
" Lan ayo ke kelas. ngapain sih diem di parkiran, mau rangkap jabatan lu, jadi siswa sekalian tukang parkir .. " suara Zaki tidak Lani hiraukan, mata Lani terus tertuju ke arah pintu gerbang yang terbuka lebar.
" sebenarnya lu nungguin siapa sih Lan .. Tedia ?, ya elah .. Anak kadal mah kaga usah di tungguin dia mah tau jalan ke kelas .. " kali ini Yoga yang bersuara.
Lani memutar bola matanya malas, kemudian ia menatap Zaki dan Yoga secara bergantian dengan mata memincing
" kalian bisa diem gak sih, kalau kata gue tunggu ya tunggu ... Pokoknya kalian bakalan terkejut .. "
Zaki mendecakan lidahnya " emang apaan sih ? " Ia penasaran, karena Lani tidak memberitahu dengan jelas.
" udah diem aja .. " sahut Lani sudah geram, Zaki dan Yoga menghela nafas pasrah.
Lama menunggu akhirnya mata Lani berbinar " cuy cuy .. Liat noh siapa yang baru datang .. " kata Lani memberi perintah kepada Zaki dan Yoga agar keduanya melihat ke arah gerbang.
Zaki dan Yoga mengerutkan dahi ketika ia melihat mobil yang masuk melewati gerbang, dan melaju menuju tempat parkir.
" kaya kenal mobilnya .. Mobil siapa ya ..? " monolog Yoga merasa tak asing dengan mobil yang kini sudah berhenti di tempat parkir.
Sama seperti Yoga, Zaki pun menatap penasaran. Sedangkan Lani sekarang tengah berusaha menahan tawanya.
Pintu mobil yang sedari tadi membuat Zaki dan Yoga bertanya-tanya kini perlahan terbuka, dan ketika si pengemudi keluar mata Zaki dan Yoga terbelalak.
Berbeda dengan Zaki dan Yoga yang terkejut, Lani justru tertawa terbahak menertawakan Tedia yang menjadi objek perhatian Zaki dan Yoga.
Sadar diperhatikan dan menjadi bahan olokan Lani, Tedia mendesah pelan. Dengan wajah memelas Tedia berjalan menghampiri ketiganya.
" ciaaaaaa .. Disita beneran nih ceritanya .. " ledek Lani sepertinya belum puas sudah menertawakan Tedia.
Tedia memutar bola matanya malas, Yoga dan Zaki saling pandang tak paham.
" ini semua gara-gara elu .. " kata Tedia menunjuk Lani dengan tatapan tajam.
Lani tidak takut, ia semakin terbahak " dih lempar bata sembunyi tangan .. "
" batu, Lan. bukan bata .. " Yoga mengkoreksi kata-kata yang baru saja di ucapkan Lani." Sebenarnya ini ada apa sih ..? " Yoga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi
" motornya disita papa Malik , ketahuan balapan tuh bocah .. " sahut Lani sembari tertawa di atas penderitaan Tedia.
Sontak Yoga dan Zaki pun ikut tertawa, Tedia mendengus kesal " noh bocah cepu, sialan pake ngadu sama bapak gue .. " Tedia masih terus mengkambing hitamkan Lani.
" laahhhh .. Papa kan nanya, ya jadi gue jawab .. " sahut Lani tak merasa bersalah, justru ia senang dan terus menertawakan kemalangan Tedia.
" gimana rasanya bawa mobil, enak donk gak kepanasan, gak keujanan .. ? " kali ini Zaki yang meledek Tedia.
Tedia kembali mendesah pelan " pala lu enak, gak enak lah, gue gak bisa salip salipan di jalan, gak bisa kebut-kebutan di jalan .. Pokoknya ini semua gara-gara elu Lani .. " Tedia kembali mengkambing hitamkan Lani.
__ADS_1
Sebagai jawaban Lani hanya mengedikkan bahunya tanda tidak perduli dengan penderitaan yang saat ini dialami Tedia.
" udah-udah ke kelas yuk, hari ini Bu Yuli lho yang ngajar .. " Yoga mengingatkan. Zaki dan Lani menurut, keduanya mulai melangkahkan kakinya.
Sedangkan Tedia kembali memelas " ya elah, apes gue perasaan gak ilang-ilang, semalem di cepuin Lani, eh sekarang belajar sama guru galak .. " gerutu Lani, ketiga temannya kembali menertawakan, kemudian ketiga melangkah meninggalkan Tedia dengan segala kemalangannya.
Tedia menghela nafas kasar, ia pun mengayunkan kaki guna menyusul ketiga temannya yang dengan kurangajar meninggalkan dirinya.
Berjalan seorang diri dan tidak berniat menyusul ketiga temannya yang berada di depan, Tedia dikejutkan dengan sebuah panggilan.
" Tedia .. "
Tedia berhenti, ia membalikkan tubuhnya, seketika ia pun mengerutkan dahinya ketika melihat Jiasa yang tengah menghampirinya.
" apaan ..? " sahutan yang cukup dingin, bagi orang yang baru mengenal Tedia, tapi untuk Jiasa sepertinya terdengar biasa saja.
Jiasa tersenyum manis, ia kini sudah berada di dekat Tedia. Keduanya pun kini berjalan beriringan menuju kelas.
" sekali lagi makasih ya buat semalam .. " kata Jiasa membuka obrolan.
