LABIRIN

LABIRIN
29


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat. Malam yang gelap kini berganti dengan pagi yang cerah.


Dengan diantar oleh fadil sang ayah, Jiasa sudah sampai di sekolah. Keluar dari mobil, berpamitan sebentar, kemudian Jiasa mengayunkan kakinya melangkah memasuki area sekolah.


Jiasa melihat sekeliling, area sekolah ternyata sudah ramai. Tempat parkir pun sudah banyak di penuhi oleh siswa dan siswi SMA NUSA PELITA yang membawa kendaraan pribadi.


Jiasa terus melangkahkan kaki menuju kelas, di sepanjang koridor banyak siswa lain menyapa. Jiasa membalas sapaan itu dengan ramah.


Santai dan merasa nyaman berjalan sendiri. Tiba-tiba Jiasa berhenti, kenyamanan yang baru saja Jiasa rasakan seketika hilang. Tangannya bergerak memegang dengan kuat tali tas slempangnya. Kemudian Jiasa menatap khawatir dan takut pada sosok siswa yang saat ini tengah duduk di kursi yang sengaja di letakan di luar ruang kelas 12 B.


siapa gerangan siswa itu ?.


Jawabannya Bara.


Peristiwa kemarin membuat Jiasa merasa risih dengan Bara, semakin risih ketika kemarin Irene bercerita padanya tentang sikap dan sifat Bara.


Jiasa masih berdiri di tempat. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Dalam hati Jiasa berdoa, semoga ada satu orang teman sekelasnya yang bisa ia ajak untuk berjalan bersama menuju kelas.


" ngapain diem di sini .. ? "


Mendengar suara seseorang bicara di sampingnya membuat mata Jiasa melebar. jiasa menoleh dan mendongkak guna melihat siapa yang tiba-tiba saja berdiri di sampingnya.


Mata Jiasa seketika berbinar. Doanya seolah di kabulkan oleh Tuhan. Di sampingnya berdiri sosok Tedia yang Jiasa tidak sadari kedatangannya. Terlalu takut akan sosok Bara di depan kelasnya membuat Jiasa tak fokus dengan sekitar.


" kok gak jalan ke kelas .. ? " Tedia, cowok yang menyampirkan tasnya di bahu kirinya kembali bertanya.


Tak menjawab, Jiasa menghela nafas kasar, hingga terlihat jelas bahunya menurun lemah. Kemudian Jiasa menatap lurus ke depan.


Di sana, Jiasa masih melihat Bara yang sepertinya menyadari ke datangan Jiasa, terbukti ketika Jiasa memandang ke arah Bara, Bara pun melakukan hal yang sama.


Dari tempat yang tak terlalu jauh, terlihat jelas bahwa Bara tengah tersenyum remeh.


Tedia mengikuti arah pandang Jiasa. Kemudian ia mendengus kesal, Jiasa merespon dengusan Tedia, ia mendongkak dan menatap Tedia dengan alis yang saling bertautan.


Sadar Jiasa menatapnya, Tedia menundukan wajah, kemudian ia tersenyum.


Jiasa masih menatap Tedia, dalam tatapannya Jiasa dibuat membulatkan mata ketika ia merasakan sesuatu menyentuh jemarinya.


Ya, ternyata Tedia tengah menautkan jari-jarinya dengan jari Jiasa.


Masih dengan mata membola, Jiasa menatap Tedia dengan tatapan penuh arti.


Sadar akan tatapan Jiasa, Tedia tersenyum tipis. " ngadepin anak dajjal macem dia gak cukup pake kata-kata, harus pake tindakkan .. ayo ke kelas .. " kata Tedia kemudian menarik tangan Jiasa hingga Jiasa ikut melangkah bersamanya.

__ADS_1


Posisi Tedia dan Jiasa saat ini sudah semakin dekat dengan Bara. Di tempatnya, Bara menatap ke aran Tedia dengan tatapan tak suka.


Tedia sadar akan tatapan tak suka yang ditunjukan Bara, ia mencoba untuk mengabaikan, tak melepas genggaman tangannya, Tedia terus melangkah membawa Jiasa, hingga akhirnya keduanya melewati Bara.


