LABIRIN

LABIRIN
98


__ADS_3

Dengan langkah perlahan, Lani menuruni anak tangga.


Ia mengerutkan dahi ketika melihat hanya ada Bi Minah tengah menatap makanan di meja makan.


Lani menghentikan langkahnya, kemudian arloji yang ia kenakan di pergelangan tangannya menjadi pusat perhatiannya.


Lani kembali mengerutkan dahinya. Masih terlalu pagi, lantas mengapa hanya ada Bi Minah untuk saat ini ? Pertanyaan yang kini muncul dalam benak Lani.


Penasaran, Lani pun kembali melanjutkan langkahnya, kali ini dengan langkah cepat.


Dan ketika sudah tiba di lantai dasar, Lani melontarkan pertanyaan sembari melangkah mendekati meja makan.


" Ibu kemana, Bi.? "


Perhatian Bi Minah teralihkan oleh suara Lani, ia pun menoleh, sebelum menjawab Bi Minah memberi senyuman kepada Lani sebagai sapaan selamat pagi. Setelah itu Bi Minah menjawab pertanyaan yang Lani lontarkan.


" mau ketemu sama pelanggan, karena rumah pelanggan yang sekarang cukup jauh, jadi Ibu berangkat pagi-pagi "


Bi Minah menjelaskan.


Lani kemudian duduk di kursi meja makan, setelah itu ia meraih selembar roti, lalu mengoleskan slay coklat ke atas roti itu.


" di samperin ke rumahnya, emang gak bisa apa suruh datang aja ke butik Ibu " Lani sedikit protes. kemudian ia mulai mengunyah roti tawar yang baru saja ia gigit.


" gak tau tuh. katany sih gak ada waktu, jadi Ibu di minta datang. Ya, Ibu kan lagi usaha dan gak mau bikin pelanggan kecewa, jadi mau gak mau harus kesana, padahal cuma ngukur badan buat bikin gaun pengantin. "


Sembari mengunyah rotinya, Lani mengangguk-anggukkan kepalanya. " terus Robi mana ? " tanya Lani karena tak melihat sosok Robi yang setiap pagi selalu mengganggunya.


" udah pergi duluan juga, dia bilang mau liat toko dulu sebelum ke sekolah. Oh iya, kata Ibu, Den Arlan bawa motor aja, mobilnya Lani Ibu pinjem, terus mobil yang satu lagi mau. Di bawa Bapak Asep ke bengkel "


Lani menghela nafas, sebenarnya ia merasa malas. Tapi, mau bagaimana lagi. Pada akhirnya Lani menganggukkan kepalanya.


selesai sarapan, Lani bergegas pergi. Ia tak ingin dirinya terlambat.


Di lain tempat, Jiasa tengah berada di dalam perjalanan bersama Fadil.


Awalnya perjalanan berjalan lancar, tapi tiba-tiba Fadil dan Jiasa di buat bertanya-tanya ketika mobil yang Fadil kemudikan berhenti.


Beruntung, mobil itu berhenti mendadak di pinggir jalan. Jadi tidak menggangu pengumudi yang lain.


" kok berhenti, Pa ? "


" gak tau, bentar papa liat dulu "


Fadil membuka pintu dan lekas turun, kemudian mulai memeriksa bagian mesin mobil.


Jiasa yang penasaran ikut turun dan kemudian mendekati sang ayah.

__ADS_1


" kenapa pa ? "


Fadil yang tengah mengamati mesin mobilnya, menoleh. Kemudian ia menghela nafas lelah.


" kamu naik taksi aja, Ji. Mesinnya bermasalah kayanya. Papa mau telphone bengkel langganan papa dulu, biar mereka ngirim montirnya ke sini "


Meski malas, akhirnya Jiasa mengangguk. " papa gak apa-apa ditinggal sendiri ? "


" gak apa-apa, Ji. Udah sana cari taksi, nanti kamu terlambat "


Jiasa kembali mengangguk, ia pun mulai melangkah menjauh dari sang Ayah.


Fadil menghela nafas berat, ia menatap iba pada Jiasa. Yang kini mulai mencari taksi.


tak jauh dari tempat mobil milik ayah Jiasa mogok.


Lani tengah mengendarai motornya dengan laju motor yang tidak terlalu cepat.


ketika dirinya fokus berkendara, Lani di buat salah fokus oleh sosok Jiasa yang berdiri di pinggir jalan.


bahkan Lani kini menyipitkan pandangannya ketika melihat ada Fadil di sana yang tengah berbicara lewat telephone sembari bersandar di sebuah mobil yang terparkir di pinggir jalan.


Lani yakin ada yang tidak beres, begegas ia pun menghampiri.


motor yang Lani kendarai berhenti tepat di depan Jiasa, sontak Jiasa terkejut.


