LABIRIN

LABIRIN
85


__ADS_3

Waktu berlalu cepat, setelah rencana mempertemukan Lani dan Tedia gagal. Seperti kata Robi, Yoga dan Zaki membiarkan dan tidak terlalu ikut campur dalam urusan pribadi Lani dan Tedia.


Tapi, meskipun membiarkan dan tidak ikut campur. Yoga dan Zaki masih gemas dan Jengah akan tingkah dan sikap Tedia.


Sampai saat ini, tak ada kata maaf yang terlontar dari mulut Tedia. Meski Lani sudah memaafkan, tapi menurut Yoga dan Zaki ada baiknya jika Tedia meminta maaf secara pribadi.


meskipun jengah dan kesal. Lagi, seperti kata Robi, mereka tak bisa ikut campur terlalu dalam. Oleh sebab itu, Yoga dan Zaki masih bergaul seperti biasa dengan Tedia. Hanya saja ada yang berubah, Lani yang sudah mengatakan jika ia memaafkan Tedia terkesan menjaga jarak.


Lagi, mereka terpaksa harus memaklumi hal itu. Karena Lani harus berjuang mengobati luka hatinya.


Bagaimana dengan Jiasa ? Jiasa pulih dengan cepat. Ia bahkan sudah kembali ke sekolah.


Saat ini, Jiasa tengah berjalan di koridor bersama tiga teman sekelasnya. yaitu, Jennie, Irene dan Rosa.


Tahu jika kondisi hati Jiasa belum stabil, mereka melangkah tanpa tawa yang dulu selalu mengkhiasi. Mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing.


Pintu kelas sudah terlihat, mereka semakin dekat.


Jiasa yang berjalan di depan ketiga gadis itu, beberapa langkah lagi akan memasuki kelas.


Jiasa berbelok, dan siap untuk melangkah masuk. Tapi, ketika di ambang pintu, Jiasa tak sengaja berpapasan dengan Lani yang hendak keluar kelas.


Keduanya seketika terdiam, bahkan kini keduanya saling pandang, kesan canggung pun langsung tercipta.


Lani yang tak mau mengganggu Jiasa, akhirnya memutuskan untuk membuang pandangannya, kemudian Lani bergerak ke sisi yang masih menyisakan celah, lalu Lani melangkah keluar begitu saja.


Jiasa memejamkan sejenak matanya, ia masih terdiam dalam posisinya. Tiba-tiba hatinya nyeri, ketika ia berpadangan dengan Lani.


Jiasa masih diam, tak lama sentuhan di bahunya menyadarkan Jiasa. Pelakunya ? Tentu saja sang sepupuh, Jennie.


Jiasa menoleh, Jennie pun tersenyum kepadanya. " ayo Ji, masuk "


Jiasa mengangguk pelan, bersama tiga gadis yang selalu bersamanya Jiasa pun melangkah masuk.


Di dalam, Jiasa melihat sosok Tedia yang tengah duduk di singgahsananya dan bersenda gurau dengan Yoga dan Zaki.


Jiasa terus melangkah menuju kursinya, sesekali ia melirik Tedia yang sepertinya mengabaikan kehadirannya.


Jiasa diam-diam tersenyum miris, setelah kejadian dimana niat jahat Tedia terbongkar, Tedia menjaga jarak dari dirinya.


Sontak, Jiasa pun kembali merasakan sakit hati. Jiasa kira Tedia akan berbaik hati dan benar bersamanya. Tapi ternyata, Tedia sama saja.


..


waktu terus berlalu, hari terus berganti. tiba lah pada satu kejadian dimana Jiasa merasakan sakit di perut bagian bawahnya.


Jiasa meringis pelan, ia sudah tau apa yang terjadi pada dirinya. Noda mereh yang ada di bagian belakang roknya menjawab semua itu.


Adanya noda merah di rok Jiasa membuat Jiasa tak bisa pergi keluar kelas, sialnya dia tidak menyiapkan benda yang ia butuhkan dan ia juga tidak menbawa rok cadangan lainnya.

__ADS_1


Jiasa sebenarnya bisa membeli rok untuk ganti di koperasi sekolah. Tapi, keadaannya saat ini tidak memungkinkan bagi Jiasa untuk pergi ke koperasi.


Dengan masih manahan rasa nyeri di perut bawahnya, Jiasa yang berada di dalam kelas merebahkan kepalanya di atas meja dengan satu lengannya yang ia jadikan sebagai bantal. Satu lengan lainnya mengusap-ngusap perut bawahnya yang terasa nyeri.


Tak lama terdengar derap langkah, Jiasa tak perduli. sakit yang ia rasakan membuat Jiasa tak mau beralih pada yang lain.


Tak lama derap langkah itu semakin terdengar jelas di telinga Jiasa. Tapi lagi, Jiasa mengabaikan.


akhirnya sebuah suara terdengar di telinga Jiasa.


" kenapa, Ji. "


Seketika mata Jiasa melebar, suara itu sangat familiar di telinganya. Jiasa pun mengangkat kepalanya dan akhirnya ia melihat Lani yang kini berdiri di hadapannya.


Ini merupakan pertama kalinya Lani berbicara pada Jiasa setelah kejadian buruk terjadi.


Tak mengabaikan, Jiasa memberi gelengan sebagai jawaban. Kini Jiasa malah memainkan jari-jarinya.


Lani masih berdiri di tempat dan memperhatikan tingkah Jiasa. Jiasa terlihat aneh dan seperti tidak nyaman.


Entah bisikan dari mana, Lani seperti mengetahui permasalahan yang membuat Jiasa tak nyaman hari ini.