Tak ada sindiran, tak ada ejekan. Tedia dan Jiasa berjalan dengan begitu bebas ketika melewati Bara.


Tedia menyeringai, sepertinya ancaman yang ia berikan kemarin berhasil menusuk hati Bara hingga dia tidak mengganggu Jiasa.


Tedia bersyukur kekuasaan yang orangtuanya miliki ternyata bisa melindungi seorang gadis dari siswa nakal seperti Bara. Tapi, tak lama rasa syukur Tedia hilang, wajahnya berubah. Diam-diam ia melirik Jiasa yang masih setia berjalan di sampingnya.


Tedia menghela nafas pelan, kepalanya kini tengah memikirkan satu hal.


Jiasa mungkin akan aman jika dia terus berada di samping dirinya ataupun tiga temannya. Tapi jika nanti Jiasa tengah seorang diri, apakah Jiasa akan aman dari sifat buruk Bara.


Tedia kembali menghela nafas pelan. Mungkinkah keamanan Jiasa akan menjadi PR dalam hidupnya ? Satu pertanyaan yang Tedia lontarkan untuk dirinya sendiri, Dan pertanyaan itu ia ucapkan di dalam hati.


Jiasa sendiri bernafas lega ketika Bara tak mengganggunya. Jiasa mendongkak menatap Tedia dalam diam. Dalam hati Jiasa bertanya, mungkinkah pengaruh Tedia membuat Bara diam. Jika benar, maka Jiasa sangat bersyukur karena berada di dekat sosok pria bernama Tedia.


Jiasa tersenyum tipis, tapi tak lama senyuman itu sirna. Jiasa berpikir, bagaimana nanti jika ia kembali diganggu oleh Bara dan pada saat itu Tedia dan teman-temannya tidak ada di dekatnya.


Jiasa menghela nafas pelan, dalam hati ia berdoa semoga peristiwa kemarin adalah yang pertama dan terakhir ia di ganggu Bara, bagaimanapun Jiasa tidak mau dianggap memanfaatkan situasi.


Tak terasa keduanya sudah berada di depan kelas 11 IPA C. masih dengan telapak tangan yang saling bertautan, Jiasa dan Tedia melangkah masuk ke dalam kelas.


Yoga yang nenyadari kebodohan Tedia menepuk dahinya pelan. Ia mendengus dan mendelik tajam ke arah Tedia, setelah ini Yoga mempunyai rencana untuk mengintrogasi Tedia dari akar sampai ke ranting bahkan hingga tumbuh buah.


" buseet dah, emang bener banget TIKUNGAN TAJAM HANYA BISA DILAKUKAN OLEH ORANG TERDEKAT .. " celetuk Zaki dengan suara lantang.


Jiasa dan Tedia yang tak mengerti hanya saling lirik. Kemudian keduanya kembali menatap bingung ke arah teman sekelasnya yang tengah memperhatikan mereka berdua.


" tangannya udah kali lepasin, mau nyebrang apa gimana .. " kali ini jennie yang menggoda.


Jiasa dan Tedia kembali saling menatap, dan seketika keduanya melebarkan mata ketika ingat jika tautan tangan keduanya belum terlepas. Bergegas baik Tedia maupun Jiasa melepas tautan tangannya dan kemudian keduanya saling menjauh.


" ini gak seperti yang kalian pikirin kok .. Tadi ada si Bara depan kelasnya, gue cuma nolongin Jiasa aja, iya kan Ji .. " Tedia mencoba memberi penjelasan, terlebih lagi ia sudah menyadari tatapan tajam yang Lani berikan.


Melihat situasi yang sepertinya akan memburuk Yoga berinisiatif mengalihkan topik. Yoga berdeham " ehhhmm .. Si Bara kayanya kalau belum dapat apa yang dia mau gak bakal berhenti begitu aja, kita kudu ngasih peringatan .. " sesekali matanya melirik Lani. Berharap Lani terpengaruh dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan. Dan sepertinya berhasil, tatapan tajam Lani sudah mereda. Semakin mereda ketika dia melihat Rosa masuk dengan deru nafas yang memburu.


