
" gimana kondisi Jiasa ? " Tanya Malik ketika melihat putranya yang baru saja pulang dari rumah sakit.
Tedia menghentikan langkahnya, ia kemudian menghela nafas kasar. Tedia lelah, ia baru saja pulang tapi sudah di cecar dengan sebuah pertanyaan.
Tedia bergerak menghadap ke arah ayah dan Ibunya yang tengah duduk di sofa.
" Jiasa baik, Pa. dia udah di pindahin ke tempat perawatan. Hanya saja .... bayinya tidak. Tertolong " Tutur Tedia suara sedikit tercekat ketika mengatakan kondisi bayi Jiasa dan Lani.
Malik menghela nafas, ia membuang pandangannya dari Tedia. Berbeda dengan Malik, Ria masih menatap Tedia dengan tatapan yang sulit di artikan. sadar akan tatapan Ibunya, Tedia menundukkan kepalanya.
" sudah, masuk kamar sana " perintah Malik, Tedia mengangguk kemudian melirik ke arah Ria lalu tak lama berpaling dan melangkah pergi naik ke lantai atas.
..
Pagi menyapa, setelah semalam bulan membawa cerita.
Lani menatap pantulan dirinya di depan cermin yang ada di kamarnya.
Seragam sekolah lengkap, kemeja yang masuk ke dalam celana abu-abu tak lupa dasi yang bertengger di lehernya. Setelah beberapa hari tak masuk sekolah, hari ini Lani memutuskan untuk kembali ke sekolah.
Merasa dirinya sudah terlihat baik, Lani menjauhi cermin. Yang pertama ia tuju adalah meja kecil di samping tempat tidurnya.
Ponsel yang tengah ia isi daya batrenya ia cabut. Lani menatap nanar ponselnya yang baru bisa ia dapatkan kembali setelah beberapa hari di sita oleh Malik dan Ibunya.
Setelah melepas ponselnya dari pengisi daya, kini Lani kembali bergerak melangkah menuju sofa yang ada di kamarnya.
Tas yang ia letakan di sofa sejak semalam menjadi tujuannya. Lani meraih tas itu kemudian ia sampirkan di satu bahunya.
Tarik nafas dalam, kemudian hembuskan dengan kasar. selanjutnya Lani melangkah keluar dari kamarnya.
Menuruni anak tangga, Lani melihat Bi Minah yang tengah menyiapkan sarapan. Tentu saja untuk dirinya dan juga Ibunya. tapi yang membuat Lani merasa malas untuk duduk di meja makan adalah kehadiran Raya yang tak terlihat. Biasanya Raya yang akan teriak memanggil Lani, tapi hari ini tidak.
" Lan. Sini sarapan dulu. Entar sakit, terus pingsan, gue yang repot. " celetuk Robi yang membantu Bi Minah.
Lani bergeming, ia tak menggerakkan kakinya untuk melangkah. " Ibu mana ? " tanya Lani.
" itu Ibu. " kata Robi.
Lani mengikuti arah pandang Robi, dan ia melihat Raya yang mengenakan setelan rapih. Fokus utama Lani tertuju pada mata sembab Raya.
kaki Lani kembali bergerak dan mulai menapaki anak tangga satu persatu. Ia menyusul sang Ibu yang kini sudah duduk di meja makan.
" Ibu mau kemana ? " tanya Lani, meski sudah tiba di meja makan ia tak segera duduk.
Robi yang gemas segera menghampiri Lani, ia menarik kursi untuk Lani kemudian ia menyentuh kedua bahu Lani, lalu Robi memaksa Lani untuk duduk.
__ADS_1
" nah kalau gini kan enak ngeliatnya " celetuk Robi yang berhasil membuat Lani duduk lalu kembali pada posisi awalnya.
" den Arlan mau sarapan apa ? " tanya Bi Minah.
" Arlan gak laper, Bi. " sahut Lani dan membuat Bi Minah menghembuskan nafas kecewa. Tapi meskipun demikian, Bi Minah memaklumi, kondisi Lani yang sedang terpuruk membuat Bi Minah paham jika Lani memang tidak ingin makan.
" kan gue udah bilang, Lan. lu harus sarapan. Kalau sakit terus jatuh pingsan. Gue yang repot. "
" ya elu langsung kubur gue aja biar lu gak kerepotan. "
Sontak ekspresi wajah Robi langsung berubah. Leluconnya gagal, padahal ia hanya ingin menghibur Lani.
" udah, kalau kamu gak mau sarapan. Nanti kamu sarapan di sekolah. " pada akhirnya Raya bersuara. Lani pun menganggukkan kepala.
Tak membawa kendaraan sendiri seperti biasanya, kini Lani kembali ke sekolah dengan di antar Pak Asep.
Awalnya Lani menolak, tapi Raya memaksanya dan akhinya Lani menerima.
" Bapak pergi dulu ya, den. Mau jemput Ibu soalnya. Nanti kalau pulang Bapak jemput lagi. " kata Pak Asep, kemudian Lani keluar dari mobil milik Ibunya.
Setelah Lani keluar, mobil yang di kendarai Pak Asep melaju pergi.
