LABIRIN

LABIRIN
35


__ADS_3

Satu notif di ponselnya membuat atensi Tedia teralihkan. Dengan gerakan perlahan, Tedia meraih benda pipih miliknya itu yang ia simpan di atas nakas.


Layar ponsel yang mati ia hidupkan, ketika ponselnya menyala sempurna, Tedia mengerutkan dahi ketika ada nama Jiasa yang tertera jelas di layar ponselnya.


Penasaran, Tedia membuka pesan yang Jiasa kirimkan. Dan ketika selesai membaca pesan dari Jiasa, Tedia tersenyum.


Tiba-tiba Tedia merasa senang, ketika Jiasa menanyakan bagaimana keadaan dirinya.


Tanpa pikir panjang, Tedia membalas pesan yang di kirimkan Jiasa.


[ " alhamdulilah, udah mendingan sekarang .. "]


Pesan terkirim, tanda centang dua masih berwarna abu. Jiasa belum membacanya.


Tapi tak lama centang dua itu berubah warna biru.


Tedia kembali menyunggingkan senyum, ia kini menunggu Jiasa yang sepertinya tengah membalas pesan Tedia.


[ " syukur deh kalau udah mendingan, nanti pulang sekolah teman-teman yang lain mau jengukin kamu .. " ]


Tedia membaca kembali pesan yang Jiasa kirimkan, raut wajah Tedia seketika berubah. Ada yang mengganjal di hatinya, dan ingin ia tanyakan kepada Jiasa. Tedia menarik nafas dalam kemudian ia membuang kasar.


Dengan satu keberanian akhirnya Tedia kembali mengirimkan Jiasa pesan.


[ " kamu ikut ? " ] ini yang ingin Tedia tanyakan kepada Jiasa, tentang gadis itu apakan dia akan ikut menjenguk dirinya.


Tak lama, Jiasa kembali terlihat sedang mengetik, dan tak lama juga Jiasa mengirimkan satu pesan yang seketika membuat Tedia ingin berteriak.


[ " iya, aku ikut " ]


Dengan ekspresi seperti saat ia tengah berhasil membobol gawang lawan, Tedia mengangkat kedua tangannya ke atas.


" kenapa itu kayanya senang banget .. ? "


Tersentak, Tedia menoleh dan melihat Ria tengah berjalan masuk ke dalam kamarnya dengan sebuah nampan berisi mangkok dan air yang ia bawa.


Reflek Tedia menurunkan tangannya. salah tingkah, Tedia pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ria sudah berada di dekat putranya, ia menaruh nampan itu di atas nakas kemudian mengangkat mangkuk, lalu dengan mangkuk berisi bubur ayam, Ria duduk di tepi ranjang dan bersiap menyuapi putranya.


Tedia menatap ke arah mangkuk yang tengah dipenggan ibunya, kemudian ia menyerengit ketika melihat isi di dalam mangkuk itu.


" Ma, jam setengah 10 makan bubur ..? " tanya Tedia dengan wajah penuh rasa heran kepada sang ibu.


Ria menaikkan alisnya " emang kalau makan bubur harus selalu jam 7 gitu, udah makan, Mama suapin .. "


Tedia tak menyahuti, ia akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan bubur ayam dari tangan sang ibu.


Tak lama Tedia ingat akan satu hal, ia ingat jika teman-temannya akan datang menjenguk, dan ibunya itu belum tahu.

__ADS_1


" Ma " panggil Tedia, disela kunyahan dan kemudian menelan pelan bubur ayam yang ada di dalam mulutnya.


" apa " sahut Ria, tangannya kembali menyuapi Tedia.


" temen-temen katanya mau ke sini jengukin aku .. "


" ya terus .. ? " Ria mengerutkan dahi.


" pasti mereka ngerusuh deh .. " kata Tedia yang sebenarnya bingung akan mengatakan apa. Ia hanya asal menjawab.


" udah biasa kan .. " kata Ria kembali menyuapi Tedia.


Kembali hening, tapi tak lama Tedia kembali ingat dengan satu hal. Ia ingat dengan Jiasa dan Lani.


Jujur ia memiliki perasaan yang lebih untuk Jiasa, tapi disisi lain ia tidak enak hati kepada Lani.


Tedia menatap dalam wajah sang ibu, dalam hati ia bertanya, apakah ia harus bercerita dan meminta solusi kepada ibunya.


Tapi, Tedia malu. Ia takut ditertawakan atau bahkan ibunya akan memarahinya karena bukan serius belajar.


Tedia menghembuskan nafasnya.


" Ma .. "


Ria mendongkak, ia menatap wajah putranya yang tengah menatapnya dalam.


" kenapa ..? " tanya Ria, tahu betul jika eskpresi Tedia saat ini menunjukkan jika ada yang ingin dia katakan.


