LABIRIN

LABIRIN
67


__ADS_3

" Ki "


Zaki yang tengah berbaring di sofa ruang tamu rumahnya, merespon panggilan itu.


" apaan "


Widia mendengus atas respon yang cukup menyebalkan dari putranya itu.


" sebenarnya ada apa sih ? " kata Widia kembali mengajukan satu pertanyaan yang membuatnya penasaran dan belum juga mendapat jawaban.


Sejak Marsel pergi, Widia terus memaksa Zaki dan Yoga untuk berkata jujur. Tapi, kedua tetap bungkam. Hingga Yoga memutuskan untuk pulang pun, Widia tetap tidak mendapat jawaban. Dan kini ia kembali meminta jawaban dari putranya.


" Baginda Ratu. Pan tadi aku sama Yoga udah bilang, masalah ini bukan ranah kami buat cerita. Sabar dikit napa, bentar lagi Papa pulang. Nah Mama tanya aja sama Papa, pasti Papa sekarang udah tau. Cuma aku mau ngingetin, bae bae kaget ye. "


Widia mendengus kasar, ingin sekali ia menoyor kepala putranya itu. Sayang posisi duduknya ada di seberang Zaki, hal itu membuat Widia kesulitan untuk mengapai Zaki karena terhalang meja.


" Assalamuallaikum .. "


" walaikumsalam " sahut Widia dan Zaki ketika mendengar suara Marsel.


Widia bergegas bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekati Marsel. Terlihat jelas di mata Widia wajah frustasi Marsel, Widia semakin yakin ada yang tidak beres.


Lain Widia, lain pula dengan Zaki. Setelah tahu sang ayah pulang, Zaki bergegas bangkit. Bangkit bukan untuk mendekati Ayahnya, tapi bangkit untuk menghindari Ayahnya.


Jika Zaki masih berada di tempat, Zaki yakin sebentar lagi ia akan mendapatkan siraman rohani dari Ayahnya.


Zaki melangkah dengan pelan, tujuannya agar derap langkahnya tidak di dengan oleh Marsel.


Tapi, keberuntungan tidak memihak Zaki, baru satu kakinya menapak anak tangga, Marsel sudah memanggilnya.


" Zaki Resan Adipta "


Zaki meringis meski tidak merasakan sakit di tubuhnya, seketika langkahnya pun terhenti, bahkan satu kakinya yang sudah menapak di anak tangga ia turunkan.


Zaki balik badan, tak sengaja menatap wajah sang Ayah yang menatapnya dengan tatapan penuh arti. Merasa takut, Zaki menunduk dengan kedua telapak tangannya yang saling bertautan.


" mau kemana, kembali ke tempat dan duduk. " perintah Marsel tidak dapat Zaki bantah.

__ADS_1


Zaki menghela nafas lelah, kemudian ia melangkah pelan menuju sofa tempat ia dan Ibunya duduk sebelum Ayahnya pulang.


" Pa, sebenarnya kenapa sih. ? " Widia yang semakin penasaran mengikuti langkah suaminya yang kini sudah melangkah mendekati Zaki.


Zaki duduk dengan kepala tertunduk, kedua telapak tangannya kembali saling bertautan. Marsel sendiri kini sudah duduk di seberang Zaki, ia menatap Zaki dengan tatapan datar.


hening untuk beberapa detik, tak lama helaan nafas dari mulut Marsel terdengar. Zaki mendongkak.


" serahin kunci motor dan mobil, mulai besok kamu pergi sekolah di antar pak supir. begitu juga dengan pulang sekolah "


Mata Zaki melebar, sangat terkejut dengan keputusan tak masuk akal Ayahnya itu.


" yang buat salah kan Arlan, Pa. Kok aset aku yang Papa sita. Gak masuk akal. " Zaki tak terima. Dalam hal ini bukan dia yang salah, justru dia merasa menjadi korban, karena ulah Lani, dia dan yang lain gagal ikut seleksi timnas.


Marsel menatap Zaki kembali dengan tatapan datar, dan kembali sukses membuat Zaki menunduk takut. Berbeda dengan Zaki, Widia merasa seperti orang bodoh karena bingung.


" ada apa sih ini, kenapa juga Papa tiba-tiba ambil semua kendaraan milik Zaki. lalu Arlan, sebenarnya dia kenapa ? Tadi Yoga bilang Arlan kecelakaan dan sekarang Zaki bilang Arlan yang salah, bisa gak sih kalian bicara yang serius, kalian mau bikin Mama mati penasaran. " gerutu Widia sudah jengah karena hatinya terus di permainkan.