Tak lekas masuk ke dalam area sekolah, Lani justru menatap gedung sekolah itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
Tak lama Lani menghela nafas, kemudian ia mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam area sekolah.
Kelas Lani sudah terlihat, lagi-lagi Lani menghelan nafas. Kemudian ia melangkah dengan keyakinan yang penuh.
Di dalam kelas siswa dan siswi yang sudah datang mengisi waktu yang kosong dengan bercanda dan berbincang dengan teman sebangku.
Tapi tidak dengan dua siswa dan tiga siswi yang jarak kursinya bersebelahan. Mereka terlihat sendu dan seperti tak semangat untuk sekolah.
" gimana keadaan Jiasa sekarang.? " tanya Yoga pada Jennie.
" Jiasa sih udah lebih baik, mungkin besok dia bisa pulang. " sahut Jennie.
Yoga mengela nafas, " syukur deh kalau gi . .. Lani " kalimat yang akan Yoga ucapkan terhenti ketika ia melihat Lani di ambang pintu.
Lani menatap datar Yoga, kemudian ia melangkahkan kaki menuju kursinya yang berada di pojok kelas.
Lani berjalan dengan ekspresi dingin, ia pun jadi pusat perhatian, terutama Jennie yang menatap tak suka kearah Lani dengan begitu jelas.
" Lan. " sapa Zaki, Lani melirik sekilas, kemudian ia menaruh tasnya di meja dan mendaratkan bongkongnya di kursi kebesarannya.
" kok elu gak bilang mau sekolah, kan gue bisa jemput. " kata Yoga, Lani mengabaikan. Ia malah beralih pada Zaki.
__ADS_1
" ki, tugas yang kemarin apa, bisa gue liat ? "
Zaki bergegas membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku tugas. Yoga yang di abaikan hanya menghela nafas kasarnya. Yoga tak marah, ia paham kondisi Lani saat ini.
Lani mulai membuka buku milik Zaki, ia pun mulai menyalin tugas milik Zaki.
Membiarkan Lani, tak lama pada Zaki dan Yoga tertuju pada sosok Tedia yang baru saja tiba.
Melihat Lani, Tedia yang merasa tidak bersalah segera menghampiri Lani.
" Lan, lu masuk. Kok gak ngabarin gue sih. ? " kaget Tedia yang kemudian ia duduk di kursinya menghadap Lani.
Lani menghentikan gerakan tangannya, kemudian kepalanya bergerak menoleh pada Tedia.
Lani menatap datar Tedia, Tedia menatap balik Lani.
Yoga dan Zaki mulai waspada, sepertinya akan ada perang dingin di antara Lani dan Tedia.
Lani membuang pandangannya, kemudian ia menghela nafasnya. Lani menutup buku miliknya dan juga milik Zaki, setelah itu Lani berdiri, semua mata kini tertuju kepada Lani.
di tatapanya satu persatu siswa dan siswi yang kini fokus kepada Lani. Lani bergerak keluar, dengan terpaksa Tedia menyikir.
Lani tak lekas pergi, ia berdiri menatap Tedia yang masih duduk di kursinya.
kemudian Lani kembali menatap ke arah para siswi dan siswi di sekitarnya.
" harusnya orang yang pertama kali kalian hubungi itu gue. Udah puas, bikin gue ngerasain dua kali yang namanya KE HI LANGAN .. " Kata Lani dengan penekanan di akhir kalimat.
Semua melebarkan matanya. Lani tersenyum miris, ia menatap Tedia. " Makasih, Di. Gue cape pengen tidur " katanya kemudian berlalu pergi meninggalkan kelas.
" Lan .. " panggil Robi kemudian menyusul Lani.
mata Yoga kini menatap Tedia, Zaki kembali waspada. " luka yang baru sembuh setelah bertahun-tahun kini ke ulang lagi. Selamat Tedia, happy ending buat lu dan Jiasa, Tapi enggak buat Lani. " Yoga kini ikut menyudutkan Tedia.
" ini maksudnya kenapa sih, elu juga kenapa dari semalam lu terus nyalahin Tedia. Elu mau mihak Lani, udah jelas di sini dia yang salah. " geram Jennie.
Yoga terkekeh pelan, " Lu tanya aja deh sama nih anak. Kalau jujur gue bersyukur kalau bohong berarti nih bocah udah lebih gak bermoral dar Lani. " kata Yoga kemudian melangkah keluar kelas.
Di situasi sulit Zaki harus memilih, antara ikut Yoga apa diam bersama Tedia. Alhasil, Zaki pun memilih menyusuk Yoga dan membiarkan Tedia sendiri.
Jennie menatap Tedia penuh tanya, semua yang terjadi membuatnya penasaran.
" gila ya lu, perihal senyum Tedia aja masih lu anggap bukti. " kata Zaki dalam perjalanan tak tentu arahnya bersama Yoga.
" gue yakin se yakin-yakinnya kalau Tedia yang udah hasut Jiasa. Lu inget kan, ki. Nasehat lu di mobil pas mau berangkat ke rumah Jiasa. Tedia jawab apa hah.? "
__ADS_1
Zaki terdiam, ia mengingat kembali nasehatnya untuk Tedia, dan kini ia mengangguk paham kenapa Yoga bersikap demikian.