LABIRIN

LABIRIN
89


__ADS_3

" Ayang "


Gaungan suara yang sudah sangat Lani hapal. Ia menoleh dan melihat dua sahabatnya melangkah mendekati dirinya.


Tedia dan Zaki sudah tiba di dekatnya, keduanya duduk di kursi masing-masing. Zaki duduk dengan posisi tubuh menghadap Lani dan Tedia.


" Lan. " panggil Zaki.


Satu respon Lani berikan lewat gerakan alisnya, tapi mata Lani hanya fokus pada ponsel yang ia genggam.


Jangan di tanya Lani sedang apa. dari posisi ponselnya, Tedia dan Zaki tahu Lani sedang apa.


" anak Ipa B ngajakin sparing. Sikat kaga ? " kata Zaki.


Kini Lani bukan hanya merespon dengan gerakan alisnya, Tapi Lani menghentikan gerakan ibu jarinya di layar ponsel dan kemudian menatap penuh ke arah Zaki.


" yang ngajak si Abi.? " tanya Lani.


" iya lah, siapa lagi. Istirahat katanya. " Zaki menjelaskan.


Lani mendecakan lidah, kemudian ia meletakan ponselnya di atas meja. Lalu Lani melirik ke arah pintu karena mendengar suara Yoga dan Robi. Detik berikutnya, Lani kembali beralih pada Zaki.


" ngajak sparing kok istirahat, buang waktu doank " kata Lani seolah menolak tantangan kelas sebelah.


" tapi menurut gue lumayan, Lan. Itung-itung pemanasan buat kita " Saran Tedia.


Lani nampak berpikir, ia pun melihat Yoga sudah duduk di kursinya.


Di lihat Lani, Yoga mengerutkan dahinya. Jujur dia tidak tahu akan tantangan yang di ajukan oleh Abi siswa kelas 11 Ipa B.


" Abi ngajakin sparing, Ga." kata Zaki membuang rasa penuh tanya yang melanda Yoga.


Bola mata Yoga naik, ia nampak berpikir. " boleh, ayuk " Yoga setuju. Zaki dan Tedia berbinar. Kini dua pasang mata milik Tedia dan Zaki mengarah kembali ke arah Lani.


" gimana, Lan. Semua keputusan ada di elu, biar pun kita setuju tapi elu enggak, sama aja boong " Zaki mencoba membujuk Lani.


Pada akhirnya Lani mendesah pelan dan menganggukkan kepala tanda setuju dengan tantangan yang di ajukan oleh Abi.


Ke empat siswa itu kini mengalihkan atensi, mereka menatap ke arah pintu yang terbuka lebar.


Tujuan utama mereka sebenarnya bukan pintu, tapi empat siswi yang baru saja datang dan memasuki kelas.

__ADS_1


Tatapan Lani dan Tedia tentu saja tertuju pada Jiasa. Sejenak Lani mengalihkan pandangannya, dan diam-diam ia memperhatikan Tedia.


Lani melihat Tedia yang tengah menatap Jiasa, Lani menghela nafas. Dari tatapan yang di berikan Tedia, Lani melihat dengan jelas jika Tedia masih memiliki rasa untuk Jiasa.


..


Waktu istirahat tiba, sesuai kesepakatan. Siswa kelas 11 Ipa c dan Ipa B, berkumpul di lapangan.


Seragam putih mereka lepas, kelas Ipa c hanya mengenakan kaos putih yang mereka kenakan sebagai lapisan seragam sekolah mereka.


" yang menang dapat apa nih ? " tanya Abi, si pemberi tantangan.


" dapet cape " sahut Lani malas.


" kok cape sih Lan.? " tanya Darma, teman sekelas Abi.


sembari bersedekap Lani memutar bola matanya malas. seketika para siswi yang hendak menyaksikan mereka bertanding saling berbisik, mereka membicarakan Lani dan menatap Lani dengan penuh kekagumanan.


" yang ngajak siapa ? Kalian kan ? Ya kali Zaki yang nyiapin hadiah " kata Lani.


Abi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, yang Lani katakan benar. Melihat reaksi Abi, Lani menggelengkan kepala.


" hadiahnya pikiran nanti aja lah, sekarang main dulu. Itung-itung pemanasan " kata Yoga, anggukan ia dapatkan.


Hari ini Robi bertugas sebagai wasit, ia memberi aba-aba jika pertandingan akan segera di mulai.


Di babak pertama, Ipa b mendapat kesempatan untuk memulai permainan. Ketika pluit di tiup Robi, semua mulai bergerak, mengejar, menghalangi, dan merebut bola dari lawan.


