
Tepat didepan pintu pagar rumah Jiasa, Lani menghentikan laju motornya.
" mampir gak ? " tanya Jiasa.
Lani menoleh sedikit kebelakang guna melihat Jiasa yang masih setia duduk dibelakangnya. " ada siapa di rumah ? " Lani balik bertanya.
" Mama " sahut Jiasa.
Lani hanya merespon dengan anggukan kepalanya, hal itu membuat Jiasa tak mengerti. Ia pun memilih bersikap masa bodo.
Tak lama Lani kembali menghidupkan mesin motornya, kemudian ia melajukan motornya masuk kedalam halaman rumah Jiasa.
Motor Lani berhenti tepat didepan teras rumah Jiasa, dan tak lama Farah datang kemudian berdiri diambang pintu.
Tak ada aura negatif yang Farah pancarkan. Ia memberikan senyum ramah pada Lani yang kini tengah berjalan bersama Jiasa untuk menghampirinya.
" Ma " Jiasa mencium punggung tangan sang Ibu. Kemudian Lani pun mengikuti apa yang Jiasa lakukan pada Farah.
" Maaf kita terlambat Tante. Tadi Aku ngajak Jia makan dulu. " Lani tak enak hati, pasti Farah sudah menunggu Jiasa sejak tadi.
Farah tersenyum, begitu ramah. Tak ada aura kebencian yang dulu sempat Lani dapatkan. " iya gak apa-apa, Mama kira kalian mau langsung pulang. Mama udah siapin makan siang. "
Wajah Jiasa memelas, begitu pun dengan Lani. Ia semakin tak enak hati, pasalnya dialah yang sudah mengajak Jiasa untuk mengisi perut terlebih dahulu.
Melihat bagaimana ekspresi kedua remaja yang saat ini ada dihadapannya membuat Farah sadar jika saat ini keduanya tengah merasa tak enak hati kepada Farah. " oh iya, Kamu mau Masuk dulu Arlan.? " Farah mencairkan suasana agar keduanya tidak memikirkan perkataan Farah tadi.
Lani tersenyum. " nanti aja, Tan. Mau kerumah Zaki soalnya. " tolak Lani dengan halus.
Farah tersenyum, kemudian ia mengangguk.
" Aku pamit ya, Tan. " Lani mencium punggung tangan Farah.
" Balik ya Ji. " pamit Lani pada Jiasa.
Jiasa mengangguk, Lani melangkah menuju motornya. Jiasa mengikuti.
Naik dan duduk diatas motornya. Lani kemudian memutar kunci guna menghidupkan motornya. " Balik ya " Pamit Lani lagi.
Jiasa mengangguk " hati-hati " katanya pelan.
Dan kali ini Lani yang menganggukkan kepala sembari tersenyum.
Usai berpamitan, Lani melajukan motornya meninggalkan area rumah Jiasa.
Jiasa kembali melangkah menghampiri sang Ibu yang masih berdiri diambang pintu. Tatapan penuh tanya Jiasa berikan pada Ibunya.
Farah mengerutkan dahi, merespon tatapan penuh tanya Jiasa.
" kok bisa Papa kepikiran buat nelephone Lani.? " tanya Jiasa pada akhirnya.
Farah mengedikan bahunya. " Mama juga gak tau, mungkin Papa udah mulai luluh dan ngerestuin kalian. "
Jiasa menghela napas " tapi kita gak punya hubungan apa-apa " Jiasa menjelaskan sembari melangkah masuk kedalam rumah.
" untuk hari ini memang belum, tapi gak tau besok, Jiasa. inget yang punya rencana itu tuhan, kita cuma menjalankan. "
__ADS_1
Jiasa kembali menghela napas. ia tak membalas ucapan sang Ibu, Jiasa merasa bingung harus menjawab apa.
" udah, mending sekarang kamu istrihat sana. " kata Farah sembari mengusap surai hitam Jiasa.
Jiasa mengangguk dan kemudian melangkah menuju lantai atas rumahnya.
..
Motor Lani berhenti didepan pagar yang tinggi. Kemudian ia menghidupkan klason motornya.
tak lama, pintu pagar terbuka.
" makasih, Pak. " kata Lani kemudian masuk kedalam halaman rumah milik Zaki sahabatnya.
Lani memarkirkan motornya tepat disamping mobil yang sangat Lani ketahui pemiliknya.
Tak bergegas beranjak, Lani malah berkaca melalui spion motornya, kemudian ia merapihkan rambutnya yang sudah mulai terlihat panjang.
Asik dengan dunianya, Lani teralihkan oleh suara ponsel miliknya. Bergegas ia mengeluarkan ponselnya, lalu Lani melihat terlebih dahulu siapa yang sudah mengganggunya.
" gue di parkiran rumah lu " katanya, Lalu mengakhiri sambungan telephone itu secara sepihak. Lani terkekeh, ia sangat yakin saat ini Zaki tengah misuh-misuh.
Lani bergerak menjauhkan dirinya dari motornya, kemudian ia melangkah menuju rumah Zaki.
Pintu rumah yang tidak tertutup memudahkan Lani untuk masuk, tapi meski begitu Lani tahu diri " Zakiiiii " panggil Lani dari ambang pintu rumah Zaki.
Di dalam, Mama Widia yang kebetulan duduk di sofa ruang tamu, menggelengkan kepala karena teriakan Lani. " walaikumsalam " Widia menyindir Lani.
tentu saja Lani langsung memberikan cengiran bodohnya. Ia masuk dan menghampiri Widia.