" lu gak bawa buat persiapan ? " tanya Lani.


Jiasa terkejut, ia pun mendongkak menatap Lani. Hanya beberapa detik Jiasa menatap Lani, setelah itu Jiasa kembali menunduk dan kemudian menggelengkan kepala sebagai jawaban.


Lani mendesah pelan, Ia merasa kasihan dengan Jiasa. Lani memang tak paham, tapi ia yakin Jiasa tak nyaman.


Jiasa kembali membulatkan matanya dan kembali mendongkakan wajahnya.


Lani bilang apa tadi ? Jiasa tidak salah dengar kan.?


Merasa tak enak, Jiasa pun melarang Lani. " gak usah, gak apa-apa kok. Lagian rok aku juga udah terlanjur kotor "


Lani kembali mendesah pelan, ia semakin iba kepada Jiasa. Apalagi ketika mendengar rok Jiasa sudah kotor.


Tanpa berbicara Lani berjalan menuju kursinya. Jiasa yang melihat itu merubah ekspresi wajahnya dan kemudian mendesah pelan. Jiasa kesal dengan tindakan Lani yang tiba-tiba pergi begitu saja. Padahal tadi Lani menawarkan ingin membelikan benda yang Jiasa butuhkan.


" nih "


Sebuah benda berbahan kain muncul di hadapan Jiasa. Untuk ketiga kalinya Jiasa mendongkak. Dan kini ia melihat Lani tengah memberikan hoddy miliknya pada Jiasa.


" pake ini buat nutupin rok lu yang kotor, elu ke kamar mandi aja sekarang, tunggu di sana gue mau cari benda yang lu butuhin sama rok buat elu ganti. "


Jiasa tercengang dengan sikap lelaki yang dulu pernah ia tolak bahkan saat dirinya dalam kondisi berbadan dua.


Tak ada respon dari Jiasa yang hanya diam membuat Lani meletakan hoddy miliknya itu di atas pangkuan Jiasa. Jiasa pun terkesiap.


" buruan, Ji. Pake ini terus ke kamar mandi. Nanti tunggu aja di sana. "

__ADS_1


Seolah tak memiliki keraguan, Jiasa pun mengangguk. Ia pun memegang hoddy milik Lani, lalu Jiasa berdiri dan mengikat hoddy berwarna hitam itu di pinggangnya.


" buruan ke kamar mandi " kata Lani, lagi Jiasa mengangguk dan kemudian melangkah keluar kelas.


Lani pun mengikuti Jiasa. hanya saja ketika di luar kelas, Keduanya berbeda arah. Jiasa ke kiri dan Lani ke kanan.


Jiasa terus berjalan menuju kamar mandi. Ketika tiba di sana, ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi, masuk ke salah satu bilik yang kosong lalu menunggu Lani.


Meski merasa malu, Lani akhirnya mendapatkan apa yang ia cari. Awalnya Lani ingin mengabaikan, tapi merasa dirinya orang yang harus bertanggung jawab akan hidup Jiasa, Lani pun membantu Jiasa.


Lani melangkah menuju kamar mandi wanita. Di dalam kamar mandi yang pintunya tidak tertutup itu Lani melihat beberapa siswi yang ada di sana.


Dengan sopan Lani mengetuk pintu kamar mandi. Seketika, ia pun menjadi pusat perhatian siswi yang ada di kamar mandi. Para siswi itu terkejut dengan pemandangan yang mereka lihat saat ini.


Seorang Raylan Arlan Khazira, untuk apa berdiri di ambang pintu kamar mandi wanita.?


Sadar akan tatapan penuh selidik, Lani tersenyum kikuk. " eeemmm, sorry. Gue boleh masuk sebentar gak, soalnya gue mau ngasih ini buat salah satu siswi yang ada di dalam sana. " kata Lani menunjuk salah satu bilik yang tertutup. Lani yakin Jiasa di dalam sana.


saling pandang pun terjadi di antara para siswi itu. Tak lama sebuah anggukan Lani dapatkan.


Lani tersenyum senang. Ia pun berterima kasih kemudian melangkah masuk.


Lani mendekati bilik yang tertutup itu, kenapa Lani yakin Jiasa di dalam ? Karena hanya ada satu bilik yang tertutup.


Tok


Tok


Tok


" Ji .. " panggil Lani sembari mengetuk pintu.


Tak lama pintu kecil itu terbuka, Jiasa pun terlihat. Seketika semua siswa menatap Jiasa, kaget.


Keterkejutan mereka kembali terlihat ketika Lani memberikan satu bungkusan pada Jiasa.


" nih yang lu butuhin, gue tunggu di luar ya. "


Jiasa menerima, lalu mengangguk.


Lani tersenyum tipis, lalu ia melangkah keluar setelah Jiasa menutup pintu.


Seperti yang ia katakan, saat ini Lani berdiri bersandar di dinding luar kamar mandi. Ia menunggu Jiasa.


dalam posisi dirinya menunggu Jiasa. Lani mendengar siswa yang berada di dalam kamar mandi berbicara dengan temannya.


" gila, Lani perhatian banget sama anak baru itu. " kata siswi seangkatan Lani, kebetulan ia memang mengenal Jiasa. Hanya saja tidak tahu siapa nama Jiasa.


" mereka pacaran kayanya " kasak kusuk suara siswi lainnya. Kali ini dari adik kelas.

__ADS_1


" kayanya sih iya. kalau enggak, mana mau Kak Lani bawain begituan buat kakak itu. "


Di luar, Lani menggelengkan kepala dengan bibir tersenyum tipis.


__ADS_2