lalu duduk di meja milik Irene dan Jiasa.


" tas gue mau di apain, Rene.? " tanya Lani.


" mau gue pindahin lah, gue gak mau duduk sama si Malik .. " sahut Irene sembari menekuk wajahnya.


Lani kemudian beralih menatap Tedia, kebetulan Tedia pun menatapnya. keduanya saling tatap untuk beberapa detik, tapi tak lama Tedia membuang pandangannya.


Lani pun tersenyum tipis.


Suara derap langkah mulai terdengar, semua menoleh ke sumber suara.


Ternyata ada Jiasa yang baru saja datang dan memasuki kelas.


Tatapan mata tertuju padanya, Jiasa mengabaikan dan terus melangkah menuju kursinya.


" Jia .. Gue duduk di sini lagi " kata Irene ketika Jiasa sudah duduk di kursinya.

__ADS_1


Jiasa menganggukan kepala sebagai jawaban.


Lani yang melihat menghela nafas pelan. Jujur, ia tidak suka ketika Jiasa menyetujui keinginan Irene.


Irene bersorak. lantas ia segera menaruh tas nya di kursi, sementara tas milik Lani ia kembali pada pemiliknya.


Lani mendengus. " taro lagi, Rene. Ketempatnya. "


Masa bodo, Irene mengabaik perintah Lani dan memilih duduk di kursi miliknya yang beberapa jam lalu diduduki Lani.


Lani mendengus, kemudian ia melempar tas nya ke meja miliknya.


BRAAAKK, tentu saja suara lemparan tas itu terdengar jelas.


Zaki sampai terjengkit kaget karena ulah Lani yang tidak mereka duga.


" ANJIIING .. KAGET GUE " kata Zaki tangannya mengusap-usap dadanya.


Lani tersenyum sinis, kemudian ia beralih kepada Yoga yang tengah berdiri sembari menyandarkan tubuhnya di tembok belakang kelas.


Yoga menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan Lani yang kembali muncul.


Melihat bagaimana ekspresi Yoga, nyali Lani sedikit menciut. Lani membuang pandangannya. Kini ia hanya diam dengan pandangan yang entah tertuju kemana.


" Lan, tangan lu kenapa ? " tanya Zaki melihat pergelangan tangan Lani yang terluka.


kepala Lani reflek bergerak, melihat lengannya yang menjadi objek pertanyaan Zaki. " digigit mak lampir " jawab Lani singkat.


" mak lampir yang mana lagi, kan mak lampirnya dari tadi sama kita. Iya kan, Ros ? " Zaki kembali bersuara. Bahkan ia mengejek Rosa sebagai mak Lampir yang sebenarnya.


Buggg ..


Sudah jelas itu suara pukulan keras yang dilakukan Rosa pada Zaki.


Sontak Semua tertawa, dan si korban kini tengah mengusap-usap lengannya karena mendapat hantaman kerasa dari pelaku bernama Rosa.


Larut dalam tawa yang diciptakan Zaki dan Rosa, diam-diam Lani menggerakan kepalanya, menoleh kepada Jiasa.


setelah berhasil melihat Jiasa, Lani buru-buru memalingkan wajahnya dengan ekspresi terkejut dan takut.


Kenapa demikian ? Karena Lani tak sengaja melihat Jiasa yang ternyata menatapnya dengan tatapan tajam.


tawa menggelegar seketika sirna ketika suara ponsel Lani berdering.


Ponsel pintar yang Lani simpan di saku celananya segera ia keluarkan.


Tak bergegas menerima panggilan telephone itu, Lani menatap layar ponselnya dan sudah dipastikan jika Lani ingin tahu siapa yang sudah menghubunginya.


Bukan hanya Lani yang ingin tahu siapa orang yang saat ini tengah menghubunginya.

__ADS_1


yang lain pun memperhatikan Lani dengan tatapan penuh tanya.


" siapa, Lan.? " tanya Tedia. Benar-benar ingin tahu.


Lani menatap Tedia. Tapi, Lani tak menjawab. Justru Lani beranjak dari meja yang ia duduki, kemudian Lani melangkah pergi sembari menerima panggilan telephone itu.


" Hallo " sapa Lani yang kemudian berlalu keluar kelas.


Semua menatap Lani dengan tatapan sulit diartikan. detik berikutnya sebuah helaan napas terdengar.


Semua pun menoleh kearah seseorang yang baru saja menghela napas itu.


" dajjalnya datang lagi kayanya, di tanya malah kaga jawab tuh bocah. " celetuk Zaki yang menyadari tatapan teman-temannya.


Tak lama helaan napas kembali terdengar, kali ini helaan napas itu datang dari Yoga. sontak semuanya menoleh menatap Yoga.


Tangan Yoga yang tengah bersedekap di turunkan. Kemudian Yoga menatap mereka satu persatu lalu terakhir Yoga menatap Zaki.


" gak usah ngomong aneh-aneh deh, manusia butuh yang namanya privasi " kata Yoga menasehati Zaki agar berpikir jika berucap.


Zaki berdecak. " iya deh, iya " katanya sedikit tak suka karena Yoga terlihat jelas membela Lani.


Kriiiiiinggg ..


Tanda pelajaran berikutnya akan segera di mulai, berbunyi.


Para siswa yang berada di kelas mulai melangkah dan kemudian duduk kembali di tempatnya.


Tempat awal sebelum mereka diberi perintah untuk pindah oleh Pak Agus.


Tak lama, Lani masuk. ia melangkah menuju kursinya. Kursinya yang ada disamping kursi milik Tedia.


Lani duduk, tatapan Zaki dan Tedia, tertuju kepadanya.


" siapa ? " tanya Tedia dengan ekspresi wajah yang ia buat seperti tengah merajuk.


Lani terkekeh melihat bagaimana ekspresi Tedia.


" santai aja kali. Lu udah kaya emak-emak yang lagi nanya sama suaminya. "


Tedia menganga dengan mata yang terbuka lebar.


" Arlan kok gitu, kamu kan emang suami aku. " kata Tedia, nyeleneh dengan ekspresi wajah terlihat manja.


Yoga dan Zaki menatap dengan rasa jijik. Begitupun dengan para siswi yang tak lain adalah Jiasa, Jennie, Irene, dan Rosa.


Bahkan Jennie sampai berekspresi ingin muntah.


Lalu bagaimana dengan Lani, Lani langsung memberi Tedia tatapan tajam.

__ADS_1


" Najissss " kata Lani, merasa geli dengan kalimat yang di lontarkan Tedia.


Tedia tertawa, Zaki dan Yoga menggelengkan kepalanya.


__ADS_2