" selamat siang Mama " Lani mengulurkan tangan, mendapat sambutan dan kemudian mencium punggung tangan Mama Widia.
Lani terkekeh. " biasa, Ma. Pacaran dulu tadi. "
Widia mencibir " pacaran mulu, nanti ada anak kedua gimana ? "
" ya gak gimana-gimana, Mama. Berarti Arlan itu pinter, pinter ngebobol gawang lawan, dan pinter juga ngebobol anak orang. "
" iya saking pinternya Papa sampe pengen jewer "
perlakuan tidak terduga Lani dapatkan dari seorang pria yang terlihat berwibawa bernama Marsel.
Lani mengaduh karena telinganya mendapat tarikan " aaaaaa .. aduh. Ampun Pa. "
Marsel melepas telinga Lani, seketika Lani pun mengusap telinganya yang sudah pasti memerah.
Farah sendiri tertawa melihat bagaimana Lani yang saat ini terlihat memelas.
" berani ngulangin kesalahan yang sama, Papa sunatin kamu dua kali " ancam Marsel sembari duduk di sofa, kemudian ia meraih kopi miliknya.
Lani bergidik ngeri mendengar ancaman Marsel.
" masukin pesantren aja, Pa. " usul Widia.
" gak bakal mempan " sahut Marsel..
__ADS_1
" udah ah, disini malah dibully Papa sama Mama. Arlan mau nyamperin Zaki aja. " kata Lani yang kemudian berlalu pergi.
" dari mana dulu dia, kok baru datang. Tumben amat gak bareng sama yang lain. ? " tanya Marsel dengan wajah serius.
" tadi sih Zaki laporan sama Mama kalau Arlan nganter Jiasa dulu. "
" Jiasa ? " Marsel cukup terkejut, pasalnya ia sangat tahu Jiasa pernah menolak Lani.
" mereke berdua deket lagi ? " tanya Marsel, kali ini ada raut wajah kekhawatiran. Jujur saja kejadian waktu itu sangat amat menggucang dirinya. Maka dari itu baik Marsel dan yang lainnya sangat amat takut kejadian yang sama akan terulang, terlebih kini Marsel mengetahui Lani dan Jiasa sudah kembali dekat.
" kalau soal itu, Mama kurang tau sih. Pak. Coba aja Papa nanti ngobrol sama Malik. " Saran Widia. sama seperti suaminya, ia tidak mau kejadian yang sama kembali terjadi.
Dari luar kamar Zaki, Lani dapat mendengar suara tawa ketiga temannya. Ia pun ikut terkekeh.
" woyyy "
" walaikumsalam . " sahut Tedia, Yoga, dan tentu saja Zaki.
Lani tertawa, ia pun melangkah masuk.
" dari mana lu, lama amat. jangan bilang abis cocok tanam lagi. Awas aja kalau nanti kita panen bareng-bareng lagi. " kata Zaki.
Tedia dan Yoga menggelengkan kepala. sedangkan Lani, mendengus kemudian menoyor kepala Zaki.
" mulut sama otak kaga pernah dicuci gini, kotor mulu jadinya. "
" ya abisnya lu lama, kan gue takut. "
Yoga menghela napas, ia harus segera menengahi. Apalagi, Lani sudah akan kembali membuka mulutnya.
" udah, tujuan kita ngumpul bukan buat bahas itu. "
Seketika Lani dan Zaki menutup rapat mulutnya. Si tetua sudah memberikan sinyal peringatan.
" mana datanya, Lan. ? " tanya Tedia.
" bentar " Lani segera membuka tas miliknya, kemudian ia mengeluarkan dua lembar kertas berwarna putih. Lalu Lani menyerahkan kepada Tedia.
" 17 keatas ternyata, gue jelas gak bisa ikut " kata Lani, kemudian ia menoleh pada Yoga dan Zaki.
Tedia terus fokus membaca.
" jadi bukan karena mau balik ke amerika, tapi karena kurang umur juga. Lu udah tau sebelumnya. Lan ? " tanya Tedia.
" gue baru tau kemaren, makanya gue ngumpulin bocah tadi. Terus gue ngajak kalian ngumpul soalnya mau diskusiin ini sama kalian, otomatis kalau gini paling yang bisa ikut cuma beberapa. Gue bingung nyampein sama yang lain, pasti yang udah antusias kecewa banget karena gak bisa ikut. Lagi-lagi gue ngecewain mereka. " Lani menundukan wajahnya.
Tedia menghela napas, kemudian ia meletakan kertas putih itu diatas lantai. " ini bukan salah lu, Lan. Emang udah peraturannya kaya gitu. Sekarang di tim kita siapa aja yang bisa ikut. ? " tanya Tedia.
" semua kelas 11 kecuali gue gak bisa ikut, anak kelas 10 jelas gak bisa ikut. " Lani menjawab.
" lu curi umur aja, Lan. " celetuk Zaki dan sukses membuat dirinya mendapat tatapan tajam dari Yoga dan Tedia.
" ya dari pada gak bisa ikut " polos Zaki.
Yoga dan Tedia memutar bola matanya malas.
__ADS_1
" nanti kita sampein bareng-bareng sama mereka, gue yakin kok mereka ngerti " kata Yoga.
Lani menganggukkan kepalanya.