LABIRIN

LABIRIN
90


__ADS_3

" Gila ya, kayanya kak Lani beneran pacaran sama anak baru itu deh. Kok bisa ya, padahal setahu kita. Kak Lani emang terkenal suka godain siswi di sini, tapi kan gak sampai menjurus ke pacaran "


Suara penuh rasa penasaran yang di keluarkan oleh siswi kelas 10, mereka baru saja menyaksikan drama romansa secara live.


Sakit hati ? Itu pasti.


Tapi, mereka tidak bisa memaki. Alhasil mereka hanya bisa bersuara di belakang dua orang yang jadi bahan perbincangan.


" ya bisa lah, secara mereka itu sekelas. Udah gitu sering ketemu, buat pacaran ? udah jelas banget semuanya mendukung, belum lagi kejadian kemaren itu. Yang kak Lani ngasih sesuatu ke anak baru itu. Jadi udah bisa di pastiin sih " suara siswi lainnya.


Bahu mereka merosot lemah. Bahkan mereka menghela nafas tanda menyerah.


" gue kalau saingannya anak baru itu nyerah deh. Kalah jauh soalnya " nada menyerah di serukan, beberapa siswi lainnya menggaguk setuju.


Berbeda dengan siswi lain yang menyerah, salah satu siswi bernama Citra yang tak sengaja mendengar percakapan mereka. Kini tengah menghentak-hentakan kakinya karena kesal.


Kesal karen melihat Jiasa menyeka keringat Lani, dan kesal karena ternyata siswi lainnya malah mendukung hubungan Lani dengan Jiasa.


" gue bilang juga apa, Cit. Nyerah, kak Lani gak bakal bisa lu gapai. Lagian di usir aja bisa bikin lu baper ampe segitunya. " ujar temannya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Citra si gadis itu mendecakan lidahnya, kemudian ia menghentakan kakinya kesal dan melangkah pergi.


Kepergian Citra kembali membuat temannya menggelengkan kepala.


...


Jam istirahat kedua.


Seperti biasa, kantin di penuhi oleh siswa dan siswi SMA NUSA PELITA.


Jiasa dan ketiga temannya tengah duduk di meja yang tersedia sembari menikmati makananya.


Tapi, sebenarnya yang tengah menikmati makanannya hanya Jennie, Irene dan Rosa. Jiasa sendiri tengah diam sembari bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa ia bisa melakukan tindakan yang menurutnya bodoh.


Tak lama, mata Jennie teralihkan oleh kehadiran empat siswa yang saat ini tengah melangkah memasuki area kantin.


Jennie menyeringai. Irene dan Rosa melihat seringai Jennie, keduanya pun saling tatap dan mengerutkan dahi.


Yang Jennie tatap kini mulai mendekati meja yang Jennie tempati. Dan ketika salah satu dari siswa itu sudah berada di dekat Jennie, Jennie menarik lengan siswa itu dan membuat dia duduk di samping Jiasa. Bahkan tubuhnya tak sengaja mengenai tubuh Jiasa.


" Anjing .. Jennie .. " teriaknya karena terkejut.


Jennie bersikap masa bodo dan kembali menyeringai. tiga siswa yang kini berdiri menggelengkan kepala melihat tingkah Jennie. Sementara itu Jiasa, Irene dan Rosa kembali menatap Jennie, heran.


Seringai Jennie hilang, kini Jennie beralih menatap tiga siswa yang masih berdiri di tempat. Lalu Jennie kembali menatap Lani yang baru saja ia tarik hingga membuat Lani duduk dengan terpaksa.


" karena kalian tadi menang pas lawan kelasnya Abi, jadi kalian harus teraktir kita sepuasnya. " kata Jennie menyampaikan apa yang ia inginkan

__ADS_1


Seketika semua melebarkan matanya, tapi tak lama mata Irene dan Rosa berbinar. Keduanya pun berteriak.


" SETUJU .. " Irene dan Rosa begitu semangat.


Lani masih di landa rasa terkejut, ia menatap Jennie yang kini menatapnya dengan alis yang naik turun.


" kalian duduk jangan diri terus, pegel gue liatnya " perintah Jennie. Tedia, Yoga dan Zaki pun menuruti.


Seperti biasa, Zaki akan duduk di samping Jennie dan Yoga akan duduk di dekat Rosa.


Tedia sendiri, duduk di sisi kanan Jiasa. Seketika Jiasa berubah kikuk, setelah sekian lama, Jiasa kembali duduk dengan di apit oleh Lani dan Tedia.


" kalian bayar ya, gue mau pesen sesuatu dulu " kata Jennie hendak bangun. dengan mata berbinar, Irene dan Rosa pun mengikuti Jennie.


Tapi, niat mereka untuk bangun dari duduknya di hentikan oleh Zaki.


" Tunggu. "


Tiga gadis itu kembali duduk. Jennie menghela nafas.


" enak amat kalian mau langsung pesen. bentar, liat isi dompet kita dulu. " sambung Zaki. Lani, Tedia dan Yoga mengangguk setuju.


Jennie memutar bola matanya malas, " Ck ! ya udah buruan, lagian gak mungkin banget sultan macem kalian gak punya duit "


Tedia berdecih " yang sultan bapak gue, gue mah masih jadi babunya " katanya, yang kemudian mengeluarkan dompetnya dari saku celana abu-abu.


Tedia membuka lebar dompetnya, semua mata para siswi itu menatap padanya.


Setelah membuka lebar, Tedia mulai mengeluarkan uang dari dalam dompetnya.


" 350 ribu " kata Tedia sembari menunjukan uang itu kepada Jennie.


Mata Jennie berbinar, begitu juga dengan Rosa dan Irene. Jiasa sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.


Kemudian Jennie beralih pada Yoga. " tunjukin isi dompet elu " perintah Jennie.


Yoga menuruti, ia pun mengeluarkan benda berbentuk kertas itu. " 300 ribu " kata Yoga.


Irene, Jennie dan Rosa semakin berbinar.


" Zaki, buruan " kali ini Jennie memerintah Zaki.


Zaki pun menuruti, kemudian mengeluarkan isi dompetnya " sama kaya Yoga 300 ribu. "


" 1 juta kurang 50 ribu, makan besar hari ini kita " antusias Rosa sembari bertepuk tangan dan wajahnya begitu ceria.


Untuk ukuran kantin sekolah, bagi mereka 1 juta cukup.

__ADS_1


" punya elu, Lan. Keluarin " kata Irene, semua mata kini tertuju pada Lani.


Lani menggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian ia membuka dompetnya, lalu perlahan Lani mengeluarkan satu lembar uang berwarna merah dari dalam dompetnya.


Melihat hanya satu lembar uang yang ada dalam dompet Lani, kecuali Jiasa, semua membulatkan matanya.


" anjiiiir 100 ribu aja " kaget Tedia, si anak sultan pemilik sekolah.


" serius lu, Lan. " kali ini Zaki, Lani mengangguk.


Hening untuk beberapa detik, semua masih terkejut.


Hingga tak lama suara tawa terdengar dari sisi kanan Jiasa. Lalu di detik berikutnya tawa lain menyusul.


Seketika kantin heboh oleh tawa siswa dan siswi kelas 11 Ipa C.


Di tertawakan, Lani mendengus.


" gila, anak sultan duitnya cuma 100 ribu di dompet. " ledek Irene, dan kembali membuat tawa itu pecah.


Jiasa pun ikut tertawa, hanya saja tidak seheboh yang lainnya.


Lani kembali mendengus.


" gaya elu mau ngajak kawin anak orang, duit di dompet aja cuma 100 ribu. Mau di kasih makan pasir entar. " kali ini suara Yoga. Dan tawa itu kembali menggelegar.


Lani memandang jengkel Yoga, ia juga kembali mendengus kesal.


Jiasa sendiri berpura-pura melihat ke sekeliling kantin. Ia sadar jika Yoga tengah menyindir Lani yang dulu sempat akan menikahinya.


" ini tuh belum di tf sama Om gue, nanti kalau udah di tf, dompet gue tebelnya ngalahin bedak yang nempel di muka Irene. " Lani akhirnya membela diri.


Mendengar namanya di sebut, Irene membulatkan mata dan menatap tajam Lani. melihat Irene kesal, Lani tersenyum senang.


Irene yang gemas segera bangkit dan mengulurkan tangannya berniat menjambak Lani. Hanya saja Lani dengan sigap menjauhkan dirinya dari jangkauan Irene. alhasil, Irene pun gagal.


" Arlan, gue sumpahin ya. Tuh duit yang sekarang ada di dompet elu ilang, terus lu gak bisa jajan. "


Lani tertawa " gampang, ngutang dulu. Besok baru bayar " sahut Lani.


Semua tertawa, kecuali Yoga dan Jiasa.


Yoga menatap sendu Lani, dan beruntung tak ada yang menyadari.


Yoga kini sadar, Jika Lani seperti ingin membuat kenangan indah sebelum ia pergi ke negara tempat tinggalnya dulu.


Berbeda dengan Yoga yang menatap sendu Lani, Jiasa memilih menunduk dengan kedua lengan yang saling bertautan. Jiasa memainkan jari-jari sendiri. Jiasa tahu suasana seperti ini akan sirna setelah Lani pergi.

__ADS_1


__ADS_2