LABIRIN

LABIRIN
47


__ADS_3

" heh. heh. Mau ngapain lu ? "


Tanya Yoga ketika melihat Zaki mengarahkan ponselnya kearah Lani, Jiasa, dan Juga Ayahnya.


" mau gue foto terus kirim ke si Dia. "


Yoga memasang wajah datar, kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu Yoga merebut ponsel mahal milik Zaki itu.


sontak Zaki mengerutkan dahinya.


" jangan cari masalah di situasi yang udah mulai kondusif, elu mau perang dunia 3 terjadi. Kalau mau, silahkan. Asal elu yang ngadepin, kalau gue, sih. Ogah. Cape hati, cape jiwa, cape pikiran. "


" ya elah, kalau Tedia mah gak bakalan, dia mah kan orangnya sabaran gak kaya tuh bocah. "


tarik nafas dalam, kemudian buang dengan kasar melalui mulut, setelah itu Yoga menatap tajam Zaki. " jangan adu domba dan jangan manas-manasin satu hal yang udah mulai mendingin. Biarinkan itu jadi urusan mereka, kita gak ada hak. Apalagi sampai memihak. " Yoga mulai ceramah.


Zaki menghela nafas pasrah. Kemudian ia menganggukkan kepala.


" yuk balik "


Zaki mendongkak, Yoga menoleh. Keduanya kini melihat Lani yang sudah berdiri dihadapan mereka.


" udah ? " tanya Yoga mendapat anggukan dari Lani.


" eh tapi kok. Lu bisa kenal sama bokapnya Jiasa, udah gitu keliatan deket lagi. Pasti ceritanya pendek "


Yoga memutar bola matanya malas, sedangkan Lani mengerutkan dahinya kerena pertanyaan akhir yang dilontarkan Zaki.


Bukan mendapat jawaban, akhirnya Zaki mendapat toyoran di kepalanya.


Siapa pelakunya ? Tentu saja yang saat ini berdiri disamping Zaki, dia adalah Yoga.


" kebanyakan makan rumus, bukan pendek tapi panjang, udahlah buruan balik, gue pengen rebahan. " kata Yoga sembari naik ke atas motornya.


Zaki mengikuti, sedangkan Lani melangkah menuju mobilnya.


Zaki dan Yoga melaju lebih dulu, lalu Lani mengikuti keduanya dengan mobilnya. Larat mobil Ibunya.


Lani pulang kerumah dengan wajah lusuh, bahkan langkahnya terasa berat.


Hal yang jadi pikirannya adalah persoalan mobilnya yang di tilang.


Bagaimana jika Ibunya tahu ? Apakah dia akan diizinkan kembali untuk membawa mobil ? Atau justru ia akan berakhir dengan diantar jemput oleh sopir pribadi ?.


Entahlah, semua pertanyaan itu hanya akan Lani dengan, nanti. Jika Raya sudah mengetahui masalahnya.


Padahal Lani dulu harus berjuang ekstra demi mendapatkan izin untuk mengendarai mobil. Hasilnya Raya mengizinkan, dengan satu syarat tidak boleh menggunakan mobil untuk tindakan yang tidak baik.

__ADS_1


Lani si anak baik sudah pasti menuruti. Tapi, bagaimana dengan sekarang. Sekarang dia harus membuat repot Ibunya.


" lho, den Arlan udah pulang ? "


dalam lamunannya memikirkan cara terbaik mengaku dan tidak mendapat hukuman dari Ibunya, Lani dibuat terperanjat oleh suara Bi Minah.


" Allahuakbar .. "


Bi Minah geleng-geleng. " pasti lagi ngelamun. " tebak Bi Minah dan memang benar.


Lani memasang memberengut. " Ibu udah pulang belum, Bi.? "


Bi Minah menggeleng.


Lani medesah pelan.


Melihat bagaimana ekspresi wajah Lani membuat Bi Minah memincingkan mata.


Bi Minah bukan orang yang bekerja di rumah Lani satu atau dua tahun. sejak Lani duduk di sekolah dasar, Bi Minah sudah bekerja bersama keluarga Lani, bahkan Bi Minah tahu bagaimana terpuruknya Lani ketika ditinggal sang Ayah.


Bi Minah sadar ada yang tidak beres dengan anak majikannya ini.


" kenapa ? " tanya Bi Minah, tatapannya penuh selidik.


Lani peka, ia pun menghela nafas.


Bi Minah diam, nampak berpikir. Tapi, tak lama tawa Bi Minah menggelegar.


" hahahahaha .. "


Lani mendesah pelan. Semua ternyata sama, pasti sebentar lagi Bi Minah menyinggung soal umur Lani yang belum legal.


Dan ternyata Lani bener.


" makanya, Den. Sadar diri, sadar umur. pasti yang ditanyain Sim. Nah Sim kan bisa di bikin kalau kita udah bisa bikin KTP, sedangkan Den Arlan KTP aja gak punya. hahaha "


Lani berdecak. " pada puas banget ngetawain Arlan. enggak Pak Satpam, Tedia, Yoga, Zaki, sekarang Bibi, semua ngetawain aku. Kalian gak tau, kan. Kalau sekarang Arlan lagi bimbang. " gerutu Lani dengan wajah frustasi.


Bi Minah menghentikan tawanya. " bimbang kenapa ? " tanyanya dengan wajah serius.


" gimana caranya bilang sama Ibu. " sahut Lani memberitahu apa yang jadi beban pikirannya.


Bola mata Bi Minah naik, seolah melirik keatas. Bi Minah nampak berpikir. Tak lama mata Bi Minah berbinar.


" ya udah jangan bilang, nanti pas sidang, aden diem-diem aja. "


satu jawaban yang tidak memuaskan Lani, tadi di sekolah pun Tedia mengatakan hak demikian.

__ADS_1


Lani menghela nafas, kembali menatap Bi Minah dengan wajah yang kembali memberengut. " Itu mah gampang, Bi. Cuma masalahnya kalau Ibu mau pake mobil, terus nanyain STNK aku jawab apa ? " kalimat yang Lani ucapkan dengan menahan nafasnya, setelah selesai bicara, Lani membuang kasar nafasnya.


Bi Minah kembali diam, dan kembali berpikir. " Ya udah, kalau Ibu nanti mau make mobil, bilang aja kalau aden juga mau make. Beres kan ? "


Lani memijat pakal hidungkan, semua saran yang diberikan tidak ada yang meringangkan. Yang ada akan menjadi beban pikiran nantinya.


" udahlah, Arlan mau masuk, mau telephonenan sama cewek " kata Lani cuek.


Bi Minah sampai menganga. " heh, kencing aja masih dipegangin, segalaan telephonenan sama cewek, sekolah dulu yang bener. " gerutu Bi Minah layaknya Ibu Lani.


Lani yang sudah akan masuk ke dalam rumahnya, berbalik arah. Kemudian ia menatap Bi Minah dengan tatapan yang sulit diartikan. " Bibi denger ya, Cowok gak perlu sekolah buat ngucapin ijab qobul. "


Bi Minah mendengus, ia maju selangkah seolah menantang Lani untuk berkelahi. " tapi cowok harus pinter biar bisa cari kerja buat nafkahin istrinya " Bi Minah tak mau kalah.


Lani geleng-geleng. " warisan ayah banyak, Bi. " katanya tanpa dosa.


" DEN ARLAN " gemas Bi Minah, ingin mencakar anak majikannya itu.


Lani tertawa, kemudian masuk ke dalam rumahnya.


Hari semakin sore, Lani masih berada di dalam kamarnya.


Raya Ibunya, belum juga pulang.


Lani yang mulai bosan menghela nafasnya.


Lani beranjak turun dari kasur, kemudian ia melangkah mengambil kemeja flanel yang tersampir di atas sofa, lalu Lani melangkah keluar dari kamarnya.


Lani menutup pintu, ia terperanjat ketika Bi Minah menepuk punggungnya.


" Allahuakbar " kata Lani, kemudian ia menggeram. " Bibi mau bikin Arlan nyusul Ayah, ngagetin mulu. "


" mau kemana ? " tanya Bi Minah, tak perduli dengan rasa terkejut Lani.


" pacaran " sahut Lani singkat.


" nanti Bibi aduin sama Ibu ya "


Lani mendesah pelan. Kemudian Lani menatap Bi Minah. " bilang aja sana, Arlan mah gak takut sama Ibu. " Lani menantang.


" yakin " goda Bi Minah. Pasalnya Lani ini sangat takut pada Ibunya.


Lani kembali mendesah pelan. " terserah, Udah ah Arlan mau pacaran. "


" lah paling sama den Tedian. " celetuk Bi Minah.


Lani mencibir. " mana ada, jalan Arlan mah lurus, Bi. Gak belok kanan belok kiri. udah ah, Arlan pergi, kalau Ibu pulang terus nyariin bilang aja Arlan lagi lamar anaknya Om fadil " kata Lani kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


Bi Minah terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.


__ADS_2