
" Arlan .. Parah lu ya, mau kabur, mau lari dari tanggung jawab "
Zaki berseru. begitu dramatis, bahkan ia sampai menunjuk wajah Lani dengan jari telunjuknya.
Awalnya, Zaki sempat terkejut. Tapi, setelah rasa terkejutnya hilang, Zaki malah menuduh Lani yang akan lari dari tanggung jawab.
Lani mendesah pelan, bahkan kedua lengannya bertengger di pinggang. Kemudian Lani menatai Zaki dengan tatapan malas.
" mana ada gue lari, orang gue lagi diem berdiri depan elu. "
Seketika suara tawa terdengar setelah Lani mengucapkan sebuah guyonan. Tapi, tawa itu hanya berasal dari Zaki, yang lain hanya diam sembari memperhatikan Lani dan Zaki.
" hahaha, ngelawak lu .. Gak lucu .. " Kata Zaki yang memang sengaja tertawa untuk sekedar meledek guyonan Lani. " kenapa lu gak bilang sama kita kalau lu mau balik, malah main rahasia-rahasiaan, lu anggap kita itu apa sih, Lan. Kucing yang bisa lu ajak main kapan aja. " ok, Zaki kembali bersuara. Tapi kali ini, nada suaranya lebih serius, sorot mata Zaki pun sama, tak ada candaan dalam setiap ekspresi wajahnya.
Lani kembali harus menghela nafas, ia harus kembali menjelaskan satu hal yang tak pernah ingin ia bahas. " gue bukannya main rahasia-rahasiaan. Gue cuma belum nemu waktu yang tepat buat ngasih tau kalian. "
" waktu yang tepat, pala lu waktu yang tepat. Buktinyad di sini cuma gue yang belum tau " sahut Zaki tak mau kalah, Lani lagi-lagi harus membuang nafas untuk menghadapi Zaki yang sedang berada dalam mode merajuk.
" gue gak ngasih tau mereka, cuma gara-gara si Robi noh. Mulutnya lemes " kata Lani menoleh kearah Robi yang berdiri di samping Tedia.
Robi terkejut, dirinya kembali dilibatkan. Saking terkejut dan tidak percaya dengan status tersangka yang ia dapatkan dalam waktu singkat, Robi sampai menunjuk dirinya sendiri. " gue ? " suara Robi, bertanya-tanya.
" iyalah elu, masa kucingnya papa Malik. " jengah Lani menanggapi mode lemot yang tengah menimpa Robi.
" lah, ngapain sekarang bawa-bawa bapak gue anjiiirr " Tedia ikut bersuara sekarang. ia protes, tak terima nama ayahnya dibawa-bawa dalam masalah ini.
" gue gak lemes, cuma waktu itu gue gak sengaja ngomong sama Yoga " Robi membela diri.
Lani memutar bola matanya malas.
Melihat situasi yang sudah mulai tidak kondusif, Yoga yang sedari tadi diam akhirnya mulai mengeluarkan helaan nafasnya.
" udah deh pada diem, ngapain sih ngeributin hal yang gak penting. "
Semua menoleh ke arah Yoga.
" gak penting dari mana sih, Ga. Ini si Arlan mau pindah. " celetuk Zaki.
" ya emang kenapa ? Hak dia kok, udah deh. berhenti bahas masalah pindahnya Arlan, kita ke kelas sekarang, gue yakin Pak Agus udah masuk kelas, siap-siap aja kita semua dihukum. "
__ADS_1
kecuali Zaki, semua setuju dengan ucapan Yoga. Zaki sendiri malah mencibir Yoga. Dan menyahuti ucapan Yoga.
" Pak Agus nya juga gak ada. "
" lah kemana ? " tanya Tedia.
" cuti " sahut Zaki, kesal.
" Cuti apaan ? " Robi, dengan wajah herannya.
" ngelahirin " sahut Zaki asal, sontak ia pun mendapat sebuah toyoran di kepalanya. pelakunya, Lani. Yang berdiri paling dekat dengannya.
" si asu, Pak Agus cowok, dodol. Mana ada lahiran " kata Lani, membenarkan dan mengingatkan Zaki jika Pak Agus tidak mungkin melahirkan.
" yang lahiran ayamnya " sahut Zaki, semakin jengkel dengan sahabat-sahabatnya ini.
" ayam bertelor, bego. Anjiiir bisa-bisanya modelan begini peringkat satu abadi " Tedia gemas dengan ucapan nyeleneh Zaki, jika ada kolam mungkin Tedia sudah mendorong Zaki karena terlalu gemas dengan tingkah dan sikap Zaki saat ini.