Tedia terkekeh " lu udah ngomong berapa kali ji .. "
" gak tau .. " sahut Jiasa dengan kekehan, Tedia pun tertawa mendengarnya.
Tak ada percakapan lagi, keduanya masih melangkah berdampingan menuju kelas.
Seperti kemarin berjalan beriringan bersama Lani, kini Jiasa berjalan bersama Tedia.
Bisik-bisik di antara siswa yang melihat pun terjadi, dan Jiasa mulai merasa tidak nyaman dengan hal itu.
" gak usah di tanggepin, Ji. .., mereka mah emang gitu .. "
Jiasa mendongkak menatap Tedia, Jiasa tidak menyangka jika Tedia peka terhadap sikap Jiasa saat ini padahal Jiasa sudah berusaha menutupi.
Jiasa tersenyum tipis, kemudian ia pun menganggukkan kepala merespon kalimat yang di ucapkan Tedia.
Baik Tedia ataupun Jiasa kini keduanya sudah berada di depan kelas. Keduanya kembali masuk secara bersamaan.
Di dalam kelas Lani tentu saja melihat ketika Jiasa dan Tedia memasuki kelas secara bersamaan. Lani menatap keduanya dengan tatapan yang sulit di artikan.
" pantesan jalannya lama, ternyata lagi berubah jadi raja kadal cucu buaya .. " celetuk Zaki
Jiasa yang sudah duduk di kursi miliknya hanya tersenyum tipis menanggapi, sedangkan Tedia yang baru saja sampai di kursinya melayangan tas slempangnya ke tubuh Zaki " diem lu kakeknya kadal .. "
Sembari menahan hantaman Tedia, Zaki tertawa " kalau gue kakeknya, terus neneknya siapa donk .. ? "
__ADS_1
" noh si Jennie .. " celetuk Tedia yang kini sudah duduk di singgahsananya. Tedia masih tidak menyadari bagaimana tatapan Lani padanya.
" gue lagi diem lho, Di.. " jennie yang tak terima namanya di sebut pada akhirnya membuka suara.
" gue gak nanya .. " sahut Tedia, ia pun mendapat dengusan dari jennie.
Tak ada lagi yang mengganggunya, Tedia pun menoleh menatap Lani, tapi setelah melihat bagaimana ekspresi wajah Lani, Tedia pun mengerutkan dahinya.
" ngapa lu .. Nahan berak .. ? " tanya Tedia asal bicara.
Lani menatap Tedia dengan mata memincing tajam " lu mau balas dendam gara-gara semalem gue cepuin .. ? " Lani tetap tak menghilangkan tatapan tajamnya.
" balas dendam pala lu .. Gak kepikiran sampe sana gue .. " sahut Tedia tangannya bergerak mengeluarkan alas tulis yang tentunya hanya akan jadi pejangan di mejanya.
" terus lu ngapain jalan bareng ke kelas sama Jiasa .. ? " tanya Lani penuh selidik, tentu saja dengan suara pelan.
Tedia memutar bola matanya malas " ya elah, semalem aja gue nganterin dia balik .. "
Lani terkejut, mulutnya terbuka dan matanya membelalak " wah .. Lu mau nusuk gue dari belakang ya .. "
Tedia mendesah pelan " gue gak bawa pisau Lan, gimana cara nusuk lu nya .. "
" kok lu bisa nganterin dia pulang ..? " Tentu saja rasa penasaran Lani tidak hilang. Ia kembali melontarkan satu pertanyaan.
" semalem pas lu nelephone gue langsung balik, tapi di jalan gak sengaja ketemu jiasa, karena jalan perumahan pasti sepi jadi gue inisiatip buat nganterin dia, lagian dia masih baru di jakarta, nanti ada orang iseng gimana ? Kan bahaya .. " Tedia menjelaskan
Seketika Lani sumringah, tatapan tajam yang sedari tadi di tunjukan untuk Tedia kini sudah sirna " elu emang temen gue .. " kata Lani sembari menepuk-nepuk pucuk kepala Tedia dengan pelan.
" dan elu udah jadi pengkhianat buat gue .. " kali ini gantian Tedia yang menatap Lani dengan tatapan membunuh.
" ya elah baper amat, gue kan terdesak .. Lagian itu kan papa, mana berani gue bohong .. Cuma motor yang di sita, kalau ATM baru tuh lu uring-uringan .. " Lani membela diri, Tedia memberi dengusan.
Lani tersenyum meledek, Tedia memalingkan wajah dan kini ia memainkan alat tulis di mejanya dengan wajah memelas.
" gue dapet kabar, katanya nanti bakal ada seleksi buat timnas, tapi gue gak tau kapan, cuma baru kabar aja .. "
Mendengar ucapan Lani, sontak Tedia kembali merubah atensinya, begitu pun Zaki dan Yoga. Kedua siswa itu kini menghadap belakang menatap Lani dengan mata berbinar
" serius lu .. ? " Tanya Yoga, ia takut jika Lani hanya bergurau
" serius, kemaren pelatih ngabarin gue, makanya gue sengaja cepuin lu biar lu balik terus fokus sama seleksi ini .. " kata Lani matanya menatap Tedia. Seketika ekspres wajah Tedia berubah, ternyata ada alasan lain di balik sikap cepu Lani.
" pagi semua ... " sapaan dari depan kelas, semua mata tertuju ke depan kelas.
" nanti kita bahas lagi, sekarang fokus belajar dulu .. " kata Lani semua mengangguk setuju
__ADS_1
...