" Jia .. Mana Jiasa ..? " Rosa celingak-celinguk mencari Jiasa yang sebenarnya berdiri di depan hanya saja posisinya membelakangi Rosa.


" Jia di depan oca .. " Kata robi.


Rosa pun melihat Jiasa dan bergegas menghampirinya.

__ADS_1


" Ji .. Badan lu gak ada yang lecet kan, gue tadi denger kak Bara ghibahin elu, katanya dia mau deketin elu, terus gue juga kemaren denger katanya kak Bara nyegat lu sama Irene .. "


" yang bener lu ca .. " Jennie bersuara. Rosa mengangguk.


" jadi sekarang tuh bocah lagi ghibahin Jia ..? " tanya Lani. Yoga melirik Lani yang kini tatapannya sudah kembali kesal.


" wah kudu ekstra jagain Jiasa gue .. " celetuk Jennie " tapi elu gak di apa-apain kan sama kak Bara ? " tanya Jennie pada Jiasa yang kini sudah duduk di kursinya, begitu pula dengan Tedia.


" enggak, tadi pas mau ke kelas, dia ada di depan kelasnya, aku takut, masih inget yang kemaren, jadinya cuma diem aja gak berani lewat, tapi untung ada Tedia, jadi aku bisa aman dari dia .. " Jiasa menjelaskan kepada sepupuhnya itu jika ia baik-baik saja. dan Jiasa juga menjelaskan soal tangannya dan tangan Tedia yang saling bertautan itu semua semata karena adanya Bara.


" gak aman gak aman gak aman .. Pokoknya keluar kelas kita harus sama-sama, jangan jauh-jauh dari gue ya Ji .. " kata Jennie, Jiasa menganggukkan kepala.


Kemudian tatapan Jiasa di alihkan kepada Tedia, keduanya tak sengaja saling tatap. Jiasa tersenyum tipis kepada Tedia.


" jadi mau kita apain tuh kakak kelas pea .. ? " tanya Zaki menatap Lani dan Tedia secara bergantian.


Lani menghela nafas pelan " kasih peringatan sama ancaman aja dulu, jangan gegabah dalam bertindak, kita juga harus mikirin diri sendiri, ketahuan berbuat anarkis maka kesempatan untuk ikut seleksi timnas akan di coret .. " Lani memberitahu konsekuensi jika mereka berbuat hal yang anarkis.


" gue setuju sama Lani, lagi pula kalau depan kita dia gak akan berani, tadi aja tuh dajjal cuma ngeliatin aja, yang gue pikirin nasib Jiasa kalau gak ada kita .. Inget Bara itu gak bakal puas kalau obsesinya belum tercapai "


Zaki dan Yoga saling lirik, yang Tedia katakan benar adanya.


Lani mendesah pelan " kita awasi aja diem-diem pergerakan Bara .. Kalau dia macem-macem baru laporin papa .. "


" papa ? Bapak gue maksud lu ..? " tanya Tedia jarinya menunjuk dirinya sendiri.


Lani memutar bola matanya malas " bukan, bapaknya Zaki .. "


" berarti lapor sama pak menteri donk .. " kata Tedia dengan suara cukup keras.


Zaki menghembuskan nafas kasar, kemudian matanya melirik penjuru kelas dan ternyata teman-teman sekelasnya tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


" serius Ki, bapak lu menteri ..? " Robi yang penasaran pun mengajukan satu pertanyaan.


" Tedia sialan ya lu, bocorin data pribadi gue .. " Zaki menggerutu kepada Tedia, Tedia tersenyum bodoh dan mengangkat kedua jarinya membentuk hurup V


Apa yang Zaki katakan membuat semua mata teman sekelasnya membulat. Selain anak seorang donatur terbesar ternyata Zaki juga seorang anak pejabat negara.


" kok gue bisa gak tau sih .. ?" kata Jennie


" makanya elu sering-sering maen sama gue, biar kenal sama bapak gue .. " kata Zaki menanggapi ucapan Jennie.


Jennie mendelik tajam " dih ogah .. "

__ADS_1


..


__ADS_2