Marsel bersiap membuka mulutnya, tapi Zaki mendahuluinya. " Arlan hamilin anak orang. " kata Zaki begitu jelas.


Berbeda dengan Widia, Marsel yang sudah tahu memejamkan sejenak matanya dan kemudian menundukan kepalanya.


" Zaki jangan sembarangan kalau ngomong, bisa jadi fitnah kalau semua itu gak kebukti. " Widia yang masih tidak percaya memberi putranya peringatan.


Zaki memutar bola matanya malas, " Mama gak percaya, tanya aja sama Papa. Pasti Papa udah tau dari Papa Malik, Arlan tuh emang harus di rukiyah. heran dalam dirinya isinya Dajjal semua. " Zaki kembali berkomentar, bahkan Zaki terdengar seperti tengah mengeluarkan kekesalannya.


Widia menoleh dan menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya, dan tak lama Widia kembali di buat terkejut dengan anggukkan Marsel.


" Astagfirallah, Arlan. Kok bisa sih, Ki. ? Arlan, astaga anak itu. " Widia kembali mengoceh. dan Zaki kembali memutar bola matanya malas.


" Mama nanya sama aku, KOK BISA ? Ya mana Aku tau, Mama. Ngadi-ngadi si Mama. Emang pas mau tanam benih Arlan laporan sama Aku, kalau kaya gitu ya udah pasti Aku larang. " Zaki menggelengkan kepala, heran dengan tingkah Ibunya.


Widia menatap tajam Zaki, kemudian ia memberi Zaki dengusan. Detik berikutnya Widia kembali beralih pada suaminya, " Terus gimana Pa. Jalan keluar satu-satunya mereka harus di nikahkan, kan.? "


Marsel menganggukkan kepala. Sedangkan Zaki kini menatap sang Ayah dengan mata memincing.


" Pa " panggil Zaki, respon ia dapatkan. Bukan hanya dari Marsel tapi Widia juga ikut teralihkan.

__ADS_1


" Papa sama Papa Malik mau nikahin Arlan sama Jiasa.? " tanya Zaki.


Marsel mengangguk, " mereka memang harus segera di nikahkan. "


" Jiasa, jadi nama perempuan itu Jiasa.? " tanya Widia, Zaki mengangguk. Tapi tak lama Zaki kembali beralih pada Ayahnya.


" papa yakin.? "


Marsel mengerutkan dahinya, " hal itu harus Zaki, mereka harus segera menikah. "


Zaki menghela nafas frustasi. " tapi, Pa. Jiasa itu cinta nya sama Tedia. "


Seketika Marsel dan Widia kembali di kejutkan dengan kenyataan lain.


" jadi maksud kamu, Jiasa itu pacarnya Tedia.? " tanya Widia.


" bukan sih, tapi ... Ah ceritanya ribet. Pusing kalau di ceritain dari awal. Ya coba aja nanti Papa sama Papa Malik datang buat lamar Jiasa. Kalau Jiasa nolak, ya jawabannya karena Tedia. "


" jangan bikin kita bingung Zaki, ceritakan semua dari awal. " kesal Widia.


Zaki mendesah kasar, dan ia pun terpaksa menceritakan semua dari awal.


Di akhir cerita Zaki, Widia menggelengkan kepala, sedangkan Marsel hanya bisa memijat pangkal hidungnya.


Dia sudah di buat pusing dengan mengurusi negara, dan kini anak-anaknya membuat kepalanya semakin ingin meledak.


" masuk ke dalam kamar kamu Zaki, dan jangan lupa berikan kunci mobil dan kunci motor kamu sama Papa. "


Zaki terkejut dengan kalimat yang baru saja ia dengar dari Widia. " kok Mama jadi setuju sama Papa. Arlan yang salah, kenapa aset Aku yang di sita. " Zaki tak terima.


" udah nurut aja. "


Seketika bahu Zaki melemah. Ia bahkan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan helaan nafas frustasi. Jika Lani ada di hadapannya saat ini, mungkin wajah Lani sudah babak belur terkena amukan Zaki.


Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah yang kini tengah Zaki alami.


Lani yang bersalah, Zaki terkena imbas gagal ikut seleksi timnas dan sekarang semua asetnya di sita oleh bapak menteri.

__ADS_1


__ADS_2