Ria mengangguk, Tedia pun bersiap untuk bicara.


" Ma, salah gak kalau aku suka sama cewek .. ? "


Ria terdiam sesaat, tapi tak lama ia mengerutkan dahinya. Kemudian helaan nafas dari Ria terdengar, Tedia mulai memasang wajah waspada.


" ya gak salah lah, kalau sukanya sama Lani baru salah .. " kata Ria yang malah bergurau di akhir kalimat.


Tedia memutar bola matanya malas, di saat ia sudah serius tapi sang ibu malah bergurau.


" Ma, aku serius ini, anak mu yang ganteng ini lagi jatuh cinta .. "


Ria yang tengah tertawa seketika berhenti, kemudian menatap dalam Tedia.


Ok. Sang ibu sudah terlihat serius menanggapi. Tedia pun bersiap kembali untuk berbicara.


" Ma, aku suka sama Jiasa, Tapi ? "


" tapi ..? " Ria sangat penasaran dengan kelanjutan cerita Tedia.


" Lani juga suka Jiasa, Ma. " Tedia akhirnya mengutarakan kegundahan hatinya. Bahkan kini Tedia menundukkan wajahnya.

__ADS_1


Seketika raut wajah Ria berubah, bahkan cengkraman tangannya pada mangkuk yang ia pegang sedikit mengendur hingga mangkuk itu ia jatuhnya dengan pelan di atas pangkuannya.


Ria menghela nafas kasar.


" aku tau ma, aku salah. Tapi aku juga gak bisa nyegah perasaan itu .. "


" kamu udah ungkapin sama Jiasa ? "


" belum ma, aku masih mikirin Lani, aku gak mau persahabatan aku sama Lani ancur gara-gara ini .. " sahut Tedia.


" menurut mama, salah gak kalau aku suka Jiasa ? " tanya Tedia kembali.


" apa Lani udah ngungkapin perasaannya juga ? "


" belum, Lani masih dalam tahap PDKT .. " sahut Tedia


Ria lagi-lagi menghela nafas " menurut Mama sih gak salah, lagi pula di antara kalian berdua belum ada yang ngungkapin perasaan masing-masing kan ? Mama pikir selama Jiasa belum nentuin hatinya masih wajar lah buat kalian ngejar cinta Jiasa. Dan siapun berhak untuk deketin ataupun suka sama dia. Tapi, kalau nanti Jiasa udah nentuin hatinya, kalian harus siap dan ikhlas gak boleh egois .. "


" Yoga juga ngomong gitu ma, aku sih ikhlas aja kalau nanti dia emang milih Lani, tapi kalau misalnya Jiasa milih aku, apa Lani akan ikhlas juga ? " Tedia kembali memasang wajah yang serius.


" pede banget kamu, lagian belum tentu juga Jiasa milih kalian .. " Ria menggelengkan kepalanya.


" ikh si mama tuh, aku serius tau .. " Tedia gemas, karena sang ibu sepertinya tidak menanggapi ceritanya dengan serius.


" udah udah, menurut mama biarin ngalir kaya air, kalau emang kalian jodoh, gak akan kemana .. "


" dih kata-katanya kaya si Yoga .. "


Ria menggeleng-gelengkan kepala, ia beranjak dan menaruh mangkuk yang ternyata sudah kosong itu ke atas nampan yang ia letakan di nakas, kemudian Ria mengambil air dan memberikannya kepada Tedia.


Tedia meneguk air itu hingga tersisa setengah, kemudian kembali memberikan kepada sang ibu.


" tapi mama gak marah kan, kalau aku mulai suka sama cewek ..? " Tedia masih waspada, takut jika sang ibu marah padanya.


" kamu udah gede Tedia, itu hal yang wajar, jadi mama gak akan marah, kecuali kamu sukanya sama Lani, Zaki, atau Yoga. Nah baru mama marah, bukan marah lagi, mungkin kamu sudah mama gantung .. "


" sadis amat .. " Tedia bergidik ngeri, ia meringis menyentuh lehernya.


" kamu istirahat aja, mama mau siap-siap dulu .. "


" siap-siap buat apa ? " tanya Tedia.


" buat nyambut temen-temen kamu lah .. "


Tedia membelalak, bisa-bisa sang ibu mau direpotkan oleh teman-temannya itu.


" gak usah ma, nanti mereka ke enakkan .. "


" gak apa-apa .. Tamu itu harus di jamu ... " sahut Ria kemudian berlalu dari kamar Tedia.

__ADS_1


Perginya sang ibu membuat Tedia mendengus, Tak lama ia kembali menatap layar ponselnya.


Beberapa jam lagi teman-temannya akan datang, dan beberapa jam lagi ia akan bertemu dengan Jiasa.


__ADS_2