" mobil Papa tiba-tiba mogok, ini lagi cari taksi " jawaban Jiasa membuat Lani terkejut.


" Jiasa "


Semua menoleh ketika Fadil memanggil Jiasa dan kemudian berdiri disamping Jiasa, kini tatapan Fadil tertuju kepada Lani.


ditatap seperti itu oleh Fadil membuat Lani sedikit segan. Tapi, Lani harus bersikap baik, ia pun menyapa Fadil. " pagi Om "


Tak ada sapaan balik. Jujur, Lani kecewa. Tapi, ia harus sadar diri.


" eemm, Ji. Elu bareng gue aja. Dari pada nyari taksi, lama. Mending bareng gue " Lani menawari Jiasa tumpangan.


Jiasa terdiam, sebenarnya ia ingin mengangguk mengingat waktu semakin menyempit.


Jiasa menoleh ke arah Fadil, ia meminta persetujuan dari Fadil.


Lani yang paham dengan gerakan kepala Jiasa pun, menghela nafas pelan.


Keduanya kini menunggu jawaban, Fadil. Dan ketika Fadil menganggukan kepalanya, raut wajah Jiasa dan Lani pun berubah.


" Ayo Ji " kata Lani, kembali menghidupkan mesin motornya yang tadi sempat ia hentikan.

__ADS_1


Jiasa mengangguk, kemudian kembali beralih pada sang ayah. " aku berangkat ya pa " pamit Jiasa, lantas mencium punggung tangan Fadil.


" hati-hati " kata Fadil, Jiasa tersenyum, begitu pula dengan Lani. Bergegas Jiasa naik dan duduk di jok motor milik Lani.


Lani memutar gas motornya, kembali berpamitan kepada Fadil, kemudian Lani melajukan motornya.


Dalam perjalanan, hening. Tak ada percakapan mendominasi, baik Lani maupun Jiasa larut dalam pikiran masing-masing.


Mungkin karena Lani mengendarai motor, jadi keduanya tidak leluasa untuk berbicara satu sama lain.


Setelah menempuh waktu, akhirnya Lani dan Jiasa tiba di sekolah.


Sontak mereka berdua jadi pusat perhatian.


Jiasa yang masih berada di atas motor bersama Lani, menghela nafas. Ia tidak terkejut dengan reaksi mereka. Tapi jujur, Jiasa merasa risih.


" Pagi Pak " sapa Lani pada Pak Satpam


Jiasa yang ada di belakang Lani ikut memberi senyum sebagai sapaan.


" cieee, jok belakang udah ada yang ngisi nih. biasanya yang duduk di belakang Tedia sama dua kurcacinya. " goda Pak Satpam.


Jiasa salah tingkah. berbeda dengan Lani, Lani malah tertawa. " bosen, pak. Mereka mulu yang di boncengin. Sekali-kali boncengin yang cantik lah "


Mendengar Lani menyebut kata cantik, Jiasa semakin salah tingkah. Bahkan pipinya bersemu. Belum lagi, Pak Satpam menatap Jiasa.


" kita masuk dulu ya Pak " pamit Lani kemudian kembali melajukan motornya yang ia hentikan sementara.


" Tedia sama Lani belum datang ? " tanya nathan siswa kelas 11 Ipa b yang juga satu tim dengan Lani di klub sepak bola SMA NUSA PELITA


" belum .. Tedia mah paling lagi di jalan, nah kalau Arlan kayanya masih molor " sahut Zaki, meneguk minuman kaleng miliknya.


Yoga memperhatikan Zaki yang terlihat merasa lega setelah kerongkongannya tersiram air. kemudian Yoga menggelengkan kepalanya.


" aaaahhh seger banget, tadi mah berasa di terpa kemarau " kata Zaki.


Seketika Yoga memukul pelan bagian belakang kepala Zaki. " masih pagi anjir, udah minum yang kaya gitu " sebagai teman, Yoga tentu memperdulikan kondisi perut sahabatnya itu.


" haus gue, pagi-pagi udah ceramahin baginda ratu soalnya " sahut Zaki kembali meneguk minuman kalengnya.


Zaki begitu menikmati minuman kalengnya, ia meneguk minuman itu dengan mata yang melirik kesana kemari.


Sedak asik menikmati minuman, Zaki di buat melotot dengan pemandangan yang tak jauh darinya.


Sontak Zaki pun tersedak.


" uhuk uhuk .... Anjiingg .. Lani boncengin Jiasa .. " kata Zaki terkejut.

__ADS_1


Semua menatap ke arah yang di tatap Zaki, dan seketika mereka pun terkejut dengan pemandangan yang baru saja terjadi, dimana Jiasa baru saja turun dari motor Lani.


__ADS_2