Tak melewatkan kesempatan, Jiasa cs pun ikut menyaksikan. Mereka berdiri di pinggir lapangan.


Jiasa melirik ke kanan dan kirinya. Seketika ia menghela nafas ketika ia melihat banyaknya para siswi yang ikut menyaksikan pertandingan. Bukan itu sih yang membuat Jiasa menghela nafas, tapi air mineral yang mereka bawa.


Mereka tidak meninumnya, dan Jiasa tahu mereka pasti akan memberikan minuman itu kepada siswa yang mereka kagumi.


wajah Jiasa kini berubah menjadi tak bersahabat ketika ia mendengar beberapa siswi berteriak menyebut nama Lani. Jiasa berdecak dan memutar bola matanya malas.


Terlalu menyebalkan jika di perhatikan, Jiasa memilih untuk mengabaikan, ia kembali melihat ke arah lapangan, tak sengaja matanya melihat Lani yang tengah menggiring bola, kemudian ia tersenyum senang ketika Lani berhasil mencetak gol.


Bersama yang lain, Jiasa bersorak dan bertepuk tangan.


Jiasa kembali harus di buat mendecakan lidah ketika ia mendengar teriakan penggemar Lani di pinggir lapangan.

__ADS_1


" Lani kalau haus minum dulu "


" Arlan awas jatuh "


" kak Lani jangan cape-cape "


Itulah teriakan yang membuat Jiasa jengah dan mendecakan lidah. bukan hanya Lani saja yang di teriaki, ada juga yang memanggil Zaki, Yoga dan Tedia.


Jiasa yang semakin jengah memilih duduk di kursi yang ada di pinggir lapangan. Ia kembali mencoba mengabaikan suara dan teriakan penggemar Lani, dan memilih kembali menatap ke arah lapangan.


Priiiitt ..


Pluit di bunyikan Robi, tanda babak pertama selesai.


Semua siswa yang bertanding berjalan menuju pinggir lapangan.


Tentu saja Lani dan teman-temannya menghampiri Jiasa, Jennie, Rosa dan Irene.


Lani duduk di samping Jiasa, sementara Tedia, Zaki dan Yoga memilih duduk di bawah dengan kaki mereka yang di tekuk.


Beberapa siswi menghampiri mereka, berniat untuk memberikan air mineral yang mereka bawa kepada Lani dan kawan-kawan.


" Arlan, ini minumnya, pasti kamu haus "


Jiasa menoleh. bukan hanya Jiasa, tapi Jennie, rosa dan Irene pun menoleh. Ke empat siswi itu menatap tak suka ke arah siswi yang hendak memberi Lani air.


" caper " celetuk Jennie. Tentu saja di dengar, Hanya saja tunjuan mereka Lani dan Lani membuat mereka tuli akan suara sindiran Jennie.


Sama seperti yang Lain, Lani pun menoleh ia mendongkak menatap siswi itu kemudian beralih menatap air mineral yang menurut Lani cukup menyegarkan jika melewati tenggorokannya.


Melihat Reaksi Lani seperti merespon dan akan menerima air itu, Jiasa menghela nafas pelan. lagi pula ia cukup tahu diri untuk tidak melarang Lani menerima air itu.


Tiba-tiba Jiasa fokus akan satu hal, keringat Lani yang mengalir di pelipis Lani mengalihkan atensi Jiasa. Entah kerasukan apa, Jiasa tiba-tiba mengeluarkan tisu dari saku seragamnya, lalu menyeka keringat Lani.


Sontak, Lani pun terkejut. Ia menoleh dan mendapati Jiasa yang tengah terdiam kikuk dan salah tinggkah. Jiasa seperti baru menyadari jika ia baru saja melakukan hal yang aneh.


Beruntung temannya yang lain tidak menyadari, hanya Lani dan siswi yang tengah berusaha memberi Lani air yang melihat.


" keringet kamu, itu banyak banget " kata Jiasa salah tingkah, sembari menunjuk pelipis Lani.


Lani terdiam untuk beberapa detik, hingga entah di detik keberapa Lani terkekeh, lalu ia mengambil alih tisu yang Jiasa genggam, setelah itu Lani mulai menyeka keringat di area wajahnya.

__ADS_1


Apa yang Lani lakukan tentu saja membuat para siswi itu terabaikan.


diam-diam Jiasa tersenyum senang, ia senang karena Lani mengabaikan mereka.


__ADS_2