" guru di sekolah gue sogok, puas lu .. " sahut Zaki.
Semua menggelengkan kepala, Zaki selalu saja memiliki jawaban.
Mereka berjalan dengan pelan, meski sudah yakin jika Pak Agus sudah berada di dalam kelas.
Tedia, Yoga, dan Robi melangkah lebih dulu. Ketiganya berjalan beriringan dengan lengan Robi yang merangkul bahu Yoga.
Lalu, Lani dan Zaki berjalan di belakang ketiganya.
Lani dan Zaki berjalan beriringan, ada jarak di antara mereka. Sesekali secara diam-diam, Zaki melirik Lani.
Lani sadar, diam-diam ia tersenyum. Kemudian Lani membuat Zaki terkejut ketika Lani secara tiba-tiba merangkul bahunya.
" kenapa sih ngeliatin gue harus diem-diem gitu " goda Lani.
Zaki pun berpura-pura ingin muntah karena bualan Lani.
Lani tertawa melihat tingkah Zaki.
" elu kenapa mau pindah ? " tanya Zaki, kembali membahas. Ia benar-benar ingin tahu alasan yang membuat Lani ingin menjauh dari semuanya.
__ADS_1
Lani tersenyum tipis, matanya menatap lurus kedepan. Keduanya terus melangkah dengan pasti.
" kaya ayah, gue pengen sekolah disana. Pengen sukses. Pengen bahagian ibu juga. Siapa tau pas gue balik lagi kesini, gue udah jadi ceo. Terus Jiasa mau sama gue. "
" haha .. Bohong banget .. Alasan lu buat gue gak masuk akal. " kata Zaki, tau jika Lani saat ini tengah membohonginya.
Lani merespon dengan senyum tipis dan gelengan kepala. Zaki ini memang benar-benar sahabatnya, Lani berbohong saja Zaki bisa tahu.
" gak harus gue kasih tau, tapi yang pasti suatu saat kalian bakal paham kenapa gue memilih untuk menjauh. yang gue minta, tolong hargai keputusan gue. "
Zaki menunduk, kemudian ia menghela nafas. " gue bakal kangen banget sama lu pastinya, gak ada temen kalau mau gangguin mereka, bakal kalah gue sama mereka " Zaki memelas dengan suara parau.
Lani tersenyum miris " lu ajak Robi aja kalau mau gangguin mereka. "
" dih ogah, Robi mah pro sama Yoga dan Tedia. Mana berani Robi ngelawan Yoga sama Tedia. Si Robi mah cuma diliatin aja udah ciut duluan "
" gue denger ya Zaki " celetuk Robi yang berjalan di depan Lani dan Zaki.
" bodo " sahut Zaki.
Ke lima siswa itu masih melangkah menuju kelas. Tiga siswa yang melangkah di depan Lani dan Zaki sudah agak menjauh.
Zaki kembali menoleh pada Lani, kemudian ia beralih pada tiga siswa di depannya.
" Lan, terus Jiasa gimana ? " tanya Zaki pelan.
Raut wajah Lani berubah. " berat sih sebenarnya, nanti gue titip dia ya. Kalau ada apa-apa lu laporan sama gue "
" dih, di kira Jiasa barang. Kenapa lu gak nitip sama Tedia aja ? " Zaki kembali bertanya dan kembali dengan suara pelan, sesekali Zaki memperhatikan ke depan. Berjaga-jaga apakah tiga siswa itu mendengar obrolan dirinya dengan Lani.
" nitip sama Tedia, yang ada di bawa ke penghulu sama dia "
Zaki tertawa, sontak tiga siswa itu berhenti melangkah dan kini menatap Zaki dan Lani dengan tatapan penuh tanya.
Zaki gelagapan, sedangkan Lani terlihat biasa saja. " ini, kucing Jennie lahiran. Dia ngabarin gue tadi. " Zaki asal bicara.
Tedia, Yoga dan Robi memincingkan mata. Zaki memasang wajah waspada. Kemudian ketiganya memutur bola matanya malas dan tak lama kembali melanjutkan langkah.
Seolah selamat dari serangan predator. Zaki mengusap dadanya dengan rasa lega yang begitu besar.
__ADS_1
Di sampingnya Lani tersenyum tipis, raut wajahnya berubah sendu. Jujur saja, pasti nanti Lani akan merindukan moment seperti ini jika nanti ia jadi meninggalkan kenangan dan teman-temannya.