
Dalam keadaan basah kuyub karena hujan, Lani menghentikan laju motornya di depan pagar yang cukup tinggi itu.
seketika Jiasa yanga duduk di belakang Lani bertanya-tanya.
" Lan, kok berhenti di rumah ini ? " tanya Jiasa yang memang tidak tahu rumah itu milik siapa.
" Rumah lu masih jauh, Ji. Lu neduh dulu aja di rumah gue " sahut Lani, sedikit menoleh kebelakang guna melihat Jiasa.
Jiasa terkejut, kemudian ia beralih menatap rumah yang pagarnya masih tertutup itu.
Tin
Tin
Tin
Lani membuat kegaduhan dengan cara menbunyikan klason motornya. Tujuan Lani agar ada yang membukakan pagar itu untuknya.
Tak langsung ada yang membuka, Lani kembali membuat klason motornya berbunyi.
Akhirnya pintu pagar itu bergerak, sedikit demi sedikit pagar yang tertutup itu terbuka lebar.
Dari balik pagar, muncul Pak Asep yang baru saja membukakan pagar untuk Lani dengan menggunakan payung.
Melihat Lani pulang dengan seorang wanita, Pak Asep terkejut. Ia bahkan sampai mengerejapkan matanya guna memastikan jika ia tidak salah liat.
Mengabaikan Pak Asep, Lani kembali melajukan motornya untuk masuk ka halaman rumahnya.
pak asep masih berdiri di tempat dan memperhatikan Lani yang kini sudah menghentikan motornya di depan teras.
Bersama Jiasa, Lani melangkah dan berdiri di teras rumah Lani.
Lani mengusap wajahnya yang basah, kini ia bisa melihat jelas Jiasa yang terlihat kedinginan.
Rasa terkejut Jiasa memang belum sepenuhnya hilang. tapi karena kedinginan, Jiasa mengabaikan dan menyampingkan dulu rasa terkejut itu.
Keduanya masih berdiri di teras, tak lama Pak Asep menghampiri.
" Den Arlan dari mana terus ini siapa ? " tanya Pak Asep. Jelas ia penasaran, pasalnya masalah kemarin saja belum selesai tapi anak majikannya ini sudah pulang dengan membawa anak gadis dan dalam keadaan basah kuyub.
" Ibu udah pulang, Pak.? " bukan menjawab Lani malah bertanya perihal Ibunya.
" udah " sahut Pak Asep.
mengabaikan Pak Asep, Lani kini beralih pada Jiasa.
" ayo Ji, masuk. " kata Lani, menggenggam pergelangan tangan Jiasa dan kemudian membawa Jiasa masuk ke dalam rumahnya.
Pak Asep kembali memperhatikan dengan penuh pertanyaan akan sosok gadis yang Lani bawa ke rumahnya.
Karena ingin segera mendapat jawaban, akhirnya Pak Asep pun memilih melangkah masuk ke dalam rumah milik Lani itu.
__ADS_1
" Bu, Ibu. " teriak Lani memanggil Raya ketika ia dan Jiasa sudah berada di dalam rumah.
Di belakang Lani dan Jiasa, ada Pak Asep.
Bukan sahutan dari Ibunya yang di dapatkan Lani, tapi sebuah omelan dari Robi. " berisik lu, teriak-teriak udah kaya di hutan. Masih inget pulang lu, hah. "
" Jiasa " kaget Robi saat melihat Jiasa berdiri di samping Lani.
Sama seperti Robi, Jiasa pun terkejut karena ia melihat teman sekelasnya berada di rumah yang kini ia tahu milik Lani.
Berbeda dengan Jiasa, Lani justru memutar bola matanya malas.
Lalu Pak Asep kembali di buat bertanya-tanya karena ternyata putranya mengenal gadis yang datang bersama Lani.
" kamu baru pulang Lan .... "
Itu suara Raya. Dan tak lama suara Raya kembali terdengar.
" Jiasa " sama seperti Robi, Raya pun terkejut.
Jiasa tersenyum kikuk melihat betapa terkejutnya Raya ketika melihat dirinya.
Dalam keterkejutannya, Raya kini menatap Lani. Dari tatapannya, Raya meminta penjelasan pada Lani.
Lani yang peka, menghela nafas. " Bu, bantuin Jiasa buat ganti basah bisa kan.? " kata Lani.
Seketika Raya beralih pada Jiasa. melihat bagaimana Jiasa, Raya langsung melupakan rasa penasarannya, kemudian ia mendekati Jiasa dan mengajak Jiasa untuk mengganti bajunya yang basah.
" ayo ikut Ibu " katanya, kemudian menuntun Jiasa agar ikut bersamanya.
Robi menghampiri Lani. " kok bisa lu bawa Jiasa ke sini. Dari mana lu ? "
Lani tak langsung menjawab, ia malah mengeluarkan sesuatu dari saku hoddynya, yaitu ponsel dan juga dompet serta kunci motor miliknya.
Kemudian Lani memberikan tiga benda itu pada Robi. " dingin cuyy, entaran aja ceritanya kalau ujan udah reda " kata Lani, kemudian berlalu pergi menaiki anak tangga untuk pergi ke ruang pribadinya.
" sialan "umpat Robi, kemudian mendengus.
belum hilang rasa kesalnya pada Lani, Robi di buat terkejut ketika seseorang menepuk bahunya.
Robi berbalik dan siap mengumpat, tapi ia urungkan ketika melihat Pak Asep. Kini Robi malah tersenyum bodoh.
" eh Bapak, aku kira siapa "
Pak Asep menatap datar. Kemudian ia menggeleng menanggapi tingkah bodoh putranya itu.
" perempuan tadi siapa, Bi. ? " tanya Pak Asep.
Ekspresi Robi langsung berubah, kemudian Robi menghela nafas. " dia Jiasa, cewek yang udah bikin Arlan jadi gila. " katanya kemudian dengan durjanannya meninggalkan Pak Asep.
Pak Asep paham, ia kembali terkejut. Tak lama raut wajah terkejut Pak Asep hilang. Ia menggelengkan kepala, dan kemudian melangkah pergi.
__ADS_1
Dengan keadaan baju yang basah, Jiasa masuk ke dalam kamar Raya.
Sebagai seorang perempuan yang sudah menolak anak laki-laki Raya, tentu saja Jiasa merasa tak enak kala bertemu pandang dengan Raya. Apalagi sekarang, ia harus di hadapkan dalam satu ruangan bersama Raya.
" Kamu masuk ke kamar mandi aja sana, nanti Ibu siapin baju buat kamu " kata Raya.
Jiasa mengangguk pelan. kemudian dengan canggung, Jiasa melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Raya.
Setelah Jiasa masuk ke dalam kamar mandi, Raya melangkah menuju lemari bajunya.
pintu lemari yang tertutup itu, ia buka dengan lebar. Lalu Raya mulai mengeluarkan sebuah paperbag yang sudah beberapa bulan lalu ia simpan di dalam lemari pakaiannya.
apa yang Raya butuhkan sudah Raya keluarkan dari dalam lemari. Raya lalu melangkah dengan cepat menuju kamar mandi.
Raya yakin Jiasa belum melakukan apapun di dalam kamar mandi. Dengan pasti dan tanpa keraguan, Raya mengetuk pintu kamar mandi itu. Dan tanpa menunggu lama, Jiasa membuka pintu.
Dugaan Raya benar, Jiasa belum melakukan apapun, terbukti dari baju basahnya yang masih Jiasa kenakan.
Raya tersenyum tipis, " ini, kamu pake ya. Ini semua baru kok. "
Jiasa tak lekas mengambil alih, justru ia memandangi lebih dulu sebuah paperbag yang Raya sodorkan kepadanya.
Raya kembali tersenyum tipis. ia mengerti, pasti Jiasa tengan merasa tak enak hati.
" gak usah ngerasa gak enak, ini memang punya kamu kok " kata Raya, sontak Jiasa terkejut dan menatap Raya dengan tatapan penuh tanya.
" beberapa bulan yang lalu, Ibu sengaja beli baju ini buat kamu. ayo ambil, terus ganti baju kamu nanti masuk angin. " sambung Raya.
Meski awalnya ragu, akhirnya Jiasa menerima paperbag itu.
Raya tersenyum melihatnya, dan tak lama Jiasa kembali masuk ke dalam kamar mandi.
" heh, kutcrit. lu dari mana sama Jiasa, ampe pulang ujan-ujanan. ? " tanya Robi yang saat ini berada di dalam kamar milik Lani.
Lani yang tengah mengerikan rambutnya itu melirik Robi yang saat ini tengah berbaring di kasur Lani.
Robi terlihat begitu santai, sembari memainkan ponselnya.
Melihat bagaimana kelakuan Robi, Lani bukan menjawab pertanyaan Robi, ia malah menyeringai kemudian mendekati Robi.
Tiba di dekat Robi, Lani berdiri sembari menatap Robi yang barbaring.
Robi yang sadar pun berbicara, " apa lu liat-liat, jawab pertanyaan gue " mata Robi tak lepas dari ponselnya.
Lani kembali menyeringai, kemudian tangannya yang memegang handuk bergerak, lalu dengan sengaja Lani menjatuhkan handuk itu tepat di wajah Robi.
Handuk itu sukses menutup wajah Robi. bahkan bukan hanya wajah, tapi tangan Robi yang memegang ponsel pun tertutup.
alhasil Robi yang terkejut, mengumpat.
" ANJIIIINGGG .. ARLAAAAANNN .. "
__ADS_1
umpatan kasar Robi dengan suara melengking, ia menjauhkan handuk itu dari wajahnya, lalu menegakan tubuh. Kemudian Robi diam dengan wajah penuh amarah dan juga nafasnya memburu.
" ARLAN SIALAN .. SINI LU JANGAN KABUR .. " lagi, Robi berteriak memanggil Lani yang sudah